Menakar Modal, Kredibilitas Destry Damayanti sebagai Calon Bos Baru BI
Jakarta, 11 Agustus 2026 — Nama Destry Damayanti kini berada di titik paling menentukan dalam perjalanan kariernya di Bank Indonesia (BI). Presiden Prabowo Subianto secara resmi mengajukan Destry sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia untuk menggantikan Perry Warjiyo yang mengundurkan diri pada akhir Juli 2026.
Jika mendapat persetujuan DPR, Destry bukan hanya menjadi orang pertama yang naik dari posisi Deputi Gubernur Senior ke kursi tertinggi bank sentral, tetapi juga berpeluang mencatat sejarah sebagai perempuan pertama yang secara definitif memimpin Bank Indonesia.
Pencalonan ini datang pada momentum yang tidak sederhana. BI sedang menghadapi tuntutan untuk menjaga stabilitas rupiah dan inflasi, sekaligus ikut menopang agenda pertumbuhan ekonomi pemerintah. Di sisi lain, pasar keuangan menaruh perhatian besar pada satu isu yang lebih fundamental: seberapa kuat independensi BI di bawah kepemimpinan baru?
Pasar memberikan respons awal yang relatif positif. Setelah pencalonan Destry diumumkan, rupiah menguat dan mencapai level terkuat terhadap dolar AS sejak 18 Juni. Respons tersebut menunjukkan bahwa pelaku pasar melihat Destry sebagai figur yang relatif familiar, berpengalaman, dan menawarkan kesinambungan kebijakan ketimbang perubahan arah yang mendadak.
Namun, respons pasar pada hari pertama belum bisa menjadi ukuran akhir. Kredibilitas seorang gubernur bank sentral tidak hanya dibangun oleh rekam jejak, tetapi juga oleh keputusan yang diambil ketika menghadapi tekanan.
Dari ekonom pasar ke pucuk bank sentral
Destry bukan nama baru dalam ekosistem kebijakan ekonomi Indonesia. Lahir di Jakarta pada 1963, Destry menempuh pendidikan ekonomi di Universitas Indonesia sebelum meraih gelar Master of Science bidang Regional Science dari Cornell University, Amerika Serikat. Kariernya mencakup dunia akademik, riset, perbankan, pasar keuangan, pemerintahan, hingga kebanksentralan.
Ia pernah menjadi Senior Economic Adviser bagi Duta Besar Inggris untuk Indonesia pada 2000–2003, kemudian menjadi peneliti dan dosen di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Setelah itu, Destry masuk ke dunia pasar keuangan sebagai Chief Economist Mandiri Sekuritas dan kemudian Chief Economist Bank Mandiri. Ia juga pernah memimpin satuan tugas ekonomi di Kementerian BUMN serta menjadi anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) periode 2015–2019.
Pengalaman tersebut menjadi modal penting. Gubernur BI tidak hanya membutuhkan pemahaman teori moneter, tetapi juga kemampuan membaca pasar, memahami perilaku investor, mengelola komunikasi kebijakan, serta mengerti bagaimana kebijakan moneter berdampak terhadap sektor keuangan dan dunia usaha.
Destry memiliki pengalaman di hampir seluruh mata rantai tersebut. Pada 2019, ia masuk ke BI sebagai Deputi Gubernur Senior. Posisi tersebut membuatnya berada sangat dekat dengan proses pengambilan keputusan bank sentral selama beberapa tahun terakhir. Ketika Perry Warjiyo mengundurkan diri, Destry otomatis menjadi figur yang paling siap secara kelembagaan untuk menjaga kesinambungan kepemimpinan.
Modal pertama: pengalaman kebanksentralan
Jika dibandingkan dengan figur eksternal yang sama sekali baru terhadap BI, Destry memiliki keunggulan besar: ia memahami BI dari dalam.
Sejak menjadi Deputi Gubernur Senior pada 2019, Destry telah berada di lingkaran pengambilan kebijakan bank sentral. Ia memahami mekanisme rapat Dewan Gubernur, dinamika pasar keuangan, komunikasi kebijakan moneter, serta koordinasi BI dengan pemerintah dan lembaga keuangan lainnya.
Pengalaman tersebut menjadi sangat berharga karena pergantian gubernur kali ini terjadi secara mendadak. Perry Warjiyo sebelumnya memiliki masa jabatan hingga 2028, tetapi mengundurkan diri pada Juli 2026 dengan alasan pribadi. Pemerintah kemudian menetapkan Destry sebagai Pejabat Gubernur Sementara.
Artinya, Destry bukan masuk ke BI sebagai orang baru. Ia sudah menjalankan fungsi transisi dan mengetahui kondisi organisasi ketika terjadi perubahan kepemimpinan. Bagi pasar, faktor ini mengurangi risiko "shock" kebijakan.
Modal kedua: kredibilitas di pasar keuangan
Kredibilitas Destry juga tidak hanya berasal dari jabatan di BI. Sebelum menjadi pejabat bank sentral, ia cukup lama berkarier sebagai ekonom di sektor keuangan. Pengalaman sebagai Chief Economist di Mandiri Sekuritas dan Bank Mandiri membuatnya terbiasa berhadapan dengan investor, pelaku pasar, analis, serta berbagai indikator makroekonomi.
Modal tersebut penting karena bank sentral modern tidak bekerja hanya melalui keputusan suku bunga. Ekspektasi pasar juga merupakan bagian dari efektivitas kebijakan moneter.
Ketika seorang gubernur berbicara mengenai arah suku bunga, nilai tukar, inflasi atau likuiditas, pasar akan langsung menerjemahkan pernyataan tersebut ke dalam harga aset. Karena itu, kemampuan seorang gubernur untuk menjelaskan kebijakan dengan jelas dapat sama pentingnya dengan keputusan kebijakan itu sendiri.
Destry memiliki pengalaman komunikasi dengan pasar yang relatif panjang. Inilah salah satu alasan mengapa sejumlah ekonom sebelumnya menilai dirinya sebagai salah satu figur yang memiliki modal kuat untuk menggantikan Perry. Kepala Ekonom PermataBank Josua Pardede, misalnya, menilai calon gubernur ideal harus memiliki pengalaman kuat dalam kebijakan moneter dan pasar keuangan, keberanian menjaga independensi, kemampuan berkomunikasi dengan pasar, serta kemampuan berkoordinasi dengan pemerintah tanpa tunduk pada kepentingan jangka pendek.
Modal ketiga: memahami koordinasi pemerintah dan BI
Destry juga memiliki pengalaman bekerja lintas institusi. Jejaknya di Kementerian BUMN dan LPS membuatnya tidak asing dengan koordinasi kebijakan di luar BI. Hal ini penting karena perekonomian Indonesia membutuhkan koordinasi antara kebijakan moneter, fiskal dan sektor keuangan.
Pada 2026, kebutuhan koordinasi tersebut bahkan semakin besar. Pemerintah dan BI secara resmi terus melakukan koordinasi kebijakan fiskal-moneter untuk menjaga stabilitas sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi.
Di sisi BI sendiri, kebijakan tidak hanya diarahkan pada stabilitas harga dan nilai tukar. BI juga menggunakan instrumen makroprudensial untuk mendorong intermediasi perbankan dan pembiayaan ke sektor produktif.
Pada Maret 2026, misalnya, kredit perbankan tumbuh 9,49 persen secara tahunan. BI juga mencatat masih terdapat ruang besar untuk mendorong pembiayaan, termasuk melalui optimalisasi fasilitas kredit yang belum ditarik.
Destry sendiri termasuk pejabat yang aktif menyuarakan pentingnya mempercepat intermediasi perbankan untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi. Ini menunjukkan bahwa tantangan yang dihadapinya bukan semata-mata menjaga inflasi, tetapi juga mencari keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan.
Tantangan terbesar: menjaga independensi BI
Di sinilah pencalonan Destry menjadi lebih kompleks. Di satu sisi, kedekatan dengan pemerintah dapat menjadi modal untuk memperkuat koordinasi kebijakan. Di sisi lain, terlalu dekat dengan pemerintah dapat memunculkan pertanyaan mengenai independensi bank sentral.
Bank sentral memiliki posisi yang berbeda dengan kementerian. Pemerintah memang membutuhkan dukungan kebijakan moneter untuk mencapai target ekonomi, tetapi keputusan moneter tidak boleh semata-mata mengikuti kepentingan politik jangka pendek.
Sejumlah analis sejak awal proses pergantian Gubernur BI telah mengingatkan bahwa figur baru harus mampu menjaga independensi bank sentral. Kekhawatiran pasar bukan hanya mengenai siapa yang dipilih, tetapi apakah gubernur baru mampu mempertahankan ruang bagi BI untuk mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan ekonomi.
Karena itu, Destry akan menghadapi ujian yang lebih besar setelah resmi menjabat nanti. Selama tidak ada tekanan besar, menjaga independensi relatif mudah. Ujian sesungguhnya muncul ketika kepentingan pemerintah dan kebutuhan stabilitas moneter tidak berada pada garis yang sama.
Misalnya ketika pemerintah membutuhkan kebijakan yang sangat pro-pertumbuhan sementara inflasi atau tekanan rupiah mengharuskan BI mengambil sikap lebih ketat. Pada situasi seperti itu, kredibilitas Destry akan diukur bukan dari latar belakang akademiknya, melainkan dari keberaniannya mengatakan "tidak" ketika diperlukan.
Ujian berikutnya: rupiah dan inflas
Tantangan pertama Destry sebagai calon gubernur definitif juga tidak ringan. Bank Indonesia pada Juli 2026 mempertahankan BI-Rate pada level 5,75 persen, dengan Deposit Facility 4,75 persen dan Lending Facility 6,50 persen. Fokus kebijakan tetap diarahkan pada stabilisasi nilai tukar rupiah serta menjaga inflasi dalam sasaran 2,5 persen plus-minus 1 persen.
Di saat bersamaan, ekonomi Indonesia membutuhkan dukungan pembiayaan dan pertumbuhan. Data BI menunjukkan ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen secara tahunan pada kuartal I 2026. BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi sepanjang 2026 berada pada kisaran 4,9–5,7 persen.
Inilah dilema klasik bank sentral: ketika pertumbuhan perlu didorong, suku bunga dan likuiditas ingin dibuat lebih longgar. Namun ketika rupiah tertekan atau inflasi meningkat, bank sentral harus berhati-hati. Destry harus memastikan kebijakan BI tidak kehilangan jangkar stabilitas.
Respons pasar menjadi modal awal
Salah satu indikator paling menarik dari pencalonan Destry adalah respons pasar. Pasar sebelumnya sempat diliputi ketidakpastian setelah pengunduran diri Perry Warjiyo. Ketidakpastian tersebut bukan hanya menyangkut pergantian figur, tetapi juga arah kebijakan BI dan masa depan independensi bank sentral.
Ketika Presiden akhirnya mengajukan Destry sebagai calon tunggal, rupiah menguat dan pasar saham turut mendapat sentimen positif. Reuters mencatat rupiah mencapai level terkuat terhadap dolar AS sejak 18 Juni setelah pengumuman pencalonan tersebut.
Respons tersebut dapat dibaca sebagai voting sementara dari pasar. Pasar tampaknya lebih nyaman dengan figur yang sudah dikenal dan memiliki pengalaman panjang di bank sentral dibandingkan kandidat yang dianggap membawa perubahan besar atau belum teruji.
Namun, respons pasar sehari atau dua hari setelah pencalonan tidak boleh dibaca sebagai cek kosong. Kepercayaan investor dapat terbentuk cepat, tetapi juga bisa hilang cepat apabila kebijakan yang diambil kemudian dianggap mengganggu kredibilitas moneter.
Pekerjaan rumah setelah resmi menjabat
Jika DPR memberikan persetujuan, setidaknya ada lima agenda besar yang akan menunggu Destry.
Pertama, menjaga stabilitas rupiah.
Rupiah akan tetap menjadi salah satu indikator paling sensitif terhadap kredibilitas kebijakan BI. Gubernur baru harus mampu menjaga kepercayaan pasar tanpa mengorbankan fundamental ekonomi.
Kedua, menjaga inflasi.
Tekanan inflasi tidak hanya datang dari permintaan domestik, tetapi juga pangan, energi, nilai tukar, serta kondisi global.
Ketiga, mendorong pertumbuhan tanpa mengorbankan stabilitas.
Pemerintah membutuhkan pertumbuhan yang lebih tinggi, sementara BI harus memastikan kebijakan pro-pertumbuhan tidak menciptakan ketidakseimbangan baru.
Keempat, memperkuat komunikasi kebijakan.
Di era pasar keuangan yang bergerak sangat cepat, satu pernyataan gubernur dapat memengaruhi rupiah, obligasi dan saham dalam hitungan menit.
Kelima, membuktikan independensi.
Ini kemungkinan menjadi ujian terbesar sekaligus warisan terpenting Destry jika kelak resmi menjadi Gubernur BI.
Mengapa Destry bisa menjadi pilihan "aman"?
Secara politik dan ekonomi, pencalonan Destry menawarkan satu hal yang sangat berharga: kontinuitas. Ia bukan orang luar. Ia sudah berada di dalam BI sejak 2019. Ia memahami struktur organisasi, kebijakan yang berjalan, hubungan dengan pemerintah, serta karakter pasar keuangan.
Dalam kondisi ketika pemerintah membutuhkan stabilitas dan pasar membutuhkan kepastian, figur seperti Destry menawarkan risiko transisi yang relatif lebih kecil.
Itu pula yang menjelaskan mengapa pencalonannya langsung mendapat respons positif dari pasar. Reuters mencatat bahwa pelaku pasar melihat Destry sebagai figur dengan pendekatan yang cenderung berorientasi pada pertumbuhan tetapi tetap berfokus pada stabilitas.
Dengan kata lain, Destry bukan kandidat yang menjanjikan revolusi kebijakan BI. Ia lebih terlihat sebagai kandidat kesinambungan dengan penyesuaian.
Tetapi "orang dalam" juga memiliki risiko
Keunggulan Destry sebagai insider sekaligus dapat menjadi kelemahan. Pasar mungkin menginginkan perubahan setelah pergantian mendadak di pucuk BI. Namun, terlalu banyak perubahan juga dapat meningkatkan ketidakpastian.
Sebaliknya, jika Destry mempertahankan hampir seluruh kebijakan era Perry Warjiyo, pertanyaan lain bisa muncul: apakah BI benar-benar mendapatkan kepemimpinan baru atau hanya mendapatkan kelanjutan dari rezim sebelumnya?
Karena itu, tantangan Destry adalah menemukan titik tengah. Ia harus menunjukkan bahwa dirinya cukup independen untuk mengambil keputusan sendiri, tetapi cukup terbuka untuk bekerja sama dengan pemerintah.
Ia harus mampu mendukung agenda pertumbuhan, tetapi tidak boleh membiarkan target pertumbuhan mengalahkan stabilitas rupiah dan inflasi.
Dan ia harus menjaga hubungan baik dengan pemerintah tanpa menciptakan persepsi bahwa BI kehilangan jarak institusional.
DPR akan menjadi gerbang terakhir
Pencalonan Presiden belum otomatis menjadikan Destry sebagai Gubernur BI definitif. Destry masih harus menjalani proses di DPR sesuai mekanisme yang berlaku. Reuters melaporkan parlemen memiliki waktu satu bulan untuk memberikan persetujuan terhadap nominasi tersebut.
Proses ini akan menjadi kesempatan bagi DPR untuk menguji bukan hanya kompetensi teknis Destry, tetapi juga visi kebijakannya.
Pertanyaan paling penting kemungkinan bukan lagi sekadar "apakah Destry kompeten?", karena rekam jejaknya relatif panjang.
Pertanyaan yang lebih strategis adalah:
Seberapa independen Destry nantinya?
Bagaimana ia akan merespons tekanan terhadap rupiah?
Seberapa jauh BI harus membantu agenda pertumbuhan pemerintah?
Apa batas antara koordinasi kebijakan dan intervensi terhadap bank sentral?
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut akan jauh lebih menentukan daripada sekadar gelar akademik atau panjangnya daftar jabatan.
Modal sudah ada, pembuktian baru dimulai
Secara rekam jejak, Destry Damayanti memiliki modal yang cukup lengkap untuk memimpin Bank Indonesia: latar belakang ekonomi, pengalaman akademik, pemahaman pasar keuangan, pengalaman di sektor perbankan, LPS, pemerintahan, serta tujuh tahun lebih berada di jajaran pimpinan BI.
Bahkan sebelum pencalonan definitif, ia sudah menjalankan fungsi sebagai Pejabat Gubernur Sementara setelah Perry Warjiyo mengundurkan diri. Pemerintah sendiri menempatkannya sebagai figur yang menjalankan fungsi tersebut sesuai ketentuan transisi kepemimpinan BI.
Namun, kredibilitas sebagai calon belum tentu sama dengan kredibilitas sebagai gubernur. Sebagai ekonom dan pejabat senior, Destry telah membangun reputasi selama puluhan tahun. Sebagai Gubernur BI, reputasinya akan ditentukan oleh keputusan-keputusan yang mungkin tidak selalu populer.
Pasar sudah memberikan sinyal awal yang positif. Kini tantangannya adalah mengubah modal tersebut menjadi kepercayaan jangka panjang.
Jika berhasil, Destry bukan hanya akan menjadi perempuan pertama yang memimpin Bank Indonesia secara definitif. Ia juga berpotensi menjadi simbol bahwa transisi kepemimpinan bank sentral dapat berlangsung dengan tetap menjaga stabilitas, profesionalisme, dan independensi.
Tetapi jika gagal menjaga keseimbangan antara koordinasi dengan pemerintah dan independensi moneter, seluruh modal kredibilitas yang dibangun selama puluhan tahun dapat diuji hanya dalam beberapa keputusan.
Pada akhirnya, pertanyaan terbesar bukan apakah Destry Damayanti layak memimpin BI. Rekam jejaknya telah memberi jawaban yang cukup kuat. Pertanyaan sesungguhnya adalah: seberapa kuat ia mampu berdiri sendiri ketika kepentingan politik, pertumbuhan ekonomi, stabilitas rupiah, dan tuntutan pasar bertemu di satu meja.

Posting Komentar untuk "Menakar Modal, Kredibilitas Destry Damayanti sebagai Calon Bos Baru BI"