Farizon Cari Celah Suplai Van Listrik Buat MBG

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) membuka peluang baru bagi industri kendaraan niaga. Farizon melihat kebutuhan distribusi makanan dalam skala besar sebagai pasar potensial untuk van listriknya, terutama Farizon V8E Cargo Van. Dengan harga Rp425 juta, kapasitas kargo 7,9 meter kubik, payload hingga 1,5 ton, serta jarak tempuh yang diklaim mencapai 428 kilometer, kendaraan ini mulai diarahkan untuk kebutuhan distribusi perkotaan, termasuk peluang mendukung operasional MBG.

Farizon memang belum bisa disebut sebagai pemasok resmi kendaraan untuk program MBG. Namun, langkah perusahaan memperkenalkan dan memasarkan V8E Cargo Van di Indonesia menunjukkan bahwa produsen kendaraan niaga listrik asal China tersebut sedang mencari ceruk pasar yang besar di sektor distribusi dan logistik.

Isu tersebut menjadi semakin menarik karena kebutuhan kendaraan untuk mendukung operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) terus berkembang seiring perluasan program MBG.

Farizon melihat peluang dari distribusi makanan

Berbeda dengan kendaraan penumpang listrik yang mengandalkan konsumen individu, Farizon sejak awal membawa identitas sebagai pemain kendaraan niaga.

Di Indonesia, merek yang berada di bawah ekosistem Geely Group ini masuk melalui Arista Group dan PT Arista Auto Elektrindo. Produk pertamanya adalah Farizon SV, sebelum kemudian memperluas portofolio dengan kendaraan seperti V8E Cargo Van dan F3E Super Cargo.

Kehadiran V8E Cargo Van menjadi sangat relevan ketika dikaitkan dengan bisnis distribusi makanan. Mobil ini bukan sekadar van listrik untuk membawa penumpang. Konfigurasinya memang ditujukan sebagai blind van, dengan ruang belakang yang luas untuk membawa barang.

Dan karakter tersebut memiliki irisan langsung dengan kebutuhan distribusi makanan dari dapur SPPG menuju titik-titik penerima manfaat.

Bukan berarti Farizon sudah mendapatkan proyek MBG

Hal ini penting diluruskan. Peluang MBG dan kendaraan Farizon tidak otomatis berarti Farizon telah memperoleh kontrak pengadaan kendaraan dari pemerintah atau Badan Gizi Nasional (BGN).

Informasi yang tersedia menunjukkan Farizon sedang melihat potensi penggunaan kendaraan tersebut untuk distribusi makanan. Sementara itu, BGN sendiri dalam pelaksanaan MBG memang membutuhkan dukungan kendaraan distribusi dan operasional.

Sebagai contoh, ketika layanan SPPG di Kabupaten Bireun terganggu akibat bencana pada akhir 2025, BGN mencatat adanya penggunaan lima kendaraan operasional dan tiga mobil distribusi untuk membantu percepatan penyaluran bantuan.

Artinya, kendaraan distribusi memang merupakan bagian penting dari rantai operasional MBG. Namun, belum tepat jika menyimpulkan bahwa Farizon telah menjadi vendor resmi kendaraan MBG. Justru di sinilah "celah" yang sedang dibidik.

V8E Cargo Van punya modal yang cukup menarik

Farizon V8E Cargo Van saat ini dijual dengan harga Rp425 juta untuk OTR Jakarta.Yang menarik bukan hanya harganya, melainkan konfigurasi kendaraannya.

Menurut data spesifikasi terbaru, V8E memiliki:

Spesifikasi                                                         Farizon V8E Cargo Van

Harga                                                                     Rp425 juta

Panjang                                                                     5.395 mm

Lebar                                                                     1.820 mm

Tinggi                                                                     1.985 mm

Wheelbase                                                             3.600 mm

Volume kargo                                                             7,9 m³

Payload hingga                                                         1,5 ton

GVW                                                                     3.500 kg

Baterai                                                                     65 kWh LFP

Motor                                                                     Permanent Magnet Synchronous

Torsi                                                                     190 Nm

Pengisian cepat                                                     hingga 100 kW

Jarak tempuh klaim                                             hingga 428 km

Data tersebut membuat V8E masuk akal untuk dipertimbangkan sebagai kendaraan logistik perkotaan.

Ruang 7,9 m³ jadi senjata utama

Untuk kebutuhan distribusi makanan, kapasitas ruang kargo sering kali lebih penting daripada sekadar angka tenaga motor. V8E mempunyai ruang kargo sepanjang sekitar 3.265 mm, lebar 1.690 mm, dan tinggi 1.435 mm.

Total volumenya mencapai 7,9 m³ dengan kemampuan angkut hingga 1,5 ton. Konfigurasi ini memungkinkan kendaraan membawa berbagai kebutuhan distribusi dalam satu perjalanan, meskipun kapasitas riil paket makanan tetap bergantung pada jenis wadah, susunan muatan, standar kebersihan, dan batas berat yang ditetapkan operator.

Untuk MBG, persoalannya bukan sekadar "berapa banyak makanan yang bisa masuk". Distribusi makanan juga membutuhkan kendaraan yang mudah dibersihkan, mampu menjaga keamanan muatan, memiliki akses bongkar-muat yang praktis, dan dapat beroperasi secara rutin dengan biaya yang terkendali.

Di sinilah kendaraan komersial listrik mulai punya alasan untuk dilirik. Listrik menawarkan biaya operasional yang berbeda Salah satu daya tarik utama kendaraan listrik untuk armada komersial adalah potensi efisiensi biaya energi dan perawatan.

Kendaraan distribusi biasanya memiliki pola operasi yang berbeda dari mobil pribadi. Armada dapat berjalan setiap hari, menempuh rute berulang, berhenti berkali-kali, dan beroperasi dalam lalu lintas perkotaan.

Karakter seperti itu sebenarnya cocok dengan kendaraan listrik karena motor listrik menghasilkan torsi secara instan dan tidak memiliki sejumlah komponen mesin pembakaran internal yang membutuhkan perawatan rutin.

Namun, penghematan tersebut tetap harus dihitung secara menyeluruh.

Operator harus memperhitungkan:

  • harga kendaraan;

  • biaya listrik;

  • tarif dan instalasi charger;

  • waktu pengisian;

  • biaya baterai;

  • biaya perawatan;

  • depresiasi kendaraan;

  • jarak tempuh harian;

  • serta utilisasi armada.

Jadi, label "listrik" belum otomatis berarti biaya distribusi pasti lebih murah.

Pengisian cepat menjadi faktor penting

Farizon V8E menggunakan baterai LFP berkapasitas 65 kWh dan mendukung pengisian cepat CCS2 hingga 100 kW. Jarak tempuh yang diklaim mencapai 428 km.

Angka ini menarik untuk kendaraan yang beroperasi dalam rute distribusi perkotaan. Namun, angka jarak tempuh dalam kondisi nyata bisa berbeda dari angka klaim karena dipengaruhi muatan, kecepatan, kondisi jalan, temperatur, penggunaan AC, gaya mengemudi, dan kondisi baterai.

Untuk armada MBG, perhitungan tersebut menjadi sangat penting. Misalnya kendaraan harus berangkat dari SPPG, melakukan beberapa titik pengantaran, kembali ke pangkalan, kemudian digunakan lagi pada hari yang sama. Operator harus memastikan bahwa kendaraan memiliki energi yang cukup untuk seluruh siklus tersebut.

Ada keuntungan lain: sudah dirakit lokal

Salah satu perkembangan penting Farizon pada 2026 adalah langkah menuju produksi lokal. V8E Cargo Van diproduksi secara lokal di fasilitas PT Handal Indonesia Motor (HIM) di Purwakarta. Model ini kemudian dipasarkan dengan harga Rp425 juta.

Pada GIIAS 2026, Farizon juga mengumumkan rencana perakitan lokal V8E Cargo Van dan F3E Super Cargo melalui skema Completely Knocked Down (CKD) bersama PT Handal Indonesia Motor.

Ini bisa menjadi faktor strategis jika Farizon benar-benar ingin masuk lebih dalam ke pasar fleet. Pasalnya, pembeli armada dalam jumlah besar biasanya tidak hanya melihat harga satu unit. Mereka juga mempertimbangkan ketersediaan unit, suku cadang, layanan purnajual, waktu perbaikan, serta kemampuan produsen menjaga pasokan.

MBG adalah pasar fleet yang menarik

Program MBG memiliki karakter yang berbeda dari pasar mobil pribadi. Jika kebutuhan kendaraan meningkat, pembeliannya berpotensi dilakukan dalam jumlah besar melalui berbagai operator dan mitra. Artinya, satu transaksi fleet dapat memiliki nilai yang jauh lebih besar daripada penjualan kendaraan secara eceran.

Inilah yang membuat program pemerintah seperti MBG menarik bagi produsen kendaraan niaga. Farizon tidak sendirian. Di GIICOMVEC 2026, sejumlah produsen kendaraan juga memamerkan kendaraan yang secara spesifik dapat dikembangkan untuk kebutuhan MBG. Suzuki, misalnya, menampilkan New Carry Box MBG dan APV MBG.

Dengan demikian, kebutuhan kendaraan MBG berpotensi menjadi arena persaingan baru bagi produsen kendaraan komersial.

Farizon datang dengan pendekatan berbeda

Suzuki dan pemain lama memiliki keuntungan berupa jaringan purnajual yang sudah mapan dan pengalaman panjang di kendaraan niaga.

Farizon mencoba menawarkan pembeda lain: kendaraan komersial listrik sejak awal dirancang sebagai produk utama.

Farizon sendiri membawa positioning sebagai merek kendaraan komersial berbasis energi baru di bawah Geely Group. Di Indonesia, perusahaan memperluas portofolio melalui beberapa jenis kendaraan niaga listrik.

Pada GIIAS 2026, Farizon bahkan membawa empat model sekaligus:

  • Farizon SV Medium Roof;

  • Farizon V8E Cargo Van;

  • Farizon V8E Van;

  • Farizon F3E Super Cargo.

Harga yang diumumkan masing-masing adalah Rp725 juta, Rp425 juta, Rp550 juta, dan Rp475 juta OTR Jakarta. Ini menunjukkan bahwa Farizon tidak ingin bermain hanya di satu jenis kendaraan.

Mengapa V8E lebih menarik untuk MBG?

Dari empat model tersebut, V8E Cargo Van paling mudah dikaitkan dengan kebutuhan distribusi makanan. Farizon SV lebih berorientasi pada angkutan penumpang. Model SV yang dijual di Indonesia memiliki konfigurasi hingga 16 penumpang dan harga Rp698 juta untuk varian awal ketika pertama diluncurkan.

Sementara V8E Cargo Van memang mempunyai ruang kargo tertutup. Untuk mengirim makanan, kendaraan tertutup mempunyai keuntungan dibanding bak terbuka karena lebih mudah memberikan perlindungan terhadap hujan, debu, dan faktor eksternal lain selama perjalanan.

Namun, aspek higienitas tetap harus menjadi perhatian. Van listrik tidak otomatis memenuhi standar distribusi pangan. Interior kargo harus disesuaikan dengan prosedur sanitasi, jenis wadah makanan, pengaturan suhu bila diperlukan, serta standar operasional yang berlaku bagi distribusi makanan.

Tantangan terbesar justru bukan mobilnya

Kalau Farizon ingin benar-benar masuk ke bisnis MBG, menjual mobil saja tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah solusi armada.

Misalnya:

  • Kendaraan + charger + layanan purnajual + telematika + pembiayaan + suku cadang + pengemudi + manajemen armada.

  • Model seperti ini lebih menarik bagi operator SPPG atau mitra distribusi daripada sekadar membeli sebuah mobil listrik.

Perusahaan harus mampu menjawab pertanyaan sederhana:

  1. Kalau kendaraan rusak di tengah operasional MBG, berapa lama unit pengganti tersedia?

  2. Untuk program distribusi makanan, kendaraan yang menganggur bukan hanya kehilangan pendapatan.

  3. Keterlambatan kendaraan dapat mengganggu jadwal pengiriman makanan.

  4. Jaringan purnajual menjadi ujian

Farizon memang didukung jaringan ARISTA Group di Indonesia. Saat pertama kali diluncurkan, Farizon menyebut dukungan jaringan dealer dan layanan purnajual ARISTA sebagai bagian dari kesiapan memasuki pasar kendaraan niaga nasional.

Tetapi tantangannya berbeda ketika berbicara mengenai armada dalam jumlah besar.

Operator fleet membutuhkan:

  • ketersediaan suku cadang;

  • teknisi yang memahami kendaraan listrik;

  • diagnosis baterai;

  • dukungan roadside assistance;

  • waktu perbaikan yang singkat;

  • serta jaminan ketersediaan kendaraan pengganti.

Semakin besar jumlah unit yang beroperasi, semakin penting faktor tersebut.

Farizon juga harus berhadapan dengan pemain lama

Pasar kendaraan niaga Indonesia sudah lama dikuasai pemain seperti Toyota, Daihatsu, Suzuki, Mitsubishi Fuso, Isuzu, Hino, dan lainnya.

Mereka memiliki satu keunggulan besar: ekosistem. Banyak operator logistik sudah terbiasa menggunakan kendaraan dengan mesin konvensional karena jaringan bengkel dan suku cadangnya tersedia hampir di seluruh Indonesia. Farizon harus membuktikan bahwa keunggulan kendaraan listrik mampu menutup kesenjangan tersebut.

Terlebih lagi, MBG bukan hanya soal Jakarta atau kota besar. Jika program semakin meluas, kendaraan dapat dibutuhkan di daerah yang infrastruktur pengisian kendaraan listriknya belum sebaik wilayah perkotaan utama.

Infrastruktur charging menjadi pertanyaan besar Ini mungkin menjadi tantangan terbesar jika van listrik digunakan untuk distribusi MBG secara masif. Operator harus memiliki lokasi pengisian yang memadai. Bayangkan satu SPPG memiliki beberapa kendaraan listrik dan seluruhnya perlu mengisi baterai pada waktu yang hampir bersamaan.

Kebutuhan daya listrik dapat meningkat. Solusinya bisa berupa pengisian malam hari, pengaturan jadwal armada, pemasangan charger berdaya sesuai kebutuhan, atau kombinasi charging depot dan fasilitas publik.

Tetapi semua itu membutuhkan investasi. Karena itu, studi kelayakan fleet EV harus melihat total cost of ownership, bukan hanya harga beli.

Harga Rp425 juta cukup agresif

Dengan harga OTR Jakarta Rp425 juta, V8E Cargo Van ditempatkan di wilayah yang menarik untuk kendaraan komersial listrik. Harga tersebut membuat Farizon memiliki kesempatan untuk menawarkan biaya awal yang relatif kompetitif dibanding beberapa kendaraan listrik komersial lain.

Namun, bagi operator MBG, harga pembelian hanyalah satu bagian dari persamaan.

Yang lebih penting adalah:

  • berapa biaya distribusi per kilometer atau per paket makanan selama umur kendaraan?

  • Jika kendaraan listrik mampu menurunkan biaya energi dan perawatan secara signifikan, selisih harga awal dapat terkompensasi seiring penggunaan.

  • Tetapi jika infrastruktur charging mahal dan utilisasi kendaraan rendah, keuntungan tersebut dapat berkurang.

  • Lokal produksi bisa menjadi kartu truf

Perakitan lokal berpotensi menjadi salah satu modal penting Farizon dalam mengejar pasar fleet. Selain mendukung ekosistem industri nasional, produksi lokal dapat membantu perusahaan meningkatkan ketersediaan kendaraan dan menyesuaikan produk dengan kebutuhan pasar Indonesia.

Pada 2026, Farizon menyatakan V8E Cargo Van dan F3E Super Cargo akan dirakit secara lokal melalui kerja sama dengan PT Handal Indonesia Motor. Bagi calon pembeli armada, hal ini bisa menjadi sinyal bahwa Farizon tidak sekadar membawa beberapa unit kendaraan impor untuk menguji pasar.

Perusahaan tampak ingin membangun bisnis kendaraan niaga listrik dalam jangka panjang. MBG bisa menjadi pintu masuk, bukan tujuan akhir Menariknya, MBG mungkin hanya salah satu target. Jika V8E berhasil membuktikan efisiensinya dalam distribusi makanan, kendaraan tersebut bisa digunakan untuk banyak sektor lain.

Contohnya:

  • logistik last mile;

  • pengiriman barang ritel;

  • distribusi makanan dan minuman;

  • farmasi;

  • katering;

  • ekspedisi;

  • laundry;

  • distribusi bahan pangan;

  • armada perusahaan;

  • dan layanan pengiriman e-commerce.

Dengan ruang kargo 7,9 m³ dan payload hingga 1,5 ton, V8E memang memiliki spektrum penggunaan yang cukup luas. Jadi, membidik MBG dapat dilihat sebagai salah satu cara Farizon memasuki bisnis fleet yang lebih besar.

Persaingan kendaraan MBG bakal makin ramai

Kehadiran kendaraan listrik Farizon menambah warna dalam persaingan kendaraan yang dapat digunakan untuk distribusi MBG. Sebelumnya, kendaraan seperti Suzuki Carry dan Toyota Hilux Rangga juga mulai mendapat perhatian karena dapat dikonversi atau dibangun menjadi kendaraan distribusi makanan.

Di sisi kendaraan listrik, produsen lain juga mulai melihat kebutuhan kendaraan komersial sebagai peluang. GIIAS 2026 memperlihatkan bahwa segmen kendaraan komersial semakin mendapat perhatian. Farizon bahkan menjadi salah satu merek kendaraan komersial yang hadir dalam pameran tersebut bersama DFSK, Hino, Isuzu, Mitsubishi Fuso, dan UD Trucks.

Artinya, pasar fleet Indonesia sedang memasuki fase yang semakin kompetitif. Ada satu syarat yang tidak boleh dilupakan MBG adalah program penyediaan makanan. Jadi, kendaraan yang digunakan harus memenuhi standar operasional distribusi makanan, bukan sekadar memiliki baterai besar atau ruang kargo luas.

Faktor seperti kebersihan ruang kargo, keamanan makanan, kemudahan bongkar-muat, ketepatan waktu, dan kemampuan menjaga kualitas makanan selama perjalanan harus menjadi prioritas.

Jika Farizon ingin masuk lebih jauh, perusahaan kemungkinan perlu bekerja sama dengan operator SPPG, perusahaan logistik, penyedia karoseri, dan pihak lain yang memahami rantai distribusi pangan.

Posting Komentar untuk " Farizon Cari Celah Suplai Van Listrik Buat MBG"