Daftar Bandara dan Pelabuhan Rusak Akibat Gempa di NTT
Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan salah satu wilayah Indonesia yang memiliki tingkat kerawanan gempa dan tsunami cukup tinggi. Sejumlah gempa besar dalam sejarah NTT pernah menyebabkan kerusakan serius pada permukiman, fasilitas umum, pelabuhan, hingga infrastruktur bandar udara.
Namun, perlu diluruskan bahwa tidak setiap gempa besar di NTT menyebabkan kerusakan bandara dan pelabuhan. Salah satu contoh penting adalah gempa Laut Flores pada 14 Desember 2021. Saat itu, Kementerian Perhubungan menyatakan belum menemukan kerusakan pada infrastruktur pelabuhan maupun bandara di wilayah terdampak.
Berikut daftar fasilitas transportasi yang tercatat mengalami kerusakan akibat gempa besar di NTT, terutama berdasarkan dokumentasi gempa Flores 1992 yang merupakan salah satu bencana gempa-tsunami paling mematikan dalam sejarah Indonesia.
Gempa Flores 1992: Infrastruktur Transportasi yang Rusak
Gempa Flores terjadi pada 12 Desember 1992 dengan kekuatan sekitar M7,5. Gempa tersebut disertai tsunami yang menyebabkan kerusakan sangat luas di Pulau Flores. BMKG mencatat bencana tersebut menimbulkan korban lebih dari 2.500 orang, sementara tsunami menerjang kawasan pesisir Flores dengan dampak yang sangat besar.
Dokumentasi pemerintah mengenai kerusakan infrastruktur NTT mencatat sejumlah fasilitas perhubungan mengalami kerusakan.
1. Bandara Ende
Bandara di Ende termasuk salah satu bandar udara yang mengalami dampak paling parah dalam gempa Flores 1992.
Kerusakan terutama terjadi pada bangunan operasional, menara atau tower, ruang operasional, serta fasilitas telekomunikasi dan kelistrikan. Meski demikian, landasan pacu dilaporkan tidak mengalami kerusakan berat sehingga kegiatan penerbangan masih dapat berlangsung dengan keterbatasan fasilitas komunikasi.
2. Bandara Maumere
Bandara Maumere juga tercatat sebagai salah satu dari tiga bandara yang mengalami kerusakan paling parah akibat gempa Flores 1992.
Seperti di Ende, kerusakan terutama mengenai fasilitas bangunan dan peralatan pendukung operasional. Landasan penerbangan tidak menjadi bagian yang mengalami kerusakan paling berat sehingga fungsi penerbangan masih memungkinkan dijalankan dengan fasilitas terbatas.
3. Bandara Larantuka
Bandara Larantuka menjadi bandara ketiga yang disebut dalam dokumentasi pemerintah sebagai fasilitas bandar udara yang terkena dampak paling parah akibat gempa 1992.
Kerusakan mencakup bagian bangunan operasional, fasilitas telekomunikasi dan kelistrikan. Sementara itu, landasan tidak dilaporkan mengalami kerusakan berat. Dengan demikian, tiga bandara yang tercatat mengalami kerusakan berat pada fasilitas pendukung akibat gempa Flores 1992 adalah:
Catatan penting: landasan pacu ketiga bandara tersebut tidak menjadi bagian yang mengalami kerusakan paling berat, sehingga penerbangan masih dapat dilakukan secara terbatas.
Pelabuhan yang Rusak Akibat Gempa Flores 1992
Kerusakan pada sektor pelabuhan juga cukup luas. Dokumentasi pemerintah mencatat kerusakan pada sejumlah fasilitas perhubungan laut dan penyeberangan.
1. Pelabuhan Penyeberangan Waibalun, Larantuka
Pelabuhan penyeberangan Waibalun di Larantuka termasuk fasilitas perhubungan yang tercatat mengalami kerusakan akibat gempa Flores 1992. Kerusakan ini menjadi bagian dari kerusakan sektor transportasi darat dan penyeberangan yang terjadi di NTT setelah gempa.
2. Pelabuhan Maumere
Kerusakan di kawasan pelabuhan Maumere tergolong serius. Dokumentasi pemerintah mencatat:
- Dermaga I hilang.
- Dermaga II dan III hancur.
- Bangunan kantor mengalami kerusakan.
- Terminal mengalami kerusakan.
- Rumah operasional mengalami keretakan.
Kondisi tersebut menunjukkan besarnya dampak gempa dan tsunami terhadap infrastruktur pelabuhan di kawasan Maumere.
3. Pelabuhan Ende
Pelabuhan Ende juga terdampak. Catatan pemerintah menyebut rumah operasional dan dermaga Ende mengalami keretakan akibat gempa.
4. Pelabuhan Marapokot
Di kawasan Marapokot, kerusakan terjadi pada bagian trestle dermaga yang mengalami penurunan, sementara rambu suar dilaporkan miring.
Daftar pelabuhan terdampak
Bagaimana dengan Gempa NTT 2021?
Informasi mengenai gempa NTT sering tercampur antara gempa Flores 1992 dan gempa Laut Flores 2021. Keduanya merupakan peristiwa berbeda. Pada 14 Desember 2021, gempa berkekuatan sekitar M7,4 mengguncang wilayah Laut Flores/Flores Timur. BMKG mengeluarkan peringatan dini tsunami dan kemudian mencatat adanya tsunami kecil di sejumlah lokasi.
Akan tetapi, pada saat pemeriksaan awal setelah gempa tersebut, Kementerian Perhubungan menyatakan belum ada laporan kerusakan pada bandara maupun pelabuhan. Operasional penerbangan dan pelayaran tetap dipantau dan pada saat itu tidak ada larangan terbang maupun melaut yang diberlakukan Kemenhub.
Jadi, tidak tepat memasukkan bandara-bandara NTT sebagai "rusak akibat gempa 2021" tanpa bukti kerusakan yang terverifikasi. Pada peristiwa yang sama, kerusakan pelabuhan justru tercatat di Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, yang turut terdampak gempa NTT. BNPB/ANTARA kemudian melaporkan kerusakan pada dermaga besar pelabuhan dan dermaga tambatan perahu di Lambego.
Kondisi Gempa NTT Terbaru
Perkembangan terbaru juga penting untuk dicantumkan agar daftar ini tidak menimbulkan kesan bahwa seluruh kerusakan tersebut merupakan kejadian baru. Pada 26 Juli 2026, Kabupaten Kupang kembali diguncang gempa. BMKG mencatat gempa M5,5 berpusat sekitar 19 km barat daya Kabupaten Kupang dengan kedalaman 26 km dan menyatakan gempa tersebut tidak berpotensi tsunami.
Pada hari yang sama, gempa lain dengan parameter pemutakhiran M5,3 juga dilaporkan di wilayah Kupang. BMKG menjelaskan gempa tersebut berkaitan dengan aktivitas subduksi dan tidak berpotensi tsunami.
Tidak ada dasar dari sumber yang ditemukan untuk menyebut bandara atau pelabuhan NTT rusak akibat gempa Kupang Juli 2026. Karena itu, daftar kerusakan dalam artikel ini sebaiknya dibaca sebagai catatan historis, terutama mengenai gempa Flores 1992.
Jangan Samakan Kerusakan Gempa dengan Penutupan Bandara Akibat Erupsi
NTT juga beberapa kali mengalami gangguan penerbangan akibat erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki, tetapi kondisi tersebut berbeda dengan kerusakan akibat gempa bumi.
Pada 2025, misalnya, erupsi Lewotobi menyebabkan penutupan sementara tiga bandara, yaitu Bandara Gewayantana Larantuka, Bandara Frans Seda Maumere, dan Bandara Haji Hasan Aroeboesman Ende. Penutupan tersebut berkaitan dengan aktivitas vulkanik dan keselamatan penerbangan, bukan kerusakan akibat gempa bumi.
Hal serupa juga terjadi pada sejumlah periode erupsi sebelumnya. Pada November 2024, empat bandara sempat tidak beroperasi akibat dampak abu vulkanik dan pembatalan penerbangan, yakni Bandara H. Hasan Aroeboesman Ende, Soa Bajawa, Gewayantana Larantuka, dan Frans Seda Maumere.



Posting Komentar untuk " Daftar Bandara dan Pelabuhan Rusak Akibat Gempa di NTT"