Mengapa Iran Bekingi Banyak Milisi di Timur Tengah Termasuk Houthi?
Jakarta – Iran selama puluhan tahun membangun jaringan hubungan dengan berbagai kelompok bersenjata dan aktor non-negara di Timur Tengah. Jaringan tersebut mencakup Hezbollah di Lebanon, kelompok bersenjata yang berafiliasi dengan Iran di Irak, kelompok-kelompok Palestina seperti Hamas dan Jihad Islam, hingga Houthi di Yaman.
Jaringan itu kerap disebut sebagai “Axis of Resistance” atau Poros Perlawanan. Namun, istilah tersebut tidak berarti seluruh kelompok di dalamnya berada di bawah komando langsung Iran. Tingkat hubungan dan ketergantungan masing-masing kelompok berbeda-beda.
Menurut Middle East Institute, jaringan tersebut merupakan kelompok bersenjata dan aktor negara yang memiliki hubungan dengan Iran untuk memperluas pengaruh politik serta kemampuan militernya di Timur Tengah. Hezbollah memiliki hubungan yang sangat erat dengan Tehran, sementara Houthi lebih tepat dipahami sebagai sekutu yang memiliki kepentingan yang bertemu dengan Iran di sejumlah isu.
Lantas, mengapa Iran membangun dan mempertahankan jaringan tersebut?
Berawal dari Revolusi Iran 1979
Untuk memahami strategi Iran, sejarah Revolusi Islam 1979 menjadi salah satu titik penting. Setelah revolusi, Republik Islam Iran mengambil posisi yang berseberangan dengan Amerika Serikat dan Israel. Tehran kemudian berusaha memperluas pengaruhnya sekaligus membangun kelompok-kelompok yang memiliki kepentingan serupa di kawasan.
Strategi tersebut berkembang melalui Korps Garda Revolusi Islam atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), khususnya unit Quds Force yang bertanggung jawab atas operasi di luar negeri. Iran tidak hanya mengandalkan kekuatan militer konvensional. Negara tersebut membangun hubungan dengan kelompok bersenjata lokal yang memiliki basis masyarakat dan kepentingan sendiri.
Model ini memberikan Tehran cara untuk mempertahankan pengaruh di berbagai negara tanpa harus menempatkan pasukan Iran dalam jumlah besar secara terbuka.
Mengapa Iran Membutuhkan Kelompok Bersahabat?
Salah satu alasan utama adalah geografi dan posisi strategis Iran. Iran berada di kawasan yang dikelilingi rival dan kepentingan militer Amerika Serikat. Selama bertahun-tahun, AS memiliki pangkalan militer dan hubungan keamanan dengan sejumlah negara di Timur Tengah.
Israel juga menjadi salah satu lawan utama Iran. Dengan membangun hubungan dengan kelompok bersenjata di Lebanon, Irak, Suriah, Yaman, dan wilayah Palestina, Iran dapat memiliki jaringan pengaruh yang tersebar di sekitar kawasan. Council on Foreign Relations mencatat bahwa Quds Force selama bertahun-tahun memberikan bantuan militer kepada sejumlah kelompok di kawasan, termasuk persenjataan, pelatihan, serta dukungan teknologi. Strategi ini membuat ancaman terhadap Iran tidak hanya harus diperhitungkan dari wilayah Iran sendiri.
Konsep “Pertahanan di Depan Pintu”
Strategi tersebut sering dipahami sebagai bentuk forward defence atau pertahanan di luar wilayah Iran. Logikanya sederhana: jika Iran menghadapi ancaman dari Amerika Serikat atau Israel, Tehran ingin memiliki mitra yang dapat memberikan tekanan dari berbagai arah.
Hezbollah berada di Lebanon, berdekatan dengan Israel. Kelompok bersenjata yang didukung Iran berada di Irak dan Suriah. Houthi berada di Yaman, dekat Laut Merah dan Bab el-Mandeb. Jaringan tersebut membuat konflik dengan Iran berpotensi memiliki dimensi regional.
Analisis terbaru mengenai jaringan tersebut menyebut kelompok-kelompok ini pada awalnya juga diposisikan sebagai faktor pencegah agar AS dan Israel mempertimbangkan konsekuensi lebih luas sebelum menyerang Iran. Namun, perang beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa strategi pencegahan tersebut memiliki keterbatasan.
Houthi Berbeda dari Hezbollah
Houthi sering disebut sebagai “proxy Iran”. Namun, hubungan keduanya tidak sepenuhnya sama dengan hubungan Iran dan Hezbollah. Houthi atau Ansar Allah merupakan gerakan yang berasal dari Yaman. Kelompok tersebut berakar pada komunitas Zaydi Syiah di Yaman utara dan memiliki sejarah politik serta konflik domestik yang panjang sebelum hubungannya dengan Iran berkembang.
Council on Foreign Relations menyebut Houthi lebih tepat digambarkan sebagai mitra informal Iran. Kelompok tersebut memiliki kepentingan sendiri dan tidak didirikan oleh Iran seperti Hezbollah. Hubungan Iran-Houthi berkembang seiring perubahan politik dan konflik di Yaman.
Houthi merebut Sanaa pada 2014, sementara intervensi militer Arab Saudi kemudian membuat konflik Yaman semakin terinternasionalisasi. Dalam situasi tersebut, hubungan dengan Iran menjadi semakin penting bagi Houthi.
Apa yang Diberikan Iran kepada Houthi?
Dukungan Iran kepada Houthi terutama berkaitan dengan kemampuan militer. CFR menyebut Iran sebagai penyokong utama Houthi yang memberikan bantuan keamanan berupa transfer senjata, pelatihan, serta dukungan intelijen. Bantuan tersebut membantu Houthi mengembangkan kemampuan rudal dan drone.
Laporan Reuters pada September 2026 juga menyebut kemampuan Houthi berkembang dari kelompok bersenjata lokal menjadi kekuatan regional yang memiliki rudal dan drone dengan jangkauan jauh. Reuters melaporkan bahwa panel ahli PBB menemukan bukti adanya penyelundupan berbagai komponen persenjataan, termasuk komponen rudal, mesin drone, perangkat navigasi dan teknologi lainnya. Iran secara resmi membantah memasok senjata kepada Houthi dengan melanggar embargo senjata PBB. Dengan kemampuan tersebut, Houthi dapat memberikan tekanan di kawasan yang jauh dari Iran.
Laut Merah Membuat Houthi Sangat Strategis
Posisi geografis Yaman menjadi salah satu alasan hubungan dengan Houthi memiliki nilai strategis bagi Iran. Yaman berada dekat Bab el-Mandeb, salah satu jalur laut penting yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.
Ketika Houthi menyerang kapal di Laut Merah, dampaknya tidak hanya dirasakan Yaman atau negara-negara Timur Tengah. Gangguan terhadap pelayaran dapat memengaruhi rantai pasok dan perdagangan internasional. Reuters melaporkan pada September 2026 bahwa Houthi telah berkembang menjadi aktor regional yang mampu mengancam pelayaran serta fasilitas energi di kawasan.
Bagi Iran, keberadaan kelompok yang memiliki kemampuan menyerang di sekitar jalur tersebut memberikan pengaruh strategis tambahan.
Iran Mendapat “Jarak” dari Konflik
Keuntungan lain dari hubungan dengan kelompok non-negara adalah Iran tidak selalu harus tampil sebagai pelaku langsung. Kelompok-kelompok tersebut mempunyai struktur komando sendiri dan dapat mengklaim serangan atau operasi atas nama organisasi mereka.
Dalam kajian mengenai dukungan Iran terhadap Houthi, CFR menyebut hubungan dengan kelompok bersenjata juga dapat memberikan Tehran plausible deniability, yakni ruang untuk menyangkal keterlibatan langsung dalam tindakan tertentu. Namun, konsep tersebut tidak berarti Iran selalu dapat mengendalikan tindakan setiap kelompok. Justru salah satu karakteristik jaringan Iran adalah tingkat independensi yang berbeda-beda.
Iran Tidak Selalu Mengendalikan Mereka
Istilah “proxy” sering membuat hubungan Iran dengan kelompok-kelompok tersebut terlihat seperti hubungan komando militer langsung. Kenyataannya lebih kompleks. Middle East Institute menjelaskan bahwa tingkat pengaruh Tehran berbeda di setiap kelompok. Hezbollah memiliki koordinasi yang jauh lebih dekat dengan Iran, sedangkan Houthi lebih merupakan sekutu dengan kepentingan yang bertemu pada sejumlah isu.
Kelompok-kelompok tersebut juga memiliki agenda domestik. Houthi mempunyai kepentingan dalam politik Yaman. Hezbollah memiliki posisi politik dan sosial yang kuat di Lebanon. Kelompok bersenjata Irak beroperasi dalam lingkungan politik Irak. Karena itu, tindakan mereka tidak selalu dapat dijelaskan semata-mata sebagai perintah Iran.
Hezbollah Menjadi Contoh Paling Dekat
Jika ingin melihat kelompok yang hubungan historisnya paling dekat dengan Iran, Hezbollah menjadi contoh penting. Kelompok tersebut muncul selama perang saudara Lebanon dan berkembang setelah invasi Israel ke Lebanon pada 1982. Iran melalui IRGC memberikan bantuan dana dan pelatihan kepada kelompok tersebut. Hubungan tersebut kemudian berkembang menjadi aliansi strategis jangka panjang.
Hezbollah akhirnya tidak hanya menjadi kelompok bersenjata, tetapi juga aktor politik dan sosial di Lebanon. Bagi Iran, keberadaan Hezbollah memberikan kemampuan untuk memberikan tekanan terhadap Israel dari wilayah Lebanon.
Namun, konflik dan serangan beberapa tahun terakhir juga membuat kemampuan Hezbollah mengalami kerusakan besar. CFR mencatat bahwa kampanye militer Israel pada 2024 secara signifikan melemahkan organisasi tersebut.
Irak Juga Menjadi Bagian Penting
Irak merupakan bagian lain dari jaringan Iran. Setelah invasi Amerika Serikat pada 2003 dan jatuhnya pemerintahan Saddam Hussein, struktur politik dan keamanan Irak mengalami perubahan besar. Sejumlah kelompok bersenjata Syiah berkembang dan sebagian memiliki hubungan erat dengan Iran. Kelompok-kelompok tersebut kemudian menjadi bagian penting dalam perang melawan ISIS. Pada saat yang sama, beberapa milisi mempertahankan hubungan militer dan politik dengan Tehran.
Dalam konflik terbaru antara AS, Israel, dan Iran, sejumlah milisi Irak yang didukung Iran juga menyatakan dukungan terhadap Tehran dan melancarkan serangan menggunakan drone terhadap sasaran yang mereka anggap terkait dengan lawan Iran.
Ideologi dan Kepentingan Geopolitik Bertemu
Dukungan Iran terhadap jaringan kelompok tersebut tidak hanya didasarkan pada agama. Ada faktor ideologi, tetapi juga kepentingan geopolitik, keamanan, dan strategi regional. Iran dan sejumlah kelompok tersebut sama-sama menentang kehadiran militer Amerika Serikat di kawasan serta menolak keberadaan Israel dalam bentuk yang mereka perjuangkan.
Namun, setiap kelompok memiliki sejarah dan agenda lokal masing-masing. Middle East Institute mencatat bahwa anggota Axis of Resistance memiliki beberapa tujuan bersama, antara lain menentang pengaruh AS di Timur Tengah, menentang Israel, dan mendukung perjuangan Palestina.
Apakah Strategi Iran Selalu Berhasil?
Tidak. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah kelompok yang menjadi bagian dari jaringan Iran mengalami tekanan militer yang sangat besar. Hezbollah melemah akibat konflik dengan Israel. Hamas mengalami kerusakan besar akibat perang di Gaza. Kehadiran Iran di Suriah juga berubah setelah perkembangan politik dan militer di negara tersebut.
Analisis Belfer Center pada 2026 menyebut model dukungan Iran terhadap kelompok bersenjata telah mengalami degradasi struktural, meskipun jaringan tersebut belum hilang. Di sisi lain, Houthi menunjukkan bahwa sebagian jaringan tersebut masih memiliki kemampuan untuk memberikan dampak besar.
Kelompok tersebut bahkan mampu menggunakan rudal dan drone untuk mengancam pelayaran di Laut Merah dan membuat konflik yang awalnya bersifat lokal menjadi persoalan internasional.
Mengapa Iran Tetap Mempertahankannya?
Bagi Tehran, jaringan tersebut memiliki beberapa fungsi sekaligus. Pertama, memperluas pengaruh Iran tanpa harus mengerahkan pasukan konvensional dalam jumlah besar. Kedua, menciptakan tekanan terhadap lawan dari berbagai arah. Ketiga, meningkatkan kemampuan pencegahan terhadap kemungkinan serangan langsung.
Keempat, membantu Iran mempertahankan posisi dalam konflik regional. Kelima, jaringan tersebut memberikan Iran mitra yang mempunyai basis lokal dan kemampuan militer di negara-negara yang secara geografis jauh dari Iran. Dengan demikian, dukungan terhadap kelompok-kelompok tersebut merupakan bagian dari strategi keamanan dan politik luar negeri Iran yang telah berkembang selama beberapa dekade.
Apa Dampaknya bagi Timur Tengah?
Strategi tersebut membuat konflik yang melibatkan Iran sulit dipisahkan dari dinamika negara-negara lain. Serangan terhadap Iran dapat memicu respons dari kelompok yang memiliki hubungan dengan Tehran. Sebaliknya, serangan oleh kelompok-kelompok tersebut dapat memicu respons dari Amerika Serikat, Israel, atau negara-negara regional.
Akibatnya, satu konflik dapat dengan cepat membuka beberapa front sekaligus. Houthi merupakan contoh paling jelas karena aktivitas mereka di Laut Merah dapat berdampak pada perdagangan internasional. Sementara Hezbollah membuat perkembangan di Iran memiliki konsekuensi langsung terhadap keamanan Israel dan Lebanon.
Kesimpulan
Iran membangun hubungan dengan banyak kelompok bersenjata di Timur Tengah bukan semata-mata karena faktor agama. Strateginya merupakan kombinasi kepentingan keamanan, geopolitik, ideologi, dan upaya memperluas pengaruh regional. Jaringan tersebut sering disebut Axis of Resistance, tetapi hubungan Iran dengan masing-masing kelompok tidak seragam. Hezbollah merupakan salah satu mitra Iran yang paling dekat, sementara Houthi mempunyai sejarah lokal dan agenda sendiri meskipun menerima dukungan penting dari Tehran.
Bagi Iran, jaringan ini memberikan kemampuan untuk menghadapi lawan melalui berbagai titik tanpa selalu melakukan konfrontasi langsung. Bagi kelompok-kelompok tersebut, hubungan dengan Iran memberikan akses terhadap persenjataan, teknologi, pelatihan, dan dukungan strategis.
Namun, strategi ini juga membawa risiko besar. Kelompok-kelompok tersebut dapat menarik negara tempat mereka beroperasi ke dalam konflik regional, sementara Iran sendiri dapat menghadapi tekanan diplomatik dan militer akibat hubungan tersebut. Perkembangan terbaru menunjukkan bahwa meskipun sebagian jaringan Iran mengalami pelemahan, model tersebut belum sepenuhnya berakhir. Houthi khususnya masih memiliki kemampuan untuk memengaruhi keamanan Laut Merah, sementara kelompok-kelompok bersenjata di Irak dan Lebanon tetap menjadi faktor penting dalam perhitungan keamanan Timur Tengah.

Posting Komentar untuk " Mengapa Iran Bekingi Banyak Milisi di Timur Tengah Termasuk Houthi?"