Indonesia Kembangkan BBM dari Batu Bara, China Sudah Lebih Dulu

Jakarta – Pemerintah Indonesia mulai membuka opsi baru untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak (BBM), yakni mengembangkan bahan bakar cair yang berasal dari batu bara. Wacana tersebut kembali mengemuka setelah Presiden Prabowo Subianto menyampaikan rencana mengolah batu bara menjadi bensin.

Teknologi yang memungkinkan batu bara diubah menjadi bahan bakar cair dikenal sebagai Coal-to-Liquid (CTL) atau pencairan batu bara. Teknologi ini sebenarnya bukan hal baru di dunia. China telah lebih dahulu mengembangkan industri pencairan batu bara dalam skala besar, termasuk melalui fasilitas China Shenhua yang telah mengoperasikan pabrik direct coal liquefaction (DCL) selama sekitar 15 tahun. Rencana Indonesia tersebut menjadi bagian dari agenda pemerintah untuk meningkatkan ketahanan energi sekaligus mengurangi kebutuhan impor BBM.

Prabowo Dorong Batu Bara Jadi Bensin

Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan rencana pengembangan bensin berbahan baku batu bara dalam acara Syukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor di Jawa Timur, Sabtu (19/9/2026). Prabowo mengatakan Indonesia perlu memanfaatkan sumber daya yang tersedia di dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan energi. Selain pengembangan bahan bakar berbasis sawit, pemerintah kini melihat batu bara sebagai salah satu sumber bahan baku yang dapat diolah menjadi bahan bakar cair.

Pengembangan tersebut sejalan dengan kebijakan pemerintah untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor BBM. Selama ini, kebutuhan BBM nasional masih sebagian dipenuhi dari pasokan impor. Pemerintah kemudian mendorong berbagai program substitusi impor, mulai dari pemanfaatan biodiesel, pengembangan biofuel, hingga teknologi pengolahan sumber daya mineral dan energi menjadi produk bernilai tambah.

Bagaimana Batu Bara Bisa Diubah Menjadi BBM?

Secara sederhana, teknologi Coal-to-Liquid mengubah batu bara menjadi hidrokarbon cair yang kemudian dapat diproses lebih lanjut menjadi produk bahan bakar. Ada dua pendekatan utama dalam teknologi pencairan batu bara, yaitu direct coal liquefaction (DCL) dan indirect coal liquefaction (ICL).

Pada DCL, struktur batu bara diubah secara langsung melalui proses kimia dengan bantuan tekanan, temperatur, katalis, dan hidrogen sehingga menghasilkan produk cair. Sementara pada ICL, batu bara terlebih dahulu digasifikasi menjadi gas sintesis atau syngas, yang terutama terdiri atas hidrogen dan karbon monoksida. Syngas kemudian diproses melalui sintesis kimia untuk menghasilkan hidrokarbon cair. Teknologi yang digunakan akan menentukan jenis produk, efisiensi energi, biaya produksi, serta karakteristik emisinya.

China Sudah Memproduksi BBM dari Batu Bara

China merupakan salah satu negara yang paling maju dalam pemanfaatan teknologi pencairan batu bara. Salah satu contohnya adalah fasilitas milik China Shenhua, yang menggunakan teknologi direct coal liquefaction. Studi ilmiah yang dipublikasikan di jurnal Fuel menyebut fasilitas industri tersebut memiliki kapasitas produk minyak sekitar 1 juta ton per tahun dan telah beroperasi selama sekitar 15 tahun.

Pengalaman China tersebut memberikan gambaran bahwa pengolahan batu bara menjadi bahan bakar cair dapat dilakukan dalam skala industri. Namun, keberhasilan teknologi tidak hanya bergantung pada keberadaan batu bara. Pengembangan CTL membutuhkan investasi besar, teknologi pengolahan yang kompleks, infrastruktur, pasokan hidrogen, serta pengendalian emisi.

Indonesia Memiliki Cadangan Batu Bara Besar

Rencana pengembangan BBM dari batu bara memiliki konteks tersendiri bagi Indonesia karena negara ini merupakan salah satu produsen batu bara besar dunia. Selama ini sebagian besar batu bara Indonesia digunakan untuk pembangkit listrik dan kebutuhan industri, sementara sebagian lainnya diekspor.

Pemerintah kini mendorong hilirisasi batu bara, sehingga komoditas tersebut tidak hanya dijual sebagai bahan mentah tetapi dapat diolah menjadi produk bernilai tambah lebih tinggi. Salah satu proyek yang sedang berjalan adalah gasifikasi batu bara di Kutai Timur, Kalimantan Timur. Proyek tersebut mengolah batu bara berkalori rendah menjadi metanol.

Proyek Gasifikasi Batu Bara di Kutai Timur

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada akhir Agustus 2026 meresmikan proyek strategis nasional gasifikasi batu bara menjadi metanol di kawasan Batuta Chemical Industrial Park (BCIP), Bengalon, Kutai Timur.

Proyek tersebut ditargetkan menghasilkan sekitar 2 juta ton metanol per tahun. Bahan bakunya berasal dari sekitar 7,70–7,78 juta ton batu bara berkalori sekitar 3.400 kcal/kg per tahun. Pemerintah memperkirakan proyek tersebut berpotensi menghemat devisa hingga Rp7,1 triliun per tahun, terutama karena Indonesia masih mengimpor metanol dalam jumlah besar.

Proyek ini ditargetkan memasuki tahap commissioning pada 2029. Meski produk utamanya bukan bensin, proyek tersebut menunjukkan arah pengembangan teknologi pengolahan batu bara di Indonesia menuju produk kimia dan bahan baku industri.

Batu Bara Tidak Langsung Menjadi Bensin

Penting untuk membedakan antara gasifikasi batu bara menjadi metanol dengan Coal-to-Liquid untuk menghasilkan bahan bakar cair. Keduanya sama-sama menggunakan batu bara sebagai bahan baku, tetapi jalur teknologinya berbeda.

Gasifikasi mengubah batu bara menjadi syngas yang kemudian dapat diproses menjadi metanol. Sementara CTL dirancang untuk menghasilkan hidrokarbon cair yang dapat diproses menjadi bahan bakar seperti diesel atau komponen bensin. Karena itu, proyek metanol yang sedang dibangun di Kutai Timur belum dapat disebut sebagai proyek produksi bensin dari batu bara.

Pemerintah Juga Kembangkan E50

Pengembangan bahan bakar dari batu bara muncul bersamaan dengan agenda pemerintah meningkatkan penggunaan bahan bakar nabati. Pada 17 September 2026, Presiden Prabowo memberikan arahan agar pemerintah mempelajari keberhasilan program B50 dan menyiapkan pengembangan E50.

E50 merupakan konsep campuran bensin dengan etanol hingga 50 persen. Program tersebut diarahkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap BBM fosil impor sekaligus meningkatkan pemanfaatan sumber energi domestik. Dengan demikian, strategi energi pemerintah tidak hanya bertumpu pada satu sumber. Batu bara, kelapa sawit, tebu dan sumber energi domestik lainnya dapat dikembangkan melalui jalur teknologi yang berbeda untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor energi.

Tantangan Utama: Biaya dan Emisi

Meski menawarkan peluang, pengembangan BBM dari batu bara juga menghadapi tantangan besar. Salah satunya adalah biaya produksi. Teknologi CTL membutuhkan fasilitas industri dengan investasi besar dan proses pengolahan yang kompleks.

Harga batu bara yang relatif murah tidak otomatis membuat BBM hasil CTL lebih murah daripada BBM berbasis minyak bumi. Perhitungan ekonominya sangat bergantung pada harga batu bara, harga minyak dunia, biaya teknologi, kebutuhan hidrogen, pembiayaan proyek dan skala produksi.

Selain itu, terdapat persoalan emisi karbon. Proses pencairan batu bara pada dasarnya merupakan proses yang intensif energi. Tanpa teknologi pengurangan dan penangkapan karbon, jejak emisi produksinya dapat menjadi tinggi. Karena itu, pengembangan teknologi CTL perlu mempertimbangkan penggunaan Carbon Capture and Storage (CCS) serta teknologi pengendalian emisi lainnya.

Indonesia Mulai Mengintegrasikan CCS

Dalam proyek gasifikasi batu bara di Kutai Timur, pemerintah menyebut fasilitas tersebut telah disiapkan dengan teknologi pengendalian emisi dan terintegrasi dengan Carbon Capture and Storage (CCS). Konsep serupa dapat menjadi penting apabila Indonesia nantinya mengembangkan pencairan batu bara dalam skala besar.

CCS memungkinkan karbon dioksida yang dihasilkan dalam proses industri ditangkap dan kemudian disimpan pada formasi geologi tertentu. Namun, penerapan CCS juga membutuhkan investasi, infrastruktur, lokasi penyimpanan yang sesuai, serta sistem pemantauan jangka panjang.

China Menjadi Contoh Teknologi, Bukan Sekadar Model Bisnis

Pengalaman China dapat menjadi referensi teknologi bagi Indonesia, tetapi kondisi kedua negara tidak sepenuhnya sama. China memiliki kebutuhan energi domestik yang sangat besar, cadangan batu bara, kapasitas industri kimia, serta pengalaman panjang dalam pengembangan teknologi pengolahan batu bara.

China Shenhua, misalnya, telah mengoperasikan fasilitas DCL berskala industri selama bertahun-tahun. Produk yang dihasilkan dari fasilitas tersebut juga telah menjadi objek penelitian ilmiah untuk mengetahui komposisi molekul minyak hasil pencairan batu bara. Indonesia perlu mempertimbangkan kondisi domestik sendiri sebelum mengadopsi teknologi serupa, termasuk keekonomian proyek, ketersediaan bahan baku, kebutuhan BBM, teknologi yang tersedia dan standar lingkungan.

Tujuan Utamanya Kurangi Impor BBM

Pemerintah menempatkan ketahanan energi sebagai salah satu alasan utama diversifikasi sumber bahan bakar. Perpres Nomor 26 Tahun 2026 tentang Pengadaan Minyak Bumi, BBM, dan LPG untuk Ketahanan Energi Nasional juga menunjukkan perhatian pemerintah terhadap ketersediaan pasokan energi dalam negeri. Regulasi tersebut mengatur pengadaan minyak bumi untuk kebutuhan kilang serta keandalan pasokan BBM dan LPG dari dalam maupun luar negeri.

Dalam konteks tersebut, kemampuan memproduksi bahan bakar dari sumber domestik dapat menjadi salah satu instrumen untuk mengurangi kebutuhan impor. Namun, realisasi manfaat tersebut sangat bergantung pada kemampuan pemerintah dan pelaku usaha membuat teknologi tersebut layak secara ekonomi dan memenuhi ketentuan lingkungan.

Masa Depan BBM Batu Bara di Indonesia

Rencana Presiden Prabowo mengembangkan bensin dari batu bara menunjukkan bahwa pemerintah mulai melihat teknologi CTL sebagai salah satu opsi dalam strategi ketahanan energi. Indonesia memang memiliki sumber daya batu bara yang besar. Namun, mengubah batu bara menjadi BBM membutuhkan teknologi yang jauh lebih kompleks dibandingkan sekadar menambang dan membakarnya.

China telah menunjukkan bahwa teknologi pencairan batu bara dapat diterapkan pada skala industri. Pengalaman fasilitas China Shenhua menjadi salah satu contoh paling konkret mengenai penerapan DCL selama bertahun-tahun. Sementara itu, Indonesia saat ini sedang membangun fondasi hilirisasi melalui proyek gasifikasi batu bara menjadi metanol di Kutai Timur dan mengembangkan berbagai alternatif bahan bakar domestik, termasuk E50.

Dengan demikian, rencana BBM dari batu bara belum sekadar soal mengubah batu bara menjadi bensin. Tantangan berikutnya adalah memastikan teknologi tersebut layak secara ekonomi, aman bagi lingkungan, mampu mengurangi impor, dan dapat dibangun dalam skala yang memenuhi kebutuhan energi nasional. Jika seluruh aspek tersebut dapat dipenuhi, teknologi CTL berpotensi menjadi salah satu bagian dari diversifikasi energi Indonesia. Namun, proses menuju produksi komersial tetap membutuhkan kajian teknologi, keekonomian, investasi, dan lingkungan yang matang.

Posting Komentar untuk " Indonesia Kembangkan BBM dari Batu Bara, China Sudah Lebih Dulu"