Houthi Klaim Saudi Luncurkan 26 Kali Serangan ke Yaman 24 Jam Terakhir

Kelompok Houthi di Yaman mengklaim Arab Saudi melancarkan 26 serangan udara dalam 24 jam terakhir ke wilayah yang berada di bawah kendali kelompok tersebut. Klaim itu disampaikan ketika konflik antara Houthi dan pasukan pemerintah Yaman yang didukung Riyadh kembali meningkat dalam beberapa hari terakhir.

Menurut laporan AFP yang dikutip Al Jazeera, Houthi menyebut serangan Saudi tersebut merupakan bagian dari peningkatan operasi militer terhadap wilayah yang dikuasai kelompok tersebut. Houthi bahkan mengklaim jumlah serangan udara Saudi mencapai sekitar 300 kali dalam sepekan terakhir.

Klaim tersebut muncul di tengah meningkatnya pertempuran di sejumlah front Yaman, terutama di wilayah Taiz dan kawasan pesisir Laut Merah.

Houthi Sebut 26 Serangan Terjadi dalam Sehari

Juru bicara militer Houthi Yahya Saree menyatakan pesawat tempur Saudi melancarkan 26 serangan dalam periode 24 jam. Houthi mengatakan serangan tersebut menyasar sejumlah wilayah yang berada di bawah kendalinya. Dalam pernyataan yang dikutip berbagai media, kelompok tersebut juga menyebut serangan dilakukan di beberapa provinsi Yaman.

Klaim mengenai 26 serangan merupakan pernyataan dari pihak Houthi dan belum seluruh rinciannya dapat diverifikasi secara independen. Laporan yang tersedia juga belum memberikan gambaran lengkap mengenai jumlah korban maupun kerusakan akibat 26 serangan tersebut.

Houthi Klaim 300 Serangan dalam Sepekan

Selain menyebut 26 serangan dalam 24 jam, Houthi mengklaim jumlah serangan udara Saudi selama sepekan terakhir mencapai sekitar 300 kali. Menurut laporan AFP, serangan tersebut diklaim menyasar berbagai wilayah yang dikuasai Houthi.

Kurdistan24, yang mengutip pernyataan Yahya Saree, melaporkan bahwa serangan dalam sepekan disebut tersebar di sembilan provinsi, termasuk Taiz, Hajjah, Marib, Al Jawf, Bayhan, Amran, Lahj, Hudaydah, dan Saada. Namun, rincian tersebut tetap merupakan klaim yang disampaikan oleh juru bicara militer Houthi.

Taiz Menjadi Salah Satu Titik Pertempuran Utama

Provinsi Taiz menjadi salah satu lokasi yang mengalami peningkatan pertempuran. Pada Jumat, pemerintah Yaman yang didukung Saudi mengklaim pasukannya berhasil menewaskan 30 anggota Houthi dan melukai lebih dari 60 lainnya dalam bentrokan selama 24 jam di distrik Al-Wazi'iyah, sebelah barat Taiz.

Pemerintah Yaman juga menyatakan serangan udara mengenai kendaraan serta titik berkumpul pasukan Houthi di wilayah pertempuran. Angka korban tersebut berasal dari pihak pemerintah Yaman dan belum dapat diverifikasi secara independen.

63 Orang Dilaporkan Tewas dalam Pertempuran

Meningkatnya serangan udara juga berlangsung bersamaan dengan pertempuran darat antara Houthi dan pasukan pemerintah Yaman. AFP melaporkan, berdasarkan sumber militer dari kedua pihak, sebanyak 63 orang tewas dalam 24 jam dalam rangkaian pertempuran terbaru.

Seorang pejabat pemerintah Yaman menyebut sedikitnya 23 tentara pemerintah tewas akibat serangan rudal dan drone Houthi di dua provinsi bagian barat daya. Sementara sumber militer Houthi menyatakan 40 anggotanya tewas akibat serangan udara Saudi dan pertempuran darat. Perbedaan klaim dari masing-masing pihak membuat angka korban masih perlu diperlakukan dengan hati-hati.

Konflik Yaman Kembali Membesar

Perkembangan terbaru menandai memburuknya situasi keamanan Yaman setelah periode relatif lebih tenang selama beberapa tahun. Houthi menguasai ibu kota Sanaa dan sebagian besar wilayah berpenduduk padat di bagian utara serta barat Yaman. Sementara itu, pemerintah Yaman yang diakui secara internasional berkedudukan di Aden dan mendapat dukungan Arab Saudi.

Kedua kubu kembali terlibat dalam pertempuran intensif setelah Houthi memperluas pengaruhnya di sejumlah wilayah, termasuk kawasan pesisir Laut Merah.

Houthi Kuasai Sebagian Besar Pesisir Laut Merah

Salah satu perkembangan strategis dalam konflik terbaru adalah meningkatnya pengaruh Houthi di sepanjang pesisir Laut Merah. Reuters melaporkan Houthi telah menguasai seluruh garis pantai Laut Merah di Yaman setelah kemajuan cepat mereka dalam beberapa hari terakhir.

Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran mengenai keamanan pelayaran internasional karena kawasan tersebut berdekatan dengan Selat Bab el-Mandeb, salah satu jalur perdagangan laut penting yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.

Bab el-Mandeb Jadi Perhatian Dunia

Selat Bab el-Mandeb memiliki posisi strategis karena menjadi salah satu jalur yang menghubungkan perdagangan antara Asia, Timur Tengah, dan Eropa. Jika konflik semakin meluas di sekitar selat tersebut, perusahaan pelayaran dapat menghadapi peningkatan risiko keamanan dan kemungkinan perubahan rute.

Situasi ini juga menjadi perhatian negara-negara Barat karena gangguan terhadap pelayaran di Laut Merah dapat berdampak pada rantai pasok global. Perkembangan di Bab el-Mandeb juga semakin penting karena akses melalui jalur lain di kawasan, termasuk Selat Hormuz, sedang menghadapi gangguan akibat konflik regional yang lebih luas.

Houthi dan Saudi Saling Menyerang

Konflik terbaru tidak hanya berupa serangan udara Saudi terhadap wilayah Houthi. Dalam beberapa hari terakhir, Houthi juga melancarkan serangan menggunakan drone ke wilayah Arab Saudi. Saudi sebelumnya melaporkan berhasil mencegat drone yang menuju wilayahnya. Dalam salah satu insiden di Taif, serpihan drone yang dicegat dilaporkan menyebabkan seorang warga Yaman meninggal dunia. Reuters menyebutnya sebagai kematian sipil pertama yang diumumkan Riyadh sejak eskalasi terbaru dimulai.

Arab Saudi juga sebelumnya melaporkan lebih dari 80 orang mengalami luka akibat serangkaian serangan Houthi.

Ketegangan Meningkat Setelah Isu Serangan ke Makkah

Eskalasi terbaru turut dipicu oleh tuduhan Arab Saudi bahwa Houthi berupaya menyerang wilayah Makkah menggunakan drone. Houthi membantah tuduhan tersebut. Setelah muncul tuduhan tersebut, kelompok Houthi kemudian mengklaim adanya peningkatan serangan udara Saudi terhadap wilayah yang mereka kuasai. Sehari sebelumnya, Houthi bahkan melaporkan sekitar 40 serangan udara Saudi dalam periode 24 jam. Perbedaan klaim antara kedua pihak membuat situasi semakin sulit diverifikasi secara independen di lapangan.

Houthi Sebelumnya Klaim Jatuhkan Jet Saudi

Dalam eskalasi terbaru, Houthi juga mengklaim berhasil menembak jatuh jet tempur F-15 Arab Saudi di wilayah udara Provinsi Ma'rib. Klaim mengenai jatuhnya pesawat tersebut muncul di tengah meningkatnya intensitas serangan udara Saudi terhadap posisi Houthi. Namun, seperti halnya sejumlah klaim militer lainnya dari kedua pihak, informasi mengenai insiden tersebut perlu menunggu konfirmasi independen.

Amerika Serikat Ikut Memantau Situasi

Meningkatnya konflik Saudi-Houthi juga mendapat perhatian Amerika Serikat. Reuters melaporkan bahwa pejabat AS telah bertemu dengan perwakilan Houthi di Muscat, Oman, setelah kemajuan teritorial kelompok tersebut meningkatkan kekhawatiran mengenai keamanan pelayaran di Bab el-Mandeb.

Dalam pertemuan tersebut, Houthi dilaporkan memberikan jaminan bahwa kapal yang tidak terkait dengan Arab Saudi tidak akan menjadi sasaran. Namun, Washington sejauh ini belum mengambil langkah untuk melakukan serangan langsung terhadap Houthi meskipun Riyadh meminta dukungan militer AS.

AS Tidak Langsung Ikut Menyerang Houthi

Sikap Washington menjadi perhatian karena Amerika Serikat sebelumnya pernah melakukan operasi militer terhadap Houthi. Namun, dalam eskalasi terbaru, pemerintahan Presiden Donald Trump dilaporkan masih menahan diri untuk membuka front baru secara langsung di Yaman.

Salah satu pertimbangannya adalah konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah dan perang AS dengan Iran yang masih berlangsung. Situasi tersebut membuat Washington menghadapi dilema antara membantu sekutunya dan menghindari perluasan konflik menjadi perang regional yang lebih besar.

Uni Eropa Tingkatkan Kewaspadaan

Uni Eropa juga meningkatkan kewaspadaan terhadap perkembangan keamanan di Laut Merah. Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Kaja Kallas mengatakan misi angkatan laut Uni Eropa, Operation Aspides, telah menaikkan tingkat kewaspadaannya akibat memburuknya situasi keamanan.

Operation Aspides dibentuk untuk membantu melindungi kapal komersial yang melintas di kawasan Laut Merah dari ancaman serangan. Kallas juga menyatakan serangan Houthi terhadap Arab Saudi tidak dapat diterima dan dapat mengganggu perekonomian global.

Puluhan Ribu Warga Yaman Mengungsi

Eskalasi pertempuran juga membawa dampak langsung bagi masyarakat sipil. Reuters melaporkan lebih dari 100.000 warga Yaman telah mengungsi akibat pertempuran terbaru. Sebagian warga bahkan melarikan diri menyeberangi Laut Merah menuju Djibouti. Bagi warga yang tinggal di wilayah konflik, meningkatnya serangan udara dan pertempuran darat membuat akses terhadap makanan, tempat tinggal, layanan kesehatan, serta kebutuhan dasar lainnya semakin sulit.

Situasi tersebut memperbesar kekhawatiran terhadap krisis kemanusiaan yang selama bertahun-tahun telah melanda Yaman.

Konflik Bisa Berdampak pada Harga Energi

Perang yang melibatkan Saudi dan Houthi tidak hanya berdampak pada Yaman dan negara-negara di sekitarnya. Arab Saudi merupakan salah satu produsen minyak terbesar dunia. Sementara itu, kawasan Laut Merah dan Selat Bab el-Mandeb menjadi bagian penting dalam jalur pengiriman energi dan barang.

Reuters melaporkan harga minyak dunia tetap berada di atas US$100 per barel di tengah meningkatnya gangguan terhadap jalur perdagangan energi di kawasan Timur Tengah. Jika konflik semakin meluas dan mengganggu jalur pelayaran, dampaknya dapat merembet ke biaya transportasi, asuransi kapal, rantai pasok, dan harga energi global.

Pakistan Mulai Menekan Iran

Eskalasi tersebut juga mendorong negara lain untuk mengambil langkah diplomatik. Financial Times melaporkan Pakistan telah mendesak Iran agar membantu mengendalikan serangan Houthi terhadap Arab Saudi.

Langkah tersebut berkaitan dengan kerja sama pertahanan Pakistan dan Arab Saudi. Islamabad sebelumnya menyatakan kesiapannya memenuhi kewajiban dalam pakta pertahanan dengan Riyadh apabila diminta. Namun, hingga laporan tersebut diterbitkan, belum ada permintaan resmi Saudi yang menyebabkan Pakistan terlibat langsung dalam konflik.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa konflik Yaman mulai memiliki konsekuensi diplomatik yang lebih luas di kawasan.

Konflik Belum Menunjukkan Tanda Mereda

Klaim 26 serangan dalam 24 jam menunjukkan tingginya intensitas operasi militer di Yaman. Di sisi lain, Houthi juga terus melakukan serangan menggunakan drone dan rudal terhadap wilayah Saudi. Pertempuran darat antara Houthi dan pasukan pemerintah Yaman juga berlangsung di sejumlah front.

Dengan posisi Houthi yang semakin kuat di kawasan pesisir Laut Merah dan keterlibatan Saudi untuk mendukung pemerintah Yaman, konflik berpotensi terus menjadi persoalan keamanan regional. Namun, angka serangan, korban, dan kerusakan yang disampaikan masing-masing pihak masih perlu diverifikasi secara independen.

Kesimpulan

Kelompok Houthi mengklaim Arab Saudi melancarkan 26 serangan udara ke wilayah yang dikuasainya dalam 24 jam terakhir, sementara total serangan yang diklaim mencapai sekitar 300 kali dalam sepekan. Eskalasi tersebut berlangsung bersamaan dengan pertempuran sengit antara Houthi dan pasukan pemerintah Yaman yang didukung Saudi. Pemerintah Yaman mengklaim menewaskan 30 anggota Houthi di Taiz, sedangkan sumber militer dari kedua kubu melaporkan total 63 orang tewas dalam rangkaian pertempuran 24 jam.

Di luar medan perang, konflik ini mulai menimbulkan dampak yang lebih luas, mulai dari pengungsian lebih dari 100.000 warga Yaman hingga meningkatnya kekhawatiran terhadap keamanan pelayaran di Laut Merah dan Selat Bab el-Mandeb.

Untuk saat ini, klaim 26 serangan tersebut masih merupakan informasi dari pihak Houthi, sehingga jumlah dan lokasi seluruh serangan belum dapat dipastikan secara independen. Perkembangan berikutnya akan sangat bergantung pada apakah pertempuran Saudi-Houthi terus meningkat atau upaya diplomatik mampu meredakan eskalasi.

Posting Komentar untuk " Houthi Klaim Saudi Luncurkan 26 Kali Serangan ke Yaman 24 Jam Terakhir"