Susan Sarandon Dikucilkan Hollywood gegara Bela Palestina: I'm OK

Jakarta — Aktris pemenang Oscar, Susan Sarandon, kembali buka suara mengenai dampak sikap politiknya terhadap karier di Hollywood. Sarandon mengaku masih kehilangan sejumlah tawaran film karena secara terbuka menyuarakan dukungan terhadap rakyat Palestina dan mengkritik kebijakan Israel terkait perang di Gaza.

Pernyataan tersebut disampaikan Sarandon saat menghadiri Festival Film Venesia 2026 untuk mempromosikan film terbarunya, The Echo Chamber. Dalam konferensi pers pada Minggu (6/9/2026), aktris berusia 79 tahun itu mengatakan sejumlah agensi masih meminta pihak industri untuk tidak mempekerjakannya.

Meski menghadapi konsekuensi profesional, Sarandon menegaskan dirinya tidak menyesali sikap yang telah diambil. Ia bahkan mengatakan dirinya tetap merasa diterima di luar lingkungan industri Hollywood. "Saya menemukan keluarga saya, saya menemukan orang-orang saya, dan saya baik-baik saja." Pernyataan tersebut mendapat sambutan tepuk tangan panjang dari peserta konferensi pers di Venesia.

Mengaku Masih Kehilangan Tawaran Film

Sarandon mengatakan persoalan yang dihadapinya bukan sekadar masa sulit dalam mendapatkan pekerjaan. Menurut dia, sejumlah agensi masih secara aktif memberikan peringatan kepada pihak-pihak tertentu agar tidak menggunakan jasanya.

"Saya masih kehilangan film-film baru-baru ini karena ada agensi yang masih mengatakan kepada orang-orang untuk tidak mempekerjakan saya," ujar Sarandon dalam konferensi pers tersebut. Sarandon kemudian mengaitkan kondisi tersebut dengan apa yang disebutnya sebagai struktur kekuasaan dalam industri perfilman.

Menurutnya, perubahan pandangan masyarakat mengenai konflik Israel-Palestina belum sepenuhnya diikuti perubahan sikap di kalangan pemegang kekuasaan dalam industri film Amerika Serikat. Ia juga mengatakan dirinya merasa lebih diterima di lingkungan perfilman internasional, terutama melalui proyek-proyek independen di Eropa.

Berawal dari Pernyataan Pro-Palestina

Hubungan Sarandon dengan industri Hollywood mulai mengalami masalah besar pada 2023. Saat itu, ia aktif menghadiri aksi pro-Palestina dan menyerukan gencatan senjata di Gaza. Pernyataan-pernyataannya kemudian memicu kontroversi dan berujung pada keputusan United Talent Agency (UTA) untuk mengakhiri hubungan dengannya pada November 2023.

Sarandon kemudian meminta maaf atas salah satu pernyataannya yang dianggap keliru dan dapat menimbulkan kesan bahwa masyarakat Yahudi baru mengalami diskriminasi setelah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Dalam permintaan maafnya, Sarandon mengakui bahwa pilihan kata yang digunakannya merupakan kesalahan dan tidak mencerminkan kenyataan panjang mengenai sejarah penganiayaan terhadap orang Yahudi.

Namun, ia tetap mempertahankan sikapnya mengenai perlunya perlindungan terhadap warga sipil Palestina dan seruan untuk mengakhiri kekerasan di Gaza.

Sarandon Sebut Pandangan Publik Mulai Berubah

Dalam kesempatan di Venesia, Sarandon menilai terdapat perubahan besar dalam cara masyarakat internasional melihat persoalan Palestina. Ia berpendapat semakin banyak orang mulai memahami sejarah Palestina serta hubungan politik dan finansial Amerika Serikat dengan Israel.

Sarandon juga menyoroti besarnya dukungan finansial dan militer Amerika Serikat kepada Israel yang menurutnya sebelumnya belum banyak dipahami oleh masyarakat luas. Meski demikian, dia menilai perubahan tersebut belum otomatis menghilangkan hambatan bagi para pekerja industri hiburan yang secara terbuka mengkritik Israel.

"Saya pikir sudah ada perubahan dalam pemahaman masyarakat mengenai situasi tersebut," kata Sarandon. Namun, menurutnya, posisi-posisi berpengaruh di industri film masih memiliki pandangan yang kuat mengenai isu tersebut.

Kembali ke Layar Lewat Film Eropa

Di tengah kesulitan memperoleh pekerjaan dari studio besar Hollywood, Sarandon justru tetap aktif melalui proyek film independen internasional. Salah satunya adalah The Echo Chamber, film garapan sutradara Italia Andrea Pallaoro yang dipresentasikan di Festival Film Venesia 2026.

Sarandon mengaku berterima kasih kepada Pallaoro karena tetap memberinya kesempatan untuk bermain dalam film tersebut meskipun ada pihak yang memperingatkan sang sutradara mengenai kontroversi yang melekat pada dirinya. Film tersebut juga memiliki nilai khusus karena menggunakan naskah terakhir yang ditulis sineas legendaris Italia, Bernardo Bertolucci.

Dalam The Echo Chamber, Sarandon memerankan seorang penyanyi yang telah menua dan berusaha menghidupkan kembali kariernya dengan bantuan seorang produser musik yang sedang berjuang pulih dari kecanduan narkoba. Film ini dibintangi pula Luca Marinelli dan Alicia Vikander.

The Echo Chamber Bersaing di Venesia

The Echo Chamber menjadi salah satu dari 21 film yang berkompetisi memperebutkan penghargaan Golden Lion di Festival Film Venesia 2026. Pemenangnya dijadwalkan diumumkan pada 12 September. Kehadiran Sarandon di Venesia sekaligus memperlihatkan bahwa meski peluangnya di studio-studio besar Hollywood disebut menyempit, ia masih mendapatkan ruang di perfilman internasional.

Sarandon bahkan sebelumnya telah mengungkapkan bahwa proyek-proyek independen di Eropa menjadi salah satu jalan baginya untuk terus bekerja setelah hubungan dengan industri Hollywood memburuk.

Kontroversi Politik Ikut Mewarnai Festival Venesia

Isu Palestina juga ikut muncul dalam penyelenggaraan Festival Film Venesia tahun ini. Sejumlah aktivis menyerukan agar penyelenggara mengibarkan bendera Palestina sebagai bentuk dukungan terhadap sineas Palestina dan film-film yang mengangkat perjuangan masyarakat Palestina.

Namun, Direktur Artistik Festival Film Venesia Alberto Barbera mengatakan hal tersebut tidak dapat dilakukan karena Italia belum secara resmi mengakui Palestina sebagai negara. Meski demikian, festival tetap menampilkan sejumlah film yang menggambarkan perjuangan masyarakat Palestina.

Kondisi tersebut membuat kehadiran Sarandon semakin mendapat perhatian. Ia tidak hanya datang sebagai salah satu aktris veteran Hollywood, tetapi juga sebagai figur yang secara konsisten menyuarakan pandangan politiknya meski mengaku harus membayar mahal secara profesional.

"Saya Baik-Baik Saja"

Bagi Sarandon, kehilangan sejumlah pekerjaan bukan alasan untuk mengubah pendiriannya. Ia mengakui masih terdapat hambatan dalam industri perfilman Amerika Serikat, tetapi merasa mendapat dukungan dari komunitas internasional dan para pembuat film independen.

Pernyataan "I'm OK" yang disampaikannya di Venesia menjadi penutup yang kuat atas pengakuannya mengenai perjalanan karier beberapa tahun terakhir. Di usia 79 tahun, Sarandon tampaknya memilih untuk tetap bekerja melalui jalur yang tersedia sekaligus mempertahankan kebebasannya dalam menyuarakan pandangan politik.

Kisah tersebut menunjukkan bagaimana posisi politik seorang aktor dapat berpengaruh terhadap kesempatan profesionalnya, terutama ketika isu yang disuarakan berkaitan dengan konflik Israel-Palestina yang sangat sensitif di industri hiburan Amerika Serikat. Bagi Sarandon sendiri, dukungan terhadap Palestina disebutnya sebagai bagian dari keyakinan yang tidak akan ia tinggalkan hanya demi mendapatkan kembali seluruh tawaran pekerjaan di Hollywood.

Posting Komentar untuk " Susan Sarandon Dikucilkan Hollywood gegara Bela Palestina: I'm OK"