Kemenkes Deteksi Kasus Super Flu di RI, Ini Sebaran Wilayahnya

JAKARTA — Kementerian Kesehatan Republik Indonesia terus mengawasi perkembangan influenza di tanah air. Salah satu yang menarik perhatian adalah influenza A(H3N2) subclade K, yang baru-baru ini dikenal dengan sebutan “super flu”.

Menurut laporan pemantauan kasus influenza dan COVID-19 Kemenkes hingga 19 September 2026, influenza A(H3N2) subclade K sudah teridentifikasi di 13 provinsi di Indonesia. Temuan ini merupakan data kumulatif sejak Januari 2026 dan masih dapat mengalami perubahan seiring dengan pembaruan hasil pemeriksaan laboratorium.

Super Flu Terdeteksi di 13 Provinsi

Kemenkes melaporkan bahwa kasus influenza A(H3N2) subclade K tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Dua provinsi dengan jumlah kasus tertinggi adalah Jawa Timur dan Kalimantan Selatan.

Berikut ini adalah penyebaran kasus berdasarkan data kumulatif dari Januari 2026:

  • Jawa Timur: 18 kasus
  • Kalimantan Selatan: 18 kasus
  • Jawa Barat: 12 kasus
  • DKI Jakarta: 11 kasus
  • Sumatera Selatan: 5 kasus
  • Sumatera Utara: 3 kasus
  • Bali: 2 kasus
  • Nusa Tenggara Timur: 2 kasus
  • Nusa Tenggara Barat: 1 kasus
  • Sulawesi Utara: 1 kasus
  • Jawa Tengah: 1 kasus
  • Sulawesi Selatan: 1 kasus
  • DI Yogyakarta: 1 kasus.

Dengan demikian, data menunjukkan bahwa temuan tidak hanya terkonsentrasi di Pulau Jawa, tetapi juga telah terjadi di Sumatera, Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara, dan Sulawesi.

Jawa Timur dan Kalimantan Selatan Terbanyak

Dalam laporan terbaru dari Kemenkes, Jawa Timur dan Kalimantan Selatan masing-masing berkontribusi sekitar 24 persen terhadap total kasus H3N2 subclade K. Selanjutnya, DKI Jakarta berada di urutan berikutnya dengan proporsi sekitar 14,8 persen. Temuan ini menunjukkan bahwa pemantauan terhadap influenza terus diperlukan, khususnya di daerah yang memiliki mobilitas penduduk tinggi dan aktivitas masyarakat yang padat.

Walaupun demikian, jumlah kasus subclade K tidak bisa serta merta digunakan sebagai indikator bahwa suatu daerah tengah mengalami wabah besar. Data yang ada bersumber dari sistem pemantauan dan pemeriksaan spesimen, sehingga sangat bergantung pada kuantitas dan karakteristik sampel yang telah diuji.

Bagaimana Kondisi Influenza di Indonesia?

Laporan Kemenkes per 19 September 2026 menunjukkan adanya peningkatan jumlah spesimen positif influenza pada pekan ke-36. Dari total 185 spesimen yang diuji, 86 spesimen atau sekitar 46 persen terdeteksi positif influenza. Angka ini meningkat jika dibandingkan dengan proporsi 35 persen dari minggu sebelumnya.

Dari 86 spesimen yang positif, mayoritas adalah influenza A(H1N1pdm09), yang mencatatkan 76 kasus. Terdapat juga 8 kasus influenza A(H3N2) dan 2 kasus influenza B(Victoria). Dengan demikian, meskipun H3N2 subclade K menjadi sorotan, laporan terbaru menunjukkan bahwa H1N1pdm09 masih mendominasi dalam temuan influenza pada minggu tersebut.

Kemenkes juga menyatakan bahwa tingkat aktivitas influenza keseluruhan di Indonesia masih dalam kategori rendah dan sesuai dengan pola musiman influenza yang ada. Data dari beberapa minggu terakhir bersifat sementara dan dapat berubah setelah dilakukan pembaruan pemeriksaan.

Bukan Virus Baru

Istilah “super flu” dapat memberikan kesan bahwa subclade K adalah virus baru atau jauh lebih berbahaya dibandingkan dengan jenis influenza lainnya. Namun, Kemenkes menjelaskan bahwa H3N2 subclade K merupakan bagian dari kelompok influenza musiman, bukan virus baru yang tiba-tiba muncul.

Kemenkes sebelumnya menginformasikan bahwa subclade K telah terdeteksi di Indonesia melalui sistem pemantauan sentinel ILI-SARI sejak tahun 2025. Hasil analisis whole genome sequencing yang selesai pada akhir Desember 2025 mengonfirmasi keberadaan subclade ini di Indonesia. Kemenkes juga menekankan bahwa berdasarkan pengamatan yang dilakukan, subclade K tidak memberikan indikasi bahwa penyakit yang ditimbulkannya secara umum lebih parah dibandingkan influenza musiman lainnya.

Mengapa Disebut Super Flu?

Istilah “super flu” banyak digunakan dalam berita dan diskusi umum untuk merujuk pada H3N2 subclade K. Secara ilmiah, istilah tersebut bukanlah nama resmi dari virus. H3N2 sendiri adalah salah satu subtipe influenza A yang telah lama ada pada manusia. Subclade merujuk pada kelompok berdasarkan modifikasi genetik tertentu pada virus.

Influenza yang dapat mengalami perubahan genetik memerlukan pemantauan untuk mengenali varian atau subclade yang aktif serta untuk mengawasi karakteristiknya.

Anak Menjadi Salah Satu Kelompok yang Perlu Diperhatikan

Dalam laporan terbaru dari Kemenkes, 42 persen kasus influenza yang terdeteksi pada minggu ke-36 terjadi pada kelompok usia 0–4 tahun. Kondisi ini menjadi salah satu alasan pentingnya kewaspadaan terhadap gejala influenza pada anak-anak. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) juga mengingatkan orang tua agar tidak mengabaikan tanda-tanda influenza pada anak. Influenza pada beberapa anak dapat berkembang menjadi komplikasi, terutama jika terdapat faktor risiko tertentu.

Gejala influenza bisa meliputi demam, batuk, pilek, sakit tenggorokan, sakit kepala, nyeri otot, serta kelemahan fisik. Pada anak, gejala dapat disertai dengan menurunnya nafsu makan atau aktivitas.

Cara Mengurangi Risiko Penularan

Masyarakat dapat mengambil sejumlah tindakan sederhana untuk menekan risiko penularan influenza, terutama saat mengalami gejala pernapasan.

Beberapa tindakan yang dapat dilakukan mencakup:

  • memakai masker saat sakit atau berada di keramaian;
  • menutupi mulut dan hidung saat batuk atau bersin;
  • secara rutin mencuci tangan dengan sabun;
  • menghindari kontak dekat dengan orang lain saat sakit;
  • memastikan aliran udara di dalam ruangan cukup baik;
  • tidak berbagi barang pribadi dengan orang yang sakit; dan
  • segera berkonsultasi dengan tenaga medis jika gejala semakin memburuk.

Kelompok yang rentan, seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta individu dengan penyakit penyerta, memerlukan perhatian lebih jika mengalami gejala influenza.

Kemenkes Terus Memantau

Kemenkes mengumpulkan data mengenai influenza melalui pemeriksaan di 13 B/BLKM, sembilan rumah sakit, dan Laboratorium Biologi Kesehatan. Mengingat data dari beberapa minggu terakhir masih bersifat sementara, jumlah kasus dapat berubah seiring dengan masuknya hasil pemeriksaan yang terbaru.

Dengan ditemukannya H3N2 subclade K di 13 provinsi, pemerintah terus melaksanakan surveilans untuk memantau perkembangan influenza di Indonesia. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada tanpa harus panik. Istilah “super flu” merujuk pada influenza A(H3N2) subclade K, yang merupakan bagian dari influenza musiman. Di sisi lain, data terbaru dari Kemenkes menunjukkan bahwa aktivitas influenza nasional masih terklasifikasi dalam kategori rendah meskipun ada peningkatan proporsi spesimen positif pada pekan pemantauan terakhir.

Posting Komentar untuk " Kemenkes Deteksi Kasus Super Flu di RI, Ini Sebaran Wilayahnya"