5 Momen Viral Karoline Leavitt Selama 20 Bulan Jadi Jubir Trump
WASHINGTON — Nama Karoline Leavitt kembali menjadi sorotan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa sekretaris pers Gedung Putih itu akan meninggalkan jabatannya pada akhir Agustus 2026. Leavitt memilih mundur untuk lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarganya, tetapi ia dipastikan tetap menjadi penasihat luar bagi Trump dan salah satu suara berpengaruh di Partai Republik.
Selama sekitar 20 bulan berada di posisi tersebut, Leavitt menjadi salah satu wajah paling dikenal dari pemerintahan Trump. Ia bukan sekadar penyampai kebijakan Gedung Putih, tetapi juga figur yang kerap menjadi berita karena pernyataan kontroversial, adu argumen dengan wartawan, pembelaannya terhadap Trump, serta sejumlah momen yang menyebar luas di media sosial.
Leavitt mulai menjabat pada Januari 2025 dan mencatat sejarah sebagai orang termuda yang pernah menjadi sekretaris pers Gedung Putih. Ia juga menjadi sekretaris pers pertama yang menjalani kehamilan dan melahirkan ketika masih memegang jabatan tersebut.
Berikut lima momen yang paling menggambarkan sekaligus membuat masa jabatan Karoline Leavitt menjadi viral.
1. Pernyataan “US$50 Juta untuk Kondom di Gaza”
Salah satu kontroversi terbesar Leavitt terjadi bahkan pada hari pertamanya memberikan briefing resmi Gedung Putih, 28 Januari 2025.
Saat membela keputusan pemerintahan Trump untuk membekukan sejumlah bantuan luar negeri, Leavitt menyebut adanya alokasi sekitar US$50 juta untuk kondom di Gaza sebagai contoh pengeluaran pemerintah yang menurutnya tidak masuk akal.
Pernyataan itu segera menjadi viral karena angka dan konteks yang disampaikan Leavitt kemudian dipertanyakan.
Associated Press melakukan pemeriksaan fakta dan menyimpulkan tidak terdapat bukti kredibel bahwa pemerintah Amerika Serikat mengalokasikan US$50 juta untuk membeli kondom bagi Hamas di Gaza. Dana yang menjadi sumber klaim tersebut berkaitan dengan program layanan kesehatan dan bukan pembelian kondom untuk Hamas.
Kesalahan tersebut kemudian dikaitkan dengan kekeliruan membaca informasi mengenai program bantuan kesehatan. Salah satu laporan menjelaskan bahwa klaim tersebut tampaknya mencampuradukkan Gaza dengan Gaza Province di Mozambik, yang memang pernah menjadi bagian dari program kesehatan yang didanai USAID.
Momen tersebut penting karena memperlihatkan gaya komunikasi Leavitt: cepat, tegas, dan sangat siap membela agenda Trump, tetapi sekaligus membuatnya rentan terhadap kritik ketika informasi yang disampaikan ternyata keliru.
2. “Gulf of America” dan Perseteruan dengan AP
Jika ada satu isu yang paling menggambarkan perubahan hubungan Gedung Putih dengan media selama era Leavitt, jawabannya adalah kontroversi Gulf of America.
Pada awal 2025, Trump menandatangani perintah yang mengubah nama Gulf of Mexico menjadi Gulf of America dalam penggunaan resmi pemerintah Amerika Serikat.
Associated Press memilih tetap menggunakan nama “Gulf of Mexico” sesuai kebijakan editorialnya. Keputusan itu memicu perseteruan dengan Gedung Putih.
Leavitt menjadi salah satu tokoh utama yang mempertahankan kebijakan Trump. Gedung Putih kemudian membatasi akses AP ke sejumlah kegiatan presiden. AP menggugat kebijakan tersebut dan menilai organisasinya dihukum karena keputusan editorial.
Dalam salah satu pernyataannya, Leavitt mempertanyakan alasan media tidak menggunakan istilah “Gulf of America”.
Perseteruan tersebut akhirnya berkembang menjadi persoalan yang jauh lebih besar: apakah pemerintah boleh menentukan media mana yang mendapatkan akses berdasarkan keputusan editorialnya?
Pengadilan federal kemudian memerintahkan pemerintahan Trump memberikan perlakuan yang setara kepada AP, dengan alasan tindakan pemerintah terhadap organisasi berita tersebut menyentuh perlindungan kebebasan pers berdasarkan Amandemen Pertama.
Bagi Leavitt, kontroversi ini menjadi simbol pendekatan barunya terhadap media. Ia tidak hanya menjalankan briefing tradisional, tetapi juga ikut berada di garis depan pertarungan Trump melawan media arus utama.
3. Membuka Gedung Putih untuk Influencer dan “New Media”
Momen viral berikutnya bukan satu kalimat kontroversial, melainkan perubahan besar yang dilakukan Leavitt terhadap ruang briefing Gedung Putih.
Tak lama setelah menjabat, Leavitt memperkenalkan konsep “new media seat”, yang membuka kesempatan lebih besar bagi podcaster, influencer, kreator konten, dan media independen untuk mendapatkan akses ke briefing.
Ia mengatakan Gedung Putih ingin memberikan ruang kepada suara-suara baru dalam lanskap media Amerika.
Kebijakan tersebut mendapatkan dua reaksi berbeda. Pendukung Trump melihatnya sebagai upaya mendemokratisasi akses media dan mengakhiri dominasi media tradisional. Sebaliknya, para pengkritik menilai pemilihan media baru tersebut berpotensi menguntungkan organisasi dan influencer yang lebih bersahabat dengan pemerintahan Trump.
Perubahan tersebut sangat signifikan karena briefing Gedung Putih secara tradisional didominasi organisasi berita besar. Leavitt justru menjadikan media sosial, podcast, influencer, dan media konservatif sebagai bagian penting dari strategi komunikasi pemerintah.
Dengan demikian, ruang briefing tidak lagi hanya menjadi tempat wartawan memperoleh informasi untuk kemudian disebarkan kepada publik. Dalam banyak kesempatan, briefing juga berubah menjadi konten viral yang langsung beredar di TikTok, X, YouTube, Instagram, dan platform digital lainnya.
4. Ketika Pertanyaan soal Jeffrey Epstein Membuat Briefing Memanas
Pada 2026, Leavitt kembali menjadi sorotan dalam kontroversi mengenai dokumen Jeffrey Epstein. Nama Trump berulang kali muncul dalam pertanyaan wartawan terkait hubungan masa lalunya dengan Epstein dan penanganan dokumen kasus tersebut oleh pemerintahan Trump.
Leavitt berada di posisi sulit: sebagai sekretaris pers, ia harus memberikan jawaban atas pertanyaan wartawan, sementara pada saat yang sama harus mempertahankan presiden.
Salah satu momen yang kemudian menjadi viral terjadi ketika seorang wartawan menanyakan dokumen Epstein dalam briefing Februari 2026. Leavitt mengatakan pemerintah akan “move on” dari persoalan tersebut. Pernyataan itu memicu kritik keras karena dianggap menunjukkan keengganan Gedung Putih membahas pertanyaan publik mengenai dokumen Epstein.
Leavitt kemudian berulang kali menjadi juru bicara utama dalam membela Trump dari berbagai pertanyaan terkait Epstein.
SBS mencatat bahwa kontroversi Epstein menjadi salah satu bagian penting dari masa jabatannya. Ketika Demokrat merilis email Epstein yang menyebut salah satu korban pernah berada di rumahnya bersama Trump, Leavitt mengatakan email tersebut tidak membuktikan bahwa Trump melakukan kesalahan.
Isu ini menjadi sangat sensitif karena menyentuh salah satu kontroversi terbesar yang membayangi Trump selama masa jabatan keduanya.
5. Foto “Power Mom” yang Viral di Tengah Kesibukan Gedung Putih
Tidak semua momen viral Leavitt berkaitan dengan pertengkaran politik. Pada Mei 2025, sebuah foto Leavitt bekerja sambil mengurus bayinya menjadi viral dan mendapatkan respons positif dari banyak pengguna media sosial.
Dalam foto tersebut, Leavitt terlihat tetap bekerja sambil memberi susu kepada putranya. Momen tersebut menarik perhatian karena terjadi ketika Leavitt masih berada di tengah jadwal politik yang sangat padat. Sejumlah media menggambarkannya sebagai simbol seorang ibu yang berusaha menjalankan karier sekaligus mengurus anak.
Momen itu juga menjadi bagian dari kisah pribadi Leavitt yang kemudian semakin menonjol selama masa jabatannya.
Pada Desember 2025, ia mengumumkan kehamilan anak keduanya. Pada Mei 2026, ia melahirkan putrinya. Dengan demikian, Leavitt menjadi sekretaris pers Gedung Putih pertama yang melahirkan ketika masih menjabat.
Kisah tersebut membuat citra Leavitt berbeda dari sekadar politikus konservatif yang agresif di podium. Ia juga menjadi simbol perempuan muda yang menjalankan pekerjaan dengan tekanan tinggi sembari menjalani kehidupan sebagai ibu.
Bonus: “Machine Gun Lips” dari Trump
Ada satu momen lain yang terlalu besar untuk dilewatkan. Trump sendiri pernah membuat komentar tentang gaya bicara Leavitt yang kemudian menjadi viral.
Dalam sebuah wawancara dengan Newsmax, Trump memuji Leavitt sebagai “star” dan menggambarkan cara bicaranya seperti “machine gun”. Komentar tersebut menjadi salah satu gambaran paling jelas mengenai kedekatan pribadi Trump dengan sekretaris persnya.
Pujian tersebut juga memperlihatkan mengapa Leavitt dianggap berbeda dibanding sejumlah sekretaris pers Trump sebelumnya. Ia tidak hanya menjalankan tugas sebagai juru bicara. Ia menjadi salah satu anggota tim komunikasi yang paling dipercaya Trump.
Mengapa Leavitt Begitu Sering Viral?
Ada beberapa alasan yang membuat Karoline Leavitt berbeda dari sekretaris pers Gedung Putih pada era sebelumnya.
Loyalitas kepada Trump Leavitt hampir selalu berada di garis depan ketika Trump menghadapi kontroversi. Ia dikenal agresif membela kebijakan presiden, termasuk mengenai imigrasi, perang, ekonomi, media, dan berbagai kontroversi politik.
SBS menggambarkan masa jabatannya sebagai periode yang ditandai oleh loyalitas kuat kepada Trump dan benturan keras dengan media.
Gaya Komunikasi yang Konfrontatif Briefing Leavitt sering kali tidak berjalan seperti konferensi pers tradisional. Ketika mendapat pertanyaan yang dianggap menyerang Trump, ia dapat memberikan jawaban panjang, menyebut media menyebarkan informasi palsu, atau langsung mengalihkan pembicaraan kepada pencapaian pemerintahan.
Gaya tersebut membuat potongan video briefing mudah dipotong menjadi klip pendek dan menyebar di media sosial.
Strategi “New Media”
Leavitt juga memahami bahwa politik modern tidak lagi hanya ditentukan oleh televisi dan surat kabar. Podcast, YouTube, TikTok, X, Instagram, serta influencer politik memainkan peranan besar. Dengan membuka ruang bagi media baru, pemerintahan Trump dapat menyampaikan pesan secara langsung kepada audiens yang mungkin tidak mengikuti konferensi pers tradisional.
Leavitt Bukan Sekadar Juru Bicara Selama sekitar 20 bulan, posisi Leavitt berkembang menjadi lebih dari sekadar pembaca pernyataan resmi. Ia menjadi salah satu komunikator utama Trump dan bagian dari strategi politik pemerintah.
Pendekatan itu memiliki keuntungan besar bagi Trump: pesan pemerintahan dapat disampaikan dengan bahasa yang lebih agresif dan mudah menjadi konten media sosial.
Namun, pendekatan tersebut juga membawa risiko. Ketika seorang sekretaris pers menyampaikan informasi yang keliru, kontroversinya dapat langsung menjadi berita utama. Ketika ia berkonfrontasi dengan wartawan, video pertengkaran tersebut dapat menyebar lebih cepat daripada kebijakan yang sedang dijelaskan. Itulah yang berulang kali terjadi selama masa jabatan Leavitt.
Dari Gedung Putih ke Peran Politik Baru
Pada 12 Agustus 2026, Trump mengumumkan bahwa Leavitt akan meninggalkan jabatan sekretaris pers pada akhir bulan.
Leavitt mengatakan keputusan tersebut diambil untuk lebih banyak memberikan perhatian kepada keluarganya. Ia baru saja kembali menjalankan aktivitas publik setelah kelahiran anak keduanya pada Mei 2026.
Trump, di sisi lain, mengatakan Leavitt akan tetap menjadi salah satu penasihat luar terpentingnya dan suara berpengaruh di Partai Republik, terutama menjelang pemilu sela 2026.
Belum ada pengganti definitif yang diumumkan untuk posisi tersebut. Kepergian Leavitt menjadi cukup penting bagi Trump karena ia termasuk pejabat komunikasi yang paling loyal dan paling mudah dikenali publik.
Warisan 20 Bulan Karoline Leavitt
Jika masa jabatan Leavitt dirangkum dalam lima kata, mungkin yang paling tepat adalah:
viral, loyal, konfrontatif, digital, dan kontroversial.
Ia datang ke Gedung Putih sebagai perempuan berusia 27 tahun dan mencatat sejarah sebagai sekretaris pers termuda. Dalam waktu kurang dari dua tahun, namanya telah menjadi bagian dari berbagai perdebatan tentang kebebasan pers, media baru, propaganda politik, komunikasi digital, hingga cara pemerintahan Trump menghadapi kontroversi.
Lima momen di atas—klaim US$50 juta untuk kondom, pertarungan Gulf of America, pembukaan briefing untuk influencer dan new media, respons terhadap dokumen Epstein, serta foto dirinya bekerja sambil mengurus bayi—menunjukkan luasnya spektrum citra Leavitt di depan publik. Ia bisa menjadi figur kontroversial dalam satu hari dan simbol “working mom” pada hari berikutnya.

Posting Komentar untuk " 5 Momen Viral Karoline Leavitt Selama 20 Bulan Jadi Jubir Trump"