Keluarga Gokongwei, Pemilik Cebu Air hingga O!Save Berharta Rp33,9 T

MANILA — Nama keluarga Gokongwei kembali menjadi sorotan dalam peta bisnis Asia Tenggara. Dinasti bisnis asal Filipina ini berada di balik sejumlah perusahaan besar, mulai dari maskapai Cebu Pacific, perusahaan makanan Universal Robina, pengembang properti Robinsons Land, hingga jaringan ritel Robinsons Retail yang memiliki kepentingan di bisnis hard discount O!Save.

Forbes menempatkan Lance Gokongwei dan saudara-saudaranya sebagai salah satu keluarga terkaya di Filipina. Dalam daftar Philippines' 50 Richest 2025, kekayaan gabungan mereka tercatat US$1,8 miliar. Jika dikonversikan dengan kurs sekitar Rp18.833 per dolar AS, nilainya setara kira-kira Rp33,9 triliun.

Angka tersebut merupakan kekayaan bersih keluarga, bukan jumlah uang tunai yang tersimpan di rekening. Kekayaan itu terutama berasal dari kepemilikan saham dan kepentingan bisnis keluarga Gokongwei di berbagai sektor.

Siapa Keluarga Gokongwei?

Kisah bisnis keluarga Gokongwei tidak dapat dipisahkan dari mendiang John Gokongwei Jr., salah satu taipan paling terkenal di Filipina.

John Gokongwei membangun bisnisnya dari usaha yang jauh lebih sederhana sebelum kemudian berkembang menjadi kerajaan usaha. Ia mendirikan bisnis yang menjadi cikal bakal Universal Robina dan kemudian membangun JG Summit Holdings, salah satu konglomerasi terbesar di Filipina.

Forbes mencatat John Gokongwei meninggal pada 2019 dengan kekayaan sekitar US$5,8 miliar. Ia meninggalkan enam anak, yakni Lance, Robina, Lisa, Faith, Hope, dan Marcia Gokongwei, yang kemudian mewarisi kekayaannya.

Kini, generasi penerus tersebut mengelola dan memiliki kepentingan dalam berbagai perusahaan yang bergerak di bidang penerbangan, makanan dan minuman, ritel, properti, telekomunikasi, perbankan, energi, serta petrokimia.

Kekayaan Rp33,9 Triliun, Bukan Hanya dari Cebu Pacific

Besarnya kekayaan keluarga Gokongwei sering kali dikaitkan dengan Cebu Pacific. Padahal, maskapai tersebut hanyalah salah satu bagian dari portofolio bisnis mereka.

Kepemilikan dan kepentingan keluarga tersebar melalui JG Summit Holdings serta perusahaan investasi keluarga lainnya. JG Summit sendiri memiliki portofolio yang mencakup Universal Robina, Robinsons Land, Cebu Pacific, serta investasi di sejumlah perusahaan besar Filipina.

Dalam laporan tahunannya, JG Summit menyebut Lance Gokongwei sebagai presiden sekaligus CEO. Ia juga menjabat sebagai chairman Cebu Air, Universal Robina, dan Robinsons Land. Dengan struktur bisnis seperti ini, sumber kekayaan keluarga Gokongwei tidak bergantung pada satu perusahaan saja.

Cebu Air, Perusahaan di Balik Cebu Pacific

Salah satu aset bisnis paling dikenal keluarga Gokongwei adalah Cebu Air Inc., perusahaan yang mengoperasikan maskapai Cebu Pacific. Cebu Pacific merupakan salah satu maskapai berbiaya rendah terbesar di Filipina. Perusahaan ini berkembang menjadi pemain penting dalam penerbangan domestik dan internasional Filipina.

Di tingkat korporasi, JG Summit merupakan pemegang saham pengendali Cebu Air. Data kepemilikan yang tersedia menunjukkan JG Summit menguasai sekitar dua pertiga saham Cebu Air, sementara sebagian saham lainnya diperdagangkan di Bursa Efek Filipina.

Struktur tersebut membuat Cebu Pacific menjadi salah satu mesin penting dalam ekosistem bisnis Gokongwei.

Ekspansi besar-besaran Cebu Pacific

Cebu Pacific juga tengah menjalankan strategi ekspansi armada. Pada 2024, maskapai tersebut menandatangani kesepakatan dengan Airbus untuk pembelian hingga 152 pesawat. Langkah tersebut menjadi bagian dari rencana memperbesar kapasitas penerbangan di tengah pertumbuhan perjalanan udara di kawasan Asia.

Untuk 2026, JG Summit mengalokasikan belanja modal sebesar 70,3 miliar peso. Dari jumlah tersebut, sekitar 35,4 miliar peso dialokasikan kepada Cebu Air untuk mendanai tujuh pengiriman pesawat. Artinya, keluarga Gokongwei masih menempatkan penerbangan sebagai salah satu bisnis strategis dalam portofolionya.

Robinsons Retail dan Bisnis Ritel Keluarga Gokongwei

Selain penerbangan, nama Gokongwei sangat kuat di sektor ritel melalui Robinsons Retail Holdings Inc. Robinsons Retail mengoperasikan berbagai format toko dan bisnis ritel di Filipina, termasuk supermarket, toko serba ada, farmasi, department store, dan berbagai format lainnya.

Kepemilikan keluarga terhadap perusahaan ini juga sangat signifikan. Pada Maret 2026, keluarga Gokongwei bersama kendaraan investasi JE Holdings menawarkan untuk membeli saham pemegang saham minoritas Robinsons Retail.

Transaksi tersebut memberikan valuasi sekitar 51,7 miliar peso atau US$850 juta untuk Robinsons Retail. Keluarga Gokongwei dan JE Holdings saat itu menguasai sekitar 66,6% saham perusahaan. Langkah tersebut menunjukkan bahwa keluarga Gokongwei semakin memperkuat kendalinya atas bisnis ritel yang selama ini menjadi salah satu bagian penting kerajaan bisnis keluarga.

Lalu, Apa Hubungannya dengan O!Save?

Di sinilah nama keluarga Gokongwei semakin menarik bagi konsumen Indonesia. O!Save merupakan jaringan ritel berkonsep hard discount yang berkembang di Filipina dan kemudian melakukan ekspansi ke Indonesia.

Konsep hard discount berbeda dengan minimarket konvensional. Fokus utamanya adalah menjual barang dengan harga serendah mungkin melalui efisiensi operasional. Toko biasanya menggunakan desain sederhana, jumlah produk lebih terbatas, dan barang dapat dipajang langsung menggunakan kemasan karton atau dus. Tujuannya adalah mengurangi biaya yang dianggap tidak perlu sehingga penghematan bisa diteruskan kepada konsumen.

Dalam laporan riset Maybank, Robinsons Retail Holdings memiliki sekitar 23% saham O!Save. Data tersebut menggunakan informasi perusahaan sampai kuartal pertama 2025. Dengan demikian, penyebutan O!Save sebagai bisnis yang terafiliasi dengan keluarga Gokongwei memiliki dasar kepemilikan korporasi. Namun, perlu diperjelas bahwa O!Save bukan berarti 100% dimiliki langsung oleh keluarga Gokongwei.

O!Save Tumbuh Pesat di Filipina

Model bisnis O!Save berkembang cukup agresif. Pada akhir 2024, O!Save mengumumkan telah mencapai 400 gerai dan memiliki empat pusat distribusi di Filipina. Perusahaan menyebut jaringannya telah membuat produk mereka dapat diakses sekitar 35 juta penduduk Filipina.

Riset Maybank pada 2025 mencatat sekitar 471 toko O!Save berdasarkan data sampai kuartal pertama 2025. Ukuran rata-rata gerainya sekitar 287 meter persegi dengan sekitar 550 SKU, jauh lebih sedikit dibandingkan format minimarket yang menawarkan ribuan jenis produk.

Jumlah produk yang lebih sedikit bukan kelemahan dalam model bisnis tersebut. Justru, hal itu merupakan bagian dari strategi untuk menjaga efisiensi. Dengan memilih produk yang cepat terjual dan membatasi variasi, peritel dapat memusatkan volume pembelian pada produk tertentu dan mengurangi kompleksitas persediaan.

Mengapa O!Save Bisa Menawarkan Harga Murah?

Ada beberapa elemen yang menjadi ciri model hard discount O!Save.

1. Produk lebih sedikit

O!Save tidak berusaha menyediakan sebanyak mungkin merek dan varian seperti supermarket besar. Produk dipilih berdasarkan kebutuhan konsumen dan tingkat perputarannya. Dengan begitu, pengelolaan stok menjadi lebih sederhana.

2. Tampilan toko sederhana

Konsumen mungkin tidak menemukan interior toko yang mewah. Barang juga dapat ditampilkan langsung dalam kardus. Strategi tersebut mengurangi kebutuhan tenaga kerja dan waktu untuk menata produk satu per satu.

3. Fokus pada harga

Filosofi hard discount mengutamakan nilai barang dibandingkan kenyamanan tambahan. O!Save menggunakan konsep Everyday Low Price, yakni harga rendah yang diupayakan konsisten, bukan hanya mengandalkan promosi sesekali.

4. Lokasi tidak selalu premium

Di Indonesia, O!Save juga mulai mencari peluang di kawasan pinggiran kota. Pada Juli 2026, muncul laporan mengenai kolaborasi dengan Pos Properti Indonesia untuk memanfaatkan aset lahan milik PT Pos Indonesia sebagai lokasi gerai. Strategi tersebut berpotensi membantu menekan biaya lokasi sekaligus membuka akses ke kawasan yang belum terlalu padat oleh ritel modern.

O!Save Mulai Memperluas Jejak di Indonesia

O!Save bukan nama baru dalam ekspansi ritel Indonesia. Informasi perusahaan yang dikutip media Indonesia menyebut O!Save mulai masuk ke pasar Indonesia pada 2023. Gerainya menggunakan pendekatan yang sama seperti di Filipina, yaitu mengandalkan format toko sederhana dan harga kompetitif.

Perkembangan bisnisnya juga tercermin dari aktivitas perekrutan. Pada 2026, terdapat posisi operasional O!Save di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Jawa Barat dan kawasan Jabodetabek. Ekspansi tersebut menempatkan O!Save dalam persaingan langsung dengan berbagai pemain ritel modern Indonesia.

Bukan Sekadar Melawan Minimarket

Persaingan O!Save sebenarnya lebih luas daripada sekadar berhadapan dengan Alfamart dan Indomaret. Format hard discount membuat O!Save juga bersinggungan dengan pemain seperti DALI, yang sama-sama menawarkan produk kebutuhan sehari-hari dengan pendekatan harga murah dan operasional efisien.

Riset Maybank mencatat DALI memiliki ratusan gerai di Filipina, sementara O!Save juga terus memperluas jaringan. Keduanya menunjukkan bahwa model discount retail menjadi salah satu segmen yang berkembang di pasar Filipina.

Di Indonesia, model tersebut menjadi semakin menarik karena konsumen semakin sensitif terhadap harga, terutama untuk kebutuhan pokok.

Bisnis Keluarga Gokongwei Semakin Terdiversifikasi

Kekuatan keluarga Gokongwei bukan hanya terletak pada jumlah perusahaan, tetapi juga keberagaman sektor yang mereka masuki.

JG Summit menyebut portofolionya mencakup:

  • Cebu Pacific untuk bisnis penerbangan;

  • Universal Robina untuk makanan dan minuman;

  • Robinsons Land untuk properti;

  • Robinsons Retail untuk ritel;

  • GoTyme Bank sebagai salah satu bisnis ekosistem digital;

  • investasi di Bank of the Philippine Islands (BPI);

  • investasi di Manila Electric Company (Meralco);

  • investasi di PLDT;

  • serta investasi lainnya.

JG Summit sendiri masuk dalam daftar Fortune Southeast Asia 500 tahun 2026 di posisi ke-63 dengan pendapatan sekitar US$5,94 miliar. Ini merupakan tahun ketiga berturut-turut perusahaan masuk dalam daftar tersebut.

Ada Perubahan Besar di Robinsons Retail

Salah satu perkembangan paling penting pada 2026 adalah rencana keluarga Gokongwei untuk membeli saham pemegang saham minoritas Robinsons Retail dan membawa perusahaan tersebut menjadi perusahaan privat.

Forbes melaporkan penawaran JE Holdings bernilai sekitar 51,7 miliar peso, dengan harga 48,30 peso per saham atau premi 32,2% dibandingkan harga rata-rata tertimbang satu tahun sebelumnya. Robinsons Retail mencatat pendapatan 210,4 miliar peso pada 2025, naik 5,7%, dan memiliki lebih dari 15 miliar peso kas serta setara kas pada akhir tahun tersebut.

Jika transaksi tersebut berjalan sesuai rencana dan memperoleh persetujuan yang diperlukan, posisi keluarga Gokongwei dalam bisnis ritel akan semakin kuat.

Kekayaan Keluarga Gokongwei Turun dari Tahun Sebelumnya

Menariknya, angka kekayaan Rp33,9 triliun bukanlah angka tertinggi yang pernah dicatat keluarga Gokongwei dalam daftar Forbes.

Pada daftar Forbes 2024, kekayaan Lance Gokongwei dan saudara-saudaranya tercatat US$1,9 miliar, turun 37% dari tahun sebelumnya. Pada 2025, angka tersebut kembali turun menjadi US$1,8 miliar. Penurunan tersebut terutama dipengaruhi pergerakan saham perusahaan yang menjadi sumber utama kekayaan keluarga.

Namun, penurunan nilai kekayaan di daftar orang terkaya tidak otomatis berarti bisnis keluarga mengalami kehancuran. Kekayaan bersih para taipan sangat dipengaruhi harga saham perusahaan yang mereka miliki, kurs mata uang, serta valuasi perusahaan privat.

Tantangan Terbesar: Petrokimia

Salah satu tantangan terbesar JG Summit dalam beberapa tahun terakhir datang dari bisnis petrokimia. Unit petrokimia grup mengalami tekanan akibat kelebihan pasokan global dan margin yang melemah. Forbes melaporkan bisnis tersebut mengalami kerugian besar selama beberapa tahun dan kemudian JG Summit mempertimbangkan berbagai opsi strategis untuk bisnis tersebut.

Pada 2025, Lance Gokongwei bahkan mempertimbangkan penghentian sementara operasi petrokimia mulai Januari sebagai bagian dari evaluasi strategi bisnis.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa diversifikasi bisnis juga memiliki konsekuensi: tidak semua unit usaha memberikan kontribusi positif pada saat yang sama.

Generasi Penerus John Gokongwei

Setelah John Gokongwei Jr. meninggal, kendali bisnis keluarga diteruskan kepada enam anaknya. Lance Gokongwei menjadi figur paling menonjol dalam operasional JG Summit. Ia menjabat sebagai president dan CEO sekaligus memegang sejumlah posisi strategis di perusahaan-perusahaan grup.

Robina Gokongwei-Pe juga menjadi tokoh penting. Ia merupakan chairman Robinsons Retail dan terlibat dalam jajaran perusahaan keluarga lainnya. Sementara itu, anggota keluarga lainnya tetap memiliki kepentingan dalam aset dan perusahaan yang diwariskan John Gokongwei.

Forbes memperkirakan kekayaan gabungan enam bersaudara tersebut mencapai US$1,8 miliar dalam daftar 50 orang terkaya Filipina 2025.

Jadi, Seberapa Besar Kerajaan Bisnis Gokongwei?

Jika hanya melihat O!Save atau Cebu Pacific, gambaran mengenai keluarga Gokongwei akan terasa tidak lengkap.

Kerajaan bisnis mereka merupakan ekosistem yang menghubungkan berbagai sektor:

Penerbangan → Cebu Pacific

Cebu Pacific memberikan akses ke sektor perjalanan udara yang berkembang seiring meningkatnya mobilitas masyarakat Filipina.

Makanan dan minuman → Universal Robina

Universal Robina merupakan salah satu perusahaan makanan dan minuman terbesar di Filipina dengan merek-merek seperti Jack 'n Jill.

Properti → Robinsons Land

Robinsons Land membangun dan mengelola pusat perbelanjaan, gedung perkantoran, hotel, serta aset properti lainnya.

Ritel → Robinsons Retail

Bisnis ini membawa keluarga Gokongwei langsung ke sektor konsumsi harian.

Hard discount → O!Save

Kepentingan Robinsons Retail di O!Save memberikan eksposur keluarga terhadap format ritel yang mengutamakan harga murah dan efisiensi.

Investasi → BPI, Meralco, PLDT dan lainnya

JG Summit juga memiliki investasi strategis di berbagai perusahaan besar Filipina.

Posting Komentar untuk " Keluarga Gokongwei, Pemilik Cebu Air hingga O!Save Berharta Rp33,9 T"