4 Penyebab Urin Berwarna Hijau, Perlu Periksa ke Dokter?
Jakarta – Urin umumnya berwarna bening hingga kuning pucat. Karena itu, ketika warna urine tiba-tiba berubah menjadi hijau atau hijau kebiruan, kondisi tersebut bisa membuat seseorang khawatir. Meski terlihat tidak biasa, urin berwarna hijau tidak selalu menandakan penyakit serius. Perubahan warna dapat dipicu oleh makanan atau pewarna, obat-obatan tertentu, hingga kondisi medis seperti infeksi saluran kemih (ISK). Dalam kasus yang jarang, perubahan warna juga dapat berkaitan dengan gangguan pada sistem empedu.
Mayo Clinic dan Cleveland Clinic mencatat sejumlah penyebab urine berwarna hijau, termasuk konsumsi pewarna tertentu, obat-obatan dan infeksi oleh bakteri tertentu. Lantas, apa saja penyebab urine berwarna hijau dan kapan kondisi ini perlu diperiksakan ke dokter?
1. Makanan dan Pewarna Buatan
Salah satu penyebab yang relatif tidak berbahaya adalah makanan atau minuman yang mengandung pewarna makanan berwarna biru atau hijau. Pewarna tersebut dapat keluar melalui urine sehingga warnanya tampak kehijauan. Beberapa makanan dengan warna sangat kuat juga dapat memberikan perubahan warna sementara.
Cleveland Clinic menyebut makanan yang mengandung pewarna biru atau hijau dapat membuat urine tampak hijau. Asparagus dan blueberry juga dalam kondisi tertentu dapat memberikan warna kehijauan pada urine. Jika perubahan warna muncul setelah mengonsumsi makanan atau minuman tertentu dan tidak disertai keluhan lain, warna urine biasanya akan kembali normal setelah zat tersebut diproses tubuh. Cleveland Clinic memperkirakan perubahan akibat makanan dapat membaik dalam sekitar 24–48 jam, meskipun waktunya dapat berbeda pada setiap orang.
2. Efek Samping Obat atau Zat Medis
Beberapa obat dapat membuat urine berubah menjadi hijau atau hijau kebiruan. Mayo Clinic mencatat sejumlah obat yang dapat menyebabkan perubahan tersebut, antara lain amitriptyline, cimetidine, triamterene, indomethacin, dan propofol. Cleveland Clinic juga mencantumkan beberapa obat lain yang dapat menyebabkan urine berwarna hijau, seperti promethazine, methocarbamol, metoclopramide dan methylene blue.
Methylene blue, misalnya, memang dapat menyebabkan urine dan feses berwarna biru kehijauan. Perubahan warna tersebut merupakan efek yang sudah dikenal dari zat tersebut. Propofol juga dapat menyebabkan urine berwarna hijau untuk sementara setelah digunakan dalam prosedur medis atau operasi. Karena itu, jika urine berubah warna setelah menjalani operasi, pemeriksaan medis, atau mulai mengonsumsi obat tertentu, perubahan tersebut dapat berkaitan dengan terapi yang diberikan.
Jangan menghentikan obat sendiri hanya karena urine berubah warna. Jika khawatir terhadap efek samping obat, konsultasikan terlebih dahulu kepada dokter atau apoteker.
3. Infeksi Saluran Kemih
Urin berwarna hijau juga dapat menjadi tanda infeksi saluran kemih, terutama jika infeksi disebabkan oleh bakteri tertentu seperti Pseudomonas. Cleveland Clinic menjelaskan bahwa infeksi Pseudomonas dapat membuat urine berubah warna menjadi hijau dan terkadang tampak keruh.
Namun, warna hijau biasanya bukan satu-satunya gejala. Perhatikan pula tanda-tanda lain seperti:
- Rasa perih atau terbakar ketika buang air kecil.
- Lebih sering ingin buang air kecil.
- Rasa ingin buang air kecil yang sulit ditahan.
- Urine berbau lebih menyengat.
- Urine terlihat keruh.
- Nyeri di bagian bawah perut atau panggul.
- Nyeri di punggung atau sisi tubuh.
- Demam dan menggigil.
Gejala tersebut dapat mengarah pada infeksi saluran kemih. Mayo Clinic juga mencatat bahwa ISK dapat menyebabkan rasa terbakar saat buang air kecil, frekuensi buang air kecil meningkat dan nyeri panggul. Jika infeksi mencapai ginjal, demam tinggi, menggigil, mual, muntah serta nyeri punggung atau sisi tubuh dapat muncul. Jika urine hijau disertai gejala-gejala tersebut, pemeriksaan dokter diperlukan untuk mengetahui penyebabnya dan menentukan terapi yang sesuai.
4. Gangguan Aliran Empedu atau Kondisi Medis Tertentu
Dalam kasus yang lebih jarang, perubahan warna urine dapat berkaitan dengan masalah pada sistem hati dan empedu. Cleveland Clinic menjelaskan bahwa obstruktif jaundice atau penyakit kuning akibat sumbatan aliran empedu dapat membuat urine menjadi sangat gelap dan pada beberapa kasus tampak kehijauan. Kondisi tersebut berkaitan dengan gangguan pada hati, pankreas, kantong empedu atau saluran empedu.
Biasanya perubahan urine bukan satu-satunya tanda. Gejala lain dapat berupa:
- Kulit dan bagian putih mata menguning.
- Feses berwarna pucat seperti tanah liat.
- Nyeri perut.
- Demam.
- Mual.
- Gatal pada kulit.
Jika perubahan warna urine disertai kulit atau mata menguning dan nyeri perut, pemeriksaan medis perlu dilakukan segera.
Apakah Urin Hijau Selalu Berbahaya?
Tidak. Warna urine saja tidak cukup untuk menentukan apakah seseorang mengalami penyakit tertentu. Mayo Clinic menjelaskan bahwa warna urine dapat berubah karena makanan, pewarna, obat-obatan maupun masalah kesehatan. Warna urine normal sendiri dapat bervariasi dari bening hingga kuning pucat, tergantung antara lain pada jumlah cairan yang diminum.
Karena itu, hal yang penting bukan hanya memperhatikan warna, tetapi juga kapan perubahan terjadi dan apakah ada gejala lain. Misalnya, urine hijau yang muncul sesaat setelah mengonsumsi makanan dengan pewarna tertentu dan kemudian kembali normal kemungkinan berbeda penyebabnya dengan urine hijau yang bertahan selama beberapa hari serta disertai demam dan nyeri saat buang air kecil.
Kapan Harus Periksa ke Dokter?
Tidak semua kasus urine hijau merupakan keadaan darurat. Cleveland Clinic menyebut urine hijau tanpa gejala lain umumnya tidak membutuhkan penanganan darurat. Namun, jika penyebabnya tidak jelas dan warna tidak kembali normal setelah beberapa hari, kondisi tersebut sebaiknya dikonsultasikan kepada dokter.
Pemeriksaan lebih penting dilakukan apabila urine hijau disertai:
- Nyeri atau rasa terbakar saat buang air kecil.
- Demam atau menggigil.
- Nyeri pinggang, punggung atau perut.
- Urine berbau sangat menyengat atau terlihat keruh.
- Kulit dan mata menguning.
- Mual atau muntah.
- Perubahan warna berlangsung beberapa hari tanpa penyebab yang jelas.
Demam tinggi, menggigil, muntah atau nyeri pada punggung/sisi tubuh dapat menjadi tanda infeksi yang melibatkan ginjal dan membutuhkan evaluasi medis.
Bagaimana Dokter Menentukan Penyebabnya?
Dokter biasanya akan menanyakan pola perubahan warna urine, makanan atau minuman yang dikonsumsi, obat dan suplemen yang digunakan, serta gejala lain yang menyertai. Jika dicurigai infeksi saluran kemih, dokter dapat melakukan pemeriksaan urine dan pemeriksaan lain sesuai kondisi pasien. Hasil pemeriksaan membantu menentukan apakah terdapat infeksi atau kelainan lain pada saluran kemih. Jika terdapat tanda yang mengarah pada gangguan hati atau saluran empedu, pemeriksaan tambahan dapat diperlukan untuk mencari sumber masalahnya.
Jangan Langsung Panik Melihat Urine Hijau
Urine berwarna hijau memang bukan warna yang umum, tetapi tidak otomatis berarti seseorang mengalami penyakit serius. Makanan dan pewarna tertentu maupun obat-obatan dapat menyebabkan perubahan warna sementara.
Yang perlu diperhatikan adalah durasi perubahan warna dan gejala yang menyertainya. Jika urine kembali normal setelah efek makanan, pewarna atau obat berlalu dan tidak ada keluhan lain, biasanya tidak perlu panik. Sebaliknya, jika urine tetap hijau tanpa penyebab yang jelas, terutama bila disertai rasa sakit saat buang air kecil, demam, nyeri pinggang, urine keruh atau perubahan warna kulit dan mata, pemeriksaan medis diperlukan.
Dengan demikian, jawaban atas pertanyaan “perlukah periksa ke dokter?” bergantung pada penyebab dan gejala yang menyertai. Warna hijau yang hanya muncul sementara dapat berasal dari faktor yang relatif tidak berbahaya, sedangkan perubahan yang menetap atau disertai gejala infeksi maupun gangguan organ perlu dievaluasi oleh tenaga kesehatan.

Posting Komentar untuk " 4 Penyebab Urin Berwarna Hijau, Perlu Periksa ke Dokter?"