Suami-Istri Tinggal 3 Tahun di Kapal Pesiar, Biaya per Hari Rp1,1 Juta
Jakarta – Tinggal di kapal pesiar selama bertahun-tahun mungkin terdengar seperti gaya hidup yang hanya bisa dilakukan orang superkaya. Namun, pasangan asal Amerika Serikat, Libby Rome dan suaminya, justru membuktikan bahwa kehidupan di atas kapal dapat dijalani dengan biaya yang menurut mereka relatif terjangkau.
Selama lebih dari tiga tahun, pasangan tersebut memilih kapal pesiar sebagai rumah mereka. Mereka berpindah dari satu kapal ke kapal lainnya dan tidak memiliki rumah maupun mobil sendiri. Yang paling menarik, Libby mengklaim biaya hidup mereka hanya sekitar US$66 per hari untuk berdua, atau sekitar Rp1,1 juta per hari jika menggunakan kurs sekitar Rp17.000 per dolar AS. Biaya tersebut sudah mencakup akomodasi, makanan, transportasi, serta hiburan selama berada di kapal.
Bukan Sekadar Liburan Panjang
Bagi kebanyakan orang, kapal pesiar identik dengan liburan selama beberapa hari atau beberapa minggu. Namun, bagi Libby dan suaminya, kapal pesiar telah berubah menjadi tempat tinggal permanen.
Keduanya telah menjalani gaya hidup nomaden selama sekitar 16 tahun sebelum akhirnya memilih kehidupan di laut. Mereka sebelumnya tinggal berpindah-pindah di berbagai hotel dan kemudian menemukan bahwa perjalanan menggunakan kapal pesiar menawarkan kombinasi yang menarik antara tempat tinggal, transportasi, makanan, dan hiburan.
Libby mengatakan keputusan tersebut berawal dari kecintaan mereka terhadap perjalanan sekaligus keinginan untuk menjalani kehidupan yang lebih sederhana. Pasangan itu kemudian semakin mengurangi barang-barang pribadi hingga seluruh harta benda yang mereka miliki dapat dibawa dalam jumlah yang sangat terbatas.
Mengapa Memilih Tinggal di Kapal Pesiar?
Ada beberapa alasan yang membuat pasangan ini merasa kehidupan di kapal pesiar lebih cocok dibandingkan tinggal menetap di daratan. Salah satunya adalah efisiensi. Ketika tinggal di darat, seseorang harus membayar tempat tinggal, listrik, air, transportasi, makanan, hiburan, dan berbagai kebutuhan lainnya secara terpisah.
Sementara itu, ketika berada di kapal pesiar, sebagian besar kebutuhan tersebut sudah menjadi bagian dari biaya perjalanan. Selain itu, pasangan tersebut tidak perlu memiliki mobil, mengurus rumah, atau melakukan berbagai pekerjaan rumah tangga yang biasanya menyita waktu. Setiap beberapa hari, mereka bahkan dapat terbangun di negara atau kota yang berbeda.
Biaya Rp1,1 Juta per Hari untuk Berdua
Angka yang membuat kisah Libby dan suaminya menarik perhatian adalah biaya hidup mereka. Dalam unggahan di media sosial, Libby memperkirakan biaya yang mereka keluarkan rata-rata sekitar US$66 per hari untuk berdua. Dengan asumsi kurs sekitar Rp17.000 per US$1, jumlah tersebut setara dengan sekitar Rp1,12 juta per hari. Jika dihitung selama 30 hari, biaya tersebut mencapai sekitar Rp33,7 juta per bulan untuk berdua. Sementara selama satu tahun, nominalnya sekitar Rp405 juta.
Namun, angka tersebut merupakan perkiraan berdasarkan strategi perjalanan yang mereka lakukan dan bukan tarif standar untuk tinggal di kapal pesiar. Biaya setiap orang dapat berbeda bergantung pada kapal, rute, kabin, waktu pemesanan, pajak, biaya pelabuhan, serta pengeluaran tambahan.
Strategi Menekan Biaya
Kehidupan di kapal pesiar sepanjang tahun membutuhkan strategi khusus. Libby menjelaskan bahwa mereka tidak sekadar membeli tiket kapal pesiar secara acak. Pasangan tersebut menyusun perjalanan secara berkelanjutan dan memilih pelayaran yang memungkinkan mereka berpindah dari satu kapal ke kapal lain.
Mereka bahkan dapat memesan perjalanan secara beruntun selama delapan hingga sembilan bulan. Jika terdapat jeda antarpelayaran, mereka biasanya hanya membutuhkan hotel selama satu atau beberapa malam sebelum kembali naik kapal. Strategi lainnya adalah memanfaatkan program loyalitas perusahaan kapal pesiar. Pasangan tersebut diketahui telah melakukan banyak perjalanan menggunakan kapal pesiar sehingga memperoleh berbagai keuntungan dari program loyalitas. Salah satu manfaat yang mereka dapatkan adalah layanan laundry gratis setelah mencapai tingkat keanggotaan tertentu.
Tidak Memiliki Rumah dan Mobil
Salah satu aspek paling berbeda dari gaya hidup pasangan ini adalah keputusan untuk tidak memiliki rumah maupun mobil. Bagi Libby, semakin sedikit barang yang dimiliki berarti semakin sedikit pula pekerjaan yang harus dilakukan.
Ia mengatakan mereka tidak memiliki banyak barang sehingga kebutuhan untuk mencuci pakaian, berbelanja kebutuhan rumah, memperbaiki kendaraan, atau mengurus properti juga sangat minim. Dengan demikian, sebagian besar waktu dapat digunakan untuk menikmati perjalanan. Konsep tersebut sejalan dengan prinsip minimalisme yang telah dijalani pasangan itu selama bertahun-tahun.
Kehidupan di Kapal Terasa Seperti Rumah
Meski kapal terus bergerak dan penumpangnya berganti, Libby mengatakan dirinya merasa nyaman dengan kehidupan tersebut. Setiap hari mereka dapat menikmati berbagai fasilitas yang tersedia di kapal. Selain kamar sebagai tempat tinggal, kapal pesiar menyediakan restoran, hiburan, aktivitas rekreasi, hingga berbagai fasilitas lainnya.
Libby juga mengaku senang bertemu dengan sesama pelancong yang menjalani kehidupan jangka panjang di kapal. Komunitas tersebut membuat kehidupan di laut tidak terasa seperti perjalanan tanpa akhir.
Bekerja dari Kapal
Kehidupan seperti ini juga menjadi semakin memungkinkan karena perkembangan pekerjaan jarak jauh. Libby bekerja secara remote sebagai konsultan teknologi informasi. Dengan pekerjaan yang tidak mengharuskannya datang ke kantor setiap hari, ia dapat menjalankan pekerjaannya sambil berpindah-pindah negara.
Kemampuan bekerja dari jarak jauh menjadi salah satu faktor yang membuat gaya hidup nomaden semakin mudah dilakukan. Bagi pasangan tersebut, kapal pesiar berfungsi sekaligus sebagai tempat tinggal dan sarana transportasi.
Menghabiskan Banyak Waktu di Eropa
Dalam beberapa tahun terakhir, Libby dan suaminya banyak menghabiskan waktu berlayar di kawasan Eropa. Pilihan tersebut juga berkaitan dengan keluarga. Mereka ingin tetap berada relatif dekat dengan putri mereka yang tinggal di Belanda. Dari sekitar 900 malam yang telah mereka habiskan di kapal, hampir 600 malam di antaranya disebut dijalani menggunakan kapal milik Princess Cruises. Kalender perjalanan mereka untuk 2026 juga sudah terisi, menunjukkan bahwa pasangan tersebut belum memiliki rencana untuk kembali menetap di daratan.
Bagaimana dengan Pekerjaan Rumah?
Salah satu pertanyaan yang muncul dari gaya hidup tersebut adalah bagaimana pasangan ini mengurus pekerjaan sehari-hari. Jawabannya justru cukup sederhana: mereka berusaha tidak memiliki terlalu banyak barang. Libby mengatakan minimnya barang membuat kebutuhan mencuci dan melakukan pekerjaan rumah menjadi sangat sedikit.
Sebagai anggota loyalitas tingkat tinggi di Princess Cruises, ia juga memperoleh fasilitas laundry gratis. Ia cukup memasukkan pakaian kotor ke dalam kantong dan mengisi formulir, kemudian pakaian akan dikembalikan dalam kondisi bersih. Dengan demikian, pekerjaan yang biasanya dilakukan sendiri di rumah dapat diminimalkan.
Tantangan Tetap Ada
Meski terlihat menyenangkan, tinggal di kapal pesiar selama bertahun-tahun tentu tidak bebas dari tantangan. Salah satu persoalan yang harus dipikirkan adalah kesehatan. Libby memiliki kondisi medis yang mengharuskannya mendapatkan persediaan obat dan perlengkapan medis secara rutin. Pada awal menjalani kehidupan di laut, ia mengaku mengalami kesulitan karena terus berpindah pelabuhan sehingga harus berurusan dengan dokter dan apotek yang berbeda.
Situasi tersebut membuatnya kemudian lebih selektif memilih rute perjalanan. Ia juga memanfaatkan fasilitas medis di kapal ketika diperlukan. Namun, fasilitas kesehatan di kapal pada dasarnya lebih ditujukan untuk penanganan penyakit atau kecelakaan akut dan keadaan darurat, bukan sebagai pengganti layanan kesehatan jangka panjang.
Surat dan Barang Pribadi Dikelola dari Daratan
Hidup tanpa rumah juga membuat pasangan tersebut harus memiliki cara khusus untuk menerima surat dan barang penting. Untuk surat-surat yang membutuhkan alamat tetap, Libby menggunakan alamat anggota keluarga di Amerika Serikat. Dengan cara tersebut, dokumen penting tidak perlu dikirim ke kapal yang selalu berpindah dari satu pelabuhan ke pelabuhan lainnya. Kehidupan minimalis membuat kebutuhan mereka terhadap pengiriman barang juga relatif rendah.
Tidak Semua Biaya Hilang
Meski biaya sekitar Rp1,1 juta per hari terdengar murah dibandingkan membayar berbagai kebutuhan hidup secara terpisah, angka tersebut tidak berarti semua pengeluaran mereka otomatis hilang. Biaya kapal pesiar dapat berubah berdasarkan musim, rute, jenis kabin dan waktu pemesanan. Pengeluaran seperti perjalanan menuju pelabuhan, kebutuhan pribadi, pembelian barang, aktivitas tertentu, layanan tambahan, dan berbagai biaya lainnya juga dapat muncul.
Karena itu, biaya yang disebut Libby lebih tepat dipahami sebagai biaya rata-rata berdasarkan pola hidup dan strategi perjalanan mereka, bukan patokan universal bagi orang yang ingin tinggal di kapal pesiar.
Bukan Pasangan Pertama yang Memilih Hidup di Kapal
Fenomena tinggal di kapal pesiar dalam waktu lama sebenarnya bukan hal baru. Sebelumnya, sejumlah pensiunan juga menjadi perhatian karena memesan pelayaran secara berturut-turut. Ada pasangan asal Australia, Marty dan Jess Ansen, yang pernah menjalani puluhan pelayaran berturut-turut dan menganggap biaya tersebut dapat menjadi alternatif menarik dibandingkan tinggal di fasilitas perawatan lansia.
Ada pula pasangan Richard dan Angelyn Burk yang pernah menghitung bahwa hidup di kapal pesiar dapat dilakukan dengan anggaran sekitar US$100 per hari untuk berdua, meskipun realisasi biaya mereka kemudian dapat lebih tinggi. Fenomena ini menunjukkan munculnya model baru dalam dunia perjalanan, yakni menjadikan kapal pesiar bukan sekadar sarana wisata, melainkan bagian dari gaya hidup jangka panjang.
Tren "Rumah Berjalan" di Laut
Kehidupan seperti yang dijalani Libby dan suaminya bahkan mulai mendorong berkembangnya konsep residential cruising atau hunian di kapal. Berbeda dari kapal pesiar biasa yang hanya menawarkan perjalanan beberapa hari atau minggu, konsep tersebut memungkinkan seseorang tinggal di kapal dalam jangka waktu sangat panjang.
Sejumlah perusahaan bahkan mulai menawarkan perjalanan selama beberapa tahun. Villa Vie Residences, misalnya, pada 2026 menawarkan konsep perjalanan dunia selama tiga tahun, menunjukkan bahwa tinggal di laut semakin berkembang sebagai alternatif gaya hidup bagi kelompok tertentu.
Kehidupan Tanpa Rumah Menjadi Pilihan
Bagi Libby dan suaminya, keputusan untuk hidup di kapal bukan semata-mata karena ingin menghemat biaya. Mereka juga menginginkan kehidupan yang lebih sederhana, bebas dari banyak barang, dan penuh pengalaman baru. Setiap beberapa hari mereka dapat melihat tempat baru tanpa harus mengemas seluruh barang dan mencari hotel baru. Tidak memiliki rumah, mobil, maupun banyak barang justru dianggap memberikan kebebasan. Libby menggambarkan kehidupannya sebagai kehidupan yang bebas dari banyak pekerjaan rumah tangga dan urusan sehari-hari.
Mereka Belum Ingin Kembali ke Daratan
Setelah lebih dari tiga tahun menjalani kehidupan di laut, pasangan tersebut belum menunjukkan tanda-tanda ingin menghentikan gaya hidupnya. Libby mengatakan mereka masih sangat menikmati kehidupan di kapal pesiar. Bagi mereka, kapal bukan lagi sekadar tempat berlibur, melainkan sudah menjadi rumah yang terus bergerak.
Kisah Libby dan suaminya sekaligus memperlihatkan bahwa definisi "rumah" kini dapat berubah. Rumah tidak selalu harus berupa bangunan yang berdiri di atas tanah. Bagi sebagian orang, rumah bisa berupa sebuah kabin di kapal yang setiap beberapa hari membawa mereka menuju destinasi baru.
Dengan biaya yang mereka klaim sekitar Rp1,1 juta per hari untuk berdua, pasangan ini berhasil menjadikan perjalanan keliling dunia sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari—sebuah pilihan yang mungkin terdengar tidak biasa, tetapi bagi mereka justru terasa seperti cara hidup yang paling nyaman.

Posting Komentar untuk " Suami-Istri Tinggal 3 Tahun di Kapal Pesiar, Biaya per Hari Rp1,1 Juta"