China Respons Seruan Perlambat AI, Sebut Cuma Gertak Sambal

Seruan agar pengembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) diperlambat kembali memanaskan persaingan teknologi antara China dan Amerika Serikat. Di tengah kekhawatiran bahwa perkembangan AI bergerak terlalu cepat dan berpotensi sulit dikendalikan, sejumlah pemimpin perusahaan teknologi Amerika justru mulai menyerukan agar pengembangan teknologi AI frontier dilakukan dengan lebih hati-hati.

Namun, gagasan tersebut menghadapi tantangan besar: China tidak menunjukkan tanda-tanda ingin mengerem perlombaan AI.

Perdebatan ini muncul setelah CEO Anthropic Dario Amodei menyerukan agar industri dan pemerintah “pace the frontier”, yakni memperlambat laju pengembangan AI paling canggih agar aspek keselamatan dan pengendalian dapat mengejar kemampuan teknologinya. CEO OpenAI Sam Altman kemudian menyatakan setuju, sementara Elon Musk juga mendukung seruan tersebut. Lebih dari 1.000 pekerja industri AI sebelumnya turut menandatangani surat terbuka yang meminta pengembangan AI diperlambat.

China Tak Mau Ikut Mengerem

Respons China terhadap seruan perlambatan tersebut pada dasarnya menunjukkan skeptisisme. Di tengah perlombaan teknologi dengan Amerika Serikat, Beijing memiliki kepentingan besar untuk terus meningkatkan kemampuan AI domestiknya.

Perkembangan AI dianggap memiliki nilai strategis bukan hanya untuk sektor teknologi dan ekonomi, tetapi juga untuk produktivitas industri, penelitian, keamanan siber, pertahanan, hingga persaingan geopolitik. Karena itu, seruan agar negara-negara memperlambat AI berpotensi dilihat dari perspektif berbeda oleh China.

Bagi sebagian pihak di Barat, perlambatan diperlukan untuk mengantisipasi risiko AI yang semakin otonom. Namun, dari perspektif persaingan teknologi, perlambatan sepihak justru dapat membuat salah satu negara kehilangan keunggulan.

Mengapa Disebut "Gertak Sambal"?

Istilah "gertak sambal" dalam konteks ini menggambarkan anggapan bahwa seruan perlambatan AI dari perusahaan-perusahaan teknologi AS mungkin tidak sepenuhnya akan diwujudkan. Kritik paling keras datang dari David Sacks, mantan penasihat AI Gedung Putih. Ia mengatakan perusahaan seperti Anthropic dan OpenAI sebenarnya tidak membutuhkan izin pemerintah untuk memperlambat pengembangan teknologi mereka.

Menurut Sacks, jika para pemimpin perusahaan tersebut benar-benar percaya model AI generasi berikutnya terlalu berbahaya, mereka dapat langsung memperlambat pengembangannya. "Go ahead," kata Sacks dalam responsnya terhadap seruan Dario Amodei dan Sam Altman. Ia mempertanyakan mengapa perusahaan-perusahaan frontier AI harus meminta kerangka regulasi baru apabila mereka memang bisa secara sukarela mengurangi kecepatan pengembangan.

Sacks bahkan menuduh seruan tersebut berpotensi berkaitan dengan kepentingan bisnis dan regulatory capture, yakni kondisi ketika perusahaan besar berusaha memengaruhi regulasi sehingga aturan yang dibuat justru memperkuat posisi pemain lama.

Dario Amodei Punya Kekhawatiran Berbeda

Di sisi lain, Amodei tidak sekadar menyerukan penghentian AI. CEO Anthropic tersebut lebih menekankan perlunya mengatur kecepatan pengembangan AI frontier agar kemampuan sistem tidak berkembang jauh lebih cepat daripada kemampuan manusia untuk mengujinya dan memastikan keamanannya.

Menurut laporan NPR, Amodei mengusulkan kerja sama internasional, evaluasi oleh pihak ketiga, serta peningkatan standar keselamatan di laboratorium AI. Kekhawatirannya antara lain berkaitan dengan kemungkinan AI semakin mampu melakukan pekerjaan penelitian dan pengembangan AI itu sendiri, yang dapat mempercepat proses peningkatan kemampuan secara drastis.

Dengan kata lain, yang diusulkan bukan berarti menghentikan seluruh penggunaan AI. Yang diperdebatkan adalah apakah pengembangan AI paling canggih perlu diperlambat dan diawasi lebih ketat.

Sam Altman Ikut Mendukung

Seruan tersebut menjadi semakin signifikan karena mendapat dukungan dari Sam Altman. OpenAI merupakan salah satu perusahaan yang berada di garis depan perlombaan AI global. Dukungan Altman menunjukkan bahwa perdebatan mengenai keamanan AI tidak lagi hanya berasal dari kelompok aktivis atau akademisi, tetapi mulai muncul dari kalangan pimpinan perusahaan yang mengembangkan teknologi tersebut.

Elon Musk juga menyatakan dukungan terhadap gagasan Amodei. Bahkan sejumlah tokoh teknologi lainnya ikut memberikan respons positif terhadap seruan untuk memperlambat pengembangan AI frontier. Namun, dukungan tersebut tidak otomatis berarti perusahaan-perusahaan tersebut akan menghentikan inovasi. Istilah yang digunakan adalah "pace", bukan menghentikan kemajuan AI secara permanen.

China dan AS Berada dalam Perlombaan Strategis

Persoalan terbesar adalah hubungan antara AI dan geopolitik. Amerika Serikat dan China kini menjadi dua kekuatan utama dalam pengembangan AI. Keduanya bersaing dalam kemampuan model, chip, pusat data, talenta, infrastruktur komputasi, dan aplikasi AI.

Karena itu, keputusan satu negara untuk memperlambat pengembangan AI akan selalu menimbulkan pertanyaan:

Bagaimana jika negara lain tidak ikut memperlambat?

Inilah salah satu alasan mengapa gagasan moratorium atau perlambatan global sangat sulit diwujudkan. Sebuah rencana yang disusun oleh AI Futures Project bahkan mengusulkan kesepakatan AS-China untuk memperlambat laju AI secara terkoordinasi. Namun, dokumen tersebut sendiri mengakui bahwa kesepakatan besar dengan China merupakan sesuatu yang sulit diwujudkan.

China Bisa Menjadi Faktor Penentu

China memiliki ekosistem AI yang terus berkembang dan sejumlah perusahaan domestik yang aktif mengembangkan model bahasa besar serta AI open-source. Hal ini membuat perlombaan AI tidak lagi hanya menjadi kompetisi antarperusahaan Amerika.

Apabila perusahaan-perusahaan AS mengurangi kecepatan pengembangan sementara perusahaan China terus meningkatkan kemampuan mereka, kesenjangan teknologi dapat menyempit. Sebaliknya, jika China juga ikut memperlambat, peluang terbentuknya standar keselamatan AI global akan jauh lebih besar.

Masalahnya adalah kepercayaan antara Beijing dan Washington masih rendah, terutama dalam isu teknologi strategis.

AI Juga Berkaitan dengan Chip

Perdebatan mengenai perlambatan AI tidak dapat dilepaskan dari persoalan chip. Amodei dalam usulannya juga menyinggung perlunya pembatasan terhadap penjualan chip AI paling canggih dan peralatan pembuatan semikonduktor kepada China. Ia juga menyoroti risiko penyalahgunaan atau pencurian model serta praktik distillation yang memungkinkan kemampuan model frontier direplikasi dengan biaya komputasi lebih rendah.

Dari perspektif China, persoalan tersebut tentu sangat sensitif. Sebab, pembatasan chip bukan sekadar kebijakan keselamatan AI. Kebijakan itu juga dapat memengaruhi kemampuan industri teknologi China untuk mengembangkan model AI dengan skala komputasi yang lebih besar. Inilah yang membuat isu "perlambatan AI" berpotensi bercampur dengan perang teknologi AS-China.

Trump Justru Ingin AS Terus Ngebut

Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump justru mengambil posisi yang berbeda dari seruan perlambatan. Trump menegaskan bahwa AS harus mempertahankan keunggulannya dalam AI dan mengaitkan persaingan tersebut dengan China. Pesannya pada dasarnya adalah bahwa negara yang memenangkan perlombaan AI akan memiliki posisi strategis yang sangat besar.

Posisi tersebut memperlihatkan adanya paradoks di Amerika Serikat. Di satu sisi, sejumlah pemimpin perusahaan AI memperingatkan bahwa teknologi berkembang terlalu cepat. Di sisi lain, pemerintah AS tidak ingin memperlambat laju inovasi jika hal tersebut membuat China mengejar atau bahkan menyalip Amerika.

Apakah Seruan Perlambatan Benar-Benar Bisa Terjadi?

Tantangan terbesar adalah koordinasi. Jika hanya satu perusahaan memperlambat pengembangan, pesaingnya dapat mengambil keuntungan. Jika hanya Amerika Serikat yang mengerem, China dapat terus bergerak. Jika hanya China yang memperlambat, AS memiliki insentif untuk mempercepat.

Situasi ini menciptakan apa yang dalam hubungan internasional dikenal sebagai dilema keamanan. Semua pihak mungkin menyadari bahwa perlombaan terlalu cepat memiliki risiko, tetapi masing-masing takut menjadi pihak pertama yang mengurangi kecepatan.

Bahkan proposal AI 2040 menilai bahwa kesepakatan besar antara AS dan China untuk memperlambat AI merupakan sesuatu yang sulit terjadi, meskipun kerja sama tersebut dinilai sebagai salah satu cara untuk mengurangi risiko pengembangan AI yang terlalu cepat.

Bukan Berarti China Menganggap AI Aman

Penting untuk membedakan antara menolak perlambatan dan menganggap AI tidak berbahaya. China sendiri telah mengembangkan berbagai aturan mengenai AI, termasuk terkait keamanan data, algoritma, dan konten yang dihasilkan AI. Artinya, perdebatan bukan semata-mata antara pihak yang pro-AI dan anti-AI.

Persoalannya adalah seberapa cepat AI boleh dikembangkan, siapa yang harus mengawasi, dan apakah aturan keselamatan dapat diterapkan tanpa menghambat inovasi strategis.

Risiko Terbesar: Perlombaan Tanpa Rem

Jika tidak ada kesepakatan internasional, perkembangan AI berpotensi terus bergerak berdasarkan logika kompetisi. Perusahaan berlomba membuat model lebih pintar. Negara berlomba menyediakan chip dan pusat data. Investor berlomba menanamkan modal. Sementara itu, regulator berusaha mengejar perkembangan teknologi yang berubah sangat cepat.

Kekhawatiran inilah yang mendorong sebagian ilmuwan dan pekerja industri menyerukan agar keselamatan tidak menjadi prioritas kedua. NPR melaporkan bahwa para peneliti memperingatkan perkembangan AI yang semakin otonom dapat menciptakan risiko baru jika manusia memberikan terlalu banyak kendali kepada sistem yang belum sepenuhnya dipahami.

China Punya Alasan untuk Tetap Melaju

Dari perspektif geopolitik, China mempunyai alasan kuat untuk mempertahankan momentum. AI dipandang sebagai teknologi fundamental yang dapat memengaruhi banyak sektor sekaligus. Keunggulan dalam AI dapat memberikan keuntungan dalam manufaktur, layanan, riset ilmiah, pertahanan, dan ekonomi digital.

Jika China percaya bahwa AS sedang berada di posisi terdepan, memperlambat diri secara sepihak jelas bukan pilihan yang menarik. Sebaliknya, jika Washington dan Beijing dapat menyepakati standar keselamatan dan mekanisme verifikasi bersama, situasinya akan berbeda. Namun, mencapai kesepakatan tersebut jauh lebih sulit daripada sekadar menyerukan "perlambat AI".

Kesimpulan

Seruan untuk memperlambat pengembangan AI kini menghadapi persoalan geopolitik yang jauh lebih besar daripada sekadar perdebatan teknologi. Dario Amodei, Sam Altman, dan sejumlah tokoh teknologi meminta pengembangan AI frontier diperlambat agar keselamatan dapat mengejar kemampuan teknologi. Namun, kritik seperti yang disampaikan David Sacks menilai perusahaan AI sebenarnya bisa memperlambat sendiri tanpa menunggu regulasi baru.

Sementara itu, China berada di posisi yang membuat perlambatan sepihak sulit dilakukan. Negara tersebut memiliki kepentingan strategis untuk terus mengembangkan AI dan tidak ingin kehilangan momentum dalam persaingan teknologi dengan Amerika Serikat.

Pada akhirnya, istilah "gertak sambal" masih merupakan penilaian politik, bukan fakta yang sudah terbukti. Yang jelas, dunia kini menghadapi dilema: terus memacu AI demi keunggulan ekonomi dan geopolitik, atau memperlambat laju pengembangannya demi memberi manusia waktu membangun sistem keselamatan yang memadai. Dan selama Amerika Serikat dan China belum menemukan mekanisme kerja sama yang benar-benar dapat dipercaya, perlombaan AI kemungkinan masih akan terus berlangsung.

Posting Komentar untuk " China Respons Seruan Perlambat AI, Sebut Cuma Gertak Sambal"