Meta Dituduh Pakai Foto Pengguna untuk Universal Face Recognition
Jakarta – Meta, perusahaan induk Facebook dan Instagram, menghadapi gugatan class action di Amerika Serikat terkait tuduhan penggunaan foto pengguna untuk mengembangkan teknologi pengenalan wajah atau facial recognition. Gugatan tersebut menuding Meta mengekstrak informasi biometrik dari foto yang muncul di Facebook dan Instagram untuk membangun sistem pengenalan wajah bernama NameTag, yang dikaitkan dengan kacamata pintar Meta.
Gugatan diajukan pada 4 September 2026 di pengadilan federal di Chicago oleh sejumlah orang tua dan anak-anak dari Illinois serta California. Para penggugat menuduh Meta menggunakan foto tanpa pemberitahuan dan persetujuan yang memadai untuk mengambil informasi biometrik, melatih model kecerdasan buatan (AI), serta mengembangkan teknologi pengenalan wajah.
Apa Itu NameTag?
NameTag merupakan nama internal untuk fitur pengenalan wajah yang dikaitkan dengan ekosistem kacamata pintar Meta. Keberadaan kode untuk fitur tersebut pertama kali diungkap WIRED pada Juni 2026 setelah analisis terhadap aplikasi pendamping Meta AI.
Menurut analisis tersebut, kode NameTag dirancang untuk memungkinkan kamera kacamata mengenali seseorang. Wajah yang tertangkap kamera dapat diubah menjadi representasi biometrik atau faceprint, kemudian dibandingkan dengan data wajah yang tersimpan pada perangkat pengguna.
Fitur tersebut belum dirilis kepada konsumen. Namun, keberadaan kodenya di aplikasi yang telah digunakan jutaan perangkat memunculkan pertanyaan mengenai bagaimana teknologi tersebut akan bekerja apabila suatu saat diaktifkan. WIRED melaporkan aplikasi pendamping Meta AI yang memuat kode tersebut telah diunduh lebih dari 50 juta kali. Pada saat laporan tersebut diterbitkan, fitur NameTag belum dapat digunakan oleh konsumen.
Penggugat Tuding Foto Facebook dan Instagram Dipakai
Dalam gugatan terbaru, para penggugat menghubungkan teknologi NameTag dengan foto yang tersedia di Facebook dan Instagram. Mereka menuduh Meta mengambil informasi biometrik dari wajah orang-orang yang muncul dalam foto, kemudian menggunakan informasi tersebut untuk membangun sistem pengenalan wajah. Gugatan tersebut juga menuduh foto dari platform Meta digunakan untuk melatih model AI generatif, termasuk Emu dan Muse Image.
Salah satu persoalan utama dalam perkara ini adalah bahwa orang yang wajahnya terlihat dalam sebuah foto belum tentu merupakan orang yang mengunggah foto tersebut. Dengan kata lain, seseorang dapat muncul dalam foto yang diunggah oleh teman, anggota keluarga, atau orang lain tanpa secara khusus mengunggah foto tersebut sendiri.
Para penggugat berpendapat bahwa pemrosesan wajah menjadi informasi biometrik menimbulkan persoalan privasi tersendiri karena karakteristik wajah dapat digunakan untuk mengidentifikasi seseorang.
Tuduhan soal "Universal Face Recognition"
Istilah universal face recognition dalam pemberitaan mengenai kasus ini merujuk pada kekhawatiran bahwa kumpulan faceprint dalam jumlah besar dapat digunakan untuk mencocokkan wajah seseorang yang tertangkap kamera dengan informasi identitas yang tersedia dalam ekosistem Meta.
Namun, penting membedakan antara tuduhan dalam gugatan dengan teknologi yang sudah tersedia bagi masyarakat. Meta membantah tuduhan tersebut dan menyatakan gugatan itu tidak berdasar serta menggambarkan pekerjaan perusahaan secara keliru. Meta juga mengatakan NameTag belum dikirimkan kepada konsumen dan belum ada keputusan final mengenai apakah fitur tersebut akan diluncurkan. Meta juga membantah sedang membangun basis data wajah universal.
Meta Pernah Menghentikan Sistem Face Recognition
Persoalan ini menjadi lebih sensitif karena Meta memiliki sejarah panjang terkait teknologi pengenalan wajah. Pada 2021, Facebook mengumumkan penghentian sistem Face Recognition di platform tersebut. Meta saat itu mengatakan pengguna yang sebelumnya memilih fitur tersebut tidak lagi akan dikenali secara otomatis dalam foto dan video, sementara lebih dari 1 miliar templat pengenalan wajah individual akan dihapus.
Keputusan tersebut diambil ketika perusahaan mengatakan perlu mempertimbangkan manfaat teknologi pengenalan wajah dengan kekhawatiran masyarakat serta belum jelasnya aturan dari regulator. Kemunculan kembali teknologi pengenalan wajah dalam pembahasan kacamata pintar Meta kemudian memunculkan pertanyaan baru mengenai batas penggunaan data biometrik.
Apa Hubungannya dengan Kacamata Pintar Meta?
Teknologi NameTag dirancang untuk bekerja dengan kamera pada kacamata pintar Meta. Secara konseptual, sistem seperti ini dapat memungkinkan perangkat menganalisis wajah seseorang yang terlihat melalui kamera dan memberikan informasi ketika sistem menemukan kecocokan.
Kemampuan tersebut berbeda dengan sekadar mengambil foto. Sistem pengenalan wajah harus membuat representasi matematis karakteristik wajah, kemudian membandingkannya dengan data pembanding. Karena itu, persoalan privasi menjadi lebih kompleks ketika teknologi tersebut digunakan di ruang publik. Seseorang yang direkam kamera dapat saja tidak mengetahui bahwa wajahnya sedang dianalisis untuk tujuan identifikasi.
Pada Maret 2026, Senator AS Ed Markey juga mengirim surat kepada CEO Meta Mark Zuckerberg yang mempertanyakan rencana penggunaan teknologi pengenalan wajah pada kacamata pintar. Surat tersebut menyoroti potensi risiko ketika perangkat dapat menangkap wajah orang lain tanpa sepengetahuan atau persetujuan mereka.
Meta Disebut Pernah Menggunakan Foto Publik untuk AI
Perkara terbaru ini juga berkaitan dengan praktik pelatihan AI Meta. Dalam pemberitaan mengenai gugatan tersebut, Meta disebut telah menggunakan sejumlah besar foto dan teks dari Facebook dan Instagram untuk mengembangkan model AI. Chief Product Officer Meta Chris Cox sebelumnya menggambarkan data dari platform perusahaan sebagai salah satu keunggulan dalam pengembangan AI.
Penggunaan konten publik untuk melatih AI menjadi isu yang berbeda dari penggunaan data biometrik untuk pengenalan wajah. Namun, para penggugat dalam perkara ini berusaha menghubungkan keduanya dengan argumen bahwa foto yang digunakan dalam pelatihan AI juga dapat mengandung informasi mengenai wajah orang-orang yang terdapat di dalamnya.
Sejauh ini, gugatan tersebut belum membuktikan secara final bahwa Meta menggunakan foto tertentu untuk membangun basis data pengenalan wajah NameTag.
Gugatan Belum Berarti Meta Dinyatakan Bersalah
Status hukum perkara ini penting diperhatikan. Gugatan yang diajukan pada September 2026 masih berada pada tahap awal dan belum merupakan putusan pengadilan. Penggugat meminta perkara tersebut diproses sebagai class action, tetapi status kelompok yang diusulkan masih harus melalui proses hukum. Pengadilan dapat menerima, mempersempit, mengubah, atau menolak definisi kelompok yang diajukan.
Dengan demikian, belum dapat dikatakan bahwa seluruh pengguna Facebook atau Instagram otomatis menjadi bagian dari gugatan ataupun berhak mendapatkan kompensasi.
Meta Hadapi Riwayat Perkara Biometrik
Gugatan terbaru juga kembali menyoroti sejarah Meta dalam perkara privasi biometrik. Meta pada 2020 menyelesaikan gugatan terkait sistem pengenalan wajah di Illinois dengan pembayaran sebesar US$650 juta. Pada 2024, perusahaan juga menyepakati pembayaran US$1,4 miliar untuk menyelesaikan perkara data pengenalan wajah di Texas.
Namun, perkara-perkara tersebut berbeda dari gugatan NameTag yang baru diajukan. Penyelesaian perkara sebelumnya juga tidak dengan sendirinya membuktikan tuduhan dalam perkara terbaru.
Mengapa Kasus Ini Penting bagi Pengguna?
Perkara NameTag memperlihatkan persoalan yang lebih luas mengenai perkembangan AI dan teknologi pengenalan wajah. Foto yang diunggah ke media sosial pada dasarnya dapat menampilkan bukan hanya pemilik akun, tetapi juga orang lain. Ketika teknologi AI mampu menganalisis wajah dalam skala besar, muncul pertanyaan mengenai apakah seseorang yang sekadar muncul dalam sebuah foto telah memberikan persetujuan untuk pemrosesan biometriknya.
Persoalan tersebut menjadi semakin kompleks ketika kamera dipasang pada perangkat yang dapat digunakan sehari-hari dan berpotensi merekam lingkungan sekitar.
Di sisi lain, teknologi pengenalan wajah juga memiliki sejumlah penggunaan yang dapat diperdebatkan dari sisi manfaat, sehingga perdebatan hukum dan regulasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan teknologinya, tetapi juga mengenai persetujuan, transparansi, penyimpanan data, keamanan, dan batas penggunaannya.
NameTag Belum Dirilis ke Konsumen
Sampai perkembangan terbaru pada September 2026, NameTag belum menjadi fitur konsumen yang tersedia secara resmi. Meta menyatakan belum mengambil keputusan final mengenai peluncuran teknologi tersebut. Perusahaan juga membantah bahwa mereka sedang membangun basis data wajah universal.
Sementara itu, para penggugat meminta pengadilan menilai apakah praktik yang mereka tuduhkan melanggar ketentuan perlindungan privasi biometrik di Illinois dan California. Perkembangan perkara ini selanjutnya akan menentukan apakah tuduhan mengenai penggunaan foto Facebook dan Instagram untuk teknologi pengenalan wajah dapat dibuktikan secara hukum.
Untuk saat ini, isu utama yang diperdebatkan bukan sekadar apakah Meta memiliki teknologi untuk mengenali wajah, tetapi dari mana data wajah tersebut diperoleh, bagaimana informasi biometrik diproses, apakah orang-orang yang wajahnya terdapat dalam foto memberikan persetujuan, serta untuk tujuan apa data tersebut digunakan.

Posting Komentar untuk "Meta Dituduh Pakai Foto Pengguna untuk Universal Face Recognition"