Ratusan Drone Ukraina Hantam Rusia di Hari Terakhir Pemilu Parlemen

Jakarta – Rusia menghadapi serangan drone besar-besaran dari Ukraina ketika pemungutan suara memasuki hari terakhir pemilu parlemen. Otoritas Rusia menyebut lebih dari 1.000 drone diluncurkan ke berbagai wilayah, termasuk ratusan yang diarahkan ke Moskow.

Serangan tersebut berlangsung pada Minggu (20/9/2026), bertepatan dengan hari terakhir pemilu parlemen Rusia yang digelar selama tiga hari sejak 18 September. Serangan menimbulkan korban jiwa, merusak fasilitas minyak, dan menyebabkan sejumlah warga dievakuasi.

Rusia Klaim 1.600 Drone Dicegat

Wali Kota Moskow Sergey Sobyanin mengatakan lebih dari 1.600 drone telah dicegat atau ditembak jatuh sejak Sabtu malam. Dari jumlah tersebut, sekitar 450 drone disebut mengarah ke Moskow. Klaim mengenai jumlah drone tersebut berasal dari otoritas Rusia dan belum dapat diverifikasi secara independen. Kementerian Pertahanan Rusia juga melaporkan telah menghancurkan lebih dari 1.100 drone di berbagai wilayah Rusia, Krimea, dan Laut Hitam.

Sobyanin menyebut serangan tersebut sebagai serangan drone terbesar yang pernah dihadapi Moskow. Menurutnya, serangan itu tidak berhasil menghentikan pelaksanaan pemilu.

Dua Warga Tewas di Wilayah Moskow

Gubernur wilayah Moskow Andrei Vorobyov melaporkan sedikitnya dua orang tewas akibat serangan drone. Salah satu korban merupakan perempuan berusia 44 tahun, sedangkan korban lainnya seorang pria lanjut usia. Selain korban meninggal, sejumlah orang dilaporkan mengalami luka-luka.

Salah satu drone juga dilaporkan menghantam sebuah bangunan apartemen bertingkat 21. Kebakaran yang terjadi setelah insiden tersebut menyebabkan sekitar 400 orang, termasuk anak-anak, harus dievakuasi. Sejumlah kendaraan dan bagian bangunan mengalami kerusakan akibat serangan tersebut.

Kilang Minyak Moskow Ikut Rusak

Selain permukiman warga, fasilitas energi juga menjadi salah satu sasaran. Sobyanin mengatakan sebuah fasilitas di Kilang Minyak Moskow mengalami kerusakan setelah terkena serangan. Layanan darurat kemudian dikerahkan untuk menangani dampak serangan tersebut.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy juga mengatakan serangan Ukraina mengenai fasilitas penting industri minyak serta fasilitas logistik Rusia. Menurut Zelenskyy, serangan terhadap infrastruktur tersebut dimaksudkan untuk memberikan tekanan terhadap kemampuan Rusia mendukung perang. Kilang minyak tersebut sebelumnya juga pernah menjadi sasaran serangan dalam beberapa bulan terakhir.

Ukraina Gunakan Senjata Buatan Dalam Negeri

Zelenskyy mengatakan Ukraina menggunakan sejumlah persenjataan jarak jauh buatan dalam negeri dalam serangan terbaru tersebut. Di antaranya adalah rudal jelajah Flamingo serta sistem yang disebut Pelican. Informasi mengenai jenis dan penggunaan persenjataan tersebut masih berkembang, sementara sejumlah laporan awal sempat berbeda mengenai apakah Pelican merupakan rudal atau drone bersayap.

Serangan jarak jauh terhadap wilayah Rusia menjadi bagian penting dari strategi Ukraina dalam beberapa bulan terakhir. Sasaran yang dibidik antara lain fasilitas energi, kilang minyak, logistik, dan infrastruktur yang dinilai berkaitan dengan kemampuan Rusia menjalankan perang.

Serangan Bertepatan dengan Hari Terakhir Pemilu

Waktu serangan menjadi sorotan karena terjadi ketika Rusia sedang melaksanakan hari terakhir pemilu parlemen. Pemilu berlangsung pada 18-20 September 2026 dan merupakan pemilu parlemen pertama sejak Rusia melancarkan invasi skala penuh ke Ukraina pada Februari 2022. Pemungutan suara mencakup pemilihan anggota Duma Negara, majelis rendah parlemen Rusia.

Sobyanin menuduh serangan tersebut bertujuan mengganggu proses pemilu. Ia mengatakan serangan tidak berhasil menghentikan pemungutan suara. Komisi Pemilihan Umum Pusat Rusia juga menyatakan proses pemungutan suara tetap berjalan. Ketua komisi Ella Pamfilova mengatakan serangan tersebut tidak menghentikan masyarakat menggunakan hak pilihnya.

Namun, tuduhan mengenai tujuan serangan tersebut merupakan pernyataan dari pihak Rusia dan tidak secara independen membuktikan motif Ukraina.

Tidak Ada Laporan TPS Utama Terkena Serangan

Meskipun terjadi serangan besar di sekitar Moskow dan sejumlah wilayah Rusia, laporan yang tersedia sejauh ini tidak menunjukkan adanya tempat pemungutan suara utama di Moskow yang terkena langsung serangan drone.

RFE/RL melaporkan serangan terjadi pada malam hingga pagi hari ketika sebagian besar tempat pemungutan suara belum beroperasi. Aktivitas pemilu tetap berlangsung ketika hari terakhir pemungutan suara dimulai. Situasi tersebut membuat dampak langsung serangan terhadap proses teknis pemilu masih berbeda dengan klaim mengenai tujuan politik serangan.

Rusia Juga Serang Ukraina

Di tengah serangan Ukraina ke Rusia, pasukan Rusia juga melancarkan serangan udara ke wilayah Ukraina. Angkatan Udara Ukraina melaporkan 138 drone Rusia menyerang sejumlah lokasi di Ukraina dalam periode malam hingga pagi. Sebanyak 101 drone disebut berhasil ditembak jatuh atau dinetralisasi oleh pertahanan udara Ukraina.

Di wilayah Kyiv, serangan Rusia menyebabkan sedikitnya empat orang tewas, termasuk tiga anak-anak, menurut laporan otoritas Ukraina. Dengan demikian, eskalasi serangan udara berlangsung secara bersamaan di kedua negara pada hari terakhir pemilu Rusia.

Serangan Energi Jadi Bagian dari Perang Jarak Jauh

Serangan terhadap kilang minyak Moskow juga memperlihatkan semakin pentingnya perang jarak jauh dalam konflik Rusia-Ukraina. Ukraina dalam beberapa bulan terakhir meningkatkan penggunaan drone jarak jauh untuk menyerang fasilitas energi Rusia. Sasaran tersebut dinilai strategis karena industri minyak memiliki peran penting dalam perekonomian Rusia dan pembiayaan aktivitas militernya.

Serangkaian serangan terhadap fasilitas pengolahan minyak Rusia juga dilaporkan berdampak terhadap pasokan bahan bakar di sejumlah wilayah dan menambah tekanan terhadap sektor energi negara tersebut.

Pemilu Rusia Berlangsung di Tengah Perang

Pemilu parlemen tahun ini menjadi pemilu pertama untuk Duma Negara sejak perang skala penuh Rusia-Ukraina dimulai pada 2022. Pemungutan suara juga digelar di wilayah Ukraina yang diklaim Rusia telah dianeksasi. Pemerintah Ukraina menolak pemungutan suara tersebut dan menyebutnya ilegal. Sejumlah negara dan organisasi internasional juga menolak mengakui hasil pemilu di wilayah Ukraina yang diduduki Rusia.

Di tingkat domestik Rusia, partai United Russia diperkirakan tetap menjadi kekuatan dominan di parlemen. Sementara itu, sejumlah kelompok oposisi menghadapi pembatasan dalam mengikuti pemilu.

Serangan Terjadi Saat Ketegangan Tetap Tinggi

Serangan drone besar-besaran ini juga terjadi ketika upaya diplomatik untuk mengurangi serangan terhadap fasilitas energi menghadapi tantangan. Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya menyatakan Rusia dan Ukraina telah menyepakati untuk tidak menyerang fasilitas energi masing-masing. Namun, serangan terhadap fasilitas energi kembali dilaporkan dalam perkembangan terbaru.

Belum jelas apakah serangan terbaru tersebut akan memengaruhi upaya diplomatik maupun pembicaraan mengenai pembatasan serangan terhadap infrastruktur energi.

Perang Drone Semakin Meluas

Serangan pada 20 September menunjukkan bagaimana teknologi drone semakin menjadi bagian utama dalam perang Rusia-Ukraina. Kedua pihak menggunakan drone dalam jumlah besar untuk menyerang sasaran yang berada jauh dari garis depan.

Bagi Ukraina, kemampuan menyerang jauh ke dalam wilayah Rusia memberikan tekanan terhadap fasilitas energi dan logistik yang dianggap penting bagi perang. Sementara bagi Rusia, serangan drone menjadi ancaman terhadap fasilitas industri dan kawasan permukiman yang sebelumnya relatif jauh dari medan perang.

Dengan berakhirnya pemungutan suara parlemen Rusia pada hari yang sama, serangan tersebut menambah dimensi keamanan pada pemilu yang berlangsung di tengah perang. Sementara itu, pertempuran dan serangan udara antara kedua negara masih terus berlangsung tanpa tanda-tanda segera berakhir.

Posting Komentar untuk "Ratusan Drone Ukraina Hantam Rusia di Hari Terakhir Pemilu Parlemen"