Apa yang Terjadi Kalau Sering Menahan BAB? Ini Dampak ke Pencernaan
Menahan buang air besar (BAB) sesekali karena sedang berada di perjalanan, rapat, bekerja, atau tidak menemukan toilet yang nyaman mungkin pernah dilakukan banyak orang. Namun, jika kebiasaan tersebut sering dilakukan, tubuh dapat mengalami gangguan pada proses pembuangan tinja.
Menahan BAB membuat tinja berada lebih lama di dalam usus besar. Semakin lama tinja tertahan, semakin banyak air yang dapat diserap oleh usus sehingga tinja menjadi lebih keras dan sulit dikeluarkan. Kebiasaan mengabaikan dorongan untuk BAB juga termasuk salah satu faktor yang dapat menyebabkan atau memperburuk sembelit.
Lantas, apa saja dampaknya jika seseorang terlalu sering menahan BAB?
1. Tinja Menjadi Lebih Keras
Salah satu dampak paling umum adalah tinja menjadi kering, keras, dan lebih sulit dikeluarkan. Usus besar memiliki fungsi menyerap air dari sisa makanan. Ketika tinja terlalu lama berada di dalam usus besar, lebih banyak air dapat diserap sehingga konsistensinya semakin padat. Akibatnya, ketika akhirnya BAB, seseorang mungkin harus mengejan lebih kuat atau mengalami rasa sakit saat tinja keluar.
Kondisi tersebut merupakan salah satu ciri sembelit. Selain tinja keras, sembelit juga dapat ditandai dengan BAB kurang dari tiga kali dalam seminggu atau sensasi seperti masih ada tinja yang belum keluar seluruhnya.
2. Meningkatkan Risiko Sembelit
Sering menahan BAB dapat membentuk kebiasaan yang membuat seseorang semakin jarang buang air besar. Ketika dorongan BAB datang tetapi terus diabaikan, tinja dapat tertahan lebih lama. Hal ini dapat membuat proses pengeluaran tinja berikutnya menjadi semakin sulit.
Sembelit tidak hanya dipengaruhi oleh kebiasaan menahan BAB. Kurang serat, kurang minum, kurang aktivitas fisik, perubahan rutinitas, perjalanan, serta sejumlah obat juga dapat menjadi penyebab atau faktor yang memperburuk sembelit.
3. Perut Bisa Terasa Kembung dan Tidak Nyaman
Penumpukan tinja akibat sembelit dapat menyebabkan rasa penuh di perut. Beberapa orang juga mengalami kembung, sakit atau tidak nyaman di perut, serta rasa ingin BAB tetapi sulit mengeluarkannya. Jika sembelit berlangsung lama, keluhan tersebut dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan membuat seseorang merasa tidak nyaman setelah makan maupun sepanjang hari.
4. Bisa Menyebabkan Wasir
Kebiasaan menahan BAB dapat berkontribusi terhadap sembelit. Ketika tinja sudah keras, seseorang biasanya perlu mengejan lebih kuat untuk mengeluarkannya. Mengejan meningkatkan tekanan pada pembuluh darah di sekitar anus dan rektum. Tekanan tersebut dapat berkontribusi terhadap munculnya atau memburuknya wasir.
Wasir dapat menyebabkan gatal, iritasi, nyeri, pembengkakan, atau perdarahan berwarna merah terang saat BAB. Sembelit dan mengejan merupakan beberapa faktor yang diketahui berkaitan dengan wasir.
5. Risiko Fisura Ani atau Luka pada Anus
Tinja yang keras dan besar dapat membuat proses BAB menjadi menyakitkan. Dalam kondisi tertentu, tekanan dari tinja yang keras dapat menyebabkan robekan kecil pada jaringan anus yang disebut fisura ani. Akibatnya, seseorang dapat merasakan nyeri saat atau setelah BAB dan terkadang menemukan darah merah terang pada tisu toilet atau permukaan tinja.
Karena perdarahan dari anus tidak selalu disebabkan oleh wasir atau fisura, darah dalam tinja sebaiknya tidak dianggap sepele, terutama jika terjadi berulang.
6. Tinja Bisa Menumpuk dan Menjadi Feses yang Terimpaksi
Jika sembelit berlangsung lama, tinja yang keras dapat menumpuk dan sulit dikeluarkan. Kondisi ini dikenal sebagai fecal impaction atau impaksi feses. Pada keadaan tersebut, massa tinja yang keras dapat memenuhi rektum atau bagian usus besar sehingga seseorang kesulitan BAB. Impaksi feses merupakan salah satu komplikasi sembelit kronis yang perlu mendapat perhatian medis.
7. Dalam Kasus Berat, Feses Cair Bisa Merembes
Menariknya, seseorang yang mengalami penumpukan feses tidak selalu mengalami BAB yang benar-benar berhenti. Ketika feses keras menumpuk di dalam rektum, tinja yang lebih cair dari bagian belakang dapat merembes melewati massa tinja tersebut. Akibatnya, seseorang dapat mengalami kebocoran feses atau keluarnya tinja cair meskipun sebenarnya masih mengalami sembelit.
NIDDK menjelaskan bahwa konstipasi dapat menyebabkan tinja keras berukuran besar yang meregangkan rektum. Dalam jangka waktu tertentu, kondisi tersebut dapat melemahkan otot rektum sehingga tinja cair yang terkumpul di belakangnya dapat merembes keluar.
8. Sensitivitas terhadap Dorongan BAB Dapat Terganggu
Kebiasaan menahan BAB dalam waktu lama dapat membuat rektum terus-menerus mengalami peregangan ketika tinja menumpuk. Pada kasus tertentu, kondisi tersebut dapat memengaruhi kemampuan tubuh mengenali sinyal bahwa sudah waktunya BAB. Pada anak-anak, misalnya, penahanan tinja yang berlangsung lama dapat membuat usus besar meregang dan memengaruhi saraf yang memberi sinyal saat waktunya buang air besar. Karena itu, kebiasaan mengabaikan dorongan BAB sebaiknya tidak dijadikan rutinitas.
9. Tidak Berarti Harus BAB Setiap Hari
Meski demikian, bukan berarti semua orang harus BAB setiap hari. Pola BAB setiap orang berbeda. Menurut NIDDK, sembelit antara lain ditandai dengan BAB kurang dari tiga kali dalam seminggu, tinja keras atau kering, kesulitan atau rasa sakit saat BAB, atau perasaan bahwa tinja belum keluar seluruhnya.
Dengan demikian, frekuensi BAB saja tidak cukup untuk menentukan apakah seseorang mengalami sembelit. Yang juga perlu diperhatikan adalah perubahan dari pola normal seseorang, konsistensi tinja, rasa sakit, dan kesulitan ketika BAB.
Mengapa Kita Sering Menahan BAB?
Ada berbagai alasan seseorang menunda BAB. Misalnya, seseorang sedang bekerja, bepergian, berada di tempat umum, tidak menemukan toilet yang bersih, sedang rapat, atau merasa tidak nyaman menggunakan toilet di luar rumah.
Pada anak-anak, menahan BAB juga dapat terjadi karena takut merasakan sakit ketika buang air besar, malu menggunakan toilet umum, sedang bermain, atau mengalami masalah selama proses toilet training. Masalahnya muncul ketika menunda BAB yang awalnya hanya sesekali berubah menjadi kebiasaan.
Bagaimana Cara Mengurangi Kebiasaan Menahan BAB?
Ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk membantu menjaga pola BAB tetap teratur.
1. Jangan Abaikan Dorongan BAB
Jika tubuh sudah memberikan sinyal ingin buang air besar, usahakan segera mencari toilet. Mengabaikan dorongan BAB secara berulang dapat meningkatkan risiko sembelit.
2. Perbanyak Makanan Berserat
Serat membantu membentuk tinja yang lebih mudah dikeluarkan. Sumber serat dapat berasal dari sayuran, buah-buahan, kacang-kacangan, serta biji-bijian utuh. Untuk orang dewasa, NIDDK menyebut kebutuhan serat umumnya berada pada kisaran 22–34 gram per hari, tergantung usia dan jenis kelamin. Namun, peningkatan serat sebaiknya dilakukan secara bertahap agar tubuh dapat beradaptasi.
3. Cukupi Kebutuhan Cairan
Minum cukup cairan membantu menjaga tinja agar tidak terlalu keras, terutama ketika seseorang meningkatkan asupan serat. Kebutuhan cairan setiap orang dapat berbeda tergantung kondisi tubuh, aktivitas, cuaca, dan kondisi kesehatan.
4. Tetap Aktif Bergerak
Kurang aktivitas fisik merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko sembelit. Berjalan kaki, berolahraga secara rutin, atau sekadar lebih banyak bergerak sepanjang hari dapat membantu menjaga fungsi saluran pencernaan.
5. Buat Jadwal BAB
Sebagian orang terbantu dengan membiasakan diri pergi ke toilet pada waktu yang sama setiap hari. NIDDK menyebut latihan kebiasaan BAB pada waktu tertentu dapat menjadi salah satu pendekatan untuk membantu seseorang memiliki pola BAB yang lebih teratur.
Jangan Sembarangan Menggunakan Obat Pencahar
Ketika mengalami sembelit, sebagian orang langsung menggunakan obat pencahar. Obat tersebut memang dapat digunakan dalam kondisi tertentu, tetapi penggunaannya sebaiknya disesuaikan dengan penyebab dan jenis sembelit.
Tidak semua obat pencahar cocok untuk penggunaan jangka panjang. Beberapa jenis sebaiknya digunakan hanya dalam kondisi tertentu atau sesuai arahan tenaga kesehatan. Jika seseorang sudah bergantung pada obat pencahar untuk dapat BAB, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui penyebabnya dan menentukan cara menghentikan penggunaannya secara aman.
Kapan Harus ke Dokter?
Sembelit yang berlangsung sesekali umumnya dapat ditangani dengan perubahan pola makan, kecukupan cairan, aktivitas fisik, dan kebiasaan BAB. Namun, seseorang sebaiknya berkonsultasi dengan dokter apabila sembelit tidak membaik dengan perawatan mandiri atau terus berulang.
Pemeriksaan medis menjadi lebih penting apabila sembelit disertai tanda-tanda seperti:
- Darah dari anus atau darah dalam tinja.
- Nyeri perut yang terus-menerus.
- Tidak dapat buang gas.
- Muntah.
- Demam.
- Penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.
- Perubahan pola BAB yang berlangsung lama.
Gejala-gejala tersebut tidak selalu berarti terdapat penyakit serius, tetapi perlu diperiksa untuk memastikan penyebabnya.
Kesimpulan
Menahan BAB sesekali biasanya bukan masalah besar. Namun, menjadikannya kebiasaan dapat membuat tinja berada lebih lama di usus besar, menjadi lebih keras, dan meningkatkan risiko sembelit. Jika berlangsung terus-menerus, sembelit dapat menyebabkan masalah seperti wasir, fisura ani, impaksi feses, bahkan kebocoran tinja pada kondisi tertentu.
Karena itu, ketika tubuh sudah memberikan sinyal ingin BAB, sebaiknya jangan terus-menerus diabaikan. Menjaga asupan serat, minum cukup, aktif bergerak, dan membangun jadwal BAB yang teratur merupakan beberapa langkah yang dapat membantu menjaga kesehatan sistem pencernaan.

Posting Komentar untuk "Apa yang Terjadi Kalau Sering Menahan BAB? Ini Dampak ke Pencernaan"