Waspada Erupsi, Ini 6 Cara Mengatasi Abu Vulkanik di Mata

Jakarta — Erupsi gunung api tidak hanya mengancam keselamatan akibat lava, awan panas, atau lontaran material vulkanik. Abu yang terbawa angin juga dapat menimbulkan gangguan kesehatan, termasuk iritasi pada mata.

Kondisi tersebut perlu diwaspadai masyarakat di wilayah yang terdampak sebaran abu vulkanik. Dalam situasi erupsi Gunung Anak Krakatau yang masih menjadi perhatian, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengimbau masyarakat membatasi aktivitas di luar rumah dan menggunakan perlindungan mata apabila harus keluar. Paparan abu vulkanik dapat menyebabkan iritasi mata, gangguan pernapasan, dan masalah pada kulit.

Abu vulkanik terdiri atas partikel yang dapat mengiritasi permukaan mata. Keluhannya antara lain mata merah, berair, terasa perih, gatal, seperti kemasukan benda asing, hingga penglihatan terganggu. CDC juga mencatat iritasi mata sebagai salah satu dampak kesehatan jangka pendek akibat paparan partikel dan gas vulkanik.

Lantas, apa yang harus dilakukan jika abu vulkanik masuk ke mata?

1. Jangan Mengucek Mata

Langkah pertama yang sangat penting adalah jangan mengucek mata, meskipun terasa gatal atau seperti ada pasir di dalamnya.

Mengucek mata berpotensi membuat partikel abu bergesekan dengan permukaan mata dan memperparah iritasi. Kemenkes secara khusus mengingatkan masyarakat yang terkena abu vulkanik untuk tidak mengucek mata.

Jika mata terasa tidak nyaman, segera cari tempat yang lebih terlindung dari paparan abu sebelum melakukan penanganan.

2. Segera Bilas Mata dengan Air Bersih

Apabila abu masuk ke mata, bilas dengan air bersih yang mengalir untuk membantu mengeluarkan partikel. Biarkan air mengalir dengan lembut dan jangan menggosok permukaan mata. Saat membilas, mata dapat dibuka perlahan agar air membantu membawa keluar partikel yang menempel.

Prinsip membilas mata dengan air merupakan tindakan pertolongan awal yang umum digunakan ketika mata terkena bahan iritan. Pedoman pertolongan pertama NIOSH/CDC juga menekankan pentingnya irigasi mata dengan air dalam menghadapi paparan bahan yang mengiritasi.

3. Lepaskan Lensa Kontak

Bagi pengguna lensa kontak, segera lepaskan lensa apabila abu vulkanik masuk ke mata. Lensa kontak dapat membuat partikel tetap berada di sekitar permukaan mata dan memperpanjang iritasi. Setelah terkena abu, jangan kembali memakai lensa kontak sampai mata benar-benar pulih.

Selama mata masih merah, perih, atau terasa mengganjal, sebaiknya gunakan kacamata sebagai pengganti lensa kontak.

4. Gunakan Obat Tetes Mata Bila Diperlukan

Setelah mata dibilas, obat tetes mata tertentu dapat digunakan untuk membantu meredakan keluhan ringan. Kemenkes menyebut obat tetes mata sebagai salah satu langkah yang dapat digunakan apabila mata terkena abu vulkanik.

Namun, penggunaan obat tetes sebaiknya dilakukan sesuai petunjuk pada kemasan atau anjuran tenaga kesehatan. Hindari sembarangan menggunakan obat mata, terutama obat yang mengandung bahan aktif tertentu tanpa mengetahui penyebab keluhan. Jika keluhan tidak membaik setelah mata dibersihkan, pemeriksaan tenaga medis diperlukan.

5. Lindungi Mata dari Paparan Abu Berikutnya

Setelah mengalami iritasi, jangan langsung kembali ke area yang masih dipenuhi abu vulkanik. Jika harus berada di luar ruangan, gunakan kacamata pelindung atau goggles yang dapat membantu mengurangi masuknya partikel abu ke mata. CDC merekomendasikan penggunaan goggles untuk melindungi mata selama terjadi paparan abu vulkanik.

Masyarakat juga disarankan menggunakan masker yang sesuai untuk mengurangi paparan abu melalui saluran pernapasan. Kemenkes mengimbau warga di wilayah terdampak untuk menggunakan masker dan kacamata jika harus keluar rumah.

Sebisa mungkin, tetap berada di dalam rumah dengan pintu dan jendela tertutup ketika abu sedang turun.

6. Segera Periksa Jika Gejala Berat

Iritasi ringan biasanya dapat membaik setelah paparan dihentikan dan mata dibersihkan. Namun, masyarakat perlu waspada apabila muncul gejala yang lebih serius. Segera periksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami:

  • Nyeri mata yang berat atau terus-menerus.
  • Penglihatan menjadi kabur atau terganggu.
  • Mata sangat merah dan tidak membaik.
  • Sensitif terhadap cahaya.
  • Mata terus-menerus berair atau terasa sangat mengganjal.
  • Keluhan tidak membaik setelah dibilas.
  • Terjadi luka atau cedera pada mata.

Kemenkes juga mengimbau masyarakat yang mengalami keluhan akibat paparan abu untuk mendatangi puskesmas atau fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.

Abu Vulkanik Bisa Mengganggu Kesehatan Mata

Abu vulkanik bukan sekadar debu biasa. Partikel vulkanik dapat mengiritasi mata, kulit, serta saluran pernapasan. Kemenkes sebelumnya juga mengidentifikasi iritasi atau alergi pada mata sebagai salah satu gangguan kesehatan yang perlu diwaspadai setelah letusan gunung api.

Karena itu, masyarakat di daerah terdampak sebaiknya tidak menunggu sampai mata terasa perih untuk mulai melakukan perlindungan. Pencegahan jauh lebih baik dilakukan sejak awal dengan mengurangi paparan abu.

Cara Mencegah Abu Masuk ke Mata

Selain mengetahui pertolongan pertama, masyarakat dapat melakukan sejumlah langkah untuk mengurangi risiko terkena abu vulkanik.

Pertama, kurangi aktivitas di luar rumah selama hujan abu. Jika tidak ada keperluan mendesak, tetaplah berada di dalam ruangan. Kedua, gunakan kacamata pelindung ketika harus keluar. Kacamata biasa dapat membantu, tetapi goggles yang menutup lebih rapat di sekitar mata memberikan perlindungan yang lebih baik terhadap partikel abu.

Ketiga, gunakan masker yang sesuai untuk mengurangi paparan abu melalui hidung dan mulut. Keempat, setelah kembali ke rumah, bersihkan tubuh dan pakaian yang terkena abu. Kemenkes mengingatkan masyarakat untuk segera membersihkan tubuh dan pakaian setelah beraktivitas di luar karena partikel abu vulkanik dapat bersifat tajam. Kelima, jangan menyentuh mata dengan tangan yang masih kotor atau terpapar abu.

Waspadai Kelompok Rentan

Paparan abu vulkanik perlu mendapat perhatian lebih pada kelompok rentan, seperti anak-anak, lanjut usia, serta orang dengan penyakit pernapasan dan kardiovaskular kronis. Kemenkes menyebut kelompok tersebut lebih rentan terhadap dampak kesehatan akibat paparan abu vulkanik.

Karena itu, keluarga perlu memastikan kelompok rentan mendapatkan perlindungan lebih baik dan tidak terlalu lama berada di luar ruangan ketika terjadi hujan abu.

Jangan Panik, Ikuti Informasi Resmi

Di tengah aktivitas erupsi, masyarakat sebaiknya tidak mudah percaya pada informasi yang belum terverifikasi. Ikuti arahan pemerintah, petugas kesehatan, serta otoritas kebencanaan terkait kondisi gunung api dan wilayah yang terdampak.

Untuk kondisi mata, prinsip sederhananya adalah jangan mengucek, segera bilas dengan air bersih, lindungi mata dari paparan lanjutan, dan cari pertolongan medis jika keluhan berat atau menetap.

Dengan langkah tersebut, risiko gangguan mata akibat paparan abu vulkanik dapat diminimalkan sambil masyarakat tetap mengikuti perkembangan dan rekomendasi resmi terkait aktivitas erupsi.

Posting Komentar untuk " Waspada Erupsi, Ini 6 Cara Mengatasi Abu Vulkanik di Mata"