Presiden Como asal Indonesia Serahkan Kursi UCL ke Penonton 75 Tahun
COMO — Presiden Como 1907 asal Indonesia, Mirwan Suwarso, menunjukkan gestur simpatik menjelang debut klub di Liga Champions UEFA (UCL). Ia bersama sejumlah jajaran direksi Como rela menyerahkan kursi mereka kepada suporter senior yang telah mendukung klub selama puluhan tahun.
Como 1907 akan menghadapi RB Leipzig dalam pertandingan kandang Liga Champions di Stadio Giuseppe Sinigaglia pada Kamis, 10 September 2026 waktu setempat. Laga tersebut menjadi salah satu pertandingan paling bersejarah bagi Como setelah perjalanan panjang klub hingga akhirnya mencapai panggung tertinggi kompetisi antarklub Eropa.
Antusiasme suporter menyambut pertandingan tersebut sangat tinggi. Tiket pertandingan dilaporkan telah terjual habis, sementara kapasitas stadion yang terbatas membuat tidak semua penggemar Como dapat hadir secara langsung.
Dalam situasi tersebut, Mirwan Suwarso dan sejumlah direktur klub mengambil keputusan untuk memberikan kursi mereka kepada kelompok suporter yang dianggap paling layak mendapatkan kesempatan menyaksikan sejarah Como secara langsung.
Kursi Presiden Diberikan untuk Fans Senior
Mirwan mengungkapkan keputusan tersebut melalui media sosial. Ia menyebut dirinya dan sejumlah direktur Como memilih melepaskan kursi mereka untuk pertandingan Liga Champions. Kursi tersebut secara khusus ditujukan kepada penggemar yang lahir pada 1950 atau sebelumnya. Artinya, mereka yang mendapatkan kesempatan tersebut merupakan suporter berusia sekitar 75 tahun atau lebih.
Para penggemar senior itu juga diprioritaskan karena dianggap telah mengikuti perjalanan Como melalui berbagai periode dan kasta kompetisi. Keputusan tersebut menjadi semakin bermakna karena sebagian dari mereka telah mendukung Como sejak klub masih jauh dari bayangan tampil di Liga Champions.
"Beberapa direktur klub dan saya telah memutuskan untuk memberikan tempat duduk kami dalam pertandingan ini," demikian inti pesan Mirwan seperti dikutip dari laporan media Italia. Mirwan kemudian meminta agar kursi-kursi tersebut diberikan kepada pendukung yang telah menunggu paling lama, terutama penggemar yang lahir pada 1950 atau sebelumnya dan telah mengikuti Como di berbagai divisi.
Tiket Como vs Leipzig Ludes
Laga Como kontra RB Leipzig memiliki nilai sejarah tersendiri. Selain menjadi pertandingan kandang di kompetisi elite Eropa, duel tersebut berlangsung di tengah tingginya antusiasme publik terhadap perkembangan Como.
Laporan terbaru menyebut seluruh tiket pertandingan telah terjual. Dengan kapasitas stadion yang terbatas, jumlah kursi yang tersedia tidak mampu menampung seluruh penggemar yang ingin menyaksikan langsung pertandingan. Situasi itu membuat sejumlah suporter lama berpotensi kehilangan kesempatan hadir di stadion.
Como kemudian mengambil langkah berbeda. Alih-alih mempertahankan seluruh jatah kursi untuk jajaran klub, sejumlah kursi eksekutif justru diberikan kepada penggemar senior. Langkah tersebut menjadi bentuk penghormatan kepada mereka yang telah mendukung Como jauh sebelum klub menikmati sorotan besar seperti sekarang.
Dari Masa Sulit hingga Liga Champions
Perjalanan Como 1907 menuju Liga Champions tidak berlangsung dalam waktu singkat. Klub tersebut pernah mengalami periode sulit dan harus melewati berbagai kasta sepak bola Italia. Dalam beberapa tahun terakhir, Como mengalami perkembangan signifikan hingga mampu bersaing di level tertinggi.
Kebangkitan Como juga tidak terlepas dari kepemilikan keluarga Hartono dari Indonesia. Investasi dan pengelolaan klub kemudian membuat nama Como semakin dikenal, termasuk di Indonesia. Kehadiran Mirwan Suwarso sebagai presiden klub turut memperkuat hubungan antara Como dan Indonesia.
Karena itu, debut Como di Liga Champions bukan hanya menjadi pencapaian olahraga, tetapi juga menjadi momen yang memiliki makna khusus bagi pihak-pihak yang terlibat dalam proyek klub sejak awal.
Penghormatan untuk Suporter yang Bertahan Puluhan Tahun
Keputusan Mirwan memberikan kursinya kepada fans senior menunjukkan bahwa keberhasilan sebuah klub tidak hanya diukur dari trofi dan prestasi pemain. Para suporter juga menjadi bagian penting dalam perjalanan panjang sebuah klub. Fans yang lahir pada 1950 atau sebelumnya telah melewati puluhan tahun sejarah Como. Mereka menyaksikan klub mengalami masa kejayaan, keterpurukan, pergantian pemain dan pelatih, hingga akhirnya mencapai kompetisi Eropa.
Bagi sebagian dari mereka, kesempatan menonton Como di Liga Champions mungkin menjadi pengalaman yang tidak pernah terbayangkan ketika pertama kali mendukung klub. Kini, setelah menunggu selama puluhan tahun, mereka berkesempatan menyaksikan Como bermain di salah satu kompetisi paling bergengsi di dunia.
Stadion Sinigaglia Jadi Saksi Sejarah
Pertandingan Como melawan RB Leipzig akan berlangsung di Stadio Giuseppe Sinigaglia. Stadion tersebut memiliki lokasi yang sangat ikonik karena berada di kawasan Danau Como. Venue bersejarah itu menjadi bagian penting dari identitas klub.
Namun, kapasitas stadion yang terbatas membuat jumlah tiket menjadi persoalan ketika permintaan meningkat tajam. Kondisi tersebut semakin terasa ketika Como harus menjalani pertandingan Liga Champions. Antusiasme yang besar membuat tiket menjadi sangat terbatas.
Karena itulah keputusan Mirwan dan sejumlah direktur klub untuk menyerahkan kursi mereka menjadi perhatian. Di tengah atmosfer sepak bola modern yang semakin identik dengan tiket VIP dan fasilitas eksklusif, kursi milik pimpinan klub justru diberikan kepada suporter yang telah mendukung Como sejak puluhan tahun lalu.
Debut Liga Champions yang Penuh Makna
Pertandingan kontra RB Leipzig akan menjadi bagian penting dalam sejarah Como 1907. Bagi klub, pertandingan tersebut merupakan bukti perjalanan panjang dari masa-masa sulit hingga mampu tampil di kompetisi elite Eropa.
Bagi para pemain, laga itu menjadi kesempatan untuk membuktikan kemampuan Como menghadapi klub-klub papan atas Eropa. Sementara bagi suporter senior, pertandingan tersebut menjadi penghargaan atas loyalitas yang mereka berikan selama puluhan tahun.
Mereka bukan sekadar penonton. Sebagian telah menjadi saksi perjalanan Como melewati berbagai kasta kompetisi sebelum akhirnya sampai ke Liga Champions. Dengan menyerahkan kursi mereka, Mirwan Suwarso dan jajaran direksi memberikan pesan bahwa sejarah Como tidak hanya dibangun oleh pemain, pelatih dan pemilik klub.
Sejarah tersebut juga dibangun oleh para suporter yang tetap bertahan ketika kondisi klub tidak selalu mudah.
Simbol Loyalitas di Tengah Sepak Bola Modern
Gestur Mirwan Suwarso menjadi cerita menarik sebelum bola pertama pertandingan Como dan RB Leipzig bergulir. Keputusan itu memperlihatkan bahwa momen bersejarah sebuah klub dapat dirasakan bersama, termasuk oleh mereka yang telah menjadi bagian dari perjalanan klub selama puluhan tahun.
Bagi seorang suporter yang telah mengikuti Como sejak lama, duduk di Stadio Giuseppe Sinigaglia dan menyaksikan klub kesayangannya tampil di Liga Champions tentu memiliki nilai emosional yang sulit diukur dengan uang. Dengan demikian, kursi yang diserahkan Mirwan bukan sekadar tempat duduk.
Kursi tersebut menjadi simbol penghargaan kepada generasi suporter yang telah menjaga kecintaan terhadap Como selama puluhan tahun. Dan ketika Como akhirnya menjalani laga bersejarah melawan RB Leipzig, para fans senior itu akan memiliki kesempatan untuk menyaksikan sendiri babak baru perjalanan klub yang selama ini mereka cintai.

Posting Komentar untuk " Presiden Como asal Indonesia Serahkan Kursi UCL ke Penonton 75 Tahun"