Menteri Keamanan Israel Serukan Pembunuhan 30-40 Warga Gaza Tiap Malam
Yerusalem — Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir kembali memicu kecaman setelah menyerukan agar Israel melakukan pembunuhan terhadap 30 hingga 40 orang di Gaza setiap malam. Pernyataan itu disampaikan dalam wawancara dengan mantan sandera Israel, Rom Braslavski, yang kemudian ditayangkan dalam podcast October 8 dan menyebar luas pada Minggu, 16 Agustus 2026.
Ben-Gvir mengatakan dirinya tidak sepakat dengan langkah pemerintah Israel yang belakangan mengurangi intensitas serangan di Jalur Gaza. Ia mendorong apa yang disebutnya sebagai pembunuhan terarah terhadap orang-orang yang dianggap sebagai musuh Israel.
Dalam pernyataannya, Ben-Gvir menyebut target pembunuhan itu bukan hanya orang yang secara langsung menimbulkan ancaman. Ia juga menggunakan bahasa yang merendahkan dan mendehumanisasi warga Palestina, dengan menyatakan bahwa ada orang-orang di Gaza yang menurutnya "tidak layak hidup".
Seruan muncul di tengah situasi Gaza yang masih rapuh
Pernyataan Ben-Gvir muncul ketika situasi di Gaza berada dalam kondisi yang sangat sensitif. Serangan Israel terhadap Gaza dilaporkan berkurang setelah adanya tekanan Amerika Serikat dan upaya diplomatik untuk mempertahankan gencatan senjata.
Associated Press melaporkan bahwa sejak kesepakatan gencatan senjata pada Oktober, serangan Israel tetap menewaskan lebih dari 1.250 orang menurut Kementerian Kesehatan Gaza. Pada saat yang sama, Israel menyatakan serangan militernya ditujukan kepada anggota Hamas.
Dalam perkembangan terbaru, sebuah serangan Israel di Khan Younis, Gaza selatan, dilaporkan melukai lima warga Palestina, termasuk seorang anak. Militer Israel mengatakan serangan tersebut menargetkan seorang anggota Jihad Islam Palestina.
Kondisi tersebut membuat seruan Ben-Gvir semakin kontroversial karena muncul ketika berbagai pihak sedang berusaha mempertahankan penghentian atau pengurangan kekerasan di Gaza.
Siapa Itamar Ben-Gvir?
Itamar Ben-Gvir merupakan salah satu figur paling kanan dalam pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Ia menjabat sebagai Menteri Keamanan Nasional Israel dan memiliki kewenangan atas kepolisian nasional serta sistem penjara Israel.
Namun, terdapat batas penting dalam memahami pernyataan terbarunya: Ben-Gvir bukan pejabat yang memiliki kewenangan langsung untuk memerintahkan militer Israel melakukan serangan ke Gaza. Menurut laporan AP, ia tidak memegang komando atas Angkatan Bersenjata Israel.
Meski demikian, posisi politiknya membuat pernyataan tersebut memiliki bobot signifikan. Ben-Gvir merupakan salah satu tokoh berpengaruh di kubu kanan Israel dan selama beberapa tahun terakhir dikenal dengan sikap keras terhadap Palestina.
Apa sebenarnya yang dimaksud dengan "30-40 orang"?
Pernyataan Ben-Gvir perlu ditempatkan secara tepat. Dalam laporan Times of Israel, ia disebut menyerukan pembunuhan 30 hingga 40 orang yang dianggap sebagai musuh Israel melalui serangan terarah di Gaza setiap malam. Media tersebut mencatat bahwa pernyataannya tampaknya merujuk kepada anggota Hamas dan pihak lain yang dianggap sebagai musuh Israel.
Namun, dalam wawancara yang sama, Ben-Gvir juga menyampaikan pernyataan yang jauh lebih luas mengenai orang-orang di Gaza yang menurutnya tidak layak hidup. Karena itu, pernyataan tersebut tidak dapat dipahami semata-mata sebagai pembahasan teknis mengenai operasi militer terhadap kombatan.
Pembedaan antara target militer dan penduduk sipil menjadi sangat penting dalam hukum humaniter internasional. Warga sipil tidak boleh dijadikan sasaran serangan hanya karena mereka tinggal di wilayah yang dikuasai atau menjadi lokasi konflik.
Ben-Gvir juga menyerukan pengusiran warga Palestina
Dalam wawancara tersebut, Ben-Gvir tidak hanya berbicara mengenai pembunuhan. Ia juga menyampaikan dukungan terhadap emigrasi massal warga Palestina dari Gaza dan gagasan pemukiman Israel di wilayah tersebut.
Ia mengatakan bahwa Gaza seharusnya menjadi milik Israel dan menyerukan pembangunan permukiman Israel di berbagai bagian wilayah itu. Ia juga menyatakan bahwa sebanyak mungkin warga Palestina harus didorong untuk pergi ke negara lain.
Gagasan tersebut telah lama menjadi bagian dari agenda politik Ben-Gvir. Para ahli hukum internasional sebelumnya memperingatkan bahwa pemindahan paksa penduduk sipil dapat menimbulkan persoalan serius berdasarkan hukum internasional.
Mengapa pernyataan ini dianggap sangat serius?
Seruan untuk membunuh sejumlah orang setiap malam menimbulkan persoalan besar ketika dikaitkan dengan prinsip dasar hukum humaniter internasional.
Dalam konflik bersenjata, pihak yang berperang diwajibkan membedakan antara kombatan dan warga sipil. Serangan terhadap sasaran militer juga harus memenuhi prinsip proporsionalitas dan kehati-hatian untuk melindungi penduduk sipil.
Pernyataan yang menyerukan pembunuhan berdasarkan angka tertentu, terlebih ketika disertai bahasa yang menggambarkan sebagian penduduk sebagai tidak layak hidup, dapat menimbulkan kekhawatiran mengenai bagaimana prinsip-prinsip tersebut diterapkan dalam praktik.
Associated Press mencatat bahwa pernyataan-pernyataan serupa dari Ben-Gvir dan sejumlah pejabat Israel sebelumnya telah menuai kecaman luas. Pernyataan para pejabat Israel juga pernah diajukan dalam proses di Mahkamah Internasional sebagai bagian dari materi yang diklaim menunjukkan adanya indikasi niat genosida. Israel menolak tuduhan bahwa mereka melakukan genosida di Gaza.
Pernyataan Ben-Gvir dan posisi pemerintah Netanyahu
Pernyataan tersebut juga menunjukkan adanya perbedaan pandangan di dalam koalisi pemerintahan Israel.
Ben-Gvir secara terbuka mengatakan dirinya tidak setuju dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengenai pengurangan serangan di Gaza. Menurut laporan AP, serangan Israel belakangan mengalami penurunan setelah adanya tekanan dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mendorong perkembangan menuju gencatan senjata.
Perbedaan itu menggambarkan tekanan politik yang dihadapi Netanyahu dari kelompok sayap kanan pemerintahannya. Di satu sisi, terdapat tekanan internasional dan diplomatik untuk menghentikan atau mengurangi pertempuran. Di sisi lain, kelompok garis keras seperti Ben-Gvir menginginkan operasi militer yang lebih agresif dan kebijakan yang lebih keras terhadap warga Palestina.
Upaya diplomatik masih berlangsung
Pernyataan Ben-Gvir muncul ketika upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik Gaza masih berlangsung.
Menurut laporan AP, utusan Amerika Serikat Jared Kushner bertemu dengan pemimpin Hamas Khalil al-Hayya di Mesir dalam upaya mendorong rencana perdamaian Gaza. Pembicaraan tersebut antara lain berkaitan dengan pelucutan senjata Hamas, penghentian serangan Israel, penarikan pasukan Israel, serta kemungkinan pembentukan pemerintahan teknokratik di Gaza.
Hamas disebut menerima sejumlah bagian dari proposal tersebut, tetapi mengaitkan penyerahan senjata berat dengan terciptanya prospek negara Palestina. Sementara itu, Netanyahu tetap menegaskan bahwa Israel tidak akan menarik diri sepenuhnya dari posisinya di Gaza sebelum Hamas dilucuti.
Situasi tersebut membuat setiap pernyataan dari pejabat senior Israel maupun Hamas berpotensi memengaruhi suasana negosiasi.
Pernyataan yang kembali menyoroti posisi politik sayap kanan Israel
Seruan terbaru Ben-Gvir bukanlah pernyataan tunggal. Ia selama bertahun-tahun menjadi salah satu politisi Israel yang paling keras dalam isu Palestina.
Pada Juli 2026, misalnya, The Guardian melaporkan keterlibatan Ben-Gvir dalam aksi kelompok Yahudi sayap kanan di kompleks Masjid Al-Aqsa. Media tersebut menggambarkannya sebagai tokoh sayap kanan ekstrem yang memiliki peran penting dalam pemerintahan Netanyahu.
Pada Juni 2026, Uni Eropa juga belum mencapai kesepakatan untuk menjatuhkan sanksi terhadap Ben-Gvir, meskipun isu tersebut telah dibahas oleh para menteri luar negeri Uni Eropa.
Rangkaian perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa kontroversi mengenai Ben-Gvir tidak hanya berkaitan dengan satu pernyataan, tetapi juga dengan arah kebijakan politik Israel terhadap Gaza dan Palestina secara lebih luas.
Dampaknya terhadap warga sipil Gaza
Bagi warga Gaza, seruan seperti ini muncul setelah bertahun-tahun mengalami konflik, pengungsian, kehancuran infrastruktur, dan krisis kemanusiaan.
AP melaporkan bahwa serangan Israel tetap berlangsung meskipun intensitasnya menurun setelah gencatan senjata. Kementerian Kesehatan Gaza, yang dikelola pemerintahan yang dipimpin Hamas, menyatakan ribuan orang telah menjadi korban sejak konflik dimulai. Data tersebut tidak selalu memberikan klasifikasi lengkap antara kombatan dan warga sipil, tetapi badan-badan PBB dan sejumlah pakar independen sebelumnya menilai catatan korban Gaza sebagai sumber data penting dalam memantau konflik.
Karena itu, angka "30-40 orang setiap malam" yang disampaikan Ben-Gvir bukanlah laporan bahwa 30-40 warga sipil telah dibunuh setiap malam. Angka tersebut merupakan target pembunuhan yang ia serukan dalam pernyataannya. Perbedaan ini penting agar berita tidak mengubah pernyataan politik menjadi klaim faktual mengenai jumlah korban aktual.

Posting Komentar untuk "Menteri Keamanan Israel Serukan Pembunuhan 30-40 Warga Gaza Tiap Malam"