Kisah Saat Bandara Soekarno-Hatta Ditutup Karena Erupsi Gunung Anak Krakatau

Jakarta — Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) mengalami penutupan total pada September 2026 setelah abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau menyebar hingga ke area bandara. Keputusan ini menjadi salah satu gangguan operasional penerbangan terbesar yang dialami oleh Soetta dalam beberapa dekade terakhir.

Peristiwa ini kembali menarik perhatian pada Jumat (2/10/2026) setelah PT Angkasa Pura Indonesia atau InJourney Airports mengungkapkan dampak finansial dari penutupan beberapa bandara akibat erupsi tersebut. Direktur Operasi InJourney Airports Agus Haryadi menyebutkan bahwa kerugian akibat penutupan selama dua hari diperkirakan mencapai sekitar Rp40 miliar. Namun, ia menekankan bahwa keselamatan penerbangan adalah prioritas utama dalam pengambilan keputusan tersebut.

Abu Vulkanik Terpantau di Wilayah Bandara

Proses penutupan Soetta dimulai ketika aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau meningkat dan abu vulkanik mulai menyebar ke berbagai lokasi. Pada Minggu, 6 September 2026 dini hari, pemeriksaan kondisi di Bandara Soekarno-Hatta menunjukkan adanya indikasi paparan abu vulkanik.

Berdasarkan keterangan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, hasil pengujian yang dilakukan dari pukul 00.35 hingga 01.05 WIB menunjukkan indikasi positif adanya penyebaran abu vulkanik di area bandara. Dengan adanya kondisi tersebut, berdasarkan NOTAM A3341/26, operasional Bandara Soekarno-Hatta dihentikan sementara mulai pukul 01.30 WIB hingga 05.30 WIB. Namun, penutupan itu kemudian diperpanjang karena keadaan abu vulkanik dan perkembangan arah angin masih dianggap berpotensi mengganggu keselamatan penerbangan.

Penutupan Diperpanjang Beberapa Kali

Pada pagi harinya, otoritas bandara memperpanjang menghentikan operasional hingga pukul 09.30 WIB. Penumpang diminta untuk memeriksa kembali status penerbangan masing-masing melalui maskapai karena perubahan jadwal dapat terjadi sewaktu-waktu. Situasi selanjutnya berkembang. Kementerian Perhubungan memutuskan untuk memperpanjang penutupan hingga malam hari setelah hasil pemantauan menunjukkan bahwa abu vulkanik masih memengaruhi ruang udara.

Pada Minggu sore, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengumumkan bahwa delapan bandara yang terdampak ditutup hingga pukul 24.00 WIB. Keputusan ini diambil setelah berkoordinasi dengan BMKG, operator penerbangan, pengelola bandara, dan penyedia layanan navigasi penerbangan. Salah satu pertimbangan penting adalah perubahan arah angin. Berdasarkan informasi dari BMKG saat itu, arah angin telah beralih dari barat ke timur dengan kecepatan sekitar 5 knot pada ketinggian 15.000 kaki.

Soetta Tidak Pernah Tutup Total Sejak 1992

Penutupan kali ini sangat berarti bagi Bandara Soekarno-Hatta. Agus Haryadi mengungkapkan, berdasarkan pengalamannya yang sudah bekerja di Soetta sejak 1992, bandara tersebut belum pernah mengalami penutupan total operasional seperti yang terjadi pada September 2026.

Bahkan saat pandemi COVID-19 terjadi, status operasional Soetta tidak sampai ditutup sepenuhnya. Karena itu, penutupan akibat abu vulkanik Anak Krakatau menjadi kejadian yang berbeda dibandingkan gangguan operasional sebelumnya.

963 Penerbangan Soetta Terpengaruh

Dampak terhadap penerbangan sangat signifikan. Pada Minggu, 6 September 2026 pukul 17.06 WIB, Kementerian Perhubungan mencatat terdapat 963 penerbangan terkait dengan Bandara Soekarno-Hatta, terdiri dari 453 penerbangan kedatangan dan 510 penerbangan keberangkatan. Sementara itu, berdasarkan pemantauan yang dilakukan sebelumnya pada 5 September pukul 22.00 WIB, sebanyak 33 penerbangan di Soetta telah terpengaruh.

Untuk penerbangan internasional, tercatat 16 pembatalan, tujuh penundaan dan lima penjadwalan ulang. Rute yang terdampak termasuk Singapura, Hong Kong, Sydney, Seoul/Incheon, Doha, Amsterdam, dan Kuala Lumpur. Dalam penerbangan domestik, terdapat empat pembatalan dan satu penerbangan yang dialihkan. Rute yang terpapar termasuk Lampung, Denpasar, dan Surabaya.

Delapan Bandara Lain Juga Terpengaruh

Erupsi Anak Krakatau tidak hanya berdampak pada Soetta. Kementerian Perhubungan mencatat delapan bandara lainnya mengalami penghentian operasional sementara, yaitu:

  • Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang.
  • Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta.
  • Bandara Radin Inten II, Lampung.
  • Bandara Husein Sastranegara, Bandung.
  • Bandara Budiarto, Curug, Tangerang.
  • Bandara Pondok Cabe, Tangerang Selatan.
  • Bandara Taufik Kiemas, Pesisir Barat, Lampung.
  • Bandara Atung Bungsu, Pagar Alam, Sumatera Selatan.

Penutupan tersebut dilakukan sebagai langkah mitigasi terhadap dampak abu vulkanik terhadap keselamatan penerbangan.

Lebih dari 170 Ribu Penumpang Terjebak

Gangguan penerbangan juga berimbas langsung pada penumpang. Hingga Minggu sore, Kementerian Perhubungan mencatat 1.558 penerbangan tertunda di delapan bandara terdampak dengan sekitar 170.000 penumpang terjebak. Jika diperhitungkan seluruh bandara yang terkena dampak serta periode gangguan, jumlah penumpang yang terdampak diperkirakan lebih dari 200.000 orang. Agus mengatakan sekitar 130.000 penumpang terkena dampak dari operasional Soetta selama penutupan.

Penumpang Dipindahkan ke Bandara Alternatif

Untuk mengurangi dampak penutupan, pemerintah dan pengelola bandara menyiapkan sejumlah bandara alternatif. Kementerian Perhubungan menyatakan beberapa penerbangan dipindahkan ke Bandara Kertajati, Juanda, Yogyakarta International Airport, serta bandara di Semarang dan Solo. Penumpang yang penerbangannya dialihkan juga disiapkan transportasi lanjutan melalui jalur darat, termasuk bus dan kereta api. Pemerintah menyatakan transportasi alternatif tersebut disediakan untuk membantu penumpang mencapai bandara pengganti.

InJourney juga membuka posko dan berkoordinasi dengan maskapai serta pihak terkait untuk menangani penumpang yang sudah dalam perjalanan maupun yang telah tiba di bandara.

Penumpang Mendapatkan Makanan dan Tempat Penampungan

Tidak semua penumpang dapat melanjutkan perjalanan segera setelah penerbangan dihentikan. Sebagian penumpang harus menunggu kepastian mengenai jadwal dan bandara keberangkatan baru. Pengelola kemudian menyediakan beberapa fasilitas untuk membantu penumpang selama masa penantian.

Salah satu fasilitas yang digunakan adalah lounge karyawan untuk menampung sekitar 200 jemaah umrah yang telah tiba dari berbagai daerah. Penumpang yang berada di terminal juga mendapatkan makanan ringan dan air minum.

Mengapa Abu Vulkanik Menjadi Ancaman bagi Pesawat?

Abu vulkanik merupakan salah satu risiko serius bagi penerbangan karena partikel-partikel abu bisa terbawa angin dan memasuki area jalur penerbangan. Dalam kondisi tertentu, abu dapat mengganggu mesin pesawat dan sistem penerbangan. Oleh karena itu, keberadaan abu vulkanik di sekitar bandar udara atau ruang udara menjadi faktor krusial dalam pengambilan keputusan operasional.

Dalam kasus Soetta, pemeriksaan lapangan menjadi salah satu alasan untuk menghentikan penerbangan. Setelah BMKG memastikan adanya paparan abu melalui pemeriksaan yang dilakukan, pengelola bandara memilih untuk tidak mengambil risiko terhadap keselamatan penerbangan.

Penutupan Tak Hanya soal Kerugian

Penutupan bandara tentu berdampak ekonomi. InJourney Airports memperkirakan kerugian sekitar Rp40 miliar selama dua hari akibat penutupan sejumlah bandara yang dikelolanya. Namun, angka tersebut tidak menjadi alasan untuk membuka kembali bandara sebelum kondisi dinyatakan aman.

Pihak InJourney menegaskan bahwa keselamatan menjadi prioritas utama. Pengoperasian kembali bandara dilakukan setelah kondisi abu vulkanik dan ruang udara memungkinkan penerbangan berlangsung dengan aman. Kementerian Perhubungan juga menekankan bahwa pembukaan kembali bandara yang terdampak harus menunggu kepastian kondisi keselamatan penerbangan.

Operasional Bandara Berangsur Membaik

Setelah kondisi membaik dan pemantauan dilakukan secara terus-menerus, sejumlah bandara yang terdampak kemudian dibuka kembali secara bertahap. Gangguan akibat erupsi tersebut berlangsung selama beberapa hari di awal September. Kementerian Perhubungan mencatat periode penutupan sejumlah bandara berlangsung sekitar 5-8 September 2026, dengan pembukaan kembali dilakukan setelah kondisi memungkinkan.

Peristiwa tersebut juga menunjukkan bagaimana perubahan aktivitas vulkanik dan arah angin dapat berdampak langsung terhadap jaringan penerbangan nasional.

Pelajaran dari Penutupan Soetta

Penutupan Bandara Soekarno-Hatta akibat erupsi Anak Krakatau menjadi salah satu contoh bagaimana faktor alam dapat mengganggu pusat transportasi udara terbesar di Indonesia. Dari sisi operasional, gangguan tidak hanya berhenti pada penerbangan yang dibatalkan atau ditunda. Penutupan satu bandara utama dapat memengaruhi rotasi pesawat, ketersediaan armada, jadwal penerbangan berikutnya hingga kapasitas terminal. Kementerian Perhubungan secara khusus mengantisipasi efek berantai tersebut dalam proses pemulihan jadwal penerbangan.

Bagi penumpang, kejadian ini juga menjadi pengingat penting untuk selalu memeriksa status penerbangan melalui saluran resmi maskapai ketika terjadi erupsi gunung berapi atau gangguan cuaca ekstrem. Sementara bagi pengelola penerbangan, peristiwa tersebut memperlihatkan pentingnya koordinasi antara bandara, maskapai, regulator, BMKG dan penyedia layanan navigasi untuk menentukan kapan penerbangan harus dihentikan dan kapan dapat kembali beroperasi.

Penutupan total Soetta akibat abu vulkanik Anak Krakatau akhirnya tidak hanya menjadi cerita tentang terhentinya penerbangan. Peristiwa tersebut menunjukkan bagaimana keselamatan penerbangan menjadi faktor utama ketika ancaman abu vulkanik memasuki area bandara, sekaligus menggambarkan besarnya dampak sebuah gangguan alam terhadap mobilitas ratusan ribu penumpang dan jaringan penerbangan nasional.

Posting Komentar untuk "Kisah Saat Bandara Soekarno-Hatta Ditutup Karena Erupsi Gunung Anak Krakatau"