Ragam Keluhan Turis Asing Saat Kunjungi Korea Selatan
Korea Selatan semakin ramai dikunjungi wisatawan mancanegara. Popularitas K-pop, drama Korea, kuliner, kosmetik, hingga berbagai destinasi budaya membuat Negeri Ginseng menjadi salah satu tujuan wisata favorit di Asia. Namun, di tengah lonjakan jumlah wisatawan tersebut, muncul persoalan lain. Keluhan wisatawan terhadap layanan pariwisata Korea Selatan justru mencapai rekor pada 2026.
Data Korea Tourism Organization (KTO) menunjukkan terdapat 1.753 keluhan wisatawan yang tercatat sepanjang Januari-Juli 2026. Jumlah itu bahkan sudah melampaui total keluhan sepanjang 2025 yang mencapai 1.744 kasus. Menariknya, sebagian besar laporan tersebut berasal dari wisatawan asing. Berikut sejumlah persoalan yang paling banyak dikeluhkan turis ketika berkunjung ke Korea Selatan.
1. Masalah Penginapan Jadi Keluhan Terbanyak
Keluhan terbesar berkaitan dengan akomodasi. KTO mencatat terdapat 500 kasus yang berkaitan dengan pembatalan reservasi secara sepihak dan biaya pembatalan yang dianggap terlalu tinggi. Persoalan tersebut menjadi semakin sensitif ketika terjadi pada periode dengan permintaan kamar yang sangat tinggi. Wisatawan yang sudah memesan penginapan jauh-jauh hari dapat mengalami kesulitan mencari alternatif apabila reservasi tiba-tiba dibatalkan.
Masalah akomodasi juga menjadi perhatian ketika Korea Selatan menjadi lokasi acara besar yang mendatangkan wisatawan dalam jumlah sangat banyak. Salah satu contoh yang disebut dalam laporan adalah keluhan terkait biaya pembatalan penginapan ketika berlangsungnya acara besar, termasuk konser BTS.
2. Harga Barang Dinilai Terlalu Mahal
Keluhan berikutnya berkaitan dengan pelayanan yang tidak ramah dan dugaan pengenaan harga berlebihan di toko. Tercatat sebanyak 376 keluhan masuk dalam kategori tersebut. Persoalan harga menjadi penting karena Korea Selatan memiliki kawasan wisata yang sangat populer di kalangan turis asing, seperti Myeong-dong di Seoul.
Wisatawan biasanya datang untuk membeli kosmetik, produk kecantikan, suvenir, makanan, pakaian, hingga berbagai produk yang berkaitan dengan budaya Korea. Pemerintah Korea Selatan bahkan telah mengambil langkah untuk memperketat sanksi terhadap pelaku usaha pariwisata yang melakukan praktik pengenaan harga berlebihan. Perubahan aturan tersebut mulai berlaku pada 4 Agustus 2026, termasuk hukuman lebih berat bagi sejumlah pelanggaran terkait transparansi harga.
3. Sopir Taksi Menolak Meteran hingga Berkendara Ugal-ugalan
Transportasi juga menjadi salah satu sumber keluhan wisatawan. KTO mencatat 182 laporan mengenai pengemudi taksi yang menolak menggunakan argometer atau berkendara secara berbahaya. Bagi wisatawan asing, persoalan semacam ini dapat menjadi pengalaman yang tidak menyenangkan karena taksi merupakan salah satu pilihan transportasi ketika mereka harus bepergian ke lokasi yang tidak mudah dijangkau dengan berjalan kaki atau transportasi umum.
Penolakan menggunakan meteran juga dapat membuat wisatawan khawatir mengenai besaran tarif yang harus dibayar. Sementara itu, perilaku berkendara secara agresif dapat menimbulkan persoalan keselamatan, terutama bagi wisatawan yang tidak memahami kondisi lalu lintas setempat.
4. Layanan Bandara dan Maskapai Ikut Dikeluhkan
Tidak hanya penginapan dan transportasi darat, layanan bandara serta maskapai juga mendapat sorotan. Sebanyak 186 keluhan tercatat berkaitan dengan buruknya layanan bandara dan penerbangan. Persoalan pada sektor ini dapat memberikan kesan pertama dan terakhir bagi wisatawan. Pengalaman kurang menyenangkan saat tiba di Korea Selatan maupun ketika hendak meninggalkan negara tersebut berpotensi memengaruhi penilaian mereka terhadap keseluruhan perjalanan.
5. Wisatawan Asing Mendominasi Keluhan
Hal yang cukup menarik dari data tersebut adalah mayoritas laporan berasal dari wisatawan asing. Sebanyak 84,3 persen dari seluruh keluhan tercatat diajukan oleh pengunjung dari luar Korea Selatan. Wisatawan China menjadi kelompok yang paling banyak mengajukan keluhan dengan 680 kasus, disusul wisatawan Jepang sebanyak 263 kasus dan Taiwan sebanyak 182 kasus.
Namun, angka tersebut perlu dibaca dalam konteks jumlah kunjungan dari masing-masing negara. Banyaknya laporan tidak dengan sendirinya berarti seluruh wisatawan dari negara tertentu mengalami masalah yang sama.
6. Seoul dan Busan Paling Banyak Menerima Keluhan
Dari sisi wilayah, Seoul mencatat jumlah keluhan terbanyak dengan 665 kasus. Busan berada di posisi berikutnya dengan 594 kasus, disusul Incheon sebanyak 176 kasus dan Pulau Jeju sebanyak 155 kasus. Tingginya angka di Seoul relatif mudah dipahami karena ibu kota Korea Selatan tersebut merupakan salah satu pusat utama kedatangan wisatawan asing.
Seoul juga memiliki konsentrasi destinasi wisata, pusat perbelanjaan, restoran, hotel, dan layanan transportasi yang sangat tinggi. Sementara itu, peningkatan keluhan di Busan menjadi perhatian khusus.
7. Busan Alami Lonjakan Keluhan
Busan mencatat 594 keluhan hingga Juli 2026, lebih dari dua kali lipat dibandingkan 239 kasus sepanjang 2025. Salah satu faktor yang disebut berkaitan dengan meningkatnya jumlah wisatawan adalah konser tur dunia BTS pada Juni 2026.
Sekitar 110.000 wisatawan datang ke Busan untuk menghadiri konser tersebut. Lonjakan wisatawan dalam waktu singkat dapat memberikan tekanan besar terhadap kapasitas hotel, transportasi, restoran, toko, dan layanan wisata lainnya. Situasi semacam ini menunjukkan bahwa persoalan pariwisata tidak hanya muncul ketika jumlah wisatawan secara keseluruhan meningkat, tetapi juga ketika terjadi konsentrasi pengunjung pada lokasi dan waktu tertentu.
8. Jumlah Wisatawan Korea Selatan Memang Sedang Melonjak
Tingginya keluhan tersebut terjadi bersamaan dengan pertumbuhan wisatawan mancanegara yang sangat kuat. Pemerintah Korea Selatan mencatat jumlah wisatawan asing mencapai 12.803.042 orang sepanjang Januari-Juli 2026.
Sebelumnya, jumlah wisatawan asing telah menembus 10 juta pada paruh pertama 2026, lebih cepat dibandingkan tahun sebelumnya. Pada Juni saja, jumlah kunjungan mencapai sekitar 1,99 juta orang, naik 23,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Artinya, kenaikan keluhan perlu dilihat bersamaan dengan kenaikan jumlah wisatawan. Semakin banyak orang yang datang, semakin besar pula jumlah interaksi antara turis dengan hotel, restoran, toko, transportasi, dan penyedia jasa lainnya.
9. Keluhan Bisa Berdampak ke Citra Pariwisata
Persoalan utama bukan hanya jumlah keluhan, tetapi bagaimana pengalaman buruk tersebut menyebar. Profesor pariwisata Kyung Hee University, Yoon Ji-hwan, mengingatkan bahwa semakin banyak wisatawan dan semakin berkembangnya industri pariwisata, indikator negatif seperti keluhan juga dapat meningkat.
Ia juga memperingatkan bahwa pengalaman buruk wisatawan yang dibagikan melalui media sosial dapat menyebar dengan cepat dan berpotensi merusak industri pariwisata. Hal tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi Korea Selatan karena wisatawan masa kini sangat bergantung pada ulasan dan pengalaman pengguna lain ketika menentukan tujuan perjalanan.
Satu pengalaman buruk di hotel, restoran, taksi atau toko dapat dengan cepat menjadi konten viral dan dilihat oleh calon wisatawan dari berbagai negara.
10. Korea Selatan Mulai Memperketat Perlindungan Wisatawan
Pemerintah Korea Selatan telah mengambil sejumlah langkah untuk memperbaiki kualitas layanan wisata. Salah satunya adalah memperberat sanksi terhadap pelaku usaha yang melakukan praktik pengenaan harga berlebihan. Pemerintah juga mendorong transparansi harga dan peningkatan perlindungan konsumen di sektor pariwisata.
Langkah tersebut menjadi semakin penting karena Korea Selatan sedang menikmati pertumbuhan besar dalam sektor pariwisata. Pada Mei 2026, pengeluaran menggunakan kartu oleh wisatawan asing bahkan mencapai 2,12 triliun won, meningkat 67,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Dengan kata lain, wisatawan asing tidak hanya datang dalam jumlah besar, tetapi juga memberikan kontribusi ekonomi yang signifikan.
Bukan Berarti Korea Selatan Tak Layak Dikunjungi
Rekor keluhan tidak otomatis berarti Korea Selatan merupakan destinasi wisata yang buruk. Justru, data tersebut menunjukkan tantangan yang muncul ketika sebuah negara mengalami lonjakan wisatawan dalam waktu relatif cepat. Korea Selatan masih menjadi tujuan populer karena menawarkan kombinasi budaya tradisional, industri hiburan, kuliner, belanja, teknologi, dan berbagai destinasi perkotaan maupun alam.
Namun, pertumbuhan wisatawan harus diikuti dengan peningkatan kualitas layanan. Hotel perlu memberikan kepastian reservasi dan transparansi biaya, toko harus memberikan harga yang jelas, pengemudi taksi wajib mengutamakan keselamatan, sementara layanan bandara dan maskapai perlu menjaga standar pelayanan.
Bagi wisatawan, data keluhan tersebut juga menjadi pengingat untuk lebih berhati-hati ketika merencanakan perjalanan. Pastikan harga penginapan dan kebijakan pembatalan dibaca dengan teliti, simpan bukti pembayaran, gunakan layanan transportasi resmi, dan jangan ragu melapor apabila mengalami perlakuan yang merugikan. Pada akhirnya, lonjakan wisatawan merupakan kabar baik bagi industri pariwisata Korea Selatan. Tetapi jika pengalaman buruk terus meningkat, popularitas tersebut dapat menjadi tantangan baru.
Korea Selatan kini menghadapi pekerjaan rumah: bagaimana mempertahankan ledakan jumlah wisatawan sekaligus memastikan mereka pulang membawa pengalaman positif, bukan sekadar foto dan oleh-oleh.

Posting Komentar untuk " Ragam Keluhan Turis Asing Saat Kunjungi Korea Selatan"