Matahari dan Bulan Bisa Memicu Gempa Bumi? Ini Penjelasan Para Peneliti
Selama bertahun-tahun, para peneliti telah menyelidiki apakah posisi Bulan dan Matahari berpengaruh terhadap aktivitas gempa bumi di Bumi. Penelitian menunjukkan bahwa keduanya memang memiliki pengaruh gravitasi terhadap planet kita dan dapat menimbulkan perubahan tekanan atau tegangan pasang surut (tidal stress) di lapisan Bumi.
Namun, hubungan ini tidak menunjukkan bahwa Bulan atau Matahari adalah penyebab utama gempa bumi. Efek gravitasi keduanya lebih tepatnya dianggap sebagai salah satu faktor yang dalam keadaan tertentu dapat memicu pergeseran pada sesar yang sudah dalam kondisi sangat kritis. Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) mengungkapkan bahwa frekuensi terjadinya gempa pada beberapa jenis sesar dapat bervariasi mengikuti tegangan pasang surut, namun pengaruhnya tidak cukup konsisten untuk dijadikan acuan prediksi gempa.
Bagaimana Matahari dan Bulan Mempengaruhi Bumi?
Bulan adalah sumber utama gaya yang menyebabkan pasang surut di Bumi. Gravitasi Bulan tidak hanya menarik air laut, tetapi juga sedikit mengubah bentuk padat Bumi. NASA menjelaskan bahwa tarikan gravitasi Bulan mengakibatkan Bumi mengalami deformasi kecil. Perubahan tersebut dapat terdeteksi secara ilmiah dan disebut sebagai pasang surut Bumi atau earth tides.
Matahari juga memberikan pengaruh yang serupa. Meskipun massanya jauh lebih besar dibandingkan Bulan, jaraknya dari Bumi jauh lebih jauh. Oleh karena itu, kontribusi Matahari terhadap gaya pasang surut lebih kecil dibandingkan Bulan, tetapi tetap signifikan. NASA menyatakan bahwa gaya pasang surut yang dihasilkan Matahari kurang dari separuh pengaruh Bulan. Ketika Matahari, Bumi, dan Bulan berkonfigurasi dalam cara tertentu, efek keduanya dapat saling memperkuat.
Mengapa Bulan Purnama dan Bulan Baru Menjadi Penting?
Pasang surut yang paling kuat terjadi ketika Matahari, Bumi, dan Bulan sejajar. Keadaan ini muncul saat Bulan dalam fase bulan baru atau bulan purnama. Pada saat tersebut, gaya gravitasi Matahari dan Bulan bekerja lebih searah, menghasilkan spring tide, yaitu pasang yang lebih tinggi dan surut yang lebih rendah dibandingkan kondisi rata-rata. Perubahan tersebut juga dapat memberikan tambahan tekanan pada kerak Bumi.
Pada beberapa sesar yang sudah mendekati fase kegagalan atau pergerakan, perubahan tekanan yang relatif kecil bisa menjadi faktor pemicu. Dengan kata lain, gaya pasang surut tidak secara langsung "menarik" kerak Bumi sehingga memicu gempa, tetapi dapat memberikan dorongan kecil kepada sistem sesar yang sedang berada di ambang pergeseran.
Gempa Dapat Terpicu, tetapi Bukan Berarti Disebabkan oleh Bulan
Inilah bagian yang sering menyulut kebingungan. USGS menyatakan sejumlah penelitian menemukan adanya hubungan antara pasang surut dan beberapa jenis gempa. Salah satunya adalah gempa pada sesar naik dangkal di dekat tepi benua dan zona subduksi.
Dalam keadaan pasang tinggi, perubahan tekanan dapat mengurangi gaya yang menahan bidang sesar sehingga sesar menjadi lebih mudah mengalami slip. USGS mencatat kemungkinan kejadian pada kondisi tertentu dapat meningkat sekitar tiga kali lipat saat pasang tinggi. Namun, karena probabilitas dasar terjadinya gempa di lokasi tertentu pada waktu tertentu umumnya sangat rendah, peningkatan tersebut tetap menghasilkan probabilitas absolut yang rendah. Artinya, jika sebuah sesar masih jauh dari kondisi gagal, pasang surut akibat Bulan dan Matahari tidak serta merta akan menggerakkannya.
Seberapa Besar Pengaruhnya?
Tegangan pasang surut yang dihasilkan oleh gravitasi Bulan dan Matahari jauh lebih kecil dibandingkan tekanan tektonik yang terakumulasi akibat pergerakan lempeng Bumi. Gempa bumi tektonik pada intinya terjadi saat tegangan di sepanjang sesar melewati batas kekuatan yang mampu menahan batuan. Energi yang tersimpan kemudian dilepaskan dalam bentuk gelombang seismik.
Dalam skenario tertentu, tegangan pasang surut bisa menjadi "pemicu akhir". Analogi sederhananya seperti benda yang hampir tergelincir di permukaan miring. Dorongan kecil mungkin cukup untuk membuatnya bergerak, tetapi dorongan kecil tersebut bukan penyebab utama mengapa benda berada dalam posisi hampir jatuh.
Bukti Ilmiah Memang Eksis
Hubungan antara pasang surut dan gempa bukanlah sekadar teori tanpa bukti. USGS mencatat penelitian yang menunjukkan korelasi antara pasang surut dan beberapa kelompok gempa. Studi terhadap Sesar San Andreas, misalnya, menemukan indikasi bahwa kombinasi periode pasang surut tertentu bisa berhubungan dengan proses nukleasi gempa dan kondisi fisik sesar.
USGS juga telah lama mendokumentasikan penelitian mengenai kemungkinan gaya pasang surut Matahari dan Bulan memicu beberapa kelas gempa. Meskipun demikian, bukti ini tidak bermakna bahwa semua gempa terjadi akibat pasang surut.
Mengapa Tidak Semua Gempa Terjadi Saat Bulan Purnama?
Jika Bulan dan Matahari memang menjadi penyebab utama gempa, sewajarnya gempa besar secara konsisten terjadi pada fase Bulan tertentu. Faktanya tidak demikian. USGS menegaskan bahwa banyak penelitian terhadap katalog gempa dalam skala besar tidak menemukan hubungan signifikan antara jumlah gempa dan pasang surut harian. Beberapa studi yang lebih baru menemukan korelasi pada kelompok atau kondisi tertentu, tetapi efek tersebut tidak berlaku secara universal. Karenanya, bulan purnama tidak dapat dianggap sebagai indikator bahwa gempa besar pasti akan terjadi. Hal serupa terjadi pada bulan baru.
Bagaimana dengan Gerhana Matahari dan Gerhana Bulan?
Gerhana sering dihubungkan dengan gempa karena berlangsung saat Matahari, Bumi, dan Bulan berada dalam konfigurasi geometris tertentu. Namun, dari perspektif gaya pasang surut, gerhana bukanlah mekanisme khusus yang otomatis memicu gempa.
USGS menjelaskan bahwa baik gerhana Matahari maupun gerhana Bulan merupakan kasus khusus dari konfigurasi bulan baru atau bulan purnama. Dengan demikian, dampak pasang surutnya tidak berbeda secara mendasar hanya karena muncul gerhana. Artinya, tidak ada bukti ilmiah untuk menyatakan bahwa setiap gerhana akan diikuti oleh gempa besar.
Apakah Aktivitas Matahari Dapat Memicu Gempa?
Dampak Matahari terhadap gempa juga perlu dibedakan antara gaya pasang surut dan aktivitas Matahari seperti badai matahari, bintik matahari, serta angin matahari. Penelitian yang dirangkum USGS mengenai hubungan aktivitas Matahari dengan gempa tidak menemukan pola yang konsisten dan signifikan secara statistik yang menunjukkan bahwa aktivitas Matahari secara langsung memicu gempa.
Dengan demikian, klaim bahwa badai Matahari secara otomatis menyebabkan gempa bumi besar tidak didukung oleh bukti ilmiah yang kuat. Dampak Matahari yang lebih jelas dalam konteks ini adalah kontribusinya terhadap gaya pasang surut bersamaan dengan Bulan.
Bulan Justru Mengalami "Moonquake"
Menariknya, hubungan gravitasi dengan aktivitas seismik juga terjadi di Bulan. NASA menjelaskan bahwa seismometer yang dipasang astronot dalam misi Apollo mendeteksi moonquake atau gempa Bulan. Salah satu jenisnya, yaitu deep moonquake, berkaitan dengan gaya pasang surut akibat tarikan gravitasi Bumi terhadap bagian dalam Bulan.
Penelitian terbaru yang diterbitkan pada 2026 juga menemukan pasangan moonquake dangkal yang berulang dalam data seismik Apollo. Studi tersebut justru menemukan bahwa tegangan pasang surut akibat Bumi dan Matahari tidak dominan dalam memicu jenis moonquake dangkal yang diteliti. Temuan ini menunjukkan betapa kompleksnya hubungan antara gaya pasang surut dan aktivitas seismik. Tidak semua gempa, bahkan pada benda langit yang mengalami gaya pasang surut, dikendalikan oleh mekanisme yang sama.
Jadi, Apakah Bulan Dapat Menyebabkan Gempa Besar?
Jawabannya harus dibedakan antara menyebabkan dan memicu. Bulan dan Matahari tidak menjadi sumber utama energi tektonik yang menyebabkan gempa bumi. Energi utama tersebut berasal dari proses geologi internal Bumi dan pergerakan lempeng tektonik.
Namun, gaya pasang surut dapat memodifikasi tekanan pada kerak Bumi. Jika suatu sesar sudah sangat dekat dengan kondisi gagal, perubahan kecil tersebut dalam keadaan tertentu dapat membantu memicu pergeseran. Oleh karena itu, secara ilmiah lebih tepat mengatakan bahwa Bulan dan Matahari dapat memodulasi atau memicu sebagian aktivitas gempa tertentu, bukan bahwa keduanya menjadi penyebab utama semua gempa bumi.
Tidak Bisa Dipakai untuk Meramal Gempa
Temuan mengenai pasang surut juga tidak berarti ilmuwan kini dapat mengetahui kapan dan di mana gempa akan terjadi. USGS membedakan antara ramalan dan prediksi. Ramalan merupakan perkiraan probabilitas berdasarkan data dan pola tertentu, sementara prediksi berarti menentukan secara spesifik waktu, lokasi, dan magnitudo gempa yang akan datang.
Karena pengaruh pasang surut hanya salah satu faktor kecil dalam sistem yang sangat kompleks, posisi Bulan dan Matahari tidak dapat digunakan untuk menyatakan, misalnya, bahwa gempa berkekuatan tertentu akan terjadi di wilayah tertentu pada tanggal tertentu.
Kesimpulan
Penelitian ilmiah memang menemukan bahwa Matahari dan Bulan dapat memberikan pengaruh terhadap aktivitas seismik melalui gaya pasang surut. Pengaruh gravitasi tersebut sedikit mengubah tekanan dan tegangan pada kerak Bumi. Dalam kondisi tertentu, terutama pada sesar yang sudah mendekati titik gagal, perubahan kecil tersebut dapat menjadi pemicu terjadinya slip dan gempa.
Namun, pengaruh ini tidak berarti Bulan atau Matahari merupakan penyebab utama gempa bumi. Sebagian besar gempa tetap berkaitan dengan proses tektonik dan pelepasan energi pada sesar. Oleh karena itu, bulan purnama, bulan baru, gerhana, maupun aktivitas Matahari tidak dapat dijadikan alat untuk memprediksi gempa besar secara pasti. Temuan mengenai pengaruh pasang surut lebih penting untuk membantu ilmuwan memahami kondisi fisik sesar dan mekanisme yang dapat memengaruhi waktu terjadinya sebagian gempa, bukan sebagai "kalender gempa".

Posting Komentar untuk "Matahari dan Bulan Bisa Memicu Gempa Bumi? Ini Penjelasan Para Peneliti"