Tersisa Hanya 2 Ekor Betina, Badak Putih Utara di Ujung Kepunahan
Jakarta – Badak putih utara (Ceratotherium simum cottoni) berada di salah satu titik paling kritis dalam sejarah konservasi satwa. Saat ini hanya dua ekor yang diketahui masih hidup di dunia, yakni Najin dan putrinya, Fatu. Keduanya merupakan betina dan berada di bawah perlindungan ketat di Ol Pejeta Conservancy, Kenya.
Kondisi tersebut membuat badak putih utara secara praktis tidak lagi memiliki populasi yang dapat berkembang biak secara alami. Namun, para ilmuwan masih berusaha mempertahankan garis keturunan subspesies ini melalui teknologi reproduksi berbantuan, termasuk pembuahan in vitro atau IVF dan transfer embrio.
Hanya Najin dan Fatu yang Tersisa
Dua badak putih utara terakhir bernama Najin dan Fatu. Najin merupakan induk Fatu, sementara Fatu lahir pada 2000. Keduanya awalnya berasal dari Dvůr Králové Zoo di Republik Ceko dan kemudian dipindahkan ke Ol Pejeta Conservancy di Kenya pada 2009. Setelah kematian dua pejantan terakhir, populasi yang tersisa hanya terdiri atas Najin dan Fatu.
Pejantan terakhir, Sudan, mati pada Maret 2018 pada usia sekitar 45 tahun. Kematian Sudan menjadi titik penting karena sejak saat itu tidak ada lagi pejantan badak putih utara yang masih hidup. Dengan demikian, reproduksi alami tidak lagi memungkinkan.
Mengapa Najin dan Fatu Tidak Bisa Hamil?
Persoalannya bukan hanya tidak adanya pejantan. Najin dan Fatu juga tidak dapat digunakan sebagai induk pengganti untuk menghasilkan keturunan melalui kehamilan alami. Faktor usia serta persoalan pada sistem reproduksi membuat keduanya tidak mampu menjalani kehamilan hingga melahirkan.
Kondisi tersebut memaksa ilmuwan mencari metode lain. Salah satu pendekatan yang dikembangkan adalah mengambil sel telur Fatu, kemudian membuahinya menggunakan sperma yang sebelumnya telah disimpan dari pejantan badak putih utara yang sudah mati. Embrio yang dihasilkan kemudian dibekukan dan disimpan untuk digunakan pada tahap berikutnya.
Puluhan Embrio Dibuat di Laboratorium
Upaya tersebut menghasilkan perkembangan yang sebelumnya dianggap sangat sulit dilakukan. Program BioRescue, yang melibatkan sejumlah lembaga penelitian dan konservasi internasional, telah menghasilkan puluhan embrio badak putih utara menggunakan sel telur Fatu dan sperma beku dari pejantan yang telah mati.
Data terbaru yang dilaporkan pada 2026 menyebutkan telah ada 39 embrio badak putih utara yang berhasil dibuat. Karena Najin dan Fatu tidak dapat mengandung, embrio tersebut direncanakan ditanamkan ke rahim badak putih selatan yang berfungsi sebagai induk pengganti atau surrogate. Teknologi ini menjadi salah satu harapan utama untuk mencegah garis keturunan badak putih utara benar-benar berakhir.
Mengapa Menggunakan Badak Putih Selatan?
Badak putih utara dan badak putih selatan merupakan dua subspesies badak putih yang sangat berkerabat. Badak putih selatan masih memiliki populasi jauh lebih besar dibandingkan badak putih utara. Karena itu, para ilmuwan memanfaatkan betina badak putih selatan sebagai induk pengganti.
Tujuannya adalah membuat embrio badak putih utara berkembang di dalam rahim badak putih selatan hingga lahir. Teknik tersebut bukan sekadar teori. Para ilmuwan sebelumnya telah berhasil membuktikan bahwa transfer embrio pada badak putih dapat dilakukan melalui kehamilan badak putih selatan. Keberhasilan tersebut menjadi bukti penting sebelum teknologi diterapkan pada embrio badak putih utara.
Namun, Tantangannya Masih Sangat Besar
Membuat embrio hanyalah satu tahap dalam perjalanan panjang penyelamatan subspesies tersebut. Laporan terbaru menunjukkan bahwa hingga April 2026 telah dilakukan enam transfer embrio badak putih utara ke induk pengganti badak putih selatan, tetapi belum menghasilkan kehamilan yang bertahan hingga tahap yang diharapkan.
Artinya, meskipun para ilmuwan sudah berhasil menghasilkan embrio, masih ada tantangan besar untuk membuat embrio tersebut berkembang secara normal di dalam rahim induk pengganti. Setiap percobaan membutuhkan prosedur medis yang kompleks dan harus mempertimbangkan kondisi serta kesejahteraan hewan yang menjadi induk pengganti.
Kepunahan Dimulai dari Perburuan
Hilangnya badak putih utara dari alam bukan terjadi secara tiba-tiba. Subspesies ini pernah hidup di sejumlah wilayah Afrika tengah dan timur. Namun, populasinya mengalami penurunan tajam akibat perburuan liar, perdagangan cula badak, konflik dan tekanan terhadap habitat.
Permintaan terhadap cula badak menjadi salah satu faktor utama yang mendorong perburuan. Kondisi tersebut membuat populasi badak putih utara terus menyusut hingga akhirnya dinyatakan punah di alam liar. Tanda-tanda keberadaan badak putih utara di alam liar telah lama tidak ditemukan secara meyakinkan, sehingga statusnya kini lebih tepat dipahami sebagai subspesies yang punah di alam liar dan tersisa dalam jumlah sangat terbatas di bawah pengelolaan manusia.
Teknologi Menjadi Harapan Terakhir
Kasus badak putih utara memperlihatkan bagaimana teknologi reproduksi dapat digunakan untuk konservasi satwa yang berada di ambang kepunahan. Selain IVF, para peneliti mengembangkan metode pengambilan sel telur, pematangan sel telur di laboratorium, fertilisasi dengan sperma beku dan penyimpanan embrio melalui kriopreservasi.
Embrio tersebut pada dasarnya menjadi semacam cadangan genetik. Selama embrio tetap tersimpan dengan baik dan teknologi transfer embrio terus berkembang, para ilmuwan masih memiliki kesempatan untuk menghasilkan generasi baru. Pada 2019, misalnya, ilmuwan berhasil menghasilkan embrio badak putih utara pertama melalui fertilisasi in vitro. Sejumlah embrio kemudian berhasil dibuat melalui proses serupa.
Mengapa Badak Putih Utara Harus Diselamatkan?
Upaya mempertahankan badak putih utara bukan hanya soal menyelamatkan dua individu terakhir. Kepunahan satu subspesies merupakan hilangnya bagian dari keanekaragaman hayati dunia. Setiap spesies dan subspesies memiliki sejarah evolusi, karakteristik biologis dan peran ekologis yang terbentuk selama ribuan hingga jutaan tahun.
Kasus ini juga menjadi peringatan mengenai dampak aktivitas manusia terhadap satwa liar. Ketika perburuan dan kerusakan habitat menyebabkan populasi turun hingga hanya tersisa dua individu, konservasi tidak lagi cukup dilakukan dengan melindungi kawasan alam. Para ilmuwan harus menggunakan teknologi reproduksi yang sebelumnya lebih banyak digunakan dalam bidang kedokteran hewan dan penelitian.
Perjalanan Masih Panjang
Meskipun puluhan embrio telah tersedia, bukan berarti kelahiran badak putih utara baru sudah dipastikan. Keberhasilan embrio berkembang menjadi janin, bertahan selama masa kehamilan dan kemudian lahir sehat masih menjadi tantangan tersendiri. Para peneliti harus memastikan prosedur transfer embrio dapat dilakukan dengan aman, menemukan induk pengganti yang sesuai dan mengurangi risiko selama kehamilan.
Selain itu, apabila anak badak putih utara akhirnya berhasil dilahirkan, pekerjaan belum selesai. Para ilmuwan harus memikirkan bagaimana membangun kembali populasi yang memiliki keragaman genetik cukup serta bagaimana menyediakan habitat yang aman.
Bukan Sekadar Menyelamatkan Satu Spesies
Kisah Najin dan Fatu menjadi salah satu contoh paling ekstrem mengenai seberapa jauh manusia harus berusaha ketika sebuah populasi satwa berada di ambang kepunahan. Dari dua betina terakhir, para ilmuwan berusaha membangun kembali populasi melalui embrio yang dibuat menggunakan materi genetik dari individu yang telah mati.
Untuk saat ini, Najin dan Fatu tetap menjadi dua badak putih utara terakhir yang masih hidup. Harapan untuk menghindari kepunahan total berada pada kombinasi teknologi reproduksi, konservasi genetik, perlindungan satwa dan upaya jangka panjang untuk menjaga habitat. Perjalanan tersebut belum berakhir. Namun, keberhasilan menghasilkan puluhan embrio menunjukkan bahwa kepunahan badak putih utara belum sepenuhnya menjadi akhir dari cerita.

Posting Komentar untuk " Tersisa Hanya 2 Ekor Betina, Badak Putih Utara di Ujung Kepunahan"