Benarkah Kucing Oren Lebih Nakal dan Kucing Putih Pemalas?
Jakarta – Kucing oren sering mendapat julukan sebagai kucing yang lebih nakal, barbar, atau suka membuat ulah. Sebaliknya, kucing putih kerap dianggap lebih kalem, pemalas, bahkan cenderung pasif. Anggapan tersebut begitu populer di media sosial hingga seolah-olah warna bulu dapat digunakan untuk menebak kepribadian seekor kucing.
Namun, apakah anggapan itu benar secara ilmiah?
Jawabannya tidak sesederhana warna bulu. Sejumlah penelitian menunjukkan adanya perbedaan dalam cara manusia mempersepsikan kepribadian kucing berdasarkan warna bulunya, tetapi hal tersebut tidak otomatis membuktikan bahwa warna bulu menyebabkan perilaku tertentu.
Dosen Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis IPB University, Dr drh Leni Maylina, sebelumnya menjelaskan bahwa karakter kucing tidak ditentukan oleh warna tubuhnya. Kepribadian kucing lebih berkaitan dengan faktor genetik, pengalaman awal, proses sosialisasi, serta lingkungan tempat kucing tumbuh.
Mengapa Kucing Oren Dianggap Nakal?
Stereotip mengenai kucing oren sebagai kucing yang "barbar" sudah sangat populer. Banyak pemilik kucing mengaitkan warna oren dengan perilaku aktif, berani, suka bermain, atau bahkan membuat kekacauan di rumah.
Namun, warna bulu tidak dapat dijadikan indikator tunggal untuk menentukan sifat tersebut. Penelitian mengenai hubungan warna bulu dan kepribadian kucing juga menghasilkan temuan yang beragam. Salah satu studi terhadap 211 pemilik kucing di Meksiko menemukan bahwa kucing oren justru memperoleh skor tinggi dalam persepsi pemilik sebagai kucing yang ramah, tenang, dan mudah dilatih. Namun, penelitian yang sama tidak menemukan perbedaan kepribadian yang signifikan secara statistik berdasarkan warna bulu.
Artinya, kucing oren dalam penelitian tersebut justru tidak identik dengan "nakal".
Kucing Oren Memang Lebih Banyak Jantan
Ada satu fakta biologis menarik yang mungkin ikut membentuk stereotip mengenai kucing oren. Kucing berbulu oren memang lebih sering berjenis kelamin jantan. Penelitian genetika yang diterbitkan pada 2025 mengidentifikasi mutasi pada kromosom X yang berkaitan dengan warna oren pada kucing domestik.
Pada kucing jantan yang hanya memiliki satu kromosom X, mutasi tersebut dapat menghasilkan warna bulu oren. Sementara kucing betina memiliki dua kromosom X sehingga untuk memiliki warna oren secara penuh, mutasi harus terdapat pada kedua kromosom tersebut.
Karena itu, populasi kucing oren memang cenderung didominasi jantan. Peneliti menduga salah satu alasan kucing oren dianggap lebih "nakal" mungkin berkaitan dengan persepsi terhadap perilaku kucing jantan, bukan semata-mata warna bulunya. Penelitian genetika tersebut juga tidak menemukan perbedaan ekspresi gen di otak yang dapat menjelaskan reputasi kucing oren sebagai kucing yang lebih kacau atau nakal. Dengan kata lain, kucing oren bukan otomatis nakal hanya karena bulunya berwarna oren.
Lalu, Apakah Kucing Putih Pemalas?
Anggapan bahwa kucing putih pemalas juga belum memiliki dasar ilmiah yang cukup untuk dijadikan aturan umum. Kucing putih bisa saja lebih tenang, tetapi kucing putih lainnya dapat sangat aktif, suka bermain, agresif ketika merasa terancam, atau justru sangat sosial.
Dalam penelitian terhadap pemilik kucing di Meksiko, kucing putih memiliki skor yang cukup tinggi untuk sifat ramah dan berani. Jadi, temuan tersebut tidak mendukung anggapan sederhana bahwa kucing putih identik dengan sifat pemalas.
Sifat "malas" sendiri juga perlu dibedakan dari perilaku normal kucing. Kucing memang menghabiskan banyak waktu untuk tidur dan beristirahat. Namun, durasi tidur yang panjang tidak otomatis menunjukkan bahwa seekor kucing memiliki kepribadian pemalas.
Warna Bulu dan Kepribadian Adalah Dua Hal Berbeda
Warna bulu terutama ditentukan oleh faktor genetik yang berkaitan dengan produksi dan distribusi pigmen. Sebaliknya, perilaku merupakan hasil interaksi berbagai faktor yang jauh lebih kompleks. Faktor genetik memang berperan, tetapi pengalaman hidup dan lingkungan juga sangat penting.
Kajian ilmiah mengenai mitos warna bulu dan perilaku kucing menjelaskan bahwa warna dan pola bulu dikendalikan oleh banyak gen, sedangkan kepribadian dipengaruhi oleh kombinasi genetika, lingkungan, dan interaksi antara keduanya. Karena itu, memprediksi karakter kucing hanya dari warna bulunya memiliki banyak keterbatasan.
Pengalaman Sejak Kecil Sangat Berpengaruh
Salah satu faktor yang dapat memengaruhi perilaku kucing adalah pengalaman pada masa awal kehidupannya. Kucing yang sejak kecil terbiasa berinteraksi secara positif dengan manusia dapat berkembang menjadi lebih percaya diri dan mudah beradaptasi. Sebaliknya, kucing yang mengalami kurangnya sosialisasi atau pengalaman buruk dapat menunjukkan perilaku takut, menghindar, atau defensif.
Faktor tersebut dapat membuat dua kucing dengan warna bulu yang sama memiliki kepribadian yang sangat berbeda. Seekor kucing oren yang tumbuh di rumah penuh stimulasi dan interaksi positif bisa sangat ramah. Kucing oren lainnya yang memiliki pengalaman buruk dengan manusia dapat menjadi pemalu atau defensif. Hal yang sama berlaku untuk kucing putih.
Lingkungan Juga Bisa Mengubah Perilaku Kucing
Lingkungan tempat tinggal turut memengaruhi perilaku kucing. Kucing yang hidup di lingkungan dengan banyak ruang untuk bergerak, tempat memanjat, mainan, serta interaksi yang sesuai kebutuhannya cenderung memiliki lebih banyak kesempatan untuk mengekspresikan perilaku alami.
Sebaliknya, lingkungan yang monoton atau penuh tekanan dapat memengaruhi aktivitas dan respons kucing. Karena itu, ketika pemilik melihat kucingnya sangat aktif atau sangat pendiam, kondisi lingkungan juga perlu dipertimbangkan sebelum menyimpulkan bahwa perilaku tersebut disebabkan warna bulu.
Ada Penelitian yang Menemukan Perbedaan Persepsi
Menariknya, bukan berarti tidak ada penelitian mengenai hubungan warna bulu dengan karakter. Masalahnya adalah sebagian penelitian menunjukkan bagaimana manusia menilai kucing, bukan membuktikan bahwa warna bulu benar-benar menyebabkan perilaku tersebut.
Kajian ilmiah menyebutkan bahwa orang cenderung memberikan stereotip tertentu kepada kucing berdasarkan warna. Kucing oren, misalnya, pernah lebih sering dinilai sebagai kucing yang ramah. Sementara kucing putih dan tricolor dalam penelitian tertentu lebih sering dipersepsikan sebagai kucing yang menjaga jarak. Perbedaan persepsi ini penting karena dapat memengaruhi bagaimana seseorang memperlakukan atau memilih kucing.
Warna Bulu Bahkan Bisa Memengaruhi Peluang Adopsi
Penelitian yang diterbitkan pada 2026 menunjukkan bahwa karakteristik fisik kucing dapat memengaruhi penilaian manusia ketika melihat profil adopsi secara daring. Dalam penelitian terhadap 624 orang dewasa di Australia, peneliti memanipulasi gambar kucing untuk menguji pengaruh warna bulu, bentuk mata, dan ukuran pupil terhadap persepsi seperti kelucuan, keramahan, serta kemungkinan diadopsi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa warna bulu memang dapat memengaruhi penilaian manusia terhadap kucing dalam konteks tersebut. Namun, efeknya relatif kecil dan lebih berkaitan dengan persepsi manusia daripada bukti bahwa warna tertentu menentukan kepribadian kucing sebenarnya. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa stereotip mengenai warna bulu dapat memiliki konsekuensi nyata.
Jangan Menilai Kucing Hanya dari Warnanya
Jika ingin mengetahui karakter seekor kucing, ada indikator yang jauh lebih berguna daripada warna bulu.
Perhatikan bagaimana kucing:
- merespons manusia;
- bereaksi ketika disentuh;
- berinteraksi dengan kucing lain;
- bermain;
- menghadapi lingkungan baru;
- menggunakan tempat persembunyian;
- merespons suara keras;
- menunjukkan rasa takut atau percaya diri;
- dan beradaptasi terhadap perubahan.
Pola perilaku tersebut memberikan gambaran yang lebih relevan mengenai kepribadian individu.
Kapan Kucing yang "Malas" Perlu Diperhatikan?
Ada perbedaan antara kucing yang memang tenang dengan kucing yang tiba-tiba menjadi sangat pasif. Kucing normal memang banyak tidur dan beristirahat. Namun, jika sebelumnya aktif kemudian tiba-tiba tidak mau bermain, kehilangan nafsu makan, lebih sering bersembunyi, atau menunjukkan perubahan perilaku yang drastis, kondisi tersebut tidak sebaiknya langsung dianggap sebagai sifat "pemalas".
Perubahan perilaku yang mendadak dapat menjadi tanda adanya masalah kesehatan atau stres dan perlu diperhatikan oleh pemilik. Jika perubahan berlangsung atau disertai gejala lain, pemeriksaan dokter hewan dapat membantu mengetahui penyebabnya.
Jadi, Benarkah Kucing Oren Lebih Nakal?
Belum ada dasar ilmiah yang cukup untuk menyatakan bahwa semua kucing oren lebih nakal. Memang terdapat penelitian yang menemukan perbedaan persepsi pemilik terhadap kucing berdasarkan warna bulu. Namun, penelitian terhadap 211 pemilik kucing di Meksiko justru menemukan kucing oren memperoleh skor tinggi dalam sifat ramah, tenang, dan mudah dilatih, sementara perbedaan keseluruhan berdasarkan warna tidak signifikan secara statistik.
Reputasi kucing oren sebagai "kucing barbar" lebih tepat dipandang sebagai stereotip populer daripada hukum biologis.
Lalu, Benarkah Kucing Putih Pemalas?
Tidak ada bukti kuat bahwa warna putih membuat kucing menjadi pemalas. Kucing putih dapat memiliki karakter aktif, ramah, berani, pemalu, atau tenang. Kepribadian setiap individu dipengaruhi oleh kombinasi genetika, pengalaman, sosialisasi, lingkungan, dan faktor lainnya.
Bahkan dalam penelitian tertentu, kucing putih memperoleh penilaian sebagai kucing yang ramah dan berani.
Kesimpulan
Anggapan bahwa kucing oren lebih nakal sedangkan kucing putih lebih pemalas lebih merupakan stereotip daripada fakta ilmiah yang dapat diterapkan kepada semua kucing. Warna bulu memang memiliki dasar genetik dan dapat memengaruhi cara manusia mempersepsikan seekor kucing. Namun, warna bulu bukan penentu tunggal kepribadian.
Karakter kucing lebih tepat dipahami melalui perilaku individu, faktor genetik, pengalaman sejak kecil, proses sosialisasi, kondisi lingkungan, serta interaksinya dengan manusia dan hewan lain. Jadi, jangan buru-buru menilai kucing oren sebagai pembuat onar atau kucing putih sebagai pemalas. Bisa saja kucing oren di rumah justru paling manja, sementara kucing putih menjadi hewan paling aktif dan suka berlarian.
Setiap kucing memiliki kepribadian masing-masing. Warna bulu mungkin membuat mereka terlihat berbeda, tetapi tidak otomatis menentukan bagaimana mereka akan bertingkah.

Posting Komentar untuk " Benarkah Kucing Oren Lebih Nakal dan Kucing Putih Pemalas?"