Satu per Satu Negara Anggota FIFA Cabut Dukungan ke Infantino
JAKARTA — Posisi Gianni Infantino menghadapi tekanan serius menjelang pemilihan Presiden FIFA 2027. Sejumlah asosiasi sepak bola nasional mulai menarik kembali dukungan terhadap upaya Infantino mempertahankan kursi presiden FIFA untuk periode 2027–2031.
Gelombang penolakan awalnya muncul di Eropa dan kemudian berkembang menjadi persoalan tata kelola yang lebih luas. Finlandia menjadi negara pertama yang secara terbuka menarik dukungannya pada akhir Juli 2026. Setelah itu, Wales, Serbia, Swedia, dan Inggris ikut mengambil sikap berseberangan. Sejumlah negara Eropa lainnya juga telah menyatakan tidak akan mendukung Infantino atau belum memberikan dukungan untuk pencalonannya.
Namun, situasinya tidak sesederhana “Infantino kehilangan dukungan dunia”. Di saat sejumlah negara Eropa berbalik arah, Argentina, Meksiko, serta sejumlah negara Afrika justru masih memberikan dukungan kepada presiden FIFA tersebut. Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF), misalnya, kembali menyatakan dukungan penuh terhadap Infantino.
Finlandia Membuka Gelombang Penolakan
Finlandia menjadi titik awal gelombang penarikan dukungan yang kemudian menyebar ke sejumlah anggota UEFA.
Federasi Sepak Bola Finlandia menarik dukungannya setelah sebelumnya termasuk federasi yang memberikan dukungan terhadap pencalonan kembali Infantino. Keputusan tersebut muncul di tengah meningkatnya kritik terhadap proses pengambilan keputusan di FIFA.
Tak lama kemudian, Wales secara terbuka menyatakan tidak lagi mendukung Infantino. Federasi sepak bola Wales bahkan menjadi negara pertama yang secara publik mengumumkan pencabutan dukungan, dengan menyoroti persoalan tata kelola, proses pengambilan keputusan, dan kepemimpinan.
Langkah Wales kemudian diikuti Serbia dan Swedia.
Reuters melaporkan bahwa ketiga federasi tersebut—Serbia, Swedia, dan Wales—mengumumkan penarikan dukungan pada 3 Agustus 2026. Swedia sebelumnya bahkan termasuk di antara federasi Eropa yang tidak mengirimkan surat dukungan terhadap pencalonan Infantino.
Inggris Ikut Berbalik Arah Tekanan semakin besar ketika Football Association (FA) Inggris juga secara resmi menarik dukungannya terhadap pencalonan kembali Infantino.
Sebelumnya, Inggris disebut akan mengikuti langkah Wales dan Finlandia. Pada perkembangan berikutnya, FA Inggris benar-benar mengambil posisi tersebut, menambah kekuatan kubu yang menginginkan perubahan kepemimpinan di FIFA.
Keterlibatan Inggris memiliki bobot politik dan simbolis yang besar karena FA merupakan salah satu federasi paling berpengaruh di Eropa dan memiliki hubungan kuat dengan struktur sepak bola internasional.
Dengan masuknya Inggris, daftar negara yang secara terbuka menolak atau menarik dukungan terhadap Infantino semakin panjang.
Negara Mana Saja yang Berseberangan dengan Infantino?
Perlu dibedakan antara negara yang secara resmi mencabut dukungan dan negara yang belum mendukung atau telah menyatakan tidak akan memberikan suara kepada Infantino.
Berdasarkan berbagai laporan terbaru hingga 13 Agustus 2026, kelompok yang secara terbuka berada di kubu oposisi mencakup sejumlah negara Eropa, antara lain:
- Finlandia
- Wales
- Inggris
- Serbia
- Swedia
- Albania
- Kroasia
- Denmark
- Jerman
- Yunani
- Belanda
- Norwegia
- serta sejumlah federasi Eropa lainnya.
Yordania menjadi salah satu negara di luar Eropa yang secara terbuka menyatakan tidak mendukung Infantino.
Namun, daftar tersebut harus dibaca secara hati-hati. Tidak semua negara di atas menggunakan mekanisme atau bahasa yang sama. Ada yang benar-benar menarik surat dukungan sebelumnya, sementara lainnya menyatakan tidak akan mendukung Infantino atau memilih tidak memberikan dukungan sejak awal.
Karena pemilihan presiden FIFA baru akan berlangsung pada 2027, posisi sejumlah federasi masih berpotensi berubah.
Mengapa Banyak Negara Mulai Menjauh?
Pemicunya adalah kontroversi mengenai rencana FIFA membentuk perusahaan baru bernama FIFA Forward Enterprise (FFE).
Pada akhir Juli, FIFA mengumumkan rencana mengembangkan model pendanaan baru dengan target menghimpun hingga US$4,2 miliar dari investor swasta. FIFA menyebut nilai implisit perusahaan tersebut sekitar US$20 miliar dan investor dapat memperoleh kepemilikan hingga sekitar 20 persen dalam entitas baru tersebut.
Tujuan yang dikemukakan FIFA adalah meningkatkan pendanaan pengembangan sepak bola di seluruh dunia. FIFA menyatakan setiap 211 asosiasi anggotanya dapat memperoleh kesempatan mengakses pendanaan tambahan.
Namun, rencana tersebut justru memicu kontroversi.
Sejumlah konfederasi merasa proses konsultasi tidak memadai. UEFA dan CONCACAF bahkan menyatakan mereka mengetahui rencana tersebut melalui pemberitaan media, bukan melalui komunikasi resmi FIFA terlebih dahulu.
Bagi sejumlah federasi, persoalannya bukan semata-mata mengenai uang, tetapi siapa yang mengambil keputusan, bagaimana keputusan itu dibuat, serta seberapa transparan FIFA dalam mengelola aset komersial sepak bola dunia.
FIFA Akhirnya Membatalkan Rencana US$4,2 Miliar Tekanan tersebut akhirnya membuat Infantino menarik proposal tersebut. FIFA mengakui bahwa rencana tersebut telah menimbulkan perpecahan yang tidak lagi sejalan dengan tujuan awal proyek. Proposal yang semula dimaksudkan untuk meningkatkan pendanaan sepak bola akhirnya dihentikan.
Akan tetapi, pencabutan proposal tidak otomatis mengakhiri persoalan. Justru sebaliknya, kontroversi itu membuka pertanyaan yang lebih besar mengenai hubungan Infantino dengan konfederasi dan asosiasi anggota FIFA.
Reuters melaporkan bahwa kegagalan proposal tersebut memperlihatkan meningkatnya kegelisahan di dunia sepak bola terhadap gaya kepemimpinan Infantino. UEFA menjadi salah satu pihak paling vokal dalam menuntut transparansi lebih besar.
UEFA dan FIFA Berada dalam Ketegangan
Perselisihan antara FIFA dan UEFA menjadi salah satu elemen terpenting dalam krisis ini. UEFA bukan hanya mempertanyakan proses lahirnya proposal investasi tersebut, tetapi juga mempertimbangkan langkah hukum. UEFA meminta agar seluruh bukti dan dokumen yang berkaitan dengan proposal tersebut dipertahankan.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa konflik tidak lagi sekadar terjadi antara Infantino dan beberapa federasi nasional.
Ada persoalan hubungan antara FIFA sebagai badan sepak bola dunia dengan konfederasi kontinental yang memiliki kepentingan masing-masing.
Jika ketegangan berlanjut, persoalannya dapat berkembang menjadi perdebatan mengenai struktur kekuasaan sepak bola internasional.
Bukan Semua Negara Meninggalkan Infantino
Di tengah gelombang penolakan Eropa, Infantino masih memiliki basis dukungan yang kuat. Argentina, misalnya, secara terbuka menyatakan dukungan terhadap upaya Infantino melanjutkan kepemimpinannya di FIFA. Federasi Sepak Bola Argentina mengapresiasi kepemimpinan Infantino selama sekitar satu dekade dan keputusan FIFA menarik proposal kontroversial tersebut.
Meksiko juga termasuk negara yang memberikan dukungan kepada Infantino. Dukungan dari Amerika Latin menjadi penting karena kawasan tersebut merupakan salah satu pusat kekuatan sepak bola dunia.
Di Afrika, posisi Infantino bahkan relatif kuat. CAF secara resmi kembali memberikan dukungan penuh terhadap Infantino. Sejumlah federasi Afrika juga melihat investasi FIFA selama masa kepemimpinannya sebagai faktor penting dalam perkembangan sepak bola di negara-negara yang sebelumnya memiliki keterbatasan sumber daya.
Karena itu, narasi bahwa Infantino telah “ditinggalkan seluruh anggota FIFA” belum tepat. Yang lebih akurat adalah terjadi perpecahan tajam antara sejumlah anggota, terutama di Eropa, dengan kelompok yang masih mendukung kepemimpinan Infantino.
Malawi Menjadi Contoh Dukungan dari Afrika
Perkembangan terbaru dari Malawi memperlihatkan bahwa dukungan terhadap Infantino masih cukup kuat di Afrika.
Presiden Federasi Sepak Bola Malawi, Fleetwood Haiya, memuji investasi FIFA di sepak bola Afrika dan mengaitkannya dengan perkembangan sepak bola perempuan di negaranya.
Malawi berhasil mendapatkan tempat di Piala Dunia Wanita 2027 setelah mencapai semifinal Piala Afrika Wanita. Haiya menilai dukungan FIFA terhadap asosiasi sepak bola dengan sumber daya terbatas merupakan salah satu alasan dirinya masih percaya kepada Infantino.
Namun, Haiya juga mengakui adanya kontroversi mengenai proposal FFE. Menurutnya, negara-negara yang membutuhkan investasi tetap memerlukan skema pendanaan yang kuat, meskipun modelnya perlu diperbaiki. Ini memperlihatkan mengapa posisi negara-negara berkembang tidak selalu sama dengan federasi Eropa.
Mengapa Afrika Cenderung Mendukung Infantino?
Salah satu alasan utama adalah kebijakan pengembangan sepak bola. Sejak menjadi presiden FIFA, Infantino mendorong peningkatan pendanaan melalui program FIFA Forward. Negara-negara dengan infrastruktur sepak bola terbatas mendapatkan akses terhadap dana untuk pembangunan fasilitas, pembinaan pemain, kompetisi, sepak bola perempuan, dan pengembangan akar rumput.
FIFA sendiri mengatakan proposal FFE dimaksudkan untuk menyediakan tambahan pendanaan hingga US$10 miliar bagi pengembangan sepak bola, dengan mekanisme yang melibatkan investasi awal dari investor eksternal.
Bagi asosiasi kecil dan negara berkembang, pertanyaan utamanya sering kali bukan siapa yang memimpin FIFA, tetapi siapa yang mampu menyediakan sumber daya untuk membangun sepak bola domestik. Inilah salah satu alasan mengapa dukungan terhadap Infantino masih bertahan di berbagai kawasan.
Masalah Besarnya: Sistem Satu Negara, Satu Suara
Dalam pemilihan presiden FIFA, setiap asosiasi anggota memiliki satu suara. Artinya, negara dengan industri sepak bola besar tidak memiliki jumlah suara lebih banyak dibanding negara kecil.
Ini membuat dukungan dari negara-negara Afrika, Asia, Karibia, Oseania, dan kawasan lain menjadi sangat penting. FIFA memiliki 211 asosiasi anggota, sehingga kalkulasi politik menuju pemilihan 2027 tidak bisa hanya melihat negara-negara besar Eropa.
Dengan demikian, meskipun Inggris, Jerman, Swedia, Denmark, Belanda, dan sejumlah negara besar lainnya menentang Infantino, hal itu belum berarti kekalahannya sudah pasti.
Sebaliknya, Infantino masih harus mempertahankan dukungan mayoritas anggota FIFA sampai pemungutan suara berlangsung.
Dari Dukungan Lebih dari 200 Negara hingga Krisis
Situasi saat ini terasa dramatis karena terjadi hanya beberapa pekan setelah Infantino memperoleh dukungan sangat luas untuk pencalonan kembali.
Pada pertengahan Juli, lebih dari 200 anggota FIFA dilaporkan telah menyatakan dukungan terhadap Infantino untuk masa jabatan berikutnya. Saat itu hanya segelintir federasi yang belum memberikan dukungan.
Namun, kontroversi FFE mengubah peta politik dengan sangat cepat. Federasi yang sebelumnya mendukung mulai menarik kembali dukungan. Negara yang sejak awal tidak memberikan dukungan semakin terbuka menyatakan penolakan.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa surat dukungan yang diberikan sebelum kontroversi FFE belum tentu menjadi jaminan suara pada pemilihan 2027.
FIFPRO Ikut Soroti Krisis Tata Kelola
Krisis ini juga mendapat perhatian dari FIFPRO Europe. Pada 12 Agustus 2026, Presiden FIFPRO Europe David Terrier menyatakan FIFA membutuhkan reformasi tata kelola yang mendalam, bukan sekadar perdebatan mengenai siapa yang menjadi presiden.
Terrier menilai persoalan yang terjadi menunjukkan adanya kerusakan kepercayaan antara FIFA dan federasi sepak bola di berbagai negara. Ia bahkan membandingkan situasi tersebut dengan krisis tata kelola yang pernah mengguncang FIFA pada era Sepp Blatter.
Menurut pandangan tersebut, persoalan utama bukan hanya apakah Infantino bertahan atau tidak, tetapi apakah struktur FIFA dapat dibuat lebih transparan dan terdesentralisasi.
Apakah Infantino Bisa Kalah pada 2027?
Untuk saat ini, jawabannya belum bisa dipastikan. Ada dua faktor yang harus diperhatikan.
Pertama, jumlah negara yang menolak.
Gelombang penolakan yang dipimpin sejumlah federasi Eropa dapat terus berkembang. Jika lebih banyak anggota mengikuti langkah tersebut, posisi Infantino akan semakin sulit.
Kedua, kekuatan basis pendukung Infantino.
Dukungan dari Afrika, Asia, Amerika Latin, dan kawasan lain dapat menjadi penyeimbang terhadap oposisi Eropa.
Karena setiap anggota FIFA memiliki satu suara, kalkulasi politik tidak dapat dilakukan hanya berdasarkan reputasi atau kekuatan ekonomi negara.
Pemilihan FIFA 2027 Menjadi Pertarungan Besar
Pemilihan presiden FIFA 2027 kini berpotensi menjadi salah satu pemilihan paling sengit dalam beberapa tahun terakhir.
Infantino telah menyatakan niatnya untuk mencalonkan diri kembali. Jika terpilih, ia akan memimpin FIFA untuk periode 2027–2031.
Di sisi lain, semakin banyak federasi yang meminta perubahan. Yang dipertaruhkan bukan hanya nama Infantino, tetapi juga model tata kelola FIFA ke depan.
Apakah FIFA akan tetap menggunakan pola kepemimpinan yang sangat terpusat? Apakah keputusan komersial bernilai miliaran dolar akan dibuat melalui konsultasi yang lebih luas? Dan seberapa besar kewenangan konfederasi serta asosiasi nasional dalam menentukan arah FIFA?. Pertanyaan-pertanyaan itu kini menjadi bagian dari pertarungan politik menuju 2027.
Daftar Sikap Negara Terus Berubah
Penting dicatat bahwa peta dukungan saat ini belum final. Sejumlah laporan menyebut setidaknya belasan negara telah menarik dukungan, menolak Infantino, atau tidak memberikan dukungan terhadap pencalonannya. Tetapi status setiap negara berbeda dan dapat berubah sebelum Kongres FIFA 2027.
Karena itu, angka “berapa negara mendukung” dan “berapa negara menolak” harus diperlakukan sebagai snapshot politik per Agustus 2026, bukan hasil pemilihan.
Perubahan sikap dapat terjadi dalam beberapa bulan ke depan, terutama setelah FIFA melakukan konsolidasi dengan konfederasi dan asosiasi anggota.

Posting Komentar untuk " Satu per Satu Negara Anggota FIFA Cabut Dukungan ke Infantino"