Ini Penyebab Harga Cabai Naik hingga Tembus Rp100 Ribu per Kg
Jakarta – Harga cabai kembali menjadi perhatian masyarakat setelah cabai rawit merah di sejumlah pasar mendekati, bahkan menembus, Rp100 ribu per kilogram. Kenaikan ini terjadi dalam beberapa pekan terakhir dan mulai memberikan tekanan kepada rumah tangga maupun pelaku usaha makanan. Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional yang dikelola Bank Indonesia menunjukkan harga cabai rawit merah secara nasional mencapai Rp99.550 per kilogram pada 16 September 2026. Beberapa hari kemudian, pada 20 September, harga tercatat sekitar Rp96.100 per kilogram. Angka tersebut masih jauh di atas harga acuan pemerintah.
Lantas, apa yang membuat harga cabai naik begitu tinggi?
1. Pasokan Cabai Berkurang
Salah satu faktor utama kenaikan harga adalah terbatasnya pasokan cabai dari sentra produksi. Ketua Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia (AACI) Abdul Hamid menyebut harga cabai rawit merah di tingkat petani sudah berada di kisaran Rp60 ribu-Rp65 ribu per kilogram. Setelah melalui rantai distribusi, harga di tingkat konsumen dapat mencapai Rp90 ribu hingga Rp100 ribu per kilogram. Ketika jumlah cabai yang masuk ke pasar berkurang sementara permintaan tetap ada, harga pun terdorong naik.
2. Kemarau Berkepanjangan Mengganggu Produksi
Faktor cuaca menjadi salah satu persoalan terbesar bagi petani cabai. Petani di sejumlah daerah menghadapi kondisi kemarau dan ketersediaan air yang terbatas. Ketua Asosiasi Champion Cabai Indonesia (ACCI) Kabupaten Banjarnegara Teguh Suprapto mengatakan kemarau berkepanjangan ikut menyebabkan produksi menurun.
Saat ini petani juga memasuki masa transisi panen, yakni tanaman lama sudah selesai dipanen sementara tanaman baru belum menghasilkan secara optimal. Kondisi tersebut membuat pasokan cabai ke pasar menjadi lebih sedikit.
3. Tanaman Cabai Mengalami Gangguan Pembungaan
Cuaca panas dan kekurangan air tidak hanya mengurangi jumlah tanaman yang bisa dipanen, tetapi juga memengaruhi proses produksi tanaman. Sebelumnya, Ketua Asosiasi Champion Cabai Indonesia Tunov Mondro Atmojo menjelaskan bahwa cuaca panas dan minimnya ketersediaan air dapat menyebabkan tanaman cabai mengalami gagal bunga.
Akibatnya, tanaman tidak menghasilkan bunga baru secara optimal sehingga produksi buah cabai ikut turun. Jika kondisi tersebut terjadi secara luas di sentra produksi, pasokan cabai di pasar akan semakin terbatas.
4. Luas Tanam Cabai Menurun
Penurunan produksi juga berkaitan dengan berkurangnya luas tanam. Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta menyebut luas tanam cabai rawit merah pada periode Februari-Juli 2026 turun sekitar 14 persen.
Penurunan luas tanam tersebut kemudian berdampak terhadap produksi pada periode Agustus-Desember 2026. Pasokan cabai rawit merah yang masuk ke Pasar Induk Kramat Jati pada minggu kelima Agustus juga dilaporkan turun 10,4 persen, dari 144 ton menjadi 129 ton. Artinya, persoalan harga bukan hanya terjadi di tingkat pedagang, tetapi sudah berawal dari sisi produksi.
5. Masa Transisi Panen Membuat Stok Tidak Stabil
Komoditas hortikultura seperti cabai sangat dipengaruhi siklus tanam dan panen. Ketika tanaman lama sudah selesai berproduksi sedangkan tanaman baru belum memasuki masa panen maksimal, terjadi gap pasokan. Kondisi inilah yang sedang dihadapi sejumlah petani cabai. Pasokan menjadi lebih tipis sehingga harga di tingkat petani naik dan kemudian diteruskan ke pedagang serta konsumen.
6. Produksi Lebih Banyak Berasal dari Dataran Rendah
Menurut Abdul Hamid, kondisi produksi saat ini juga dipengaruhi oleh lokasi produksi cabai. Produksi cabai rawit merah lebih banyak berasal dari wilayah dataran rendah. Jika produksi di wilayah tersebut terganggu dan produksi dari daerah lain belum mampu menutup kekurangan, jumlah pasokan nasional menjadi lebih terbatas.
Ia bahkan memperingatkan bahwa apabila produksi beberapa bulan ke depan mengalami kegagalan, harga cabai rawit merah di tingkat konsumen berpotensi mencapai Rp100 ribu-Rp120 ribu per kilogram. Angka tersebut merupakan perkiraan, bukan harga yang telah terjadi secara nasional.
7. Faktor Cuaca Memengaruhi Distribusi
Selain produksi, cuaca dan musim juga dapat mengganggu distribusi cabai dari daerah penghasil menuju pasar konsumsi. Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Jambi, misalnya, menyebut berkurangnya pasokan dari daerah penghasil dipengaruhi faktor cuaca dan musim. Kondisi tersebut kemudian mendorong harga cabai berada di atas harga acuan pemerintah.
Cabai merupakan komoditas yang relatif cepat mengalami penurunan kualitas. Karena itu, gangguan dalam distribusi dapat membuat pasokan cabai berkualitas baik menjadi semakin terbatas.
Harga Cabai Rawit Sudah Hampir Rp100 Ribu
Kenaikan harga cabai sebenarnya sudah terlihat sejak awal September. Pada minggu pertama September 2026, BPS mencatat harga cabai rawit secara nasional sekitar Rp73 ribu per kilogram, naik 22,3 persen dibandingkan Agustus yang berada di kisaran Rp59.760 per kilogram.
Harga tersebut juga sudah melewati Harga Acuan Penjualan (HAP) tingkat konsumen yang berada di Rp57 ribu per kilogram. BPS mencatat sebanyak 251 kabupaten/kota mengalami kenaikan harga cabai rawit pada periode tersebut. Memasuki minggu kedua September, tekanan harga semakin kuat. BPS mencatat cabai rawit menjadi salah satu pemicu utama kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH). Hingga 11 September, perubahan IPH cabai rawit mencapai 27,54 persen, dengan 260 kabupaten/kota mengalami kenaikan.
Data PIHPS kemudian menunjukkan harga cabai rawit merah mencapai Rp94.900 per kilogram pada 8 September, Rp93.100 pada 15 September, dan Rp99.550 pada 16 September.
Bukan Hanya Cabai Rawit yang Naik
Kenaikan harga juga terjadi pada beberapa jenis cabai lainnya. Berdasarkan data PIHPS pada 20 September 2026, harga cabai merah keriting tercatat sekitar Rp69.100 per kilogram, naik 9,42 persen atau sekitar Rp5.950 per kilogram. Sementara itu, cabai merah besar berada di sekitar Rp58 ribu per kilogram, sedangkan cabai rawit hijau sekitar Rp67.600 per kilogram. Cabai rawit merah menjadi salah satu komoditas dengan kenaikan paling tinggi, yakni sekitar 6,78 persen menjadi Rp96.100 per kilogram.
Dampaknya bagi Pedagang dan Konsumen
Harga cabai yang mendekati Rp100 ribu per kilogram tentu berdampak pada pelaku usaha makanan. Pedagang warteg, misalnya, mengeluhkan tingginya harga cabai karena komoditas tersebut merupakan salah satu bahan penting dalam berbagai menu. Ketua Koordinator Warteg Nusantara (Kowantara) Mukroni menyebut harga cabai rawit merah yang mendekati Rp100 ribu masih dirasakan mahal oleh pedagang warteg.
Bagi konsumen rumah tangga, kenaikan harga cabai juga dapat meningkatkan pengeluaran belanja harian, terutama bagi keluarga yang menggunakan cabai dalam jumlah cukup besar.
Apakah Harga Cabai Akan Turun?
Pergerakan harga cabai sangat bergantung pada ketersediaan pasokan baru dari sentra produksi. Jika tanaman baru memasuki masa panen dan produksi kembali meningkat, tekanan harga berpotensi berkurang. Sebaliknya, apabila kemarau berlanjut, produksi terganggu, atau terjadi kegagalan panen, pasokan dapat tetap terbatas.
Karena itu, harga cabai dalam beberapa pekan mendatang akan sangat dipengaruhi kondisi cuaca, ketersediaan air, luas panen, produktivitas tanaman, serta kelancaran distribusi dari daerah penghasil menuju pasar konsumen.
Kesimpulan
Kenaikan harga cabai hingga mendekati Rp100 ribu per kilogram bukan disebabkan oleh satu faktor saja. Sejumlah faktor saling berpengaruh, mulai dari kemarau berkepanjangan, keterbatasan air, gangguan produksi, penurunan luas tanam, masa transisi panen, hingga berkurangnya pasokan ke pasar. Data BPS dan PIHPS menunjukkan kenaikan tersebut memang terjadi secara luas pada September 2026. Cabai rawit merah bahkan sempat tercatat Rp99.550 per kilogram secara nasional pada 16 September.
Ke depan, kestabilan harga akan sangat bergantung pada kemampuan produksi petani kembali meningkat dan pasokan baru masuk ke pasar. Jika produksi pulih, harga berpeluang mengalami penurunan. Namun jika gangguan produksi berlanjut, tekanan harga cabai masih dapat terjadi.

Posting Komentar untuk " Ini Penyebab Harga Cabai Naik hingga Tembus Rp100 Ribu per Kg"