Paha Besar Jadi Jaminan Umur Panjang, Memangnya Iya? Ini Kata Ahli

JAKARTA – Anggapan bahwa orang dengan paha besar memiliki peluang hidup lebih panjang belakangan ramai diperbincangkan. Klaim tersebut bukan sepenuhnya muncul tanpa dasar karena sejumlah penelitian memang menemukan hubungan antara lingkar paha yang lebih besar dan risiko kematian yang lebih rendah.

Namun, apakah itu berarti semakin besar paha seseorang, semakin panjang pula umurnya? Jawabannya tidak sesederhana itu. Ahli menegaskan bahwa ukuran paha tidak bisa dijadikan jaminan seseorang akan berumur panjang. Faktor yang jauh lebih penting adalah komposisi paha, terutama massa otot, kebugaran, aktivitas fisik, kondisi metabolik, serta distribusi lemak tubuh.

Dari Mana Muncul Anggapan Paha Besar Bikin Panjang Umur?

Mitos tersebut berawal dari hasil penelitian yang mengamati hubungan antara ukuran paha dan risiko penyakit kardiovaskular serta kematian. Salah satu penelitian kohort yang diterbitkan di British Medical Journal (BMJ) menemukan bahwa orang dengan lingkar paha yang sangat kecil memiliki risiko lebih tinggi mengalami penyakit jantung dan kematian dini.

Penelitian tersebut melibatkan lebih dari 2.800 orang dewasa dan melakukan pemantauan selama bertahun-tahun. Hasilnya menunjukkan adanya hubungan antara lingkar paha yang kecil dengan peningkatan risiko penyakit jantung koroner dan kematian secara keseluruhan. Menariknya, penelitian itu juga menemukan adanya ambang tertentu. Risiko terlihat meningkat ketika lingkar paha berada di bawah kisaran sekitar 60 cm. Setelah melewati ambang tersebut, paha yang semakin besar tidak menunjukkan tambahan manfaat perlindungan yang jelas.

Artinya, hasil penelitian tersebut tidak dapat diterjemahkan menjadi "semakin besar paha, semakin panjang umur."

Paha Kecil Justru Bisa Menjadi Penanda Risiko

Menurut dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, dr Yunita Aryani, ukuran paha yang terlalu kecil memang dapat menjadi penanda kondisi tertentu yang perlu diperhatikan. Paha yang sangat kecil dapat berkaitan dengan rendahnya massa otot atau status gizi yang kurang baik. Kondisi tersebut dapat menjadi salah satu indikator bahwa seseorang memiliki cadangan otot yang rendah.

Namun, dr Yunita menegaskan bahwa hal tersebut tidak berarti paha harus dibuat sebesar mungkin. Dengan kata lain, yang perlu diperhatikan bukan sekadar ukuran lingkar paha, melainkan apa yang membuat paha tersebut berukuran besar.

Besar karena Otot Berbeda dengan Besar karena Lemak

Paha terdiri dari beberapa komponen, termasuk tulang, otot, jaringan lemak, cairan, serta jaringan lainnya. Karena itu, dua orang dengan lingkar paha yang sama belum tentu memiliki kondisi kesehatan yang sama. Seseorang dapat memiliki paha besar karena memiliki massa otot yang baik. Orang lain bisa mempunyai ukuran paha yang besar karena akumulasi lemak.

Perbedaan komposisi tersebut penting ketika menilai kesehatan. Otot paha termasuk kelompok otot besar yang berperan dalam berbagai aktivitas sehari-hari. Otot-otot tersebut membantu gerakan pinggul dan lutut, menopang berat badan, serta berkontribusi terhadap keseimbangan tubuh.

Karena itu, paha yang kuat dan berfungsi baik lebih bermakna secara kesehatan dibandingkan sekadar paha berukuran besar.

Mengapa Massa Otot Penting?

Massa otot tidak hanya berfungsi untuk membuat tubuh kuat. Otot rangka juga berperan dalam metabolisme tubuh. Otot menggunakan glukosa sebagai sumber energi sehingga massa otot yang baik dapat membantu pengaturan gula darah dan sensitivitas insulin.

Inilah salah satu alasan mengapa mempertahankan massa otot menjadi penting, terutama ketika seseorang memasuki usia lanjut. Kehilangan massa dan kekuatan otot seiring bertambahnya usia dapat memengaruhi kemampuan seseorang berjalan, berdiri, menaiki tangga, menjaga keseimbangan, dan melakukan aktivitas sehari-hari.

Karena itu, ukuran paha dapat memberikan sedikit gambaran mengenai kondisi otot, tetapi tidak cukup untuk digunakan sebagai satu-satunya indikator kesehatan.

Lemak di Paha Tidak Sama dengan Lemak di Perut

Distribusi lemak tubuh juga menjadi faktor penting. Lemak subkutan yang berada di bawah kulit, termasuk di area paha, memiliki karakteristik berbeda dari lemak visceral yang menumpuk di sekitar organ-organ dalam perut. Lemak visceral diketahui berkaitan erat dengan berbagai gangguan metabolik dan penyakit kardiovaskular.

Sebaliknya, beberapa penelitian menemukan bahwa ukuran paha yang lebih besar dapat berkaitan dengan profil metabolik dan tekanan darah yang lebih baik pada kelompok tertentu. Salah satu penelitian pada orang dengan kelebihan berat badan dan obesitas menemukan bahwa lingkar paha yang lebih besar berkaitan dengan tekanan darah yang lebih rendah dan risiko penyakit jantung yang lebih rendah.

Tetapi sekali lagi, hubungan tersebut bukan bukti bahwa memperbesar paha secara otomatis membuat seseorang panjang umur.

Studi Lain Juga Menemukan Hubungan Serupa

Penelitian lain terhadap populasi orang dewasa di Amerika Serikat juga menemukan adanya hubungan antara lingkar paha dan risiko kematian. Analisis tersebut menemukan hubungan antara lingkar paha dengan kematian akibat berbagai penyebab maupun penyakit kardiovaskular setelah memperhitungkan sejumlah faktor seperti usia, jenis kelamin, indeks massa tubuh, lingkar pinggang, aktivitas fisik, kolesterol, kebiasaan merokok, diabetes, hipertensi, dan penyakit kardiovaskular.

Ada pula penelitian yang menemukan hubungan antara ukuran paha yang lebih besar dengan risiko kematian yang lebih rendah. Namun, penelitian-penelitian semacam ini umumnya bersifat observasional. Artinya, penelitian menunjukkan adanya hubungan atau korelasi, bukan membuktikan bahwa ukuran paha secara langsung menyebabkan seseorang hidup lebih lama.

Jadi, Apakah Paha Besar Menjamin Umur Panjang?

Tidak. Inilah poin paling penting yang perlu dipahami. Menurut dr Yunita, paha besar bukan jaminan umur panjang. Ukuran paha yang terlalu kecil memang dapat menjadi salah satu penanda risiko kesehatan, tetapi membesarkan paha tanpa memperhatikan komposisi tubuh juga bukan strategi untuk memperpanjang usia.

Penelitian BMJ bahkan menunjukkan adanya efek ambang. Setelah ukuran paha melewati batas tertentu, tambahan ukuran tidak memberikan manfaat perlindungan yang semakin besar. Jadi, bukan berarti seseorang harus mengejar ukuran paha tertentu demi mendapatkan umur panjang.

Jangan Terjebak Angka 60 Sentimeter

Angka sekitar 60–62 cm sering muncul dalam pembahasan mengenai hubungan lingkar paha dan risiko kematian. Dalam penelitian BMJ, risiko kematian dini terlihat meningkat pada ukuran paha yang sangat kecil, dengan ambang sekitar 60 cm. Analisis penelitian tersebut juga menemukan titik sekitar 62 cm untuk risiko kematian total.

Namun, angka tersebut bukan standar kesehatan universal. Ukuran paha seseorang dipengaruhi oleh jenis kelamin, tinggi badan, usia, genetik, komposisi tubuh, aktivitas fisik, dan faktor lainnya. Karena itu, tidak tepat menyimpulkan bahwa setiap orang harus mempunyai lingkar paha minimal 60 atau 62 cm agar sehat dan panjang umur.

Yang Lebih Penting daripada Lingkar Paha

Jika ingin menjaga kesehatan dan meningkatkan peluang hidup sehat hingga usia lanjut, perhatian sebaiknya tidak hanya diberikan pada ukuran tubuh.

Beberapa hal yang jauh lebih penting antara lain:

  • Mempertahankan massa dan kekuatan otot, terutama otot tubuh bagian bawah.
  • Berolahraga secara rutin, termasuk latihan kekuatan.
  • Tetap aktif bergerak dalam aktivitas sehari-hari.
  • Menjaga pola makan dengan asupan protein dan zat gizi yang cukup.
  • Mengontrol tekanan darah, gula darah, dan kadar kolesterol.
  • Menjaga berat badan dan terutama lingkar pinggang dalam rentang sehat.
  • Tidak merokok.
  • Tidur cukup dan menjaga kualitas tidur.
  • Melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.

Dengan demikian, membangun otot paha melalui latihan seperti squat, lunges, naik tangga, atau latihan kekuatan lainnya dapat menjadi bagian dari gaya hidup sehat, tetapi tujuannya bukan semata-mata mengejar paha berukuran besar.

Paha Kuat Lebih Penting daripada Paha Besar

Ada perbedaan penting antara ukuran dan fungsi. Paha yang besar tetapi sebagian besar terdiri dari lemak tidak sama dengan paha yang besar karena massa otot. Sebaliknya, seseorang dengan ukuran paha relatif kecil tetapi memiliki kekuatan, kebugaran, pola makan, dan kondisi metabolik yang baik belum tentu memiliki risiko kesehatan tinggi.

Karena itu, kemampuan melakukan aktivitas seperti berjalan jauh, menaiki tangga, berdiri dari posisi duduk, menjaga keseimbangan, dan melakukan latihan kekuatan dapat memberikan informasi yang lebih bermakna mengenai kebugaran seseorang.

Kesimpulan

Klaim "paha besar bikin panjang umur" memiliki sedikit dasar dari penelitian, tetapi sering kali disederhanakan secara berlebihan. Sejumlah penelitian memang menemukan bahwa lingkar paha yang sangat kecil berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular dan kematian dini. Namun, penelitian tersebut tidak membuktikan bahwa semakin besar paha, semakin panjang usia seseorang.

Menurut ahli, yang lebih penting adalah komposisi dan fungsi paha, terutama massa serta kekuatan otot, bukan sekadar ukurannya. Jadi, tidak perlu merasa harus memiliki paha besar demi panjang umur. Bangun otot, tetap aktif, jaga pola makan, kendalikan faktor risiko penyakit, dan pertahankan kebugaran secara menyeluruh jauh lebih masuk akal sebagai investasi kesehatan jangka panjang.

Posting Komentar untuk " Paha Besar Jadi Jaminan Umur Panjang, Memangnya Iya? Ini Kata Ahli"