Karhutla di Sejumlah Gunung Jatim Belum Padam, Wisata Ditutup
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi ancaman di sejumlah kawasan pegunungan Jawa Timur. Hingga Senin, 14 September 2026, tim gabungan masih melakukan pemadaman, pembasahan, penyisiran, serta pemantauan di sejumlah lokasi yang terdampak. Kondisi tersebut juga berdampak langsung terhadap aktivitas wisata. Sejumlah kawasan gunung dan destinasi wisata alam ditutup sementara demi mencegah risiko keselamatan pengunjung sekaligus memberi ruang bagi petugas untuk menangani kebakaran.
Salah satu penutupan terbaru terjadi di kawasan wisata Gunung Bromo. Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) menutup seluruh akses kunjungan wisata mulai Sabtu, 12 September 2026, hingga batas waktu yang belum ditentukan.
Karhutla Melanda Sejumlah Pegunungan
Sebelumnya, BNPB melaporkan kebakaran terjadi di sejumlah kawasan pegunungan Jawa Timur, antara lain Gunung Semeru, Gunung Wilis, Gunung Ungup-Ungup, Gunung Arjuno Welirang, dan Bukit Sariwani. Tim gabungan yang terdiri dari BPBD, pengelola kawasan konservasi, Perhutani, TNI/Polri, Manggala Agni dan relawan dikerahkan untuk menangani titik-titik api yang masih dapat dijangkau.
Penanganan di lapangan tidak mudah karena sebagian titik kebakaran berada di kawasan dengan medan terjal, licin dan sulit diakses. Angin kencang juga dapat mempercepat penyebaran api.
Gunung Semeru Jadi Salah Satu yang Terparah
Kawasan Gunung Semeru menjadi salah satu lokasi dengan dampak kebakaran paling luas. Kebakaran dilaporkan sejak 26 Agustus 2026 dan mencakup wilayah sekitar Blok Ranukembang, Desa Ranupane, termasuk kawasan Pos 1 jalur pendakian serta wilayah barat Ranu Kumbolo yang secara administratif berada di wilayah Malang.
Berdasarkan pemantauan BNPB pada awal September, luas area yang terbakar diperkirakan mencapai 1.888,91 hektare. Angka tersebut masih dalam proses pendataan lebih lanjut. Pemadaman di Semeru juga menghadapi kendala teknis. Helikopter PK-DAP milik Pemprov Jawa Timur sempat mengalami masalah pada sistem kelistrikan, sementara bucket untuk operasi water bombing juga mengalami kendala. Karena itu, petugas melanjutkan penanganan melalui pemadaman manual dan pembuatan sekat bakar.
Untuk mengurangi risiko terhadap pendaki, TNBTS telah menutup seluruh aktivitas pendakian Gunung Semeru sejak 26 Agustus 2026 hingga waktu yang belum ditentukan.
Bromo Ditutup Total
Perkembangan terbaru juga terjadi di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Setelah kebakaran kembali terjadi di kawasan Sabana Pengol dan merembet ke sejumlah area lain, TNBTS mengambil keputusan untuk menutup total kunjungan wisata Gunung Bromo mulai 12 September 2026.
Penutupan diberlakukan dari seluruh pintu masuk dan belum ditentukan kapan akan berakhir. Kebijakan tersebut dilakukan untuk mendukung proses pemadaman sekaligus memastikan keselamatan wisatawan. Sehari sebelumnya, kebakaran bahkan dilaporkan mendekati kawasan Bromo Hillside di Bukit Bantengan, Kabupaten Malang. Tim gabungan mengerahkan sejumlah armada pemadam dan dukungan masyarakat untuk melakukan pembasahan.
Titik api utama di belakang kawasan Bromo Hillside kemudian dilaporkan padam, tetapi petugas tetap melakukan penyisiran bara dan pemantauan karena angin kencang dapat memicu munculnya kembali titik api.
Kawah Ijen Juga Ditutup
Destinasi wisata Kawah Ijen juga terdampak karhutla. Kebakaran di kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Kawah Ijen mulai dilaporkan sejak 3 September 2026. Api di kawasan Gunung Ungup-Ungup, Banyuwangi, kemudian dilaporkan meluas hingga wilayah Bondowoso.
Pada awal penanganan, luas area yang terbakar diperkirakan sekitar 20 hektare. Kondisi medan yang terjal, licin dan berbahaya menyulitkan petugas mencapai sejumlah titik api. Karena pertimbangan keselamatan, TWA Kawah Ijen ditutup sementara sejak 4 September 2026 sampai batas waktu yang belum ditentukan.
BPBD Jawa Timur juga memperkuat penanganan dengan mengerahkan personel serta helikopter water bombing untuk membantu pemadaman dari udara.
Gunung Wilis hingga Arjuno-Welirang Ikut Terdampak
Karhutla juga terjadi di kawasan Gunung Wilis yang berada di wilayah Nganjuk dan Kediri. BNPB mencatat sekitar 5 hektare lahan terbakar di Kabupaten Nganjuk dan sekitar 11 hektare di Kabupaten Kediri pada laporan awal September. Vegetasi yang terbakar antara lain serasah, ranting, rumput, ilalang dan tanaman lainnya.
Sementara itu, kebakaran di kawasan Gunung Arjuno-Welirang, Kabupaten Pasuruan, masih memunculkan kepulan asap. Tim gabungan melakukan penyisiran dan pembasahan di kawasan Lembah Kidang. Penanganan melalui jalur darat harus mempertimbangkan kondisi medan dan keselamatan petugas.
Kebakaran juga sempat dilaporkan di Bukit Sariwani, Desa Sariwani, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo. Titik api berada di lereng bukit dengan medan terjal sehingga akses menuju lokasi menjadi salah satu tantangan utama bagi petugas.
Mengapa Api Sulit Dipadamkan?
Karhutla di kawasan pegunungan memiliki tantangan berbeda dibandingkan kebakaran di wilayah dataran rendah. Medan yang curam membuat kendaraan pemadam sulit mencapai lokasi. Pada beberapa titik, petugas harus berjalan kaki untuk membawa peralatan pemadaman.
Selain medan, angin kencang dan vegetasi kering juga menjadi faktor yang membuat api lebih mudah menjalar. Kondisi tersebut menyebabkan petugas tidak hanya harus memadamkan api, tetapi juga membuat sekat bakar dan melakukan pembasahan untuk mencegah bara kembali menyala. Keterbatasan operasi pemadaman udara di sejumlah lokasi turut menjadi kendala dalam mempercepat proses penanganan.
Penutupan Wisata untuk Keselamatan
Penutupan kawasan wisata bukan semata-mata karena api sudah memasuki objek wisata. Kebijakan tersebut juga berkaitan dengan potensi bahaya lain yang muncul selama proses kebakaran. Asap tebal, perubahan arah angin, bara yang dapat terbawa angin serta medan yang tidak stabil dapat membahayakan wisatawan maupun petugas.
Karena itu, masyarakat yang telah merencanakan perjalanan ke kawasan Bromo, Semeru, Kawah Ijen maupun destinasi pegunungan lain di Jawa Timur perlu memeriksa pengumuman resmi pengelola sebelum berangkat. BNPB juga mengimbau masyarakat tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran, termasuk pembukaan lahan dengan cara membakar. Warga yang melihat titik api atau kepulan asap diminta segera melaporkannya kepada petugas agar dapat ditangani sedini mungkin.
Hujan Mulai Turun, tetapi Risiko Karhutla Belum Berakhir
Sejumlah wilayah Jawa Timur mulai mengalami hujan, tetapi pemerintah daerah tetap meminta kewaspadaan terhadap karhutla dipertahankan sepanjang September. Turunnya hujan di sejumlah wilayah belum otomatis membuat seluruh kawasan pegunungan terbebas dari risiko kebakaran. Vegetasi kering dan bara yang masih tersisa dapat kembali memunculkan titik api apabila kondisi kembali panas dan berangin.
Karena itu, penanganan karhutla saat ini tidak hanya berfokus pada memadamkan api yang terlihat, tetapi juga memastikan tidak ada bara tersisa yang berpotensi menyebabkan kebakaran kembali meluas.
Kesimpulan
Karhutla masih menjadi persoalan serius di sejumlah kawasan pegunungan Jawa Timur. Gunung Semeru menjadi salah satu wilayah dengan area terdampak terbesar, sementara kebakaran juga terjadi di Wilis, Ungup-Ungup, Arjuno-Welirang, Bukit Sariwani dan kawasan Bromo.
Dampaknya, sejumlah destinasi wisata seperti pendakian Semeru, Kawah Ijen dan kawasan wisata Bromo ditutup sementara. Hingga kini, tim gabungan masih melakukan pemadaman dan pemantauan untuk memastikan api benar-benar terkendali sebelum aktivitas wisata kembali dibuka.

Posting Komentar untuk " Karhutla di Sejumlah Gunung Jatim Belum Padam, Wisata Ditutup"