Banjir Melanda 4 Desa di Aceh hingga Petani Mengeluh Kesulitan Panen Selama Seminggu

ACEH TAMIANG – Banjir yang menerjang berbagai daerah di Provinsi Aceh memberikan dampak yang serius bagi masyarakat, khususnya para petani yang sedang berada di masa panen padi. Di Kabupaten Aceh Tamiang, genangan air yang diakibatkan oleh jebolnya tanggul sungai membuat lahan pertanian terendam selama lebih dari seminggu, sehingga petani mengalami kesulitan untuk menyelamatkan hasil panen mereka.

Petani di Desa Teluk Halban, Kecamatan Bendahara, Aceh Tamiang, terpaksa melakukan panen padi secara manual dengan sabit di tengah genangan air. Tingginya ketinggian air mengakibatkan mesin panen tak dapat masuk ke sawah, sementara sebagian tanaman mulai membusuk dan butir-butir padi jatuh. Banjir ini terjadi setelah tanggul sungai di Desa Marlempang jebol, dan air meluap hingga mencapai pemukiman serta area pertanian. Akibatnya, petani yang seharusnya segera melakukan panen padi justru harus berjuang untuk menyelamatkan tanaman mereka di tengah kondisi lahan yang sulit dijangkau.

Masalah banjir juga terjadi di daerah Aceh lainnya. Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) sebelumnya melaporkan banjir yang menggenangi tiga desa di Kecamatan Lawe Alas, Kabupaten Aceh Tenggara, pada 21 Oktober 2026. Serangkaian peristiwa ini memperlihatkan bahwa banjir bukan hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga mengancam sektor pertanian dan pendapatan para warga yang bergantung pada hasil panen mereka.

Banjir Melanda Sawah Lebih dari Seminggu

Salah seorang petani di Desa Teluk Halban, Sugiono, menyatakan bahwa sawah mulai terendam setelah tanggul sungai di Desa Marlempang jebol. Pada awal kejadian, ketinggian air di area persawahan dilaporkan mencapai lebih dari satu meter.

Keadaan ini membuat petani tidak dapat segera memanen padi meskipun tanaman telah memasuki masa panen. Setelah genangan berlangsung lebih dari seminggu, para petani akhirnya mulai melakukan panen secara bertahap pada hari kesembilan. Namun, keterlambatan tersebut berdampak pada kondisi tanaman.

Batang padi yang terendam terlalu lama mulai membusuk, sementara beberapa butirnya sudah jatuh. Para petani pun harus menghadapi risiko kehilangan hasil panen yang seharusnya menjadi sumber pendapatan utama mereka. Situasi makin sulit karena sebagian besar lahan belum sepenuhnya bebas dari genangan. Air memang mulai surut, tetapi proses pengeringan sawah berjalan lambat karena aliran air keluar dari area pertanian belum maksimal.

Bagi para petani, setiap hari keterlambatan panen dapat meningkatkan risiko kerugian, terutama ketika tanaman sudah masak dan siap untuk dipanen.

Petani Terpaksa Melakukan Panen Menggunakan Sabit dan Perahu

Kondisi banjir mengakibatkan mesin pemanen padi atau combine harvester tidak dapat digunakan di area yang terkena dampak. Untuk menyelamatkan tanaman yang masih layak dipanen, petani menggunakan sabit serta perahu karet atau perahu berbahan terpal. Padi yang telah dipotong selanjutnya diangkut menggunakan perahu menuju lokasi yang lebih mudah diakses di daratan.

Cara ini jauh lebih menantang dibandingkan dengan panen dalam situasi normal. Petani harus bekerja di tengah air yang masih menggenangi sawah, sementara pergerakan mereka terbatas karena keadaan tanah yang berlumpur. Kesulitan juga muncul dalam mencari tenaga kerja. Sebagian pekerja tidak mau turun ke sawah karena kondisi lahan yang sulit, air berbau, serta menyebabkan rasa gatal.

Akibat terbatasnya tenaga kerja dan peralatan, proses panen yang biasanya lebih cepat kini diperkirakan memakan waktu hingga beberapa minggu. Kondisi ini menambah beban bagi petani. Mereka harus mengeluarkan lebih banyak tenaga untuk memanen tanaman, tetapi hasil yang diperoleh justru berisiko menurun akibat kerusakan padi selama terendam banjir.

Biaya Panen Berubah, Petani Berbagi Hasil 50:50

Banjir juga mengubah sistem pembayaran tenaga panen di Desa Teluk Halban. Sebelum banjir, biaya panen dilaporkan sekitar Rp150 ribu per rantai. Namun, kondisi sawah yang sulit dijangkau membuat petani dan pekerja memilih sistem bagi hasil. Dalam kesepakatan ini, hasil panen dibagi masing-masing 50 persen antara pemilik sawah dan pekerja yang memanen padi.

Skema ini menjadi solusi agar tanaman yang ada dapat dipanen sebelum mengalami kerusakan lebih lanjut. Sugiono menjelaskan bahwa tanpa sistem bagi hasil, padi milik petani berisiko membusuk karena tidak ada pekerja yang mau melakukan panen dalam kondisi yang sulit tersebut.

Meskipun membantu mempercepat penyelamatan hasil panen, pembagian tersebut tetap menjadi beban bagi pemilik lahan. Mereka harus menerima bagian hasil yang lebih kecil, sementara tanaman yang dipanen kemungkinan telah mengalami penurunan kualitas dan kuantitas. Situasi ini menunjukkan bahwa dampak banjir tidak berhenti ketika air mulai surut. Kerugian petani juga ditentukan oleh biaya pemulihan lahan, tenaga kerja, kualitas hasil panen, dan kemampuan mereka melanjutkan musim tanam selanjutnya.

Sekitar 70 Persen Sawah Produktif Teluk Halban Terkena

Datok Penghulu Desa Teluk Halban, Abdullah Boyak, menyebutkan bahwa desa tersebut memiliki sekitar 62 hektare lahan pertanian produktif dengan pola tanam dua kali dalam setahun. Dari luas tersebut, sekitar 70 persen dilaporkan terkena dampak banjir ketika tanaman padi hampir mencapai waktu panen.

Artinya, sebagian besar lahan pertanian di desa tersebut menghadapi gangguan pada tahap penting dalam siklus produksi pertanian. Lahan yang terdampak dikelola oleh empat kelompok tani, masing-masing dengan luas sekitar 25 hektare menurut keterangan Koordinator Kecamatan Kelompok Tani Merdeka, Sugiono. Lebih dari 100 petani bergantung pada lahan-lahan yang terdampak tersebut.

Banjir juga mengancam lahan percontohan penerapan teknologi pertanian seluas sekitar satu hektare yang telah ditanami sejak Juli. Tanaman di lahan tersebut dilaporkan sudah menguning, tetapi belum bisa dipanen akibat genangan. Dampak besar terhadap lahan pertanian menjadikan perbaikan tanggul sebagai kebutuhan mendesak. Jika aliran sungai tidak segera dikendalikan dan sistem pembuangan air belum berjalan dengan baik, lahan pertanian berpotensi kembali terendam ketika hujan deras terjadi.

Tanggul Jebol di Marlempang Sebagai Penyebab Banjir

Banjir yang merendam sawah Desa Teluk Halban berkaitan dengan jebolnya tanggul sungai di Desa Marlempang, Kecamatan Bendahara. Air yang meluap dari sungai mengalir menuju pemukiman dan area pertanian di sekitarnya. Lahan sawah yang seharusnya sudah memasuki masa panen akhirnya terendam ketika petani seharusnya mulai memotong tanaman padi.

Sebelum genangan menyentuh sawah, petani mengaku telah berkoordinasi dengan petugas Balai Penyuluhan Pertanian untuk mengupayakan ketersediaan alat panen. Petani juga sempat melakukan gotong royong untuk memperkuat tanggul secara darurat. Namun, derasnya aliran air tidak bisa dibendung sehingga banjir tetap menggenangi lahan.

Kejadian ini menunjukan pentingnya pemeliharaan infrastruktur pengendalian banjir, terutama di area pertanian yang rentan terhadap luapan sungai. Perbaikan tanggul tidak hanya diperlukan untuk melindungi pemukiman, tetapi juga menjaga produktivitas pertanian dan mengurangi risiko kerugian ekonomi masyarakat.

Petani Mendesak Perbaikan Tanggul dan Dukungan Alat Panen

Petani berharap pemerintah segera memperbaiki tanggul sungai yang jebol secara permanen. Mereka juga perlu dukungan peralatan panen yang dapat digunakan untuk menyelamatkan tanaman di tengah kondisi lahan yang masih tergenang.

Kebutuhan tersebut semakin mendesak mengingat sebagian padi telah mengalami kerusakan setelah terendam selama beberapa hari. Penanganan yang diperlukan tidak cukup hanya dengan penutupan tanggul darurat. Pemerintah daerah dan instansi terkait perlu menilai penyebab kerusakan, memperkuat struktur tanggul, dan memastikan aliran air dapat berfungsi dengan baik kembali.

Selain itu, pendataan luas lahan yang terdampak dan besarnya kerugian petani perlu dilakukan agar bantuan dapat disalurkan berdasarkan kondisi nyata di lapangan. Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian, Peternakan, dan Perkebunan Aceh Tamiang, Irwan Hadi, mengkonfirmasi bahwa banjir berpengaruh terhadap ratusan hektare sawah di wilayah pesisir Aceh Tamiang. Namun, saat laporan ANTARA diterbitkan pada 25 Oktober 2026, angka pasti luas lahan yang terdampak masih menunggu pembaruan data.

Pendataan tersebut sangat penting untuk menentukan kebutuhan bantuan, mulai dari peralatan panen, pemulihan lahan, hingga dukungan bagi petani yang kehilangan sebagian hasil produksinya.

Banjir Serta Menerjang Tiga Desa di Aceh Tenggara

Selain Aceh Tamiang, banjir juga menyerang beberapa desa di Kabupaten Aceh Tenggara. Menurut laporan resmi BPBA, banjir terjadi di Kecamatan Lawe Alas pada Rabu, 21 Oktober 2026, sekitar pukul 04.00 WIB. Hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi yang mulai sejak malam sebelumnya menyebabkan debit Sungai Lawe Kongker meningkat hingga melimpas ke area pemukiman warga.

Tiga desa yang terkena imbas adalah:

  • Desa Muara Baru.
  • Desa Engkeran.
  • Desa Paye Munje.

Tinggi genangan di sekitar hunian diperkirakan mencapai 40–50 sentimeter. Air yang masuk ke area permukiman mengganggu aktivitas masyarakat dan menyulitkan warga dalam kegiatan sehari-hari. BPBD Kabupaten Aceh Tenggara telah mengerahkan Tim Reaksi Cepat untuk melakukan pemeriksaan awal, pendataan dampak, serta memantau perkembangan genangan.

Dalam laporan tersebut, belum ada informasi tentang korban jiwa maupun warga yang mengungsi. Namun, air masih dilaporkan belum sepenuhnya surut ketika informasi terakhir disampaikan. Masyarakat yang tinggal di sepanjang aliran sungai dimohon untuk tetap waspada terhadap kemungkinan kenaikan debit air jika hujan kembali turun dengan intensitas tinggi.

Ratusan Hektare Lahan Pertanian Aceh Tenggara Pernah Terkena Banjir

Ancaman banjir terhadap sektor pertanian juga terlihat dari insiden sebelumnya di Aceh Tenggara. Dalam laporan yang dirilis pada 15 Oktober 2026, BPBA menyebutkan sekitar 153,74 hektare lahan pertanian di kabupaten tersebut terdampak banjir dan longsor yang sudah terjadi sejak 9 Oktober.

Lahan yang terdampak mencakup 74,5 hektare tanaman padi dan 43,24 hektare jagung di Kecamatan Bambel, serta 36 hektare lahan padi di Kecamatan Lawe Sumur. Bencana ini juga menyebabkan gangguan pada beberapa infrastruktur, termasuk jalan nasional Kutacane–Blangkejeren dan fasilitas pengairan.

Data tersebut adalah laporan kejadian sebelumnya dan tidak boleh dianggap sebagai total luas lahan yang terdampak semua banjir di Aceh hingga 26 Oktober 2026. Meski begitu, laporan itu menggambarkan besarnya kerentanan sektor pertanian terhadap bencana hidrometeorologi di wilayah tersebut.

Dampak Banjir terhadap Ketahanan Pangan dan Ekonomi Petani

Banjir yang datang menjelang panen dapat memberikan dampak bertingkat terhadap ekonomi petani. Pertama, tanaman padi yang terendam dalam waktu lama berisiko mengalami kerusakan sehingga hasil gabah yang dapat dipanen berkurang. Kedua, proses panen menjadi lebih mahal dan membutuhkan waktu lebih lama karena mesin pertanian tidak dapat digunakan secara normal.

Ketiga, penurunan hasil panen dapat menurunkan pendapatan rumah tangga petani, padahal hasil tersebut seringkali digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan membiayai musim tanam mendatang. Keempat, kerusakan lahan dan infrastruktur pengairan dapat menghalangi kegiatan pertanian berikutnya jika tidak segera diperbaiki.

Jika gangguan produksi terjadi secara luas dan berlangsung lama, kondisi ini berpotensi memengaruhi pasokan pangan di tingkat lokal. Namun, dampaknya terhadap harga beras atau produksi pangan secara keseluruhan belum dapat dipastikan tanpa data produksi dan distribusi yang lebih menyeluruh. Oleh karena itu, pemulihan sektor pertanian perlu menjadi bagian krusial dari penanganan banjir, di samping perlindungan keselamatan warga dan perbaikan tempat tinggal.

Kesimpulan

Banjir yang menerpa sejumlah wilayah Aceh menimbulkan masalah serius bagi masyarakat, terutama petani yang sedang berada pada masa panen. Di Desa Teluk Halban, Aceh Tamiang, tanggul sungai yang jebol mengakibatkan sawah terendam lebih dari seminggu. Para petani terpaksa menggunakan sabit dan perahu untuk menyelamatkan hasil panen, sementara sebagian tanaman mulai membusuk dan bulir padi mulai jatuh.

Sekitar 70 persen dari 62 hektare sawah produktif di desa tersebut dilaporkan terdampak. Petani kini berharap tanggul segera diperbaiki secara permanen dan bantuan alat panen disediakan agar kerugian tidak semakin besar. Sementara itu, banjir di tiga desa Kecamatan Lawe Alas, Aceh Tenggara, menunjukkan bahwa ancaman genangan juga masih dihadapi wilayah Aceh lainnya.

Perbaikan infrastruktur sungai, pendataan kerusakan, bantuan kepada petani, dan peningkatan kesiapsiagaan menghadapi hujan lebat menjadi langkah penting untuk mengurangi dampak bencana serupa di masa mendatang.

Posting Komentar untuk " Banjir Melanda 4 Desa di Aceh hingga Petani Mengeluh Kesulitan Panen Selama Seminggu"