Review Film: Resident Evil (2026)
Resident Evil (2026) menjadi babak baru bagi waralaba horor populer yang diangkat dari gim besutan Capcom. Film ini hadir bukan sebagai kelanjutan dari seri yang dibintangi Milla Jovovich maupun remake langsung dari salah satu gim Resident Evil. Di bawah arahan Zach Cregger, film tersebut mencoba menerjemahkan sensasi bermain survival horror ke layar lebar melalui cerita baru dan karakter utama yang berbeda.
Film produksi TriStar Pictures, Constantin Film, dan Davis Films ini dibintangi Austin Abrams sebagai Bryan, seorang kurir medis yang secara tidak sengaja terjebak dalam kekacauan wabah di Raccoon City. Zach Cregger menyutradarai sekaligus menulis skenario bersama Shay Hatten. Pemeran lainnya antara lain Kali Reis, Zach Cherry, dan Paul Walter Hauser. Film ini mulai tayang di bioskop pada 18 September 2026 secara internasional, sementara di Indonesia Lembaga Sensor Film (LSF) mencatat tanggal tayang 16 September 2026 dengan klasifikasi Dewasa 17 Tahun (D17). Durasi yang tercatat LSF adalah 94 menit.
Bukan Cerita Leon Kennedy atau Claire Redfield
Salah satu hal yang paling membedakan Resident Evil (2026) dari ekspektasi sebagian penggemar adalah pilihan Cregger untuk tidak menjadikan karakter gim seperti Leon S. Kennedy, Claire Redfield, Jill Valentine, atau Chris Redfield sebagai pusat cerita.
Film ini menggunakan cerita orisinal yang berlangsung dalam dunia Resident Evil. Bryan, yang diperankan Austin Abrams, bekerja sebagai kurir medis. Ia mendapatkan tugas mengantarkan paket penting menuju rumah sakit di Raccoon City.
Perjalanan tersebut berubah menjadi mimpi buruk ketika Bryan mengalami kecelakaan dan berhadapan dengan sosok misterius. Dari titik itu, ia terseret ke dalam situasi yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar kecelakaan di jalan. LSF menggambarkan Bryan sebagai kurir medis yang terjebak di tengah wabah biologis dan harus berusaha menyelesaikan pengiriman sambil bertahan dari makhluk-makhluk yang mengalami mutasi akibat kebocoran laboratorium.
Pendekatan tersebut memang berbeda dari adaptasi langsung sebuah gim. Entertainment Weekly juga mencatat bahwa Cregger memilih membuat cerita mandiri dan berusaha menangkap tone serta ritme permainan ketimbang mengadaptasi cerita gim tertentu secara satu per satu.
Austin Abrams Menjadi Pusat Perhatian
Salah satu kekuatan utama film ini adalah penampilan Austin Abrams sebagai Bryan. Alih-alih menghadirkan protagonis yang sejak awal sudah mahir menggunakan senjata dan memahami dunia zombie, Bryan diperlihatkan sebagai orang biasa yang mendadak harus bertahan hidup dalam situasi ekstrem.
Pendekatan ini membuat karakter Bryan terasa lebih dekat dengan penonton. Ia bukan pahlawan super. Ia panik, membuat kesalahan, kesulitan menggunakan senjata, dan harus belajar menghadapi ancaman sedikit demi sedikit. The Guardian menilai Abrams mampu memberikan daya tarik sebagai sosok "everyman" yang mudah diikuti penonton. Karakter Bryan digambarkan sebagai seseorang yang terus berusaha melakukan hal benar meskipun kemampuannya sangat terbatas.
Pendekatan tersebut juga membantu film mempertahankan sisi komedinya. Di tengah situasi penuh darah, monster, dan kematian, Bryan tetap memiliki respons manusiawi yang kadang membuat adegan menegangkan berubah menjadi lucu.
Horor yang Tidak Melupakan Komedi
Resident Evil (2026) tidak sepenuhnya mengambil pendekatan horor serius. Zach Cregger memasukkan humor gelap di antara adegan-adegan berdarah dan menegangkan. Hasilnya adalah perpaduan antara survival horror, aksi, body horror, dan komedi. Associated Press menilai humor menjadi salah satu aset penting film ini. Bryan digambarkan sebagai protagonis yang relatif biasa, sehingga reaksinya ketika berhadapan dengan monster terasa lebih spontan dan terkadang menggelikan.
Namun, komedinya tidak menghilangkan ancaman. Film tetap mempertahankan adegan kekerasan, darah, serta makhluk mengerikan yang menjadi bagian penting dari pengalaman Resident Evil. LSF Indonesia mencantumkan kandungan kekerasan dan memberikan klasifikasi D17 untuk film tersebut.
Sensasi Seperti Sedang Memainkan Gim
Keputusan Cregger untuk tidak membuat adaptasi langsung justru menjadi salah satu karakteristik utama film. Alih-alih meminta penonton mengikuti ulang alur gim tertentu, film terasa seperti membawa struktur permainan ke dalam sebuah film.
Bryan harus berpindah dari satu situasi berbahaya ke situasi berikutnya. Ia menghadapi lingkungan baru, mencari jalan keluar, berhadapan dengan makhluk yang semakin mengerikan, dan terus berusaha menyelesaikan tujuan awalnya. The Guardian menggambarkan pendekatan tersebut seperti seseorang yang tiba-tiba dimasukkan ke dalam gim sebelum benar-benar memahami cara menggunakan kontrolnya.
Sementara itu, ulasan RogerEbert.com menyoroti elemen-elemen seperti persediaan yang terbatas dan struktur misi yang membuat film terasa sangat dekat dengan pengalaman bermain survival horror. Dengan kata lain, film ini tidak selalu menyalin cerita Resident Evil, tetapi mencoba memahami mengapa pemain menikmati gim tersebut.
Atmosfer Raccoon City dan Ancaman Mutasi
Raccoon City kembali menjadi bagian penting dari dunia film. Kota tersebut menjadi latar terjadinya kekacauan biologis yang membuat perjalanan Bryan berubah menjadi perjuangan untuk bertahan hidup. Film memanfaatkan berbagai lokasi untuk meningkatkan rasa terisolasi. Dari perjalanan malam di tengah cuaca buruk hingga lingkungan yang semakin berbahaya, penonton terus diarahkan masuk lebih dalam ke dunia yang penuh ancaman.
Cregger juga tidak berhenti pada zombie konvensional. Film bergerak menuju berbagai bentuk makhluk bermutasi dan body horror yang memberikan variasi terhadap ancaman. Pendekatan tersebut mendapat perhatian dari sejumlah kritikus. Variety menggambarkan film sebagai permainan horor dengan berbagai makhluk aneh yang bergerak menuju kekacauan yang semakin besar.
Jumpscare, Gore, dan Ketegangan
Sebagai film horor, Resident Evil cukup agresif dalam memberikan adegan mengejutkan. Cregger menggunakan jumpscare, suara, visual berdarah, serta kemunculan monster untuk menjaga ketegangan. Namun, film tidak sepenuhnya mengandalkan kejutan mendadak.
The Guardian menilai Cregger memiliki kontrol yang kuat terhadap ritme, perpaduan humor dan horor, serta penggunaan jumpscare. AP juga mencatat perpaduan jump scares, visual gore, dan humor gelap sebagai salah satu karakteristik utama film. Bagi penonton yang menyukai horor dengan darah dan monster, pendekatan tersebut membuat film terasa lebih agresif dibandingkan sekadar thriller misteri.
Bagaimana dengan Penggemar Gim?
Ini menjadi pertanyaan terbesar sebelum film dirilis. Cregger sendiri merupakan penggemar Resident Evil. Namun, ia memilih tidak mengadaptasi cerita gim secara langsung. Pilihan tersebut sempat memunculkan kekhawatiran karena penggemar sudah lama mengharapkan karakter seperti Leon Kennedy atau Claire Redfield hadir dalam film.
Cregger kemudian mengakui bahwa dirinya sempat terlalu percaya diri mengenai reaksi penggemar terhadap pendekatan tersebut. Ia memahami mengapa sebagian penggemar menginginkan karakter gim yang sudah dikenal. Meski begitu, sejumlah ulasan justru menilai keputusan tersebut memberikan ruang bagi film untuk berdiri sebagai cerita sendiri.
RogerEbert.com bahkan menilai film ini sangat terinspirasi oleh gim meskipun tidak secara langsung mengadaptasi salah satu cerita utama. Jadi, penggemar yang mencari adaptasi Resident Evil 2 secara harfiah kemungkinan akan menemukan banyak perbedaan. Namun, penonton yang menginginkan pengalaman horor yang mengambil semangat survival horror masih akan menemukan banyak elemen familiar.
Respons Kritikus Sangat Positif
Sebelum dan setelah perilisan, Resident Evil (2026) mendapatkan respons positif dari banyak kritikus. GamesRadar+ melaporkan film tersebut sempat mencapai skor 97 persen di Rotten Tomatoes berdasarkan puluhan ulasan, sekaligus disebut sebagai salah satu adaptasi gim live-action dengan penerimaan kritis tertinggi.
NDTV Profit juga mencatat skor 97 persen berdasarkan 91 ulasan pada saat artikelnya diterbitkan. Respons awal banyak menyoroti aksi, horor tubuh, makhluk mutan, humor, serta penampilan Austin Abrams. Namun, tidak semua ulasan memberikan penilaian yang sama. Associated Press menilai film ini menghibur dan kuat pada penampilan Abrams serta desain situasi horornya, tetapi mencatat bahwa energinya mulai kehilangan sedikit momentum pada bagian akhir.
The Guardian juga melihat kelemahan serupa pada bagian akhir, ketika perkembangan karakter Bryan tidak sepenuhnya mendapatkan penyelesaian yang sebanding dengan perjalanan yang sudah dibangun sepanjang film. Artinya, penerimaan kritikus secara umum sangat positif, tetapi tetap ada catatan mengenai struktur dan penyelesaian cerita.
Kelebihan Resident Evil (2026)
Beberapa aspek yang paling menonjol dari film ini adalah:
1. Austin Abrams sebagai protagonis
Bryan bukan pahlawan konvensional. Karakternya membuat penonton dapat merasakan ketakutan dan kebingungan ketika seseorang yang tidak siap harus menghadapi wabah monster.
2. Horor dan komedi berjalan beriringan
Humor gelap membuat film tidak terasa monoton meskipun sebagian besar ceritanya berlangsung dalam situasi berbahaya.
3. Atmosfer survival horror kuat
Film berhasil membawa elemen seperti misi, keterbatasan sumber daya, lingkungan berbahaya, dan peningkatan level ancaman ke dalam format film.
4. Makhluk dan body horror
Ancaman tidak berhenti pada zombie. Mutasi dan monster memberikan variasi visual serta memperkuat nuansa horor biologis.
5. Tidak bergantung pada film-film sebelumnya
Penonton tidak wajib memahami enam film Resident Evil yang dibintangi Milla Jovovich untuk mengikuti cerita baru ini.
Kekurangan Resident Evil (2026)
Di sisi lain, film juga memiliki sejumlah catatan. Pertama, penggemar karakter gim mungkin kecewa. Tidak adanya Leon, Claire, Jill, atau Chris membuat film ini terasa sangat berbeda dari ekspektasi sebagian penggemar. Kedua, perkembangan karakter tidak selalu seimbang dengan intensitas aksinya. Beberapa kritikus menilai film sangat kuat dalam membawa penonton dari satu situasi horor ke situasi berikutnya, tetapi tidak sepenuhnya memberikan penyelesaian emosional yang sama kuatnya.
Ketiga, perubahan menjadi monster movie pada bagian akhir mungkin tidak cocok untuk semua penonton. Film semakin memperbesar skala ancaman dan mengurangi sebagian nuansa misteri yang muncul pada awal cerita.
Kesimpulan Review Resident Evil (2026)
Resident Evil (2026) merupakan upaya baru untuk membuktikan bahwa film adaptasi gim tidak harus selalu menyalin cerita sumbernya secara langsung. Zach Cregger memilih jalan yang cukup berani: mengambil dunia dan semangat Resident Evil, tetapi membangun protagonis serta cerita baru. Hasilnya adalah film horor yang menggabungkan survival horror, aksi, gore, monster, dan komedi gelap.
Austin Abrams menjadi salah satu alasan utama film tetap menarik. Bryan bukan karakter yang sempurna, tetapi justru karena itulah perjuangannya terasa lebih manusiawi. Bagi penggemar gim yang berharap melihat Leon Kennedy atau Claire Redfield, film ini mungkin membutuhkan penyesuaian ekspektasi. Namun, bagi penonton yang menginginkan film horor dengan tempo cepat, monster grotesk, humor gelap, dan atmosfer seperti sedang memainkan gim survival horror, Resident Evil (2026) menawarkan pendekatan yang berbeda.
Dengan demikian, film ini lebih tepat dipandang sebagai reinterpretasi dunia Resident Evil daripada adaptasi satu gim secara langsung. Keputusan tersebut menjadi sumber perdebatan bagi penggemar, tetapi juga menjadi alasan film memiliki identitasnya sendiri.

Posting Komentar untuk " Review Film: Resident Evil (2026)"