Hiu Terjebak di Busan, Mendapatkan Ketenaran dan Menarik 3,5 Juta Wisatawan
BUSAN – Seekor hiu dengan panjang sekitar 3,5 meter yang terjebak di saluran sempit di kawasan North Port, Busan, Korea Selatan, menjadi sebuah fenomena wisata yang tak terduga. Hewan laut yang dijuluki “Bukangi” ini viral di media sosial dan menarik ratusan ribu orang untuk datang melihatnya secara langsung.
Hiu tersebut pertama kali terdeteksi pada 18 September 2026 di sebuah kanal buatan di North Port Waterfront Park. Alih-alih segera kembali ke laut lepas, hiu ini justru bertahan berhari-hari di saluran air di area perkotaan. Menurut berita dari Yonhap, lebih dari 560.000 orang telah mengunjungi kawasan tersebut dalam waktu sekitar 10 hari sejak penghitungan pengunjung dimulai. Angka itu melonjak signifikan selama liburan Chuseok. Fenomena ini kemudian berkembang menjadi salah satu cerita wisata paling unik di Busan tahun ini.
Bukan 3,5 Juta Orang yang Datang Menyaksikan Hiu
Angka 3,5 juta yang muncul dalam berita terkait Busan perlu dikoreksi. Jumlah tersebut tidak diartikan sebagai wisatawan yang datang khusus untuk melihat hiu Bukangi. Pemerintah Kota Busan sebelumnya melaporkan bahwa kota itu telah mencetak rekor mendekati 3,5 juta pengunjung asing, sebagai bagian dari pertumbuhan sektor pariwisata.
Sementara itu, pengunjung yang mendatangi lokasi hiu mencapai sekitar 600.000 orang dalam waktu sekitar dua pekan. Dengan demikian, hiu Bukangi memang memberikan dorongan signifikan pada kunjungan ke kawasan North Port, tetapi tidak akurat jika dikatakan hiu tersebut sendirian “menghadirkan 3,5 juta wisatawan”.
Hiu 3,5 Meter Jadi Bintang Busan
Hiu yang panjangnya sekitar 3,5 meter tersebut diduga sebagai jenis bronze whaler atau copper shark (Carcharhinus brachyurus). Identifikasi awal dilakukan oleh para ahli perikanan, meskipun laporan mengindikasikan bahwa identifikasi spesies tersebut masih bersifat sementara. Masyarakat kemudian memberinya nama Bukangi.
Nama ini berasal dari Bukhang, istilah Korea untuk North Port, ditambah akhiran “-i” yang biasa digunakan sebagai bentuk panggilan yang lebih akrab. Dalam waktu singkat, Bukangi bukan lagi sekadar hiu yang tersesat. Ia telah berevolusi menjadi selebriti lokal.
Foto dan video hiu yang berenang dengan sirip punggung muncul di permukaan air menyebar luas di media sosial. Warga bahkan rela datang berkali-kali hanya untuk memastikan apakah Bukangi masih ada di kanal.
Ratusan Ribu Orang Datang Saat Chuseok
Lonjakan pengunjung paling signifikan terjadi selama liburan Chuseok, salah satu periode liburan terbesar di Korea Selatan. Menurut Yonhap, sekitar 483.000 orang mengunjungi waterfront park selama empat hari masa liburan tersebut. Jumlah itu kira-kira 50 kali lipat dibandingkan rata-rata kunjungan harian taman tersebut yang hanya sekitar 2.000 orang pada periode liburan biasa.
Fenomena ini menunjukkan betapa cepatnya suatu kejadian unik dapat mengubah lokasi yang sebelumnya bukan menjadi destinasi wisata utama menjadi tempat yang ramai dikunjungi. Bahkan, saat awal kemunculannya, sekitar 30.000 orang sudah datang dalam tiga hari untuk melihat hiu tersebut. Tempat parkir dan beberapa jalan di sekitarnya juga mengalami kepadatan.
Warga Rela Antre untuk Melihat Bukangi
Pengunjung datang dengan berbagai cara. Ada yang membawa kamera profesional, menggunakan ponsel untuk merekam video, hingga sekadar berdiri di pinggir kanal menunggu hiu muncul ke permukaan. Bagi sebagian wisatawan domestik, keberadaan Bukangi memberi peluang langka untuk menyaksikan hewan laut besar dari jarak yang relatif dekat tanpa harus pergi ke akuarium.
Fenomena ini juga berimbas secara ekonomis kepada pelaku usaha di sekitar lokasi. Beberapa toko dan bisnis di kawasan tersebut mendapatkan tambahan pelanggan sejak meningkatnya arus orang yang datang melihat Bukangi. Media Korea bahkan melaporkan lonjakan penjualan beberapa produk di toko sekitar lokasi pada fase awal fenomena ini.
Upaya Mengembalikan Hiu ke Laut Gagal
Namun, ketenaran Bukangi juga menciptakan masalah. Pemerintah dan otoritas maritim ingin mengembalikan hiu tersebut ke habitat aslinya. Sebelumnya, petugas berusaha mengarahkan hiu menuju laut terbuka menggunakan kapal dan semprotan air.
Upaya tersebut tidak berhasil. Bukangi justru menghindari kapal dan tetap berenang di kanal. Otoritas selanjutnya mencoba pendekatan lain dengan menggunakan jaring sepanjang sekitar 50 meter untuk menggiring hiu keluar. Namun, operasi kedua yang dilakukan pada 2 Oktober juga dihentikan setelah sekitar dua jam karena ada risiko jaring tersangkut batu dan membahayakan hewan tersebut dan juga petugas. Kini Bukangi dilaporkan masih berada di bagian kanal sepanjang sekitar 100 meter.
Mengapa Hiu Bisa Masuk ke Kanal?
Penyebab pasti hiu tersebut masuk ke kanal belum diketahui. Salah satu dugaan adalah hiu tersebut mengikuti mangsa hingga masuk ke saluran air dan kemudian kesulitan menemukan jalan kembali ke laut terbuka. Keberadaan hiu di lokasi perkotaan juga menjadi perhatian para ahli karena hiu ini memiliki ruang gerak yang jauh lebih terbatas dibandingkan habitat alaminya.
Para ahli memperingatkan bahwa meski Bukangi terlihat sehat, terlalu lama berada di kanal dapat memengaruhi kondisi fisiknya, terutama karena ruang gerak dan kesempatan mencari makanan yang terbatas.
Fenomena Ini Menyebabkan Kekhawatiran Lingkungan
Di balik aspeknya yang menghibur, kemunculan Bukangi juga memicu diskusi mengenai keadaan laut Korea Selatan. Sekelompok pakar mengaitkan meningkatnya kemunculan hiu di perairan Korea Selatan dengan transformasi lingkungan laut, termasuk kemungkinan efek dari kenaikan suhu laut.
Perubahan suhu dapat memengaruhi distribusi ikan dan makhluk laut lainnya. Perubahan tersebut pada gilirannya bisa menyebabkan spesies tertentu muncul di lokasi yang sebelumnya jarang mereka kunjungi. Oleh sebab itu, fenomena Bukangi bukan sekadar mengenai seekor hiu yang menjadi terkenal. Peristiwa ini juga berfungsi sebagai pengingat tentang perubahan ekosistem laut dan pentingnya pemantauan kondisi perairan.
Bukangi Bahkan Menjadi Duta Promosi
Besarnya perhatian publik membuat Pemerintah Kota Busan memanfaatkan momen tersebut. Dalam suatu jajak pendapat di media sosial, sebagian besar responden mendukung pemberian status simbolis kepada Bukangi. Kota Busan kemudian menjadikannya duta hubungan masyarakat kehormatan.
Keputusan ini menunjukkan bagaimana pemerintah daerah mampu mengubah fenomena viral menjadi bagian dari strategi promosi kota. Hiu yang awalnya dianggap sebagai hewan tersesat malah menjadi salah satu wajah baru pariwisata Busan.
Kemunculan Kekhawatiran Pengunjung Mengganggu Hiu
Popularitas Bukangi juga membawa dampak negatif. Jumlah pengunjung yang sangat besar membuat otoritas perlu mengatur kerumunan dan keselamatan publik. Sebelumnya bahkan terdapat pengunjung yang dilaporkan mencoba mendekati kanal melewati pembatas atau melemparkan makanan ke dalam air untuk menarik perhatian hiu. Perilaku semacam itu berpotensi membahayakan manusia serta mengganggu kondisi hewan. Karena itu, masyarakat diminta untuk tetap berada di area yang diperbolehkan dan tidak mencoba menyentuh, memberi makan, menangkap, atau mengganggu hiu.
Busan Memang Sedang Mengejar Rekor Pariwisata
Fenomena Bukangi muncul ketika Busan benar-benar mengalami perkembangan sektor pariwisata. Pada akhir Oktober 2025, Busan mencatat lebih dari 3 juta kedatangan wisatawan internasional, meningkat sekitar 23 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pemerintah kota bahkan menargetkan pertumbuhan lebih lanjut hingga jutaan wisatawan asing.
Oleh karena itu, viralnya Bukangi menjadi keuntungan tambahan bagi reputasi Busan sebagai destinasi wisata. Kawasan North Port sendiri merupakan bagian dari pengembangan waterfront yang lebih luas dan memiliki nilai strategis bagi masa depan kota.
Hiu Tersesat yang Mengubah Kawasan Menjadi Destinasi Wisata
Kisah Bukangi menunjukkan betapa tidak terduganya dunia pariwisata. Tidak ada festival besar, konser, atau kampanye iklan internasional yang dirancang untuk mendatangkan ratusan ribu orang ke North Port. Semua ini bermula dari seekor hiu sepanjang sekitar 3,5 meter yang masuk ke kanal dan tak kunjung pergi.
Dalam hitungan hari, foto dan video hiu tersebut menyebar di media sosial. Rasa penasaran kemudian mendorong warga dari berbagai daerah untuk datang ke lokasi. Dalam sekitar dua pekan, jumlah pengunjung yang tercatat mencapai sekitar 600.000 orang.
Angka tersebut menjadikan Bukangi sebagai fenomena wisata yang luar biasa. Namun, kisah ini juga memperlihatkan dilema antara popularitas, pariwisata, keselamatan manusia, dan kesejahteraan satwa. Bagi Busan, Bukangi bisa menjadi promosi gratis yang tidak pernah direncanakan. Bagi publik, ia menjadi selebritas yang menghibur. Tetapi bagi hiu itu sendiri, tujuan akhirnya tetap sama: kembali ke laut terbuka dan menjalani kehidupan di habitat alaminya.
Untuk sekarang, pihak berwenang masih memantau kondisinya dan mempertimbangkan cara yang paling aman agar Bukangi dapat meninggalkan kanal tanpa membahayakan hewan tersebut maupun manusia di sekitarnya.

Posting Komentar untuk " Hiu Terjebak di Busan, Mendapatkan Ketenaran dan Menarik 3,5 Juta Wisatawan"