Perdana di Australia, Wanita Dimakamkan Pakai Peti Berbahan Jamur

Australia mencatat sebuah momen yang disebut sebagai pemakaman pertama menggunakan peti mati berbahan jamur. Seorang perempuan bernama Carolyn, yang berusia sekitar 70-an tahun, dimakamkan di Springwood Cemetery, Blue Mountains, New South Wales, menggunakan peti yang dibuat dari miselium jamur dan serat rami (hemp).

Pemakaman tersebut dilakukan pada Jumat, 4 September 2026, dan menjadi perhatian karena keluarga Carolyn memilih cara tersebut sebagai bentuk penghormatan terhadap kecintaannya pada alam sekaligus keinginannya untuk meninggalkan jejak lingkungan yang lebih kecil.

Peti Mati yang "Tumbuh" dari Jamur

Peti yang digunakan Carolyn bukan terbuat dari jamur dalam bentuk yang biasa kita lihat sebagai bahan makanan. Material utamanya adalah miselium, yakni jaringan seperti akar yang membentuk bagian vegetatif dari jamur. Miselium kemudian dipadukan dengan serat hemp yang berasal dari bahan pertanian.

Peti tersebut dikembangkan oleh perusahaan Belanda Loop Biotech. Proses pembuatannya dilakukan dengan menumbuhkan miselium di dalam cetakan khusus pada ruangan dengan kondisi lingkungan yang terkontrol. Menariknya, peti tersebut tidak dibuat melalui proses manufaktur konvensional seperti memotong dan merakit kayu. Materialnya justru ditumbuhkan hingga membentuk struktur peti. Proses tersebut membutuhkan waktu sekitar satu minggu.

Siapa Carolyn?

Identitas lengkap Carolyn tidak dipublikasikan untuk menghormati privasi keluarga. Ia disebut berusia sekitar 70 tahun dan dimakamkan di Springwood Cemetery di kawasan Blue Mountains. Suaminya, Donald, mengatakan keputusan menggunakan peti berbahan jamur sangat sesuai dengan karakter dan nilai yang diyakini istrinya.

Menurut Donald, Carolyn dikenal sebagai sosok yang senang membantu orang lain. Karena itu, keluarga merasa penggunaan peti yang dapat kembali ke alam menjadi cara yang tepat untuk mengabadikan nilai tersebut. Dengan peti itu, keluarga berharap kepergian Carolyn tidak hanya menjadi akhir kehidupan, tetapi juga bagian dari proses alami yang memberikan sesuatu kembali kepada lingkungan.

Bisa Terurai dalam Sekitar 45 Hari

Salah satu keunggulan utama peti berbahan miselium adalah kemampuannya untuk terurai jauh lebih cepat dibandingkan peti mati konvensional. Dalam kondisi yang sesuai, Loop Living Cocoon disebut dapat terurai dan menjadi bagian dari tanah dalam waktu sekitar 45 hari setelah dikuburkan. Proses tersebut menyerupai mekanisme pengomposan alami.

Material peti kemudian berkontribusi terhadap tanah dengan mengembalikan unsur organik ke lingkungan. Sebagai perbandingan, peti mati kayu konvensional dapat membutuhkan waktu hingga sekitar 50 tahun untuk terurai, tergantung kondisi dan materialnya.

Bukan Sekadar Peti yang Ramah Lingkungan

Konsep peti berbahan miselium tidak hanya bertujuan mengurangi penggunaan material yang sulit terurai. Pendiri Loop Biotech, Bob Hendrikx, mengembangkan konsep tersebut dengan gagasan bahwa manusia sebenarnya dapat memanfaatkan kemampuan alam untuk menghasilkan material yang berguna.

Setelah digunakan, material tersebut kemudian dikembalikan lagi ke alam. Peti Living Cocoon pada dasarnya dirancang mengikuti siklus tersebut: tumbuh dari material biologis, digunakan untuk pemakaman, lalu kembali menjadi bagian dari tanah.

Berat Peti Sekitar 30 Kilogram

Meski dibuat dari material biologis, peti tersebut tetap dirancang untuk menjalankan fungsi layaknya peti mati biasa. Loop Biotech menyebut berat satu peti sekitar 30 kilogram. Perusahaan tersebut telah mengembangkan dan mendistribusikan produk serupa di berbagai negara sebelum akhirnya digunakan dalam pemakaman pertama di Australia.

Teknologi ini juga bukan eksperimen yang baru muncul pada 2026. Peti berbahan miselium tersebut telah digunakan dalam berbagai pemakaman di Eropa dan Amerika Serikat. Menurut Hendrikx, sudah ada ribuan orang yang menggunakan peti tersebut di berbagai negara sebelum produk itu masuk ke Australia.

Mengapa Keluarga Memilih Peti Jamur?

Keputusan keluarga Carolyn mencerminkan perubahan cara sebagian masyarakat memandang pemakaman. Pemakaman selama ini identik dengan penggunaan peti kayu, logam, bahan pelapis tertentu, serta proses pengawetan jenazah. Sementara itu, sebagian masyarakat mulai mempertimbangkan bagaimana proses pemakaman dapat memberikan dampak lingkungan yang lebih kecil.

Bagi keluarga Carolyn, pilihan peti jamur dianggap sesuai dengan nilai yang dianut almarhumah. Pilihan tersebut juga memberikan makna simbolis: tubuh manusia kembali ke tanah dan menjadi bagian dari siklus alam.

Tren Pemakaman Ramah Lingkungan Mulai Berkembang

Pemakaman menggunakan peti berbahan miselium merupakan bagian dari tren yang lebih luas menuju eco-death atau pemakaman yang mempertimbangkan aspek lingkungan. Antropolog budaya dari University of Melbourne, Dr Hannah Gould, mengatakan semakin banyak orang tertarik pada cara pemakaman yang lebih ramah lingkungan.

Menurutnya, perubahan tersebut berkaitan dengan berkembangnya nilai-nilai baru di masyarakat, termasuk ketika sebagian orang mulai mencari bentuk ritual kematian yang lebih sesuai dengan pandangan mereka mengenai alam dan lingkungan. Dengan kata lain, pemakaman tidak lagi hanya dipandang sebagai ritual keagamaan atau keluarga, tetapi juga dapat menjadi bagian dari pilihan gaya hidup dan nilai lingkungan seseorang.

Mayoritas Warga Australia Memilih Kremasi

Fenomena ini menjadi semakin menarik jika melihat kebiasaan pemakaman di Australia. Sekitar 70 persen warga Australia memilih kremasi. Namun, kremasi juga memiliki jejak lingkungan karena membutuhkan energi dalam jumlah besar dan menghasilkan emisi karbon.

The Guardian mengutip estimasi bahwa kremasi konvensional dapat menghasilkan emisi sekitar 125 kilogram setara karbon dioksida untuk setiap orang. Kondisi tersebut mendorong munculnya alternatif lain, termasuk pemakaman alami, peti biodegradable, hingga alkaline hydrolysis atau proses yang menggunakan air sebagai alternatif terhadap kremasi menggunakan api.

Ada Pilihan Pemakaman Alami Lain

Peti berbahan jamur bukan satu-satunya pilihan pemakaman ramah lingkungan. Salah satu alternatifnya adalah natural burial, yaitu pemakaman dengan intervensi seminimal mungkin terhadap tubuh dan lingkungan. Proses ini umumnya tidak menggunakan pengawetan jenazah dengan bahan kimia tertentu dan dapat menggunakan peti sederhana yang mudah terurai.

Menurut analisis yang dikutip The Guardian, pemakaman alami menggunakan peti kardus dan pegangan tali dapat menghasilkan emisi kurang dari 10 kilogram setara CO2, jauh lebih rendah dibandingkan estimasi emisi kremasi konvensional. Dengan semakin banyak pilihan tersebut, keluarga kini memiliki lebih banyak cara untuk menentukan bentuk pemakaman yang sesuai dengan nilai dan keinginan orang yang meninggal.

Bagaimana Peti Jamur Dibuat?

Proses pembuatan Living Cocoon cukup berbeda dari pembuatan peti konvensional. Pertama, miselium jamur dikembangkan bersama serat hemp. Campuran tersebut kemudian ditempatkan pada cetakan berbentuk peti. Dalam ruangan dengan suhu dan kelembapan terkontrol, miselium tumbuh dan mengikat material organik sehingga membentuk struktur yang kokoh. Setelah bentuk peti terbentuk, produk kemudian dikeringkan dan disiapkan untuk digunakan. Seluruh proses pertumbuhan membutuhkan waktu sekitar satu minggu.

Setelah Dikubur, Peti Justru Menjadi Bagian dari Tanah

Konsep utama Living Cocoon adalah mengubah peti dari sekadar wadah menjadi bagian dari proses ekologis. Ketika dikuburkan dalam kondisi yang sesuai, miselium dan serat hemp secara bertahap terurai. Material organik tersebut kemudian menjadi bagian dari tanah.

Karena itu, peti tersebut tidak dirancang untuk bertahan selama puluhan tahun seperti sebagian peti konvensional. Sebaliknya, semakin cepat material kembali ke alam justru menjadi bagian dari tujuan desainnya.

Mengapa Australia Menjadi Pasar Menarik?

Australia memiliki kondisi alam yang menjadi salah satu alasan mengapa konsep pemakaman ramah lingkungan mendapat perhatian. Selain masyarakat yang semakin sadar terhadap isu keberlanjutan, Australia juga memiliki budaya yang cukup kuat terkait alam dan ruang terbuka.

Loop Biotech sebelumnya telah menerima banyak ketertarikan dari Australia dan Selandia Baru. Namun, distribusi produk ke kawasan tersebut memiliki tantangan logistik karena lokasi yang jauh dari Eropa. Kini, produk tersebut mulai masuk ke industri pemakaman Australia melalui kerja sama dengan Arrow Bronze, perusahaan yang menjadi mitra distribusi eksklusif untuk Australia dan Selandia Baru.

Masa Depan Pemakaman Bisa Berubah

Pemakaman Carolyn mungkin hanya satu kasus, tetapi peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa industri pemakaman sedang mengalami perubahan. Masyarakat mulai mempertanyakan kembali berbagai aspek dari tradisi pemakaman, mulai dari bahan peti, proses pengawetan jenazah, penggunaan energi untuk kremasi, hingga dampak jangka panjang terhadap lingkungan.

Pilihan seperti peti berbahan miselium memberikan alternatif bagi orang yang ingin meninggalkan dunia dengan cara yang sejalan dengan prinsip keberlanjutan. Bagi sebagian keluarga, gagasan tersebut bahkan memberikan makna emosional tambahan: orang yang mereka cintai tidak hanya kembali ke tanah, tetapi juga membantu memperkaya lingkungan setelah meninggal.

Kesimpulan

Australia mencatat pemakaman pertama menggunakan peti berbahan jamur setelah seorang perempuan bernama Carolyn dimakamkan di Springwood Cemetery, Blue Mountains, New South Wales. Peti yang digunakan adalah Loop Living Cocoon, yang dibuat dari miselium jamur dan serat hemp. Peti tersebut ditumbuhkan dalam cetakan selama sekitar satu minggu dan dalam kondisi yang sesuai dapat terurai menjadi bagian dari tanah dalam waktu sekitar 45 hari.

Pilihan keluarga Carolyn menjadi simbol berkembangnya tren pemakaman ramah lingkungan di Australia. Di tengah tingginya angka kremasi dan meningkatnya kesadaran terhadap dampak lingkungan, peti biodegradable berbahan jamur menawarkan cara berbeda untuk memandang kematian: bukan sekadar akhir kehidupan, melainkan bagian dari siklus alam.

Dengan masuknya teknologi tersebut ke Australia, bukan tidak mungkin peti jamur, pemakaman alami, dan metode pemakaman rendah emisi lainnya akan semakin dikenal dan dipertimbangkan masyarakat di masa mendatang.

Posting Komentar untuk "Perdana di Australia, Wanita Dimakamkan Pakai Peti Berbahan Jamur"