Penembak ASN di Papua Ambil HP Korban Tewas, Lalu Video Call Keluarga

Jayawijaya, Papua Pegunungan — Kasus penembakan tiga pegawai Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya di Distrik Muliama, Papua Pegunungan, pada Rabu (9/9/2026) terus menjadi sorotan. Selain menewaskan tiga orang, pelaku juga diduga mengambil telepon seluler milik salah satu korban yang telah meninggal dunia.

Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 15.53 WIT ketika rombongan pegawai Dinas Pertanian Jayawijaya sedang menjalankan tugas di wilayah Muliama. Sebanyak 11 orang berada dalam rombongan yang menggunakan dua kendaraan. Tiga korban dalam insiden tersebut yakni Willy Mboik, Aprida Rapi, dan Alfonsius Albinus Meha. Willy merupakan CPNS yang baru sekitar dua bulan menjalankan tugas di Papua Pegunungan.

Pelaku Diduga Ambil HP Korban

Setelah penembakan, keluarga korban mengetahui bahwa sejumlah barang pribadi korban hilang. Salah satunya adalah telepon seluler milik Willy Mboik. Keluarga menduga HP tersebut diambil oleh pelaku setelah penembakan. Tas korban disebut masih berada di kantor, sementara telepon genggamnya tidak ditemukan. Kehilangan HP tersebut menjadi perhatian karena perangkat itu berpotensi menyimpan berbagai data penting, termasuk komunikasi korban dengan keluarga dan rekan kerja.

HP Korban Diduga Dipakai untuk Menghubungi Keluarga

Informasi mengenai HP korban kemudian menjadi bagian yang paling menggemparkan dari kasus tersebut. Pelaku disebut mengambil perangkat milik korban yang telah tewas dan kemudian menggunakannya untuk melakukan video call dengan keluarga korban.

Aksi tersebut menambah kepiluan keluarga karena komunikasi dilakukan menggunakan perangkat milik anggota keluarga mereka yang baru saja menjadi korban penembakan. Namun, berdasarkan informasi yang telah terverifikasi hingga Jumat (11/9/2026), aparat masih melakukan penyelidikan untuk memastikan secara rinci bagaimana HP korban berpindah tangan, siapa yang menggunakannya, serta kapan komunikasi tersebut dilakukan.

Karena itu, detail mengenai percakapan maupun identitas pihak yang melakukan video call belum dapat dipastikan secara independen.

Rombongan Dicegat Sebelum Ditembak

Polisi menyebut rombongan pegawai Dinas Pertanian tersebut berjumlah 11 orang. Mereka sebelumnya menjalankan kegiatan di wilayah setempat, termasuk mendistribusikan bantuan serta bibit dan anakan ternak kepada masyarakat. Dalam perjalanan, rombongan dicegat kelompok bersenjata. Para penumpang kemudian dipisahkan antara warga lokal dan warga pendatang sebelum terjadi penembakan.

Serangan tersebut menyebabkan tiga pegawai meninggal dunia. Salah satu korban, Willy Mboik, sempat mendapat penanganan di RSUD Wamena sebelum akhirnya meninggal dunia akibat luka tembak.

Polisi Masih Kejar Pelaku

Satgas Operasi Damai Cartenz 2026 bersama Polres Jayawijaya langsung melakukan penyelidikan dan penyisiran di sekitar lokasi kejadian. Petugas juga mengumpulkan barang bukti untuk mengidentifikasi kelompok yang bertanggung jawab atas serangan tersebut. Dalam perkembangan terbaru, aparat menemukan selongsong peluru di lokasi penembakan dan terus mendalami jenis senjata yang digunakan.

Pihak kepolisian hingga kini masih mendalami identitas pelaku serta kelompok yang berada di balik penembakan. Keamanan di sekitar jalur yang menjadi lokasi kejadian juga menjadi perhatian aparat.

Willy Baru Dua Bulan Menjadi CPNS

Kisah Willy Mboik membuat kasus ini semakin menyayat hati. Pemuda asal Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, tersebut baru sekitar dua bulan berstatus CPNS ketika harus kehilangan nyawa saat menjalankan tugas di Papua Pegunungan.

Keluarga di Rote Ndao sebelumnya terus memantau kondisi Willy setelah mendapat kabar dirinya menjadi korban penembakan. Mereka bahkan sempat berdoa agar Willy dapat diselamatkan ketika kondisinya masih kritis. Kini keluarga harus menerima kenyataan bahwa Willy telah meninggal dunia. Jenazahnya kemudian dipulangkan dari Wamena menuju Kupang sebelum diteruskan ke Rote Ndao.

Pemerintah Diminta Pastikan Keamanan ASN

Penembakan terhadap tiga pegawai Dinas Pertanian Jayawijaya kembali menyoroti risiko yang dihadapi aparatur pemerintah ketika menjalankan tugas di wilayah rawan konflik bersenjata. Para ASN dan petugas lapangan kerap harus masuk ke daerah yang sulit dijangkau untuk menyalurkan bantuan maupun menjalankan program pemerintah. Karena itu, aspek keamanan menjadi faktor penting dalam setiap kegiatan lapangan.

Kasus Muliama kini masih dalam proses penyelidikan. Aparat diharapkan dapat segera mengungkap pelaku, motif serangan, sekaligus menelusuri keberadaan HP korban yang diduga dibawa setelah penembakan.

Catatan: informasi mengenai pengambilan HP korban dan penggunaannya untuk video call keluarga masih perlu dipandang sebagai bagian dari perkembangan penyelidikan sampai ada konfirmasi resmi aparat mengenai kronologi tersebut.

Posting Komentar untuk " Penembak ASN di Papua Ambil HP Korban Tewas, Lalu Video Call Keluarga"