Zulhas Ungkap Biaya Produksi Beras di Vietnam Rp3.800: Kita Rp12 Ribu

Jakarta – Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) mengungkap perbedaan mencolok biaya produksi beras antara Indonesia dan sejumlah negara lain. Menurutnya, ongkos produksi beras di Indonesia masih jauh lebih tinggi dibandingkan Vietnam, Thailand, India, dan China.

Zulhas menyebut biaya untuk menghasilkan 1 kilogram (kg) beras di Indonesia mencapai sekitar Rp12.000. Sementara itu, biaya produksi beras di Vietnam dan beberapa negara pembanding disebut hanya sekitar Rp3.800 per kg. Pernyataan tersebut disampaikan Zulhas ketika menghadiri Halaqah Kebangsaan Ekonomi Bisnis Pesantren 2026 di Universitas Darul Ulum (Undar), Jombang, Jawa Timur, pada Kamis (27/8/2026).

Selisih Biaya Produksi Beras Sangat Besar

Zulhas membandingkan ongkos produksi beras Indonesia dengan China, India, Thailand, dan Vietnam. Ia mengatakan biaya produksi beras di negara-negara tersebut berada di kisaran Rp3.800 per kg. Sementara Indonesia harus mengeluarkan biaya sekitar Rp12.000 untuk menghasilkan jumlah beras yang sama.

Jika menggunakan angka tersebut sebagai perbandingan sederhana, biaya produksi beras Indonesia sekitar Rp8.200 per kg lebih mahal atau lebih dari tiga kali lipat dibanding angka yang disebut Zulhas untuk negara-negara pembanding.

Namun, angka tersebut merupakan pernyataan Zulhas mengenai biaya produksi dan bukan berarti harga jual beras di masing-masing negara berada pada angka yang sama. Biaya produksi juga dapat dipengaruhi berbagai faktor, seperti produktivitas lahan, upah tenaga kerja, harga input pertanian, teknologi, skala usaha, hingga kondisi irigasi.

Teknologi Jadi Kunci Menekan Ongkos

Menurut Zulhas, tingginya biaya produksi pangan di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari metode produksi yang masih membutuhkan banyak tenaga dan belum sepenuhnya memanfaatkan teknologi. Ia menilai Indonesia perlu mempercepat modernisasi pertanian agar produktivitas meningkat dan biaya produksi dapat ditekan.

Zulhas memberikan contoh dari proses penanaman padi. Ia mengingat pada masa lalu satu hektare lahan membutuhkan sekitar 24 orang untuk melakukan penanaman. Kini, dengan mesin pertanian modern, satu mesin tanam padi disebut dapat mengerjakan lahan hingga sekitar 24 hektare dalam sehari. Perbandingan tersebut digunakan Zulhas untuk menunjukkan besarnya potensi efisiensi apabila mekanisasi pertanian diterapkan secara lebih luas.

“Kalau panen padi itu memerlukan tenaga manusia 24 orang satu hari, kalau teknologi satu hari 24 hektare,” kata Zulhas dalam kesempatan sebelumnya.

Bukan Hanya Beras, Gula Juga Mahal

Persoalan biaya produksi yang tinggi, menurut Zulhas, tidak hanya terjadi pada beras. Ia juga membandingkan biaya produksi gula pasir. Di Indonesia, ongkos produksi gula disebut mencapai sekitar Rp14.000 per kg. Sementara di China, India, Thailand, dan Vietnam, biaya produksi gula disebut berada di kisaran Rp3.700-Rp3.800 per kg.

Zulhas menilai kondisi tersebut menunjukkan Indonesia masih memiliki pekerjaan besar dalam meningkatkan efisiensi sektor pangan. “Orang lebih kaya mengeluarkan lebih sedikit biaya produksi, kita lebih susah mengeluarkan lebih banyak,” ujar Zulhas.

Indonesia Diminta Belajar dari Negara Lain

Zulhas menekankan bahwa kemajuan sektor pangan tidak cukup hanya mengandalkan sumber daya alam dan jumlah tenaga kerja. Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi dinilai menjadi faktor penting untuk meningkatkan daya saing. Menurutnya, Indonesia harus mau belajar dari negara-negara yang telah berhasil mengembangkan sistem produksi pertanian dengan teknologi yang lebih maju.

Ia bahkan mengingatkan agar lembaga pendidikan, termasuk kampus dan pesantren, ikut beradaptasi dengan perkembangan teknologi. “Kampus harus mau belajar, pondok juga harus mau belajar. Kalau kita tidak belajar ini, kita akan tertinggal terus,” kata Zulhas.

Teknologi Pertanian Tak Hanya Mesin Tanam

Modernisasi pertanian yang didorong pemerintah tidak terbatas pada penggunaan mesin untuk menanam atau memanen. Teknologi juga dapat digunakan dalam berbagai tahapan produksi, mulai dari pemupukan, penyiraman, pemantauan kondisi tanaman, hingga pengendalian hama. Dalam kesempatan lain, Zulhas menyebut penggunaan drone untuk pemupukan dan penyiraman sebagai salah satu bentuk pemanfaatan teknologi yang dapat meningkatkan efisiensi kerja petani. Dengan mekanisasi dan digitalisasi, kebutuhan tenaga kerja untuk pekerjaan tertentu dapat dikurangi, sementara cakupan lahan yang dapat dikerjakan dalam waktu singkat bisa meningkat.

Produktivitas Peternakan Juga Disorot

Zulhas juga membawa persoalan efisiensi tersebut ke sektor peternakan, khususnya produksi telur dan daging ayam. Ia menilai terdapat perbedaan produktivitas yang besar antara ternak lokal dengan hasil pengembangan teknologi genetika. Dalam paparannya, Zulhas membandingkan ayam kampung yang produktivitas telurnya relatif rendah dengan ayam hasil rekayasa genetika yang mampu berproduksi jauh lebih lama dalam satu siklus. Menurutnya, peningkatan produktivitas harus dilakukan melalui ilmu pengetahuan, teknologi, pemuliaan, manajemen peternakan, dan penerapan metode produksi yang lebih efisien.

Tantangan Mewujudkan Pangan Murah dan Petani Sejahtera

Pernyataan Zulhas mengenai biaya produksi beras juga berkaitan dengan tantangan pemerintah menjaga keseimbangan antara harga pangan yang terjangkau bagi masyarakat dan harga yang menguntungkan petani. Biaya produksi yang tinggi dapat membuat harga beras sulit ditekan. Di sisi lain, apabila harga pembelian di tingkat petani terlalu rendah, petani berpotensi kehilangan insentif untuk mempertahankan produksi.

Karena itu, efisiensi produksi menjadi salah satu jalan untuk mempertemukan dua kepentingan tersebut. Jika biaya produksi dapat ditekan melalui peningkatan produktivitas, petani memiliki peluang memperoleh margin yang lebih baik tanpa harus menaikkan harga jual secara berlebihan kepada konsumen.

Bulog dan Kebijakan Harga Beras

Pemerintah juga telah menggunakan kebijakan penyerapan beras sebagai salah satu instrumen untuk menjaga keseimbangan antara kepentingan petani dan stabilitas pangan. Kementerian Koordinator Bidang Pangan mencatat pemerintah menugaskan Bulog membeli gabah dan beras petani. Dalam kebijakan yang pernah disampaikan pemerintah, harga pembelian gabah ditetapkan Rp6.500 per kg, sementara beras hasil penggilingan yang diserap Bulog berada pada Rp12.000 per kg.

Angka Rp12.000 tersebut perlu dibedakan dengan klaim Zulhas mengenai biaya produksi. Harga pembelian pemerintah merupakan instrumen kebijakan untuk menyerap hasil produksi, sedangkan biaya produksi menggambarkan ongkos yang diperlukan untuk menghasilkan komoditas.

Mengapa Biaya Produksi Indonesia Bisa Lebih Tinggi?

Perbedaan biaya produksi antarnegara dapat dipengaruhi banyak faktor. Untuk sektor padi, beberapa komponen yang berpotensi menentukan antara lain:

  • Produktivitas per hektare, yang menentukan berapa banyak beras dapat dihasilkan dari lahan dan input yang sama.
  • Biaya tenaga kerja, terutama ketika proses budidaya masih sangat bergantung pada tenaga manusia.
  • Mekanisasi, mulai dari pengolahan lahan hingga panen.
  • Ketersediaan dan efisiensi irigasi.
  • Harga pupuk dan sarana produksi pertanian.
  • Skala usaha dan luas lahan garapan.
  • Efisiensi pascapanen dan penggilingan.
  • Kehilangan hasil selama proses panen, pengeringan, penyimpanan, dan penggilingan.

Karena itu, perbandingan angka Rp12.000 dengan Rp3.800 tidak bisa serta-merta digunakan untuk menyimpulkan bahwa seluruh komponen produksi di Indonesia tiga kali lebih mahal. Angka tersebut merupakan perbandingan yang disampaikan Zulhas dan perlu dilihat bersama metodologi serta komponen biaya yang digunakan.

Dorong Swasembada Pangan

Efisiensi produksi menjadi semakin penting karena pemerintah tengah mendorong penguatan ketahanan dan swasembada pangan. Pemerintah menilai peningkatan produksi harus berjalan beriringan dengan peningkatan produktivitas dan efisiensi. Kementerian Koordinator Bidang Pangan juga menekankan pemanfaatan teknologi sebagai salah satu cara untuk meningkatkan produktivitas petani. Dengan produksi yang lebih efisien, Indonesia diharapkan tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga meningkatkan daya saing produk pertanian.

Pendidikan dan Teknologi Harus Berjalan Bersama

Zulhas menilai perubahan teknologi membutuhkan dukungan sumber daya manusia. Karena itu, perguruan tinggi dan pesantren dinilai memiliki peran penting dalam mempersiapkan generasi yang mampu menguasai teknologi. Menurutnya, pendidikan tidak boleh berjalan terpisah dari perkembangan dunia usaha dan teknologi. Pengetahuan yang diperoleh generasi muda harus dapat diterapkan untuk menjawab persoalan nyata, termasuk masalah biaya produksi pangan. “Jadi memang kita harus belajar. Big business-nya, teknologinya harus,” tegas Zulhas.

Pemerintah Hadapi Pekerjaan Besar

Pernyataan Zulhas mengenai perbedaan biaya produksi beras antara Indonesia dan Vietnam menjadi sorotan karena menyentuh persoalan mendasar dalam sektor pangan nasional. Dengan biaya produksi yang disebut mencapai Rp12.000 per kg, Indonesia menghadapi tantangan besar untuk meningkatkan efisiensi agar dapat bersaing dengan negara produsen lain.

Modernisasi alat pertanian, peningkatan produktivitas lahan, efisiensi penggunaan pupuk dan air, penguatan irigasi, perbaikan pascapanen, serta pengembangan sumber daya manusia menjadi sejumlah aspek yang perlu diperkuat secara bersamaan.

Pada akhirnya, target swasembada pangan tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak beras yang mampu diproduksi. Kemampuan menghasilkan beras dengan biaya yang efisien sekaligus memberikan keuntungan yang layak bagi petani menjadi faktor penting agar sistem pangan Indonesia dapat bertahan dan bersaing dalam jangka panjang.

Posting Komentar untuk " Zulhas Ungkap Biaya Produksi Beras di Vietnam Rp3.800: Kita Rp12 Ribu"