Israel Diinformasikan Akan Menginterogasi Kopilot Dalam Kasus Flydubai

Jakarta – Pihak Israel dikabarkan akan turut menginterogasi kopilot Flydubai yang menduga melakukan serangan terhadap kapten dan mencoba merebut kontrol pesawat dalam penerbangan dari Dubai menuju Tel Aviv. Penyelidikan ini merupakan bagian dari investigasi kolaboratif antara beberapa negara untuk menyingkap rangkaian kejadian dan motif di balik insiden tersebut.

Insiden terjadi pada penerbangan Flydubai FZ1073 pada Rabu, 30 September 2026. Pesawat yang mengangkut penumpang dan kru dari Dubai menuju Tel Aviv itu mengalami keadaan darurat setelah kopilot dikatakan menyerang kapten di cockpit. Pesawat tersebut berhasil mendarat darurat di Tabuk, Arab Saudi. Kopilot kemudian ditangkap oleh otoritas Saudi sebelum dipindahkan ke Uni Emirat Arab (UEA) pada Kamis, 1 Oktober 2026.

Israel Akan Berpartisipasi Dalam Investigasi

Reuters melaporkan pada 2 Oktober 2026 bahwa pejabat Israel diperkirakan akan ikut menanyai kopilot setelah ia dipindahkan ke UEA. Sumber yang mengetahui perkembangan penyelidikan menyatakan bahwa interogasi terhadap kopilot akan dilakukan di UEA. Pemerintah Israel juga mengonfirmasi bahwa penyidiknya akan terlibat dalam investigasi yang dipimpin oleh otoritas Emirat.

Investigasi ini bertujuan untuk menemukan dengan tepat apa yang terjadi di dalam pesawat, bagaimana serangan terhadap kapten berlangsung, serta apakah ada pihak lain yang terlibat atau membantu tindakan tersebut. Namun, Reuters mencatat bahwa hingga saat ini belum ada kepastian mengenai lembaga Israel mana yang akan melakukan pemeriksaan secara langsung.

Pemerintah UEA juga belum memberikan penjelasan apakah pejabat Israel akan secara resmi melakukan interogasi terhadap tersangka.

Kopilot Diduga Menyerang Kapten di Kokpit

Insiden tersebut terjadi saat pesawat dalam perjalanan dari Dubai menuju Tel Aviv. Menurut laporan yang dihimpun dari berbagai media, kopilot diduga menyerang kapten menggunakan benda tajam atau peralatan yang terdapat di dalam kokpit. Serangan tersebut mengakibatkan kapten mengalami luka.

Setelah serangan, pesawat mengalami penurunan ketinggian yang sangat cepat. Data penerbangan yang dianalisis oleh CBS menunjukkan pesawat sempat turun sekitar 17.000 kaki, kemudian naik sekitar 5.000 kaki dan kembali turun sekitar 7.000 kaki sebelum akhirnya bisa distabilkan. Kapten dilaporkan berhasil memberikan perlawanan dan membuka akses kokpit. Penumpang serta awak kemudian membantu menonaktifkan kopilot.

Dua pilot cadangan yang ada dalam pesawat juga turut membantu mengambil alih kendali penerbangan hingga pesawat dapat dipindahkan dan mendarat di Tabuk, Arab Saudi.

Pesawat Mengangkut Lebih dari 170 Orang

Jumlah orang yang berada di dalam pesawat dilaporkan berkisar antara 174 hingga 182 orang, tergantung pada perhitungan yang digunakan oleh masing-masing laporan. Tidak ada penumpang yang dilaporkan mengalami luka serius. Kapten mengalami cedera akibat serangan tersebut, sementara otoritas Saudi melaporkan dua anggota kru menjalani perawatan akibat cedera.

Keberhasilan penumpang dan kru dalam menonaktifkan kopilot serta kemampuan tim lainnya untuk mengendalikan pesawat menjadi faktor krusial sehingga pesawat dapat mendarat dengan selamat. Kapten penerbangan, Smit Machchhar, warga negara India, mendapatkan perhatian setelah insiden tersebut karena dianggap berhasil membantu mencegah situasi yang lebih buruk.

Kopilot Disebut Warga Negara Oman

Identitas kopilot mulai dilaporkan oleh berbagai media pada 2 dan 3 Oktober 2026. Associated Press menyebut tersangka sebagai Hamam al-Hammami, warga Oman. Informasi ini berasal dari beberapa sumber yang mengetahui perkembangan penyelidikan. Namun, beberapa detail tentang latar belakangnya belum secara terbuka dikonfirmasi oleh pemerintah Oman.

Laporan CBS juga menyebut al-Hammami sebelumnya pernah menjalani pelatihan pilot di Oman Air. Sumber yang dikutip CBS menyatakan ia kemudian dipindahkan ke pekerjaan di kantor setelah pemerintah Oman menemukan aktivitas daring yang dianggap mengkhawatirkan. Ia disebut meninggalkan Oman Air sekitar tahun 2024 sebelum akhirnya pindah ke Dubai dan bekerja untuk Flydubai. Detail tersebut masih menjadi bagian dari penyelidikan dan belum seluruhnya dikonfirmasi secara resmi oleh pihak-pihak terkait.

Motif Masih Dalam Investigasi

Salah satu pertanyaan utama yang ingin dijawab oleh penyidik adalah mengapa kopilot melakukan serangan tersebut. Pada tahap awal penyelidikan, belum ada kesimpulan final mengenai motifnya. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebelumnya menyatakan bahwa penyidik sedang mencari tahu apakah tersangka bertindak sendiri atau mendapat arahan dari pihak lain.

Netanyahu juga menyampaikan bahwa informasi awal yang diperoleh Israel menunjukkan kemungkinan adanya proses radikalisasi Islam. Namun, keterangan tersebut merupakan pernyataan dari pihak Israel dan belum menjadi kesimpulan akhir penyelidikan. Reuters melaporkan bahwa penyelidikan UEA juga diarahkan untuk menentukan apakah insiden tersebut ada kaitannya dengan aktivitas terorisme atau dilakukan berdasarkan perencanaan sebelumnya. Karena proses penyelidikan masih berjalan, motif sebenarnya belum dapat dipastikan.

Dugaan Keterlibatan Pihak Lain Juga Diselidiki

Selain motif pribadi, penyidik juga akan menelusuri kemungkinan keterlibatan pihak lain. Netanyahu menyebut Israel sedang memeriksa apakah kopilot bertindak atas perintah seseorang. Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga sebelumnya menyebut adanya kemungkinan hubungan dengan Iran, tetapi Netanyahu mengatakan bahwa terlalu dini untuk memastikan keterlibatan Iran. Dengan demikian, dugaan mengenai jaringan, pihak yang memotivasi, ataupun hubungan dengan negara tertentu masih dalam tahap penyelidikan dan belum dapat dianggap sebagai fakta yang terbukti.

Mengapa Israel Terlibat dalam Penyelidikan?

Partisipasi Israel tidak terlepas dari maksud penerbangan. Pesawat Flydubai tersebut berangkat dari Dubai menuju Tel Aviv dan mengangkut banyak penumpang yang ingin memasuki Israel. Insiden ini juga memunculkan pertanyaan mengenai verifikasi latar belakang awak pesawat yang menjalani penerbangan ke Israel.

Associated Press melaporkan bahwa Israel menerapkan protokol keamanan penerbangan yang ketat dan selama ini bergantung pada kolaborasi dengan negara serta maskapai asing dalam proses pengecekan awak pesawat. Setelah insiden Flydubai, pemerintah Israel menyatakan akan memperketat pemeriksaan terhadap pilot yang datang ke wilayahnya. Netanyahu juga mengungkapkan adanya isu terkait regulasi yang memungkinkan warga negara dari negara yang tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel terbang ke sana. Oman dan Israel memang tidak memiliki hubungan diplomatik resmi.

Keamanan Awak Pesawat Jadi Perhatian

Insiden Flydubai juga menyoroti kembali konsep ancaman dari dalam atau insider threat dalam dunia penerbangan. Selama ini, sistem keamanan penerbangan modern banyak berfokus pada ancaman dari penumpang atau pihak luar yang mencoba mengakses kokpit. Namun, insiden ini menunjukkan bahwa awak yang memiliki akses langsung ke kokpit juga dapat menjadi bagian dari risiko keamanan.

AP melaporkan bahwa para ahli keamanan penerbangan kini menekankan pentingnya verifikasi latar belakang dan pengawasan terhadap awak pesawat, termasuk prosedur saat terdapat indikasi perilaku yang dapat membahayakan. Namun, para pakar juga mengingatkan bahwa standar pemeriksaan pilot sudah ditetapkan dalam norma penerbangan internasional, sedangkan masing-masing negara dan maskapai dapat menerapkan syarat tambahan.

Sinyal Darurat Pesawat Juga Diselidiki

Penyidik juga diperkirakan akan menyelidiki komunikasi darurat yang dikirim dari pesawat. Menurut laporan AP, pesawat sempat mengeluarkan kode darurat 7700, yang merupakan sinyal umum untuk keadaan darurat, lalu kode 7500, yang digunakan untuk menandakan adanya intervensi ilegal atau kemungkinan pembajakan.

Tanggapan pengawas lalu lintas udara dan otoritas negara yang berada di sekitar jalur penerbangan juga menjadi bagian penting untuk dievaluasi. Penyelidikan akan mencoba menguraikan kapan situasi darurat pertama kali terdeteksi, bagaimana kru meminta bantuan, serta bagaimana pesawat akhirnya mendapat izin untuk mendarat di Arab Saudi.

Kopilot Kini Berada di UEA

Setelah sebelumnya ditahan di Arab Saudi, kopilot telah dipindahkan ke UEA pada Kamis. Pemindahan ini memungkinkan penyelidikan yang dipimpin oleh otoritas Emirat berlanjut dengan melibatkan pihak lain, termasuk Israel. Reuters melaporkan Israel dan UEA akan berkolaborasi untuk mengungkap kronologi kejadian serta latar belakang tersangka.

Sementara itu, Flydubai menegaskan bahwa mereka mendukung proses penyelidikan resmi dan berharap agar proses itu berlangsung untuk mengungkap fakta mengenai apa yang terjadi di dalam kokpit.

Kesimpulan

Insiden penerbangan Flydubai FZ1073 dari Dubai menuju Tel Aviv saat ini memasuki fase penyelidikan yang melibatkan beberapa negara. Kopilot yang diduga menyerang kapten telah dipindahkan dari Arab Saudi ke UEA, sementara pejabat Israel dilaporkan akan terlibat dalam pemeriksaan. Penyidik masih berupaya menjawab sejumlah pertanyaan penting, termasuk motif serangan, kemungkinan adanya keterlibatan pihak lain, latar belakang kopilot, serta bagaimana prosedur keamanan bisa memungkinkan insiden tersebut terjadi.

Saat ini, beberapa dugaan mengenai radikalisasi dan kemungkinan hubungan dengan kelompok atau negara tertentu masih perlu dibuktikan melalui penyelidikan. Fakta akhir mengenai motif dan urutan kejadian di dalam kokpit baru dapat ditentukan setelah investigasi resmi selesai.

Posting Komentar untuk " Israel Diinformasikan Akan Menginterogasi Kopilot Dalam Kasus Flydubai"