Israel Cabut Dukungan untuk Presiden FIFA Infantino

ZURICH, 19 Agustus 2026 — Federasi Sepak Bola Israel (Israel Football Association/IFA) resmi menarik kembali dukungannya terhadap Gianni Infantino untuk kembali menjabat sebagai Presiden FIFA. Keputusan tersebut menambah panjang daftar federasi sepak bola yang mulai mempertanyakan kepemimpinan Infantino menjelang pemilihan Presiden FIFA 2027.

Keputusan Israel disampaikan melalui surat Ketua IFA Shino Moshe Zuares kepada FIFA. Dalam surat tersebut, Zuares menyebut perkembangan terbaru telah memicu “krisis kepercayaan yang belum pernah terjadi sebelumnya” antara FIFA dan UEFA serta konfederasi lainnya.

Menariknya, pencabutan dukungan Israel bukan terutama dikaitkan dengan persoalan politik Israel-Palestina, melainkan dengan polemik tata kelola FIFA dan kontroversi rencana komersialisasi hak Piala Dunia yang sebelumnya diajukan Infantino.

Israel Tarik Kembali Surat Dukungan

IFA sebelumnya telah memberikan dukungan kepada Infantino untuk pemilihan kembali sebagai Presiden FIFA. Namun, perkembangan dalam beberapa pekan terakhir membuat federasi tersebut mengubah sikap. Dalam suratnya, Zuares mengatakan perkembangan terbaru telah menciptakan krisis kepercayaan antara visi UEFA dan konfederasi-konfederasi lain dengan cara FIFA dikelola. IFA kemudian menyatakan menarik kembali surat dukungan sebelumnya terhadap Infantino.

Sikap tersebut membuat Israel bergabung dengan sejumlah federasi anggota UEFA yang telah mengambil posisi serupa. Inggris, Wales, Skotlandia, Republik Irlandia, serta Selandia Baru sebelumnya juga telah menarik dukungan atau menyatakan penolakan terhadap pencalonan kembali Infantino.

Apa yang Memicu Krisis di FIFA?

Salah satu pemicu utama gejolak tersebut adalah rencana FIFA Forward Enterprise (FFE). Infantino sebelumnya mendorong pembentukan entitas komersial baru yang dirancang untuk mengelola dan mengembangkan aset komersial FIFA. Salah satu bagian paling kontroversial dari proposal tersebut adalah rencana menjual sekitar 20 persen kepentingan dalam hak komersial Piala Dunia kepada investor swasta.

Nilai transaksi yang dibicarakan mencapai miliaran dolar dan berpotensi mengubah cara FIFA memperoleh serta membagikan pendapatan dari kompetisi sepak bola terbesar di dunia. Namun, proposal tersebut mendapat penolakan luas dari berbagai pihak di sepak bola dunia. UEFA, sejumlah konfederasi, federasi nasional, pejabat sepak bola, hingga pihak internal FIFA mempertanyakan transparansi serta proses pengambilan keputusan di balik rencana tersebut.

Tekanan yang semakin besar akhirnya membuat FIFA membatalkan proposal tersebut pada awal Agustus.

Pejabat Senior FIFA Dipecat

Kontroversi semakin besar setelah Kevin Lamour, Chief Operating Officer FIFA, kehilangan jabatannya. Lamour sebelumnya secara terbuka mengkritik rencana FFE. Ia mempertanyakan transparansi proposal dan menilai cara proyek tersebut dijalankan berpotensi merusak kepercayaan terhadap organisasi.

FIFA kemudian mengakhiri hubungan kerjanya dengan Lamour pada 17 Agustus 2026. Kepergiannya menjadi salah satu perkembangan paling mencolok dalam konflik internal FIFA. Sebelum Lamour, penasihat Infantino, Carlos Cordeiro, juga meninggalkan FIFA setelah menyampaikan keberatan terhadap strategi investasi tersebut.

Rangkaian kejadian itu memperkuat persepsi bahwa krisis di FIFA bukan sekadar perselisihan antara federasi nasional dan presiden, tetapi juga telah berkembang menjadi persoalan tata kelola internal.

UEFA Kehilangan Kepercayaan kepada Infantino

UEFA menjadi salah satu kekuatan utama yang paling vokal mengkritik kepemimpinan Infantino. Sejumlah pejabat sepak bola Eropa menilai masalah utama bukan hanya pembatalan FFE, melainkan proses bagaimana proposal tersebut dibuat dan dikomunikasikan kepada konfederasi serta anggota FIFA.

UEFA bahkan dilaporkan mempertimbangkan langkah-langkah lebih keras, termasuk kemungkinan memboikot kegiatan tertentu jika persoalan kepemimpinan FIFA tidak diselesaikan. Wakil Presiden UEFA Laura McAllister juga mengkritik pemecatan Lamour dan menekankan pentingnya kepemimpinan yang berprinsip serta tata kelola yang lebih baik.

Infantino Masih Memiliki Pendukung

Meski tekanan meningkat, pencabutan dukungan sejumlah federasi belum berarti Infantino kehilangan mayoritas dukungan FIFA. Infantino masih memiliki dukungan kuat dari sejumlah asosiasi sepak bola di Afrika, Amerika Selatan, serta beberapa negara Arab. Salah satu sekutunya, Véron Mosengo-Omba, bahkan secara terbuka mempertahankan dukungannya terhadap Presiden FIFA tersebut.

Artinya, persaingan menuju pemilihan Presiden FIFA 2027 masih sangat terbuka. Infantino juga belum menyatakan mundur dari pencalonannya. Pemilihan Presiden FIFA dijadwalkan berlangsung pada 2027 di Maroko, sementara batas waktu pencalonan kandidat disebut jatuh pada 18 November 2026.

Posisi Indonesia Berbeda

Perkembangan ini juga menarik bagi Indonesia karena PSSI sebelumnya menyatakan dukungan terhadap Infantino untuk kembali memimpin FIFA periode 2027–2031. Dukungan PSSI disampaikan pada awal Agustus 2026, ketika kontroversi mengenai FFE sudah mulai mencuat. Ketua Umum PSSI Erick Thohir turut memperkuat pernyataan tersebut melalui media sosial.

Dengan demikian, posisi PSSI saat ini berbeda dengan sejumlah federasi Eropa dan Israel yang telah menarik dukungan mereka. Perubahan sikap sejumlah anggota FIFA tentu dapat menjadi faktor yang perlu diperhatikan menjelang pemilihan tahun depan, terutama jika krisis kepercayaan terhadap Infantino terus meluas.

Bukan Karena Konflik Israel-Palestina

Penting untuk membedakan keputusan terbaru IFA dari persoalan politik yang selama ini melibatkan sepak bola Israel dan Palestina. Dalam beberapa bulan terakhir, FIFA memang menghadapi berbagai persoalan terkait sepak bola Israel dan Palestina. Pada Maret 2026, FIFA juga mencatat adanya sanksi terhadap Federasi Sepak Bola Israel.

Namun, alasan yang disebut dalam pencabutan dukungan terbaru IFA terhadap Infantino berkaitan dengan krisis tata kelola FIFA dan hubungan dengan UEFA, bukan secara eksplisit mengenai konflik Israel-Palestina. Pembedaan ini penting agar keputusan IFA tidak keliru ditafsirkan sebagai perubahan kebijakan politik Israel terhadap FIFA.

Mengapa Dukungan Federasi Nasional Penting?

Pemilihan Presiden FIFA ditentukan oleh anggota FIFA. Karena itu, dukungan federasi nasional mempunyai arti penting dalam perebutan kepemimpinan organisasi sepak bola dunia. Satu suara memang tidak secara individual menentukan hasil pemilihan. Namun, pencabutan dukungan secara berkelompok dapat menjadi sinyal politik bahwa semakin banyak federasi meminta perubahan dalam kepemimpinan dan tata kelola FIFA.

Jika lebih banyak anggota mengikuti langkah Israel, Inggris, Wales, Skotlandia, Irlandia, dan Selandia Baru, tekanan terhadap Infantino dapat meningkat menjelang proses pemilihan. Sebaliknya, dukungan kuat dari federasi Afrika, Amerika Selatan, dan sebagian Asia dapat membuat posisi Infantino tetap kokoh.

Infantino di Tengah Tekanan Menjelang Pemilu FIFA 2027

Infantino telah memimpin FIFA sejak 2016. Ia kemudian terpilih kembali pada 2019 dan 2023. Kini, menjelang pemilihan 2027, posisinya menghadapi tantangan yang berbeda. Jika sebelumnya Infantino relatif mampu mengonsolidasikan dukungan berbagai konfederasi, kontroversi FFE justru memunculkan oposisi terbuka dari sejumlah organisasi sepak bola penting.

Masalahnya juga bukan lagi sekadar soal proyek yang dibatalkan. Kritik kini menyentuh transparansi, distribusi kekuasaan, mekanisme pengambilan keputusan, serta hubungan antara FIFA dengan konfederasi kontinental.

Apa yang Terjadi Selanjutnya?

Setelah Israel mencabut dukungan, perhatian kini akan tertuju pada apakah federasi lain mengikuti langkah tersebut. Perkembangan lain yang juga penting adalah bagaimana FIFA menangani tuntutan evaluasi terhadap FFE dan apakah organisasi tersebut akan melakukan perubahan dalam mekanisme pengambilan keputusan.

Bagi Infantino, tantangannya adalah mengembalikan kepercayaan federasi yang merasa tidak dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan. Sementara bagi UEFA dan federasi yang menentangnya, persoalannya adalah bagaimana membangun alternatif kepemimpinan tanpa menciptakan perpecahan yang lebih besar di tubuh sepak bola dunia.

Posting Komentar untuk "Israel Cabut Dukungan untuk Presiden FIFA Infantino"