Mengapa Paspor Malaysia Lebih Hebat daripada Indonesia?

Kekuatan paspor sering kali dijadikan sebagai salah satu tolak ukur untuk menilai seberapa mudah individu dari suatu negara bepergian ke luar negeri. Semakin banyak negara yang bisa diakses tanpa perlu mengurus visa terlebih dahulu, semakin tinggi pula posisi paspor tersebut dalam berbagai peringkat kekuatan paspor.

Dalam beberapa pemeringkatan internasional, paspor Malaysia memang terletak jauh di atas paspor Indonesia. Namun, perbedaan ini tidak berarti bahwa paspor Malaysia memiliki kualitas fisik atau keamanan yang lebih baik. Istilah "lebih hebat" terutama mengacu pada akses untuk perjalanan internasional yang disediakan bagi pemegang paspor. Berdasarkan Henley Passport Index 2026, Malaysia menempati peringkat ke-7 di dunia dengan akses ke 183 tujuan tanpa visa sebelumnya. Sementara itu, Indonesia berada di posisi ke-69 dengan akses ke 70 tujuan.

Lalu, mengapa perbedaannya begitu mencolok?

Apa yang Dimaksud dengan Paspor yang Lebih Hebat?

Sebelum membahas Malaysia dan Indonesia, penting untuk memahami bahwa kekuatan paspor bukanlah ukuran tunggal. Salah satu referensi paling terkenal adalah Henley Passport Index. Indeks ini membandingkan 199 paspor berdasarkan jumlah dari 227 tujuan yang bisa dimasuki pemegang paspor tanpa memerlukan visa sebelumnya.

Dalam metodologinya, Henley memberikan nilai untuk akses bebas visa. Visa on arrival dan electronic travel authorization (ETA) juga dapat dianggap sebagai akses tanpa visa terlebih dahulu. Sebaliknya, jika wisatawan harus memperoleh visa atau e-Visa sebelum berangkat, tujuan tersebut tidak dihitung sebagai akses bebas visa. Oleh karena itu, ketika dikatakan paspor Malaysia lebih hebat daripada paspor Indonesia, yang sebenarnya dibandingkan adalah kemudahan mobilitas internasional.

Malaysia Masuk 10 Teratas Dunia

Dalam pemeringkatan Henley Passport Index 2026, Malaysia termasuk dalam jajaran paspor terkuat di dunia. Malaysia mengantongi peringkat ke-7 dengan akses ke 183 tujuan tanpa visa sebelumnya. Posisi ini sejajar dengan Australia, Kanada, Ceko, Latvia, Selandia Baru, Slovakia, dan Slovenia menurut daftar terbaru Henley.

Sementara itu, Indonesia berada pada peringkat ke-69, dengan akses ke 70 tujuan. Dengan demikian, terdapat selisih 113 tujuan antara kedua paspor dalam indeks tersebut. Perbedaan ini memberikan warga Malaysia jauh lebih banyak pilihan untuk melakukan perjalanan internasional secara spontan atau dengan proses administrasi yang lebih mudah.

1. Faktor Diplomasi Menjadi Kunci

Salah satu elemen penting di balik kekuatan paspor adalah hubungan diplomatik. Ketika sebuah negara memberikan akses bebas visa kepada individu dari negara lain, keputusan tersebut pada dasarnya mencerminkan tingkat kepercayaan dan hubungan antara kedua negara. Perjanjian bebas visa dapat dipengaruhi oleh berbagai hal, mulai dari hubungan politik, kepentingan ekonomi, perdagangan, pariwisata, keamanan, hingga kebijakan imigrasi.

Artinya, kekuatan paspor bukan hanya soal desain atau kualitas dokumen perjalanan. Di balik itu terdapat proses diplomasi yang panjang antara pemerintah. Henley juga menilai kekuatan mobilitas paspor terkait dengan kredibilitas diplomatik, stabilitas politik, serta kemampuan suatu negara untuk menetapkan aturan internasional.

2. Malaysia Memiliki Banyak Akses ke Negara Berkembang

Keunggulan Malaysia semakin nyata karena pemegang paspornya mendapatkan akses yang lebih mudah ke sejumlah negara dan kawasan tujuan utama dunia. Dalam data Passport Index 2026, paspor Malaysia tercatat memiliki akses bebas visa ke 121 tujuan, 46 tujuan dengan visa on arrival, dan delapan tujuan dengan eTA.

Malaysia juga memiliki akses bebas visa ke beberapa tujuan penting seperti Jepang, serta banyak negara Eropa. Kemudahan untuk pergi ke negara-negara maju menjadi salah satu alasan mengapa posisi paspor Malaysia sangat tinggi. Sebagai perbandingan, Passport Index mencatat bahwa paspor Indonesia memiliki 42 tujuan visa-free, 40 tujuan visa on arrival, tujuh tujuan dengan eTA, sementara 109 tujuan masih memerlukan visa.

Perbedaan angka antara Passport Index dan Henley terjadi karena keduanya menggunakan metodologi dan klasifikasi yang berbeda. Dengan demikian, angka dari kedua indeks tidak seharusnya dibandingkan secara langsung.

3. Hubungan Malaysia dengan Negara Persemakmuran

Faktor sejarah juga memberikan konteks lebih. Malaysia merupakan salah satu anggota Commonwealth, organisasi yang memiliki hubungan historis dengan Inggris dan negara-negara bekas wilayah Kekaisaran Inggris. Hubungan historis tersebut tidak secara otomatis memberikan semua warga Malaysia akses bebas visa. Namun, jaringan hubungan diplomatik dan institusional yang terbentuk selama puluhan tahun dapat menjadi bagian dari konteks hubungan luar negeri Malaysia.

Selain itu, Malaysia sejak lama memiliki hubungan perdagangan dan investasi yang kuat dengan berbagai negara di Asia, Eropa, Australia, dan kawasan lainnya.

4. Posisi Malaysia di ASEAN

Sebagai negara ASEAN, Malaysia juga memperoleh keuntungan dari integrasi regional Asia Tenggara. Mobilitas masyarakat antarnegara ASEAN relatif terbuka untuk berbagai keperluan, khususnya perjalanan wisata dan bisnis jangka pendek. Namun, keunggulan paspor Malaysia tidak hanya berasal dari hubungan dengan negara-negara ASEAN. Yang membuatnya menonjol adalah kombinasi akses regional dan akses luas ke berbagai negara di luar Asia Tenggara.

5. Faktor Ekonomi dan Pentingnya Perdagangan Berperan Signifikan

Kebijakan bebas visa tak terlepas dari kepentingan ekonomi. Negara tujuan pasti mempertimbangkan risiko migrasi ilegal, keamanan, dan hubungan diplomatik, tetapi juga potensi wisatawan serta pelaku bisnis dari negara tertentu. Malaysia menempati posisi sebagai salah satu pusat perdagangan dan manufaktur terpenting di Asia Tenggara.

Hubungan ekonomi yang kokoh dengan berbagai negara dapat menciptakan motivasi untuk memperluas kemudahan perjalanan bagi warga Malaysia. Sebaliknya, negara-negara juga menilai berbagai risiko saat memutuskan apakah memberikan akses bebas visa kepada warga negara lain.

6. Kenapa Indonesia Belum Sampai di Tingkatan Malaysia?

Sebenarnya, Indonesia bukan negara dengan paspor yang sangat lemah. Memiliki peringkat ke-69 dan akses ke 70 destinasi menurut Henley Passport Index 2026, paspor Indonesia masih berada di kategori menengah dalam pemeringkatan global. Akan tetapi, Indonesia memiliki jumlah penduduk yang jauh lebih besar dan karakteristik mobilitas penduduk yang berbeda.

Saat sebuah negara menawarkan bebas visa kepada negara lain, salah satu pertimbangannya adalah risiko migrasi, kepatuhan terhadap regulasi imigrasi, keamanan, serta kemungkinan penyalahgunaan sistem bebas visa. Oleh karena itu, proses untuk mendapatkan akses bebas visa biasanya memerlukan negosiasi bilateral dan evaluasi dari negara tujuan. Indonesia pun harus bernegosiasi dengan setiap negara atau blok negara untuk memperluas akses tersebut.

7. Kekuatan Paspor Dapat Berubah

Penting untuk dipahami, posisi paspor tidak bersifat tetap. Kebijakan visa dapat mengalami perubahan kapan saja akibat faktor diplomasi, keamanan, migrasi, kesehatan, maupun hubungan politik. Henley mencatat bahwa kebijakan bebas visa, visa saat kedatangan, dan ETA dapat diperbarui atau diubah oleh negara tujuan.

Misalnya, Uni Emirat Arab menunjukkan bagaimana diplomasi dan kerjasama internasional dapat mengubah posisi paspor secara signifikan. Dalam dua dekade terakhir, UEA telah menjadi salah satu negara dengan peningkatan akses perjalanan terbesar di dunia. Henley menyebut UEA menambah 153 destinasi bebas visa dalam 20 tahun. Hal tersebut memperlihatkan bahwa kekuatan paspor dapat berubah apabila sebuah negara berhasil memperluas hubungan diplomatik dan memperoleh lebih banyak kesepakatan mobilitas.

Jadi, Apakah Paspor Malaysia 'Lebih Unggul' dibandingkan Indonesia?

Dalam hal kemudahan perjalanan internasional, ya, paspor Malaysia saat ini jauh lebih kuat dibandingkan paspor Indonesia menurut Henley Passport Index.


Namun, frasa "lebih tangguh" tidak berarti bahwa warga Malaysia secara keseluruhan unggul dalam segala hal. Indeks paspor utamanya menilai mobilitas internasional berdasarkan syarat visa. Kemampuan ekonomi, kualitas hidup, keamanan, pendidikan, peluang kerja, dan berbagai ukuran lainnya adalah persoalan yang terpisah.

Indonesia Masih Bisa Memperkuat Paspor

Peningkatan kekuatan paspor dapat dilakukan melalui diplomasi dan kolaborasi internasional. Semakin banyak negara yang mau memberikan akses bebas visa kepada warga Indonesia, semakin meningkat pula mobilitas paspor Indonesia. Selain negosiasi bilateral, Indonesia juga dapat memanfaatkan hubungan ekonomi, pariwisata, perdagangan, kolaborasi keamanan, dan hubungan politik untuk memperluas akses tersebut.

Pada akhirnya, paspor yang kokoh mencerminkan hubungan sebuah negara dengan komunitas internasional. Malaysia kini memiliki keunggulan yang signifikan dalam hal ini. Dengan akses ke 183 tujuan dan menduduki peringkat ketujuh dunia menurut Henley Passport Index 2026, pemegang paspor Malaysia menikmati mobilitas internasional yang jauh lebih luas dibandingkan pemegang paspor Indonesia yang hanya memiliki akses ke 70 tujuan. Perbedaan ini menunjukkan bahwa kekuatan paspor bukan hanya tentang dokumen perjalanan, tetapi juga merupakan hasil dari diplomasi, hubungan ekonomi, kepercayaan internasional, kebijakan imigrasi, dan kolaborasi antarnegara.

Posting Komentar untuk " Mengapa Paspor Malaysia Lebih Hebat daripada Indonesia?"