Kisah Kepala Sekolah Selamatkan 900 Siswa dari Banjir Bandang Nepal

NEPAL — Keputusan cepat seorang kepala sekolah di Nepal menjadi penyelamat bagi ratusan nyawa ketika banjir bandang menerjang wilayah Lembah Trishuli pada Rabu, 26 Agustus 2026. Rajendra Dawadi, Kepala Sekolah Menengah Tribhuvan Trishuli di Bidur, Nuwakot, berhasil mengevakuasi sedikitnya 900 siswa dan 16 anggota staf hanya beberapa menit sebelum sekolah mereka dihantam banjir dahsyat.

Bencana tersebut terjadi setelah keruntuhan gletser di kawasan Himalaya memicu aliran air, lumpur, batu, dan puing dalam jumlah besar. Gelombang banjir kemudian menerjang kawasan di sepanjang Lembah Trishuli dan menghancurkan berbagai infrastruktur, termasuk sekolah tempat Dawadi bekerja sekaligus pernah menempuh pendidikan.

Mendapat Peringatan Hanya 14 Menit Sebelum Banjir

Dawadi ketika itu berada di sekolah saat peringatan mengenai datangnya banjir mulai diterima. Akuntan sekolah menerima telepon dari kerabat di Rasuwa, wilayah yang berada di bagian hulu dan lebih dulu terdampak banjir. Peringatan tersebut kemudian diteruskan kepada pihak sekolah. Dalam waktu singkat, sejumlah panggilan telepon lain masuk. Informasi yang diterima semakin memperkuat dugaan bahwa gelombang banjir sedang bergerak menuju kawasan sekolah.

Dawadi akhirnya mengambil keputusan tanpa menunggu kepastian lebih lanjut. Ia memerintahkan kegiatan belajar dihentikan dan membunyikan bel sekolah sebagai tanda agar seluruh siswa segera meninggalkan gedung. Waktu yang tersedia sangat terbatas. Menurut laporan Reuters, sekolah hanya memiliki sekitar 14 menit untuk melakukan evakuasi sebelum air bah mencapai kawasan tersebut.

Ratusan Siswa Berlari ke Tempat Lebih Tinggi

Sekolah Menengah Tribhuvan Trishuli memiliki sekitar 1.643 siswa. Pada saat peringatan datang, lebih dari 900 siswa sudah berada di lingkungan sekolah, sementara siswa lainnya masih dalam perjalanan. Dawadi tidak hanya meminta siswa yang sudah berada di sekolah untuk menyelamatkan diri. Ia juga menghubungi pengemudi bus yang sedang menuju sekolah dan meminta mereka membatalkan perjalanan serta mengarahkan kendaraan ke tempat yang lebih aman.

Situasi di sekolah pun berubah menjadi kepanikan. Para siswa berusaha meninggalkan gedung secepat mungkin. Sebagian dijemput orang tua menggunakan sepeda motor, sementara lainnya melarikan diri menggunakan bus atau berjalan kaki menuju tempat yang lebih tinggi. Salah satu bus yang sudah membawa siswa bahkan telah tiba di sekolah. Dawadi meminta kendaraan tersebut segera berbalik.

Keputusan itu menjadi sangat penting. Bus tersebut sempat melewati sebuah jembatan baru. Tidak lama kemudian, jembatan lama yang berada di dekatnya runtuh diterjang banjir.

Sekolah yang Pernah Menjadi Tempat Belajarnya Hancur

Dawadi bukan orang asing bagi sekolah tersebut. Sebelum menjadi kepala sekolah dan mengajar di sana, ia merupakan salah satu siswa di Tribhuvan Trishuli Secondary School. Sekolah tersebut juga memiliki sejarah panjang menghadapi bencana. Bangunannya pernah dibangun kembali setelah gempa besar Nepal pada 2015 yang menewaskan sekitar 9.000 orang.

Namun, bangunan sekolah itu kembali menghadapi kehancuran akibat bencana kali ini. Setelah para siswa berhasil mencapai tempat yang lebih aman, Dawadi menyaksikan dari kejauhan bagaimana sekolah tersebut dihantam aliran air bercampur lumpur dan material besar. Bangunan sekolah akhirnya hancur sepenuhnya dan lokasi yang sebelumnya menjadi kompleks pendidikan tersebut kemudian berada di dalam aliran sungai.

Bagi Dawadi, kehancuran tersebut memiliki makna emosional yang sangat besar. Tempat itu merupakan lokasi ia mendapatkan pendidikan sekaligus tempat ia kemudian mengabdikan diri sebagai pendidik.

Disebut Pahlawan, Dawadi Menganggapnya Tanggung Jawab

Keputusan Dawadi mendapat apresiasi dari para orang tua siswa. Banyak orang tua menilai tindakan cepat sang kepala sekolah telah menyelamatkan anak-anak mereka dari situasi yang kemungkinan besar berakibat fatal.

Namun, Dawadi sendiri tidak ingin terlalu menonjolkan dirinya sebagai pahlawan. Baginya, menyelamatkan siswa merupakan bagian dari tanggung jawab sebagai kepala sekolah. Dalam kondisi darurat, ia memilih mengambil risiko melakukan evakuasi meskipun belum ada kepastian mutlak bahwa banjir akan mencapai sekolah.

Pertimbangannya sederhana: apabila ternyata banjir tidak sampai ke sekolah, konsekuensinya paling besar adalah kegiatan belajar kehilangan satu hari. Sebaliknya, jika peringatan tersebut benar dan sekolah tetap bertahan di lokasi, nyawa ratusan siswa bisa terancam.

Dua Anggota Staf Masih Hilang

Evakuasi sekolah memang menyelamatkan sekitar 900 siswa dan sebagian besar staf. Namun, tragedi tersebut tetap meninggalkan duka. Sedikitnya dua anggota staf sekolah dilaporkan masih hilang. Salah satunya berkaitan dengan akuntan sekolah yang sebelumnya menerima peringatan banjir dari kerabatnya.

Setelah memberikan informasi kepada sekolah, akuntan tersebut bergegas pulang untuk menyelamatkan keluarganya. Ia berhasil membawa ayahnya ke tempat yang lebih tinggi, tetapi ketika kembali untuk menyelamatkan ibunya, rumah mereka telah tersapu banjir. Kisah tersebut memperlihatkan betapa cepat dan dahsyatnya bencana terjadi. Bahkan orang-orang yang sudah mengetahui adanya ancaman tetap hanya memiliki waktu sangat singkat untuk menyelamatkan diri dan keluarganya.

Banjir Menghancurkan Banyak Wilayah

Banjir bandang dan longsor yang melanda wilayah Nepal dan kawasan Tibet tersebut menimbulkan kerusakan sangat luas. Laporan terbaru Reuters pada 3 September menyebut korban meninggal di Nepal telah mencapai sedikitnya 1.252 orang, sementara lebih dari 4.200 orang masih hilang. Sekitar 20.000 rumah dilaporkan hancur atau tidak lagi layak dihuni.

Bencana juga berdampak besar terhadap sektor pendidikan. Associated Press melaporkan sedikitnya 69 sekolah di Nepal bagian utara hancur, sehingga pendidikan hampir 19.000 siswa terdampak. Anak-anak di wilayah bencana kini menghadapi kemungkinan harus belajar di lokasi sementara sembari menunggu pembangunan kembali sekolah. Kondisi tersebut membuat penyelamatan 900 siswa di sekolah Dawadi menjadi salah satu kisah positif di tengah bencana yang menelan begitu banyak korban.

Minta Sekolah Dibangun di Lokasi Lebih Aman

Setelah sekolahnya hancur, Dawadi kini memiliki perhatian baru: memastikan para siswa dapat kembali belajar. Ia mendorong pemerintah Nepal agar segera membangun kembali sekolah, tetapi tidak di lokasi lama yang berada di antara Sungai Trishuli dan kanal pembangkit listrik tenaga air. Posisi sekolah sebelumnya memang membuat bangunan sangat rentan apabila terjadi banjir besar. Karena itu, pembangunan kembali di lokasi yang lebih aman dinilai penting untuk mencegah tragedi serupa terjadi di kemudian hari.

Selain pembangunan fisik, para siswa juga membutuhkan dukungan psikologis. Mereka tidak hanya kehilangan sekolah, tetapi juga menyaksikan langsung kehancuran lingkungan tempat mereka belajar serta kehilangan atau terpisah dari orang-orang terdekat. Dawadi menilai kegiatan belajar perlu kembali berjalan sesegera mungkin, meski untuk sementara harus dilakukan di lokasi lain.

Kisah yang Menunjukkan Pentingnya Peringatan Dini

Peristiwa di Tribhuvan Trishuli Secondary School menjadi contoh betapa pentingnya peringatan dini dan kecepatan pengambilan keputusan dalam menghadapi bencana hidrometeorologi. Dawadi tidak memiliki waktu berjam-jam untuk menyusun rencana evakuasi. Ia hanya mendapat waktu sekitar 14 menit setelah peringatan diterima. Keputusan membunyikan bel, menghentikan kegiatan belajar, mengarahkan siswa ke tempat tinggi, dan meminta bus yang menuju sekolah untuk berbalik menjadi rangkaian tindakan yang menentukan keselamatan ratusan anak.

Jika keputusan tersebut terlambat beberapa menit saja, situasinya kemungkinan akan jauh berbeda. Kini, sekolah yang dahulu menjadi tempat Dawadi belajar dan mengajar telah hilang diterjang banjir. Namun, ratusan siswanya tetap hidup dan memiliki kesempatan untuk kembali melanjutkan pendidikan. Di tengah bencana besar yang melanda Nepal, kisah Rajendra Dawadi menjadi pengingat bahwa informasi yang cepat, keberanian mengambil keputusan, dan kesiapan melakukan evakuasi dapat menjadi pembeda antara keselamatan dan tragedi.

Posting Komentar untuk " Kisah Kepala Sekolah Selamatkan 900 Siswa dari Banjir Bandang Nepal"