Penjaga Hotel: Rombongan 5 Jurnalis Hilang Sempat Pesan Kamar 2 Malam

Misteri hilangnya lima jurnalis yang hendak meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda terus menjadi perhatian. Fakta baru terungkap dari pihak hotel tempat rombongan tersebut menginap sebelum berangkat ke kawasan Anak Krakatau.

Kelima jurnalis tersebut diketahui sempat memesan kamar di Hotel Padasuka, Carita, Pandeglang, Banten, untuk dua malam. Sejumlah barang milik mereka, termasuk kendaraan, juga masih tertinggal di hotel. Informasi tersebut diungkap dalam laporan Liputan6 pada Kamis (10/9/2026).

Temuan itu menjadi salah satu petunjuk mengenai rencana awal perjalanan mereka. Rombongan ternyata tidak datang ke kawasan Carita hanya untuk perjalanan singkat, tetapi telah menyiapkan akomodasi selama beberapa hari.

Sempat Pesan Kamar Dua Malam

Penjaga Hotel Padasuka mengungkapkan bahwa lima jurnalis yang kini masih dalam pencarian sebelumnya telah memesan kamar untuk dua malam. Rencana tersebut menjadi perhatian karena rombongan kemudian berangkat menggunakan speedboat menuju kawasan Gunung Anak Krakatau untuk melakukan peliputan.

Menurut informasi hotel, mobil dan sejumlah barang milik para jurnalis masih berada di lokasi penginapan. Artinya, mereka meninggalkan sejumlah barang ketika berangkat menuju lokasi peliputan dan belum kembali ke hotel. Kondisi tersebut turut menjadi bagian dari informasi yang dihimpun dalam proses pencarian.

Berangkat dari Carita Menuju Anak Krakatau

Lima jurnalis tersebut berangkat dari Dermaga Pagedongan, Carita, Kabupaten Pandeglang, pada Senin (7/9/2026) sekitar pukul 14.00 WIB. Mereka menggunakan sebuah speedboat untuk menuju kawasan perairan Gunung Anak Krakatau yang saat itu sedang mengalami peningkatan aktivitas vulkanik.

Kelima jurnalis yang dilaporkan hilang kontak adalah M. Bagus Khoirunnas dari LKBN ANTARA, Ari Basuki dari Merdeka.com, Yudistiro Pranoto dari iNews, Firman Daus dari Anadolu Agency, dan Donal Husni yang merupakan jurnalis lepas.

Selain lima jurnalis, terdapat tiga orang lain di dalam rombongan, yakni kapten kapal Warta, anak buah kapal Surakman, dan pemandu Heriyanto. Dengan demikian, total ada delapan orang yang masih dalam pencarian.

Kontak Terakhir Terjadi Tak Lama Setelah Berangkat

Berdasarkan informasi Basarnas, salah seorang jurnalis sempat mengirimkan titik lokasi kepada rekannya di Lampung sekitar pukul 14.42 WIB pada Senin (7/9). Sekitar 22 menit kemudian, tepatnya pukul 15.04 WIB, komunikasi dengan rombongan terputus.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten Al Amrad menyebut tim kemudian melakukan pencarian terhadap kapal dan delapan orang yang berada di dalamnya. Pada penyisiran awal, tim belum menemukan tanda-tanda keberadaan speedboat maupun para penumpang. Kapal tersebut kemudian diketahui sebagai speedboat Arupadhatu 1.

Sempat Diduga Menginap di Sekitar Anak Krakatau

Pemilik kapal, Sandi Wiyasa, sebelumnya mengungkap bahwa rombongan menyewa kapal pada Senin siang dengan rencana perjalanan pulang-pergi. Mereka semestinya kembali ke kawasan Carita pada sore hari. Namun, ketika malam tiba kapal belum juga kembali.

Sandi awalnya tidak langsung menganggap rombongan mengalami musibah. Ia menduga para jurnalis mungkin memilih bermalam di salah satu pulau di sekitar Anak Krakatau demi mendapatkan sudut gambar yang lebih baik untuk kebutuhan peliputan. Pemilik kapal kemudian mencoba mencari informasi melalui kru kapal lain, nelayan, nakhoda serta warga di kawasan sekitar Pulau Sebesi.

Setelah dipastikan rombongan tidak kembali dan tidak dapat dihubungi, informasi tersebut diteruskan sehingga operasi pencarian dilakukan oleh Basarnas.

Hari Ketiga Pencarian Masih Berlangsung

Hingga Kamis (10/9/2026), operasi pencarian telah memasuki hari ketiga. Tim SAR gabungan memperluas wilayah pencarian menjadi enam sektor dengan luas sekitar 2.483 nautical mile persegi. Sebanyak 367 personel dikerahkan untuk mencari delapan orang yang hilang kontak.

Unsur yang terlibat meliputi Basarnas, TNI AL, Polairud, BPBD, potensi SAR, nelayan serta masyarakat. Selain kapal dan Rigid Inflatable Boat (RIB), tim juga menggunakan drone thermal dan peralatan pendukung pencarian di laut.

Pencarian juga diperluas ke sisi utara Gunung Anak Krakatau berdasarkan perhitungan arah arus, angin dan gelombang.

Cuaca dan Aktivitas Anak Krakatau Jadi Tantangan

Operasi pencarian menghadapi kondisi yang tidak mudah. Gelombang di wilayah pencarian dilaporkan dapat mencapai sekitar empat meter. Selain kondisi laut, aktivitas Gunung Anak Krakatau juga menjadi pertimbangan keselamatan tim SAR.

Hingga sebelumnya, Basarnas belum menggunakan helikopter untuk pencarian karena lokasi dugaan keberadaan korban berada di sekitar gunung yang masih aktif. Faktor abu vulkanik dan keselamatan penerbangan menjadi pertimbangan utama. Oleh sebab itu, pencarian dari laut masih menjadi metode utama sembari tim menghitung kemungkinan pergerakan objek berdasarkan arus dan kondisi perairan.

Keluarga Datang ke Posko Pencarian

Ketidakpastian mengenai keberadaan para jurnalis membuat keluarga mereka berdatangan ke posko pencarian di Carita. Yanti, istri Ari Basuki, bahkan ikut dalam proses pencarian dengan menggunakan kapal milik Polairud Mabes Polri. Keluarga berharap operasi SAR dapat segera menemukan petunjuk mengenai keberadaan rombongan.

Polda Banten juga telah membuka posko antemortem untuk membantu proses identifikasi apabila diperlukan. Sementara itu, berbagai organisasi dan komunitas pers terus memberikan dukungan kepada keluarga serta meminta pencarian dilakukan secara maksimal.

Mengapa Pesanan Hotel Dua Malam Jadi Petunjuk Penting?

Pesanan kamar selama dua malam memberikan gambaran bahwa para jurnalis kemungkinan memang telah mempersiapkan perjalanan peliputan di kawasan Carita dan Anak Krakatau. Namun, informasi tersebut belum dapat dijadikan kesimpulan mengenai apa yang terjadi setelah mereka berangkat.

Rencana menginap dua malam justru menjadi bagian dari konteks yang perlu diperiksa bersama data perjalanan, komunikasi terakhir, koordinat kapal, kondisi cuaca, serta keterangan awak dan pihak lain yang mengetahui aktivitas rombongan. Hingga kini, belum ada informasi resmi yang memastikan penyebab hilangnya speedboat tersebut.

Pencarian Terus Diperluas

Pada hari ketiga, tim SAR terus memperluas cakupan penyisiran. Penggunaan drone thermal juga dioptimalkan untuk membantu pemantauan dari udara, sementara kapal-kapal pencari menyisir sektor yang telah ditentukan.

Kondisi Anak Krakatau yang masih aktif membuat pencarian harus dilakukan dengan memperhitungkan keselamatan personel. Di sisi lain, pihak pers dan keluarga terus berharap adanya titik terang dari operasi tersebut. Petunjuk bahwa lima jurnalis sempat memesan kamar Hotel Padasuka selama dua malam serta meninggalkan mobil dan sejumlah barang di hotel menjadi informasi penting dalam mengungkap rencana perjalanan mereka. Namun, keberadaan mereka dan tiga orang awak speedboat hingga Kamis (10/9) masih belum diketahui. Tim SAR kini memperluas pencarian sambil menghadapi tantangan cuaca, gelombang tinggi, dan aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Posting Komentar untuk " Penjaga Hotel: Rombongan 5 Jurnalis Hilang Sempat Pesan Kamar 2 Malam"