Abu Vulkanik Anak Krakatau Bisa Bikin Kulit Iritasi, Ini Sebabnya
Jakarta – Erupsi Gunung Anak Krakatau kembali menimbulkan kewaspadaan di sejumlah wilayah setelah abu vulkanik terbawa angin dan menyebar ke berbagai daerah. Selain mengganggu penerbangan dan aktivitas masyarakat, paparan abu vulkanik juga dapat berdampak terhadap kesehatan, termasuk menyebabkan iritasi pada kulit.
Abu vulkanik umumnya lebih dikenal karena dampaknya terhadap saluran pernapasan. Namun, partikel yang menempel pada kulit juga dapat memicu keluhan seperti kulit kering, gatal, kemerahan, rasa perih hingga dermatitis iritan.
Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin, dr. Arini Astasari Widodo, SpDVE, menjelaskan abu vulkanik yang menempel pada permukaan kulit dapat menyebabkan kulit menjadi kering, terasa perih atau terbakar, gatal, dan kemerahan.
Mengapa Abu Vulkanik Bisa Mengiritasi Kulit?
Abu vulkanik bukanlah debu biasa. Partikel tersebut merupakan campuran material hasil aktivitas gunung api, termasuk batuan, mineral dan volcanic glass berukuran sangat kecil. Dermatolog dr. Claudia Christin Darmawan, MBBS PhD, menjelaskan partikel abu vulkanik memiliki sifat cukup abrasif atau dapat mengikis permukaan. Abu juga dapat membawa komponen seperti sulfat dan klorida.
Ketika partikel tersebut menempel pada kulit, terutama dalam jumlah banyak atau dalam waktu cukup lama, permukaan kulit dapat mengalami gangguan. Kondisi tersebut semakin berisiko apabila seseorang menggosok kulit dengan keras untuk menghilangkan abu. Gesekan antara partikel abrasif dan permukaan kulit dapat memperburuk kerusakan lapisan pelindung kulit atau skin barrier.
Gejala Iritasi yang Perlu Diwaspadai
Paparan abu vulkanik pada kulit dapat menimbulkan sejumlah gejala. Beberapa di antaranya adalah:
- Kulit terasa kering.
- Gatal.
- Kemerahan.
- Rasa perih atau terbakar.
- Kulit terasa kasar.
- Muncul ruam.
- Dermatitis iritan.Kondisi penyakit kulit sebelumnya menjadi lebih buruk.
ANTARA melaporkan bahwa kontak singkat dengan abu pada kebanyakan orang umumnya tidak menyebabkan masalah kulit berat. Namun, reaksi dapat lebih mudah muncul pada orang dengan kondisi kulit tertentu.
Abu Vulkanik Bisa Mengganggu Skin Barrier
Kulit memiliki lapisan pelindung yang berfungsi membantu mempertahankan kelembapan sekaligus melindungi tubuh dari berbagai faktor eksternal. Partikel abu yang bersifat abrasif dapat mengganggu lapisan tersebut, terutama jika kulit digosok ketika abu masih menempel.
Menurut dr. Claudia, kondisi tersebut dapat membuat kulit lebih mudah mengalami iritasi. Risiko semakin tinggi pada orang yang memang memiliki kulit sensitif atau skin barrier yang sebelumnya sudah terganggu. Karena itu, membersihkan abu bukan berarti harus menggosok kulit sekuat mungkin. Sebaliknya, proses pembersihan sebaiknya dilakukan dengan lembut.
Siapa yang Lebih Rentan?
Tidak semua orang akan mengalami iritasi dengan tingkat yang sama. Dokter mengingatkan bahwa kelompok dengan kondisi kulit tertentu perlu lebih berhati-hati, termasuk orang yang memiliki:
- Kulit sensitif.
- Dermatitis atopik atau eksim.
- Rosacea.
- Skin barrier yang sedang terganggu.
- Kulit yang baru menjalani tindakan laser.
- Kulit yang baru menjalani peeling atau prosedur dermatologis lainnya.
Kelompok tersebut memiliki perlindungan kulit yang dapat lebih mudah terganggu sehingga paparan abu berpotensi menimbulkan reaksi lebih cepat.
Bagaimana Cara Membersihkan Abu Vulkanik dari Kulit?
Jika kulit terkena abu vulkanik, jangan langsung menggosoknya menggunakan tangan atau kain kering. Langkah pertama adalah mengurangi paparan dengan masuk ke dalam ruangan apabila kondisi memungkinkan.
Setelah itu, bersihkan bagian tubuh yang terkena abu menggunakan air bersih dan sabun yang lembut. Lakukan secara perlahan tanpa menggosok permukaan kulit secara berlebihan. Setelah selesai, keringkan kulit dengan menepuk-nepuk menggunakan handuk bersih, bukan menggosoknya.
Jika kulit terasa kering, penggunaan pelembap dapat membantu menjaga kelembapan dan mendukung fungsi skin barrier.
Jangan Menggosok Kulit Terlalu Keras
Salah satu kesalahan yang perlu dihindari adalah menggosok kulit dengan kuat ketika abu menempel. Partikel abu memiliki sifat abrasif. Jika digosok, partikel tersebut dapat memberikan gesekan tambahan pada kulit. Dengan demikian, upaya membersihkan abu justru dapat memperparah iritasi. Gunakan gerakan lembut ketika mencuci wajah, tangan, kaki atau bagian tubuh lainnya yang terpapar.
Hindari Produk Skincare yang Terlalu Keras
Ketika kulit sedang mengalami iritasi akibat abu vulkanik, sebaiknya jangan memperburuk kondisi dengan penggunaan produk yang berpotensi menimbulkan iritasi tambahan. Untuk sementara, prioritaskan pembersih dan pelembap yang sederhana serta sesuai dengan kondisi kulit.
Hindari melakukan eksfoliasi berlebihan, terutama menggunakan scrub dengan butiran kasar. Penggunaan produk aktif yang berpotensi mengiritasi juga sebaiknya dikurangi apabila kulit sudah terasa perih atau kemerahan.
Bagi orang yang sedang menjalani perawatan dermatologis, konsultasikan perubahan rutinitas perawatan dengan dokter.
Bagaimana dengan Kulit Wajah?
Wajah merupakan salah satu bagian yang perlu mendapat perhatian khusus karena kulitnya relatif lebih sensitif. Jika wajah terkena abu, jangan mengusapnya berulang kali dengan tangan. Bersihkan dengan lembut menggunakan air bersih dan pembersih yang sesuai.
Hindari penggunaan scrub untuk menghilangkan partikel abu yang menempel. Setelah wajah bersih, gunakan pelembap untuk membantu menjaga kondisi skin barrier. Jika terjadi kemerahan atau rasa terbakar yang menetap, sebaiknya jangan menambahkan berbagai produk baru karena justru dapat membuat penyebab iritasi semakin sulit diketahui.
Anak-Anak Juga Perlu Perlindungan Ekstra
Anak-anak termasuk kelompok yang perlu mendapat perhatian ketika terjadi paparan abu vulkanik. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyebut material vulkanik yang bersifat asam dan mengenai kulit anak dapat menyebabkan gatal, iritasi dan bahkan infeksi. IDAI juga mengingatkan bahwa kualitas air yang tercemar abu vulkanik dapat turut berpengaruh terhadap iritasi kulit.
Orang tua sebaiknya memastikan anak tidak bermain di area yang dipenuhi abu serta segera membersihkan tubuh dan pakaian setelah terkena paparan.
Lindungi Kulit Saat Harus Beraktivitas di Luar
Cara terbaik mencegah iritasi adalah mengurangi paparan. Jika harus keluar rumah ketika abu masih beterbangan, masyarakat dianjurkan menggunakan pakaian yang menutupi kulit, seperti baju lengan panjang dan celana panjang.
Penggunaan masker dan pelindung mata juga penting karena abu vulkanik tidak hanya berdampak pada kulit, tetapi juga dapat mengiritasi mata dan saluran pernapasan. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin sebelumnya mengingatkan bahwa abu erupsi Anak Krakatau dapat mengganggu kesehatan, termasuk menyebabkan iritasi pada mata dan kulit. Masyarakat di wilayah terdampak diminta menggunakan perlindungan seperti masker, kacamata dan pakaian panjang ketika harus beraktivitas di luar.
Jangan Lupa Membersihkan Pakaian dan Barang yang Terpapar
Abu yang menempel pada pakaian dapat kembali bersentuhan dengan kulit. Karena itu, pakaian yang digunakan ketika terjadi hujan abu sebaiknya segera dibersihkan. Jangan menepuk-nepuk pakaian berabu di dalam rumah karena tindakan tersebut dapat membuat partikel kembali beterbangan dan terhirup.
Barang-barang yang sering digunakan di luar rumah juga perlu dibersihkan secara berkala untuk mengurangi paparan berulang.
Abu Vulkanik Tetap Berbahaya Setelah Erupsi Mereda
Masyarakat juga perlu memahami bahwa risiko abu vulkanik tidak otomatis hilang ketika erupsi berhenti. Partikel abu yang telah mengendap di jalan, halaman, atap rumah dan permukaan lainnya dapat kembali beterbangan ketika terkena angin atau aktivitas manusia.
Dokter dari Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) mengingatkan bahwa risiko paparan dapat berlanjut selama berhari-hari hingga berminggu-minggu, sampai abu benar-benar dibersihkan atau tersapu hujan. Karena itu, kebersihan lingkungan setelah hujan abu juga menjadi bagian penting dari perlindungan kesehatan.
Bukan Hanya Kulit, Mata Juga Bisa Terdampak
Partikel abu vulkanik yang sangat halus juga dapat masuk ke mata. WHO menyebut erupsi gunung api dapat menimbulkan iritasi pada mata dan kulit. Abu dan bahan kimia hasil erupsi juga dapat menimbulkan berbagai risiko kesehatan lain bergantung pada kondisi paparan.
Jika mata terkena abu, jangan menggosoknya. Partikel yang memiliki permukaan tajam dapat meningkatkan risiko iritasi atau cedera pada permukaan mata.
Kapan Harus Memeriksakan Diri?
Iritasi ringan dapat membaik setelah paparan dihentikan dan kulit dibersihkan dengan benar. Namun, masyarakat sebaiknya mencari pertolongan medis jika muncul keluhan yang berat atau tidak membaik.
Segera konsultasikan ke fasilitas kesehatan apabila:
- Kemerahan semakin luas.
- Rasa terbakar semakin berat.
- Muncul lepuhan.
- Terjadi pembengkakan.
- Gatal sangat berat.
- Muncul luka atau tanda infeksi.
- Keluhan tidak membaik setelah paparan dihentikan.
- Penyakit kulit yang sudah ada mengalami perburukan signifikan.
Jika paparan juga menyebabkan sesak napas, nyeri dada, batuk berat atau gangguan kesehatan lain, jangan hanya menangani masalah kulit karena abu vulkanik juga dapat memengaruhi sistem pernapasan.
Status Anak Krakatau Masih Perlu Diwaspadai
Aktivitas Gunung Anak Krakatau masih menjadi perhatian pemerintah dan lembaga terkait. Hingga Selasa, 8 September 2026, status gunung tersebut dilaporkan berada pada Level III atau Siaga, dengan masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan dan tidak mendekati kawasan kawah aktif dalam radius yang ditetapkan.
Sebaran abu sebelumnya telah berdampak luas. Erupsi juga mengganggu operasional sejumlah bandara dan aktivitas masyarakat di wilayah yang terdampak. Reuters melaporkan beberapa bandara telah kembali beroperasi setelah kondisi abu membaik, meski erupsi baru tetap dipantau karena arah penyebaran abu dapat berubah.
Kesimpulan
Abu vulkanik Anak Krakatau dapat menyebabkan iritasi kulit karena partikelnya sangat halus dan memiliki sifat abrasif. Kandungan material tertentu di dalam abu juga dapat memperburuk reaksi pada kulit.
Gejala yang dapat muncul antara lain kulit kering, gatal, kemerahan, rasa perih atau terbakar hingga dermatitis iritan. Risiko lebih besar dapat dialami orang dengan kulit sensitif, eksim, rosacea atau skin barrier yang sedang terganggu.
Untuk melindungi diri, masyarakat sebaiknya mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika abu masih beterbangan, menggunakan pakaian tertutup dan perlindungan pernapasan, serta segera membersihkan kulit setelah terkena abu.
Yang tidak kalah penting, jangan menggosok kulit dengan keras untuk menghilangkan abu. Bersihkan secara perlahan dengan air bersih dan produk pembersih yang lembut, kemudian jaga kelembapan kulit. Jika muncul iritasi berat atau keluhan yang tidak kunjung membaik, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat.

Posting Komentar untuk "Abu Vulkanik Anak Krakatau Bisa Bikin Kulit Iritasi, Ini Sebabnya"