Panglima Militer Israel Sebut Hamas Kalah dan Perang Berakhir
Jakarta – Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel (IDF), Letnan Jenderal Eyal Zamir, dilaporkan menyatakan kepada Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Menteri Pertahanan Israel bahwa Hamas telah dikalahkan dan konfrontasi militer utama dengan kelompok tersebut telah berakhir.
Pernyataan Zamir menjadi sorotan karena muncul di tengah situasi Gaza yang masih belum sepenuhnya tenang. Laporan terbaru pada 17 September 2026 masih menyebut adanya serangan Israel di Jalur Gaza dan korban jiwa Palestina. Karena itu, pernyataan bahwa perang telah berakhir perlu dipahami sebagai penilaian militer Israel mengenai kondisi konflik, bukan berarti seluruh kekerasan di Gaza telah berhenti.
Eyal Zamir Sebut Hamas Telah Dikalahkan
Menurut laporan Middle East Monitor, Zamir menyampaikan kepada Netanyahu dan Israel Katz bahwa Hamas telah mengalami kekalahan dan fase konfrontasi militer tersebut telah berakhir. Pernyataan itu disampaikan setelah operasi militer Israel selama hampir tiga tahun sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.
Zamir sebelumnya juga menjadi salah satu pejabat militer Israel yang memimpin operasi IDF di Gaza. Penilaiannya mengenai kondisi Hamas menjadi penting karena menentukan bagaimana Israel akan memasuki tahap berikutnya setelah perang. Namun, klaim tersebut merupakan penilaian dari pihak militer Israel. Kondisi organisasi Hamas dan kemampuan kelompok tersebut untuk melakukan operasi masih menjadi persoalan yang diperdebatkan.
Mengapa Israel Menyebut Hamas Kalah?
Israel sejak awal operasi militernya menetapkan penghancuran kemampuan militer dan pemerintahan Hamas sebagai salah satu tujuan utama perang. Selama konflik berlangsung, Israel mengklaim telah membunuh sejumlah komandan Hamas, menghancurkan jaringan terowongan serta fasilitas militer, dan mengurangi kemampuan kelompok tersebut untuk melakukan serangan berskala besar.
Dalam beberapa hari terakhir, IDF juga mengumumkan operasi yang menargetkan sejumlah komandan Hamas. Salah satunya adalah Nael Abu Obeid, yang disebut Israel sebagai tokoh penting Hamas dan komandan Brigade Rafah. Serangkaian operasi tersebut menjadi bagian dari dasar penilaian militer Israel mengenai melemahnya kemampuan Hamas.
Tetapi Serangan di Gaza Masih Terjadi
Meski Zamir menyatakan Hamas telah kalah dan konfrontasi berakhir, laporan terbaru menunjukkan bahwa situasi keamanan di Gaza belum sepenuhnya berhenti. Pada 17 September, Middle East Monitor melaporkan serangkaian serangan drone Israel di sejumlah lokasi di Jalur Gaza yang disebut menewaskan sedikitnya sembilan warga Palestina dan melukai sekitar 40 orang.
Sehari sebelumnya, sebuah bangunan di Gaza City yang sebelumnya rusak akibat serangan Israel runtuh dan menewaskan sedikitnya 21 orang, termasuk 11 anak-anak, menurut laporan Associated Press. Kondisi tersebut menunjukkan adanya perbedaan antara istilah “perang berakhir” dalam konteks penilaian militer dan kenyataan bahwa kekerasan serta operasi keamanan masih terjadi.
Gencatan Senjata Belum Berarti Gaza Pulih
Situasi Gaza juga masih menghadapi persoalan besar setelah bertahun-tahun konflik. Associated Press melaporkan banyak bangunan di Gaza masih dalam kondisi tidak aman dan sebagian besar wilayah belum mengalami pembangunan kembali dalam skala besar. Keterbatasan alat berat, bahan bakar, serta akses bantuan membuat proses evakuasi dan pemulihan berlangsung sulit.
Bangunan yang runtuh di Gaza City menjadi salah satu contoh dampak jangka panjang perang. Bangunan tersebut sebelumnya telah mengalami kerusakan dan kemudian digunakan oleh keluarga-keluarga Palestina karena minimnya tempat tinggal alternatif. Dengan demikian, berakhirnya operasi perang dalam skala tertentu tidak otomatis berarti berakhirnya krisis kemanusiaan.
Bagaimana Kondisi Hamas?
Klaim bahwa Hamas telah kalah juga tidak sama dengan menyatakan bahwa Hamas telah hilang sepenuhnya. Laporan mengenai struktur Hamas menunjukkan kelompok tersebut masih memiliki tokoh politik dan jaringan organisasi. Pada Agustus 2026, misalnya, Hamas mengumumkan Khalil al-Hayya sebagai pemimpin barunya. Ia sebelumnya dikenal sebagai salah satu negosiator utama kelompok tersebut dalam pembicaraan terkait perang Gaza.
Di sisi lain, kemampuan militer Hamas memang telah mengalami tekanan besar akibat operasi Israel selama bertahun-tahun. Karena itu, istilah “kalah” dapat merujuk pada berkurangnya kemampuan Hamas untuk menjalankan operasi militer seperti sebelumnya, sementara keberadaan organisasi dan struktur politiknya merupakan persoalan berbeda.
Israel Memasuki Fase Baru
Jika penilaian Zamir menjadi dasar kebijakan pemerintah Israel, fokus Israel dapat bergeser dari operasi perang berskala besar menuju pengamanan wilayah, pencegahan serangan baru, dan persoalan politik pascakonflik. Salah satu persoalan terbesar adalah siapa yang akan mengelola Gaza dalam jangka panjang.
Selain itu, terdapat persoalan mengenai pelucutan senjata Hamas, keamanan perbatasan, pemulihan infrastruktur, distribusi bantuan kemanusiaan, serta kemungkinan pembentukan pemerintahan atau administrasi baru di Gaza. Persoalan-persoalan tersebut jauh lebih kompleks daripada sekadar menentukan pihak yang menang atau kalah dalam pertempuran.
Pernyataan Zamir Jadi Babak Baru Konflik Gaza
Pernyataan Eyal Zamir mengenai kekalahan Hamas dan berakhirnya konfrontasi menjadi salah satu perkembangan penting dalam konflik Gaza. Namun, kondisi di lapangan menunjukkan bahwa kekerasan belum sepenuhnya berhenti. Serangan masih dilaporkan terjadi, korban jiwa masih berjatuhan, dan Gaza menghadapi kerusakan infrastruktur serta krisis kemanusiaan yang berat.
Karena itu, pernyataan bahwa “Hamas kalah dan perang berakhir” sebaiknya dipahami sebagai penilaian yang disampaikan pimpinan militer Israel, bukan sebagai tanda bahwa seluruh persoalan Gaza telah selesai.
Tahap berikutnya justru akan menjadi ujian baru: bagaimana keamanan dijaga, bagaimana Gaza dibangun kembali, bagaimana masa depan Hamas ditentukan, dan siapa yang akan menjalankan pemerintahan di wilayah tersebut.

Posting Komentar untuk "Panglima Militer Israel Sebut Hamas Kalah dan Perang Berakhir"