Harga Mobil di Singapura Semakin di Luar Nalar
Harga mobil di Singapura kembali menjadi sorotan. Bukan karena harga mobilnya semata, melainkan karena biaya untuk mendapatkan hak memiliki dan menggunakan mobil—Certificate of Entitlement (COE)—yang pada 2026 kembali bertahan di level sangat tinggi. Untuk mobil kecil, pembeli kini harus menyiapkan COE sekitar S$124 ribu, sementara mobil kategori lebih besar membutuhkan sekitar S$130 ribu hanya untuk hak kepemilikan selama 10 tahun.
Kalau dikonversikan secara kasar dengan kurs S$1 sekitar Rp13.000, nilai COE tersebut setara dengan sekitar Rp1,61 miliar hingga Rp1,69 miliar. Angka itu bahkan belum termasuk harga mobil, pajak, registrasi, dan biaya lainnya.
Tidak mengherankan jika harga mobil baru di Singapura terlihat "di luar nalar" bagi konsumen dari negara lain, termasuk Indonesia.
COE S$123.890 untuk mobil kecil
Data terbaru menunjukkan bahwa dalam tender COE pada 5 Agustus 2026, premi COE kategori A turun 1,7 persen menjadi S$123.890, dari S$126.000 pada tender sebelumnya.
Namun, penurunan tersebut belum berarti harga mobil kembali normal. COE kategori B justru berada di S$129.910, naik tipis dari S$129.890. Sementara itu, COE kategori C untuk kendaraan komersial berada di S$91.545.
Dengan demikian, pada pertengahan Agustus 2026, gambaran biaya COE adalah:
Kategori Kendaraan COE terbaru
A Mobil hingga 1.600 cc/130 bhp atau EV hingga 110 kW S$123.890
B Mobil di atas 1.600 cc/130 bhp atau EV di atas 110 kW S$129.910
C Kendaraan barang dan bus S$91.545
D Sepeda motor S$10.202
E Open Category, kecuali sepeda motor S$129.971
COE kategori A dan B yang menembus kisaran S$120 ribu-S$130 ribu menjadi alasan utama mengapa harga mobil di Singapura sulit dibandingkan secara langsung dengan negara-negara lain.
Yang dibayar bukan sekadar "surat"
Hal yang sering membuat orang Indonesia salah memahami harga mobil Singapura adalah menganggap COE sebagai pajak biasa.
COE sebenarnya merupakan hak untuk memiliki dan menggunakan kendaraan selama 10 tahun. Siapa pun yang ingin mendaftarkan mobil baru di Singapura harus mendapatkan COE melalui sistem bidding, kecuali kendaraan tertentu yang memiliki ketentuan khusus.
Artinya, ketika seseorang membeli mobil di Singapura, ia tidak hanya membayar mobilnya. Ada dua komponen besar yang langsung membuat harga melonjak:
Harga dasar kendaraan
COE untuk hak menggunakan kendaraan selama 10 tahun Setelah itu masih ada berbagai pungutan dan pajak lain. Inilah yang membuat mobil yang secara harga internasional tergolong biasa saja dapat berakhir dengan banderol lebih dari S$200 ribu di Singapura.
Toyota Corolla saja bisa lebih dari S$200 ribu Gambaran ekstremnya terlihat pada mobil yang sebenarnya sangat umum. Daftar harga Toyota di Singapura pada Mei 2026, misalnya, mencantumkan Toyota Corolla Altis 1.6 Standard sekitar S$202.888, sedangkan varian Elegance berada di S$210.888 dan Corolla Altis Hybrid sekitar S$223.888.
Harga tersebut menjadi terasa semakin fantastis ketika dibandingkan dengan harga sebuah sedan keluarga di pasar Indonesia.
Bahkan model seperti Toyota Alphard Hybrid tercatat sekitar S$411.888, sedangkan Vellfire Hybrid sekitar S$430.888 dalam daftar harga tersebut.
Dengan kurs ilustratif S$1 = Rp13.000:
- Corolla Altis S$202.888 ≈ Rp2,64 miliar
- Corolla Altis Hybrid S$223.888 ≈ Rp2,91 miliar
- Toyota Alphard Hybrid S$411.888 ≈ Rp5,35 miliar
- Toyota Vellfire Hybrid S$430.888 ≈ Rp5,60 miliar
Angka rupiah tersebut hanya ilustrasi berdasarkan kurs Rp13.000 per dolar Singapura, bukan harga jual resmi dalam rupiah.
Mengapa harga mobil bisa setinggi itu?
Jawabannya tidak bisa hanya ditimpakan kepada COE. Struktur biaya kendaraan Singapura memang dirancang untuk membuat kepemilikan kendaraan pribadi menjadi mahal.
Menurut Land Transport Authority (LTA), kendaraan baru dikenakan Registration Fee sebesar S$350, Additional Registration Fee (ARF), COE, excise duty, dan berbagai komponen lainnya. Untuk mobil, excise duty ditetapkan sebesar 20 persen dari Open Market Value (OMV).
Masalah berikutnya adalah ARF. Untuk mobil yang menggunakan COE berdasarkan aturan yang berlaku sejak Februari 2023, ARF dihitung secara progresif:
- 100 persen untuk OMV pertama S$20.000
- 140 persen untuk bagian S$20.001-S$40.000
- 190 persen untuk bagian S$40.001-S$60.000
- 250 persen untuk bagian S$60.001-S$80.000
- 320 persen untuk OMV di atas S$80.000
Jadi semakin mahal mobilnya dari sisi OMV, semakin berat pula ARF yang dikenakan.
Contoh sederhananya
Bayangkan sebuah mobil memiliki OMV S$100.000.
ARF-nya secara sederhana dapat menjadi:
- S$20.000 × 100% = S$20.000
- S$20.000 × 140% = S$28.000
- S$20.000 × 190% = S$38.000
- S$20.000 × 250% = S$50.000
- S$20.000 × 320% = S$64.000
Total ARF mencapai S$200.000.
Itu baru ARF. Belum COE, excise duty, GST, registration fee, dan komponen biaya lainnya. Karena itu, kendaraan premium dengan OMV tinggi dapat mengalami kenaikan harga yang sangat besar setelah masuk ke struktur pajak Singapura.
Bahkan mobil listrik tidak otomatis murah
Menariknya, elektrifikasi tidak serta-merta menghilangkan persoalan harga. EV memang bisa mendapatkan insentif tertentu, termasuk rebate terkait skema lingkungan, tetapi mobil listrik tetap membutuhkan COE. Jika EV masuk kategori A atau B, pembeli tetap harus menghadapi harga COE kategori tersebut.
Data LTA bahkan menunjukkan bagaimana sebuah ZEEKR X RWD yang terdaftar pada April 2026 memiliki basic cost sekitar S$171.540 setelah memasukkan COE, sementara versi kategori B mencapai sekitar S$185.745.
Jadi, teknologi listrik dapat membantu mengurangi beberapa komponen biaya, tetapi tidak menghapus persoalan utama berupa kelangkaan hak penggunaan kendaraan.
Mengapa Singapura membatasi jumlah mobil?
Inilah inti dari seluruh sistem. Singapura adalah negara-kota dengan luas wilayah terbatas dan kepadatan aktivitas yang tinggi. Jika setiap orang dapat membeli mobil dengan mudah dan murah, tekanan terhadap jalan, parkir, kemacetan, serta penggunaan lahan akan meningkat.
Karena itu, pemerintah menggunakan sistem Vehicle Quota System (VQS) dan COE untuk mengendalikan pertumbuhan kendaraan.
Jumlah COE yang tersedia ditentukan berdasarkan kuota. Calon pemilik kemudian bersaing dalam proses bidding. Ketika permintaan meningkat sementara jumlah COE terbatas, harga COE naik. Dan pada 2026, permintaan tersebut masih sangat kuat. Kuota Agustus-Oktober justru membuat situasi menarik
Untuk periode Agustus-Oktober 2026, LTA menetapkan total kuota 19.085 COE. Jumlah ini hanya sedikit lebih tinggi dibanding periode sebelumnya.
Namun distribusinya berubah
Kategori A mendapatkan 7.134 COE, turun sekitar 4 persen dari periode Mei-Juli. Sebaliknya, kuota kategori B meningkat sekitar 6 persen. Perubahan ini penting karena mobil kecil dan mobil yang lebih besar tidak sepenuhnya bersaing pada kategori yang sama.
Dengan pasokan kategori A yang lebih sedikit, tekanan harga untuk mobil-mobil kecil tetap berpotensi tinggi. Ironisnya, pada tender 5 Agustus harga Cat A memang turun menjadi S$123.890. Namun angka tersebut tetap sangat tinggi secara historis.
COE sempat menembus rekor pada 2026
Kondisi saat ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari tren yang sudah berlangsung sepanjang tahun. Pada 8 Juli 2026, COE kategori A mencapai S$129.000, sementara kategori B mencapai S$130.889. Itu berarti mobil kecil sekalipun membutuhkan COE hampir S$130 ribu.
Dua minggu kemudian, pada 22 Juli, Cat A turun menjadi S$126.000 dan Cat B menjadi S$129.890. Kemudian pada 5 Agustus, Cat A kembali turun menjadi S$123.890, sedangkan Cat B bertahan di S$129.910. Artinya, ada sedikit pendinginan, tetapi belum ada tanda bahwa COE kembali ke level murah.
Apakah harga mobil Singapura akan segera turun?
Belum tentu. Ada beberapa alasan untuk tidak terlalu cepat berharap. Pertama, kuota Cat A untuk Agustus-Oktober justru berkurang 4 persen. Kedua, permintaan terhadap mobil masih kuat. Ketiga, harga COE berada di level tinggi meskipun sudah terkoreksi dari rekor Juli.
Pengamat yang dikutip media Singapura menilai koreksi terbaru lebih tepat dilihat sebagai pendinginan sementara daripada perubahan fundamental besar. Ada pula pandangan bahwa harga dapat bertahan di sekitar level sekarang selama pasokan dan permintaan tidak berubah drastis.
Dengan kata lain, penurunan dari S$129.000 ke S$123.890 memang terlihat besar secara nominal, tetapi belum cukup untuk membuat mobil di Singapura kembali "murah".
Mengapa orang Singapura tetap membeli mobil?
Pertanyaan berikutnya adalah: jika semahal itu, mengapa masih ada yang membeli? Jawabannya sederhana: mobil tetap memiliki nilai dan kegunaan yang tinggi bagi sebagian masyarakat, terutama keluarga, pekerja dengan kebutuhan mobilitas tertentu, serta konsumen berpenghasilan tinggi.
Selain itu, harga COE merupakan biaya yang dibayar untuk periode 10 tahun. Bagi seseorang yang benar-benar membutuhkan kendaraan pribadi, biaya tersebut dapat dianggap sebagai biaya akses terhadap mobilitas selama satu dekade.
Persoalannya, nilai ekonominya menjadi sangat berbeda dengan negara seperti Indonesia yang tidak memiliki sistem COE serupa.
Mobil di Singapura bukan sekadar alat transportasi
Sistem tersebut membuat mobil menjadi barang yang sangat mahal sekaligus relatif eksklusif. Di Indonesia, seseorang dapat membeli mobil entry-level dengan harga yang masih berada di kisaran puluhan hingga ratusan juta rupiah.
Di Singapura, angka yang sama bahkan bisa tidak cukup untuk membayar COE. Dengan kata lain, harga mobil di Singapura bukan hanya mencerminkan harga kendaraan, tetapi juga harga atas kelangkaan ruang jalan dan hak menggunakan kendaraan tersebut.
Inilah alasan mengapa membandingkan harga mobil Singapura dan Indonesia hanya dari brosur mobil dapat menghasilkan kesimpulan yang menyesatkan.
Harga mobil baru vs biaya kepemilikan
Ada satu hal penting lainnya. COE berlaku selama 10 tahun. Setelah masa tersebut berakhir, pemilik dapat memilih untuk menderegistrasikan kendaraan atau memperpanjang COE dengan membayar Prevailing Quota Premium (PQP), sesuai ketentuan yang berlaku.
Ini membuat biaya mobil Singapura memiliki dimensi waktu yang berbeda. Mobil seharga S$200 ribu bukan berarti pemilik membayar S$200 ribu hanya untuk sebuah benda yang kemudian menjadi miliknya tanpa batas waktu. Sebagian besar dari harga tersebut terkait dengan hak dan biaya penggunaan kendaraan dalam sistem Singapura.
Itulah salah satu alasan mengapa kendaraan bekas juga dapat tetap mahal. Pasar mobil bekas ikut terkena efek COE Ketika COE mahal, mobil baru mahal. Ketika mobil baru mahal, sebagian konsumen beralih ke mobil bekas. Tetapi tingginya permintaan terhadap mobil bekas dapat menjaga harga kendaraan bekas tetap tinggi.
Ada pula pemilik kendaraan lama yang memilih memperpanjang COE daripada membeli mobil baru. Namun keputusan ini juga memiliki konsekuensi finansial, terutama ketika PQP berada di level tinggi.
Dengan kata lain, COE yang mahal tidak hanya memukul pasar mobil baru, tetapi dapat merambat ke pasar mobil bekas dan biaya perpanjangan kendaraan.
Ada paradoks di balik harga mobil Singapura
Jika dilihat sepintas, sistem Singapura terlihat sangat buruk bagi orang yang ingin membeli mobil. Namun dari perspektif kebijakan transportasi, tujuan sistemnya justru berbeda. Pemerintah tidak berusaha membuat mobil murah untuk semua orang. Sebaliknya, Singapura menggunakan harga sebagai instrumen untuk membatasi jumlah kendaraan dan mendorong masyarakat menggunakan transportasi publik.
Konsekuensinya jelas: orang yang benar-benar ingin memiliki mobil harus membayar mahal. Sebagai gantinya, negara dapat mengendalikan pertumbuhan jumlah kendaraan secara lebih ketat. Jadi, harga mobil yang "tidak masuk akal" bagi konsumen Indonesia sebenarnya merupakan bagian dari kebijakan transportasi Singapura yang memang sengaja membuat kepemilikan mobil mahal.
Apakah S$130 ribu untuk COE benar-benar gila?
Kalau hanya melihat angka nominal, jawabannya: ya, sangat mahal. COE hampir S$130 ribu berarti sekitar Rp1,69 miliar dengan asumsi kurs S$1 = Rp13.000. Yang lebih mengejutkan, angka tersebut hanya memberikan hak kepemilikan dan penggunaan selama 10 tahun.
Tetapi jika dilihat dari perspektif kebijakan publik, angka itu bukan sekadar "harga surat". COE adalah instrumen ekonomi untuk mengalokasikan sumber daya yang sangat terbatas: ruang jalan di sebuah negara-kota. Dengan demikian, mahalnya COE merupakan konsekuensi langsung dari keputusan Singapura untuk tidak membiarkan jumlah kendaraan tumbuh tanpa batas.

Posting Komentar untuk " Harga Mobil di Singapura Semakin di Luar Nalar"