Lawan Brand China, Honda-Nissan Sepakat Kembangkan Perangkat Lunak
Jakarta – Persaingan industri otomotif global memasuki babak baru. Dua raksasa otomotif Jepang, Honda dan Nissan, resmi menyepakati kerja sama pengembangan perangkat lunak dan komponen elektronik untuk kendaraan generasi berikutnya. Kesepakatan tersebut diumumkan pada 31 Agustus 2026, ketika kedua perusahaan menandatangani perjanjian pengembangan bersama untuk menstandarkan sejumlah electronic control unit (ECU) yang menjadi inti kendaraan berbasis perangkat lunak atau software-defined vehicle (SDV).
Kolaborasi ini ditujukan untuk meningkatkan kecepatan pengembangan, menekan biaya riset dan pengembangan, serta memperbesar skala investasi teknologi. Langkah tersebut datang ketika Honda dan Nissan menghadapi persaingan semakin ketat dari produsen mobil China yang agresif mengembangkan kendaraan listrik, teknologi konektivitas, dan fitur berbasis perangkat lunak.
Honda dan Nissan Bangun Platform Software Bersama
Dalam kesepakatan terbaru, Honda dan Nissan akan bersama-sama mengembangkan dan menstandarkan beberapa ECU inti yang digunakan pada kendaraan generasi berikutnya. Tidak hanya perangkat keras, kerja sama tersebut mencakup sistem operasi kendaraan (in-vehicle operating system), bagian penting dari middleware, serta perangkat lunak pengendali kendaraan yang berjalan pada ECU tersebut.
Arsitektur kelistrikan dan elektronik atau E/E architecture yang dikembangkan bersama ditargetkan mulai diterapkan pada kendaraan SDV generasi berikutnya dari kedua perusahaan mulai tahun fiskal 2029. Artinya, kendaraan yang menggunakan teknologi hasil kolaborasi ini diproyeksikan mulai hadir sekitar periode 2029 dan seterusnya.
Apa Itu Software-Defined Vehicle?
SDV merupakan konsep kendaraan yang fungsi dan kemampuannya semakin banyak ditentukan oleh perangkat lunak. Berbeda dengan mobil konvensional yang sebagian besar peningkatan fitur bergantung pada perubahan komponen fisik, SDV memungkinkan sejumlah fungsi kendaraan ditingkatkan melalui perangkat lunak.
Teknologi tersebut dapat mendukung berbagai fitur seperti:
- sistem bantuan pengemudi;
- konektivitas kendaraan;
- sistem infotainment;
- manajemen baterai kendaraan listrik;
- pengendalian sistem penggerak;
- pembaruan perangkat lunak melalui jaringan (over-the-air update);
- serta berbagai fitur digital lainnya.
Perubahan tersebut membuat perangkat lunak menjadi semakin penting dalam menentukan pengalaman pengguna dan kemampuan sebuah kendaraan. Honda dan Nissan melihat bidang software sebagai salah satu area paling strategis karena teknologi kendaraan berkembang sangat cepat dan membutuhkan investasi besar.
ECU Jadi Salah Satu Fokus Utama
ECU merupakan komputer elektronik yang mengendalikan berbagai fungsi pada kendaraan. Dalam kerja sama Honda-Nissan, terdapat dua kelompok utama ECU yang menjadi perhatian, yakni high-performance main ECU yang menggunakan system-on-chip serta zone ECU yang mengatur berbagai area di kendaraan.
Dengan menstandarkan komponen tersebut, kedua perusahaan dapat mengurangi pekerjaan pengembangan yang harus dilakukan secara terpisah. Dalam jangka panjang, pendekatan ini berpotensi membuat proses pengembangan kendaraan menjadi lebih efisien karena satu fondasi teknologi dapat digunakan untuk berbagai model dan merek.
Bukan Hanya Berbagi Komponen
Kerja sama ini lebih luas dibandingkan sekadar menggunakan ECU yang sama. Honda dan Nissan akan menetapkan spesifikasi bersama untuk berbagai ECU inti dalam arsitektur E/E kendaraan generasi berikutnya. Keduanya juga akan mengembangkan sistem operasi kendaraan, bagian penting middleware, serta perangkat lunak kontrol kendaraan.
Dengan demikian, kedua perusahaan berupaya membangun semacam fondasi teknologi bersama yang nantinya dapat menjadi basis bagi kendaraan SDV masing-masing. Masing-masing perusahaan tetap mempertahankan identitas merek dan pengembangan produknya, tetapi berbagi teknologi dasar yang dianggap tidak perlu dikembangkan secara terpisah.
Pangkas Biaya Riset dan Pengembangan
Salah satu alasan utama di balik kolaborasi tersebut adalah meningkatnya biaya pengembangan teknologi otomotif. Pengembangan kendaraan modern tidak lagi hanya membutuhkan investasi untuk mesin, transmisi, sasis, baterai dan komponen fisik lainnya.
Produsen juga harus mengembangkan sistem operasi, komputasi kendaraan, sistem keamanan siber, konektivitas, sistem bantuan pengemudi, hingga kemampuan pembaruan perangkat lunak. Dengan berbagi biaya pengembangan fondasi teknologi tersebut, Honda dan Nissan berharap dapat meningkatkan efisiensi investasi dan skala ekonomi. Kedua perusahaan menyatakan standardisasi teknologi dasar akan membantu memanfaatkan sumber daya engineering dan kemampuan pengembangan masing-masing secara lebih efektif.
Kejar Ketertinggalan dari Merek China
Kerja sama Honda dan Nissan terjadi ketika industri otomotif global mengalami perubahan besar. Produsen China seperti BYD berkembang cepat dalam kendaraan listrik dan teknologi digital. Sejumlah merek China juga semakin agresif memasuki pasar global, termasuk Asia Tenggara dan Eropa.
Keunggulan mereka tidak hanya berada pada harga kendaraan, tetapi juga pada kecepatan menghadirkan fitur digital, konektivitas dan teknologi kendaraan listrik. Reuters melaporkan bahwa perkembangan produsen China seperti BYD menjadi salah satu latar persaingan yang mendorong produsen otomotif Jepang memperkuat kemampuan perangkat lunak dan kendaraan pintar.
Dengan berkolaborasi, Honda dan Nissan berharap dapat mencapai skala pengembangan yang lebih besar sehingga tidak harus menanggung seluruh biaya teknologi secara sendiri-sendiri.
Honda dan Nissan Pernah Bicara Merger
Kerja sama perangkat lunak ini memiliki latar belakang yang menarik karena Honda dan Nissan sebelumnya sempat membahas kemungkinan integrasi bisnis. Pembicaraan mengenai merger kedua perusahaan dimulai pada akhir 2024. Jika terealisasi, penggabungan tersebut akan menciptakan salah satu kelompok otomotif terbesar dunia.
Namun, rencana tersebut akhirnya gagal dan pembicaraan merger dihentikan pada awal 2025. Meskipun merger tidak terjadi, hubungan kerja sama antara Honda dan Nissan tetap berlanjut. Kini, kedua perusahaan memilih bentuk kolaborasi yang lebih spesifik dan tidak membutuhkan penggabungan kepemilikan. Kesepakatan software terbaru menunjukkan bahwa kegagalan merger tidak serta-merta mengakhiri peluang kerja sama strategis di antara keduanya.
Mitsubishi Berpotensi Ikut Bergabung
Kolaborasi tersebut juga berpotensi berkembang lebih jauh. Mitsubishi Motors, yang memiliki hubungan strategis dengan Nissan, disebut sedang mempertimbangkan untuk ikut dalam kerja sama tersebut. Pembicaraan mengenai kemungkinan keterlibatan Mitsubishi masih berlangsung.
Jika Mitsubishi bergabung, skala kerja sama teknologi ini akan semakin besar. Bagi ketiga perusahaan, penggunaan teknologi dasar yang sama dapat membantu mengurangi duplikasi investasi sekaligus memperluas basis kendaraan yang menggunakan platform tersebut. Namun, hingga pengumuman terbaru Honda dan Nissan, keterlibatan Mitsubishi belum menjadi bagian resmi dari perjanjian pengembangan bersama yang telah ditandatangani.
Bukan Berarti Mobil Honda dan Nissan Akan Sama
Kesamaan platform perangkat lunak tidak otomatis membuat kendaraan Honda dan Nissan menjadi identik. Kedua merek tetap dapat mengembangkan desain, karakter berkendara, fitur tertentu, strategi produk, serta pengalaman pengguna masing-masing. Komponen dasar yang distandarkan terutama berada di lapisan teknologi yang menjadi fondasi kendaraan. Model kerja sama seperti ini memungkinkan perusahaan berbagi teknologi yang mahal dan kompleks, sementara diferensiasi produk tetap dapat dilakukan pada tingkat kendaraan dan merek.
Manfaat bagi Konsumen
Jika kerja sama berjalan sesuai rencana, konsumen berpotensi mendapatkan beberapa manfaat. Pertama, pengembangan teknologi yang lebih cepat dapat membuat fitur baru hadir dalam waktu lebih singkat. Kedua, biaya pengembangan yang lebih rendah berpotensi membantu produsen meningkatkan efisiensi harga produk.
Ketiga, penggunaan arsitektur software yang lebih terstandarisasi dapat mempermudah pengembangan pembaruan dan layanan digital kendaraan. Namun, manfaat langsung bagi konsumen baru dapat terlihat ketika kendaraan hasil kerja sama tersebut mulai diproduksi dan dipasarkan.
Persaingan Mobil Kini Bukan Hanya Soal Mesin
Kerja sama Honda dan Nissan memperlihatkan perubahan mendasar dalam industri otomotif. Jika dahulu persaingan produsen terutama ditentukan oleh kapasitas mesin, efisiensi bahan bakar, kualitas material dan desain, kini software menjadi salah satu medan persaingan utama.
Mobil modern semakin menyerupai perangkat komputer bergerak. Kemampuan kendaraan dalam memproses data, terhubung ke internet, menerima pembaruan, mengoptimalkan konsumsi energi dan menjalankan fitur bantuan pengemudi menjadi semakin penting. Karena itu, perusahaan yang mampu mengembangkan software secara cepat dan efisien berpotensi memiliki keunggulan kompetitif.
Tantangan Mengembangkan Software Otomotif
Meski memiliki potensi besar, pengembangan software untuk kendaraan bukan pekerjaan sederhana. Perangkat lunak kendaraan harus bekerja secara aman dan andal karena kesalahan sistem dapat berdampak langsung terhadap keselamatan pengguna.
Selain itu, software harus mampu beroperasi dalam berbagai kondisi, terintegrasi dengan komponen mekanis dan elektronik, serta mendapatkan pembaruan secara aman. Pengembangan platform bersama juga membutuhkan kesepakatan mengenai standar teknologi, pembagian tanggung jawab, keamanan data, serta cara masing-masing perusahaan mengintegrasikan software tersebut ke produk mereka.
Karena itu, target implementasi mulai 2029 menunjukkan bahwa proses pengembangan dan validasi masih membutuhkan waktu panjang.
Honda dan Nissan Ingin Percepat Siklus Pengembangan
Dalam pernyataan bersama, Honda dan Nissan menekankan pentingnya mempercepat siklus pengembangan sekaligus meningkatkan efisiensi investasi. Tekanan tersebut muncul karena teknologi otomotif berkembang dengan sangat cepat. Produsen tidak bisa menghabiskan terlalu banyak waktu untuk mengembangkan setiap teknologi secara terpisah jika ingin tetap kompetitif. Dengan menyatukan sumber daya engineering, kedua perusahaan berharap dapat mengalokasikan investasi secara lebih efisien dan mempercepat inovasi.
Bagian dari Strategi Jangka Panjang
Honda dan Nissan menempatkan kerja sama software tersebut sebagai bagian dari kemitraan strategis yang lebih luas. Selain kendaraan berbasis software, kedua perusahaan juga terus mengeksplorasi peluang kerja sama untuk mempercepat pencapaian target netralitas karbon dan visi keselamatan lalu lintas.
Dengan demikian, kolaborasi software bukan proyek yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari upaya kedua perusahaan menghadapi perubahan industri otomotif menuju kendaraan listrik, kendaraan pintar dan kendaraan yang semakin terhubung.
Target Mulai 2029
Tahap penting berikutnya adalah realisasi teknologi tersebut pada kendaraan produksi. Honda dan Nissan menargetkan arsitektur E/E yang dikembangkan bersama mulai diterapkan pada kendaraan SDV generasi berikutnya pada tahun fiskal 2029 dan setelahnya. Kedua perusahaan belum mengungkap model kendaraan tertentu yang akan menjadi pengguna pertama teknologi tersebut. Artinya, publik masih harus menunggu beberapa tahun untuk melihat bagaimana platform hasil kolaborasi tersebut diterjemahkan menjadi kendaraan Honda dan Nissan.
Strategi Jepang Menghadapi Perubahan Industri
Kesepakatan Honda-Nissan menunjukkan bahwa produsen otomotif Jepang mulai semakin serius menghadapi perubahan peta persaingan global. Daripada masing-masing perusahaan mengembangkan seluruh teknologi secara mandiri, mereka memilih berbagi investasi pada bagian yang membutuhkan biaya dan sumber daya besar.
Strategi ini sekaligus menjadi cara untuk menghadapi tekanan dari produsen China dan pemain teknologi otomotif lain yang bergerak cepat. Bagi Honda dan Nissan, tantangannya bukan hanya membuat mobil yang bagus secara mekanis, tetapi juga memastikan kendaraan mereka mampu bersaing dalam era ketika software menjadi salah satu penentu utama nilai sebuah mobil.
Kesimpulan
Honda dan Nissan resmi memperkuat kerja sama dengan menandatangani perjanjian pengembangan bersama untuk ECU, sistem operasi kendaraan, middleware dan software kontrol bagi kendaraan generasi berikutnya.
Teknologi tersebut ditargetkan digunakan pada kendaraan software-defined vehicle mulai tahun fiskal 2029. Langkah ini menjadi strategi penting untuk memangkas biaya pengembangan, mempercepat inovasi dan meningkatkan skala investasi di tengah persaingan dengan produsen kendaraan China serta perusahaan otomotif berbasis teknologi.
Meski sempat gagal melakukan merger, Honda dan Nissan kini menunjukkan bahwa mereka masih dapat bekerja sama di bidang yang dianggap sangat strategis. Persaingan otomotif masa depan pun semakin jelas: bukan hanya siapa yang mampu membuat mobil listrik paling efisien atau desain paling menarik, tetapi siapa yang mampu membangun software kendaraan paling cepat, aman, cerdas dan mudah dikembangkan.

Posting Komentar untuk " Lawan Brand China, Honda-Nissan Sepakat Kembangkan Perangkat Lunak"