Penjualan Kendaraan Berbahan Bakar Minyak Global Turun Drastis, Kini di Bawah 50 Persen
Penjualan mobil berbasis bahan bakar minyak di seluruh dunia mengalami penurunan signifikan. Untuk pertama kalinya, proporsi mobil berbahan bakar minyak murni terhadap penjualan mobil baru global anjlok di bawah 50 persen pada paruh pertama tahun 2026. Menurut analisis data Mobility Global yang dilaporkan oleh Nikkei, penjualan mobil berbahan bakar minyak sepanjang Januari-Juni 2026 tercatat sekitar 20,25 juta unit. Angka ini turun sekitar 10 persen dibandingkan tahun sebelumnya, menjadikan pangsa kendaraan berbahan bakar minyak menjadi 49 persen dari total penjualan mobil baru yang tercakup dalam data tersebut.
Perubahan ini menjadi salah satu indikator kunci dalam pergeseran sektor otomotif global. Mobil listrik dan kendaraan hibrida semakin mengambil alih porsi pasar yang sebelumnya didominasi oleh kendaraan dengan mesin pembakaran dalam.
Penjualan Mobil Berbahan Bakar Minyak Menyusut ke 49 Persen
Data dari Mobility Global menunjukkan bahwa pangsa mobil berbahan bakar minyak telah menurun tiga poin persentase dibandingkan periode yang sama pada 2025. Penjualan 20,25 juta unit pada enam bulan pertama 2026 juga mencerminkan penurunan 10 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Data ini merujuk hanya pada kendaraan bermesin minyak dan tidak termasuk kendaraan hasil elektrifikasi seperti hibrida. Beberapa tipe kendaraan berukuran besar juga tidak dihitung dalam penghitungan tersebut.
Dengan demikian, angka 49 persen tidak berarti bahwa hanya 49 persen kendaraan yang ada di dunia menggunakan bahan bakar minyak. Angka tersebut khususnya menggambarkan pangsa penjualan kendaraan baru selama enam bulan pertama 2026 dalam kategori yang diakui oleh Mobility Global.
Dari 73 Persen pada 2021 Menjadi 49 Persen
Perubahan ini semakin jelas ketika dibandingkan dengan beberapa tahun sebelumnya. Pada tahun 2021, kendaraan berbahan bakar minyak masih berkontribusi sekitar 73 persen dari penjualan mobil baru global. Pangsa tersebut terus menurun seiring dengan meningkatnya popularitas mobil listrik dan hibrida.
Penurunan hingga 49 persen pada semester pertama 2026 menunjukkan bahwa kendaraan bermesin minyak tidak lagi menjadi mayoritas absolut dalam penjualan mobil baru di seluruh dunia. Meskipun demikian, mesin pembakaran dalam belum sepenuhnya lenyap. Kendaraan berbahan bakar minyak masih terjual dalam angka puluhan juta unit dan tetap menjadi bagian penting dari industri otomotif global.
Harga Minyak Jadi Salah Satu Faktor Pendorong
Salah satu faktor yang disebut-sebut mendorong perubahan ini adalah kenaikan harga minyak dan kekhawatiran mengenai pasokan bahan bakar di tengah ketegangan geopolitik. Harga bahan bakar yang lebih tinggi meningkatkan biaya penggunaan kendaraan bermesin minyak. Situasi ini mendorong beberapa konsumen untuk mempertimbangkan kendaraan dengan konsumsi bahan bakar lebih efisien, hibrida, serta mobil listrik.
IEA mencatat bahwa sektor transportasi jalan sangat rentan terhadap fluktuasi harga energi karena kendaraan di jalan menyumbang hampir setengah dari konsumsi minyak global. Krisis energi di tahun 2026 kembali mempertegas perhatian terhadap efisiensi energi dan kendaraan listrik. Namun, harga minyak bukan satu-satunya faktor. Harga kendaraan listrik yang semakin kompetitif, kemajuan teknologi baterai, kebijakan pemerintah, serta bertambahnya pilihan model pada pasar juga turut memengaruhi perilaku konsumen.
Penjualan Kendaraan Listrik Justru Naik
Di tengah penurunan penjualan kendaraan berbahan bakar minyak, kendaraan listrik menunjukkan perkembangan yang berlawanan. Menurut data yang dirangkum dari Mobility Global, penjualan mobil listrik pada paruh pertama 2026 mencapai sekitar 6,87 juta unit, naik hampir 12 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pangsa kendaraan listrik mencapai sekitar 17 persen dari total penjualan mobil baru dalam data tersebut.
IEA juga melaporkan bahwa penjualan mobil listrik secara global meningkat pada kuartal kedua tahun 2026. Secara keseluruhan, penjualan mobil listrik pada paruh pertama berada sedikit di bawah periode yang sama tahun lalu, tetapi lonjakan pada kuartal kedua hampir sepenuhnya mengompensasi penurunan pada kuartal pertama. IEA memperkirakan angka penjualan mobil listrik dapat mencapai sekitar 29 persen dari total penjualan kendaraan global pada tahun 2026.
Hibrida Juga Merebut Porsi Pasar
Peralihan dari mobil berbahan bakar minyak tidak hanya beralih ke kendaraan listrik berbaterai. Kendaraan hibrida juga menjadi pilihan penting bagi konsumen yang ingin mengurangi penggunaan bahan bakar tetapi belum siap sepenuhnya berpindah ke mobil listrik. Data Mobility Global menunjukkan bahwa penjualan mobil hibrida mencapai sekitar 7,27 juta unit pada paruh pertama 2026. Angka ini meningkat sekitar 10 persen dibandingkan tahun lalu dan memberikan pangsa sekitar 18 persen dari penjualan mobil baru dalam data tersebut.
Kehadiran kendaraan hibrida membuat variasi teknologi kendaraan semakin beragam. Konsumen kini memiliki lebih banyak pilihan antara mesin berbahan bakar konvensional, hibrida, plug-in hibrida, hingga kendaraan listrik berbaterai.
China Mengalami Penurunan Penjualan Kendaraan Berbahan Bakar Minyak yang Signifikan
China menjadi salah satu pasar yang mengalami perubahan besar. Penjualan kendaraan berbahan bakar minyak di China dilaporkan turun sekitar 26 persen pada paruh pertama 2026. Pada saat yang sama, China tetap menjadi pasar kendaraan listrik terbesar di dunia. Sekitar setengah dari penjualan mobil listrik global pada periode itu berasal dari China, dengan sekitar 3,44 juta unit terjual. Namun, penjualan kendaraan listrik di China sendiri tercatat turun sekitar 3 persen setelah beberapa insentif pajak atau kebijakan dukungan mengalami perubahan sejak Januari.
Meskipun demikian, posisi kendaraan listrik di pasar China tetap sangat kuat. IEA memperkirakan pangsa penjualan mobil listrik di negara tersebut dapat melampaui 60 persen pada tahun 2026.
Eropa Semakin Gencar Beralih ke Kendaraan Listrik
Eropa juga menjadi salah satu wilayah yang menunjukkan tanda-tanda pergeseran yang signifikan. Penjualan kendaraan listrik di Eropa pada paruh pertama 2026 meningkat sekitar 32 persen menjadi 1,81 juta unit, berdasarkan data Mobility Global yang disitir sejumlah laporan.
IEA menyatakan bahwa penjualan kendaraan listrik di sejumlah negara Eropa menjadi salah satu elemen pendukung pertumbuhan global pada kuartal kedua 2026. Kebijakan emisi, dukungan pemerintah, serta makin beragamnya pilihan kendaraan listrik turut mendorong perkembangan pasar. Di Inggris, misalnya, penjualan mobil listrik baterai pada September 2026 melesat 36 persen dibandingkan tahun sebelumnya, mencapai 99.199 unit. Pangsa BEV menyentuh 28,3 persen pada bulan tersebut. Sebaliknya, pendaftaran mobil berbahan bakar bensin menyusut 6,7 persen.
Asia Tenggara Menjadi Pasar EV yang Berkembang
Gelombang pergeseran ini juga semakin nampak kuat di Asia Tenggara. Penjualan kendaraan listrik di kawasan ini melonjak sekitar 81 persen pada paruh pertama 2026, menjadi sekitar 350.000 unit, menurut data Mobility Global yang dikutip Meroauto. Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa peralihan ke elektrifikasi kendaraan tidak lagi terbatas di China, Eropa, atau negara maju lainnya.
Harga kendaraan listrik yang kian bersaing dan masuknya produsen otomotif dari China ke berbagai pasar menjadi salah satu faktor pendorong percepatan kompetisi.
Produsen China Semakin Agresif
Meningkatnya penjualan kendaraan listrik juga mengubah peta persaingan di antara produsen mobil global. Perusahaan-perusahaan China seperti BYD dan Geely terus memperbesar ekspor kendaraan listrik. IEA mencatat bahwa produsen China memiliki posisi yang kuat dalam pasar kendaraan listrik dan plug-in hybrid global.
Keunggulan produsen China tidak semata-mata terkait dengan harga. Kecepatan dalam pengembangan model baru, teknologi baterai, kapasitas produksi, dan integrasi perangkat lunak menjadi aspek penting dalam kompetisi. Perubahan ini memberikan tekanan pada produsen otomotif tradisional yang selama ini sangat bergantung pada teknologi mesin pembakaran internal.
Bukan Berarti Mobil Bensin Akan Punah
Penurunan pangsa mobil bensin di bawah 50 persen adalah tonggak penting, tetapi tidak berarti kendaraan berbahan bakar bensin akan segera punah dari pasar. Mobil bensin masih memiliki sejumlah keunggulan, terutama infrastruktur pengisian bahan bakar yang lebih luas, waktu pengisian yang relatif cepat, serta ketersediaan model dalam berbagai segmen dan kisaran harga.
Selain itu, kondisi pasar di setiap negara berbeda-beda. Kebijakan pemerintah, harga energi, ketersediaan infrastruktur pengisian daya, daya beli masyarakat, serta preferensi konsumen berpengaruh terhadap kecepatan transisi. Bahkan dalam pasar yang mengalami pertumbuhan EV, kendaraan hybrid bisa berfungsi sebagai jembatan antara mesin pembakaran internal dan kendaraan listrik sepenuhnya.
Penjualan Global Belum Sepenuhnya Beralih ke EV
Data IEA menunjukkan bahwa transisi otomotif berlangsung secara bertahap. Pada paruh pertama 2026, kendaraan listrik menyumbang sekitar 24 persen dari total penjualan mobil global menurut metodologi IEA. Angka ini sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan sekitar 22 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Angka ini berbeda dari data Mobility Global yang mencatat bahwa mobil listrik mencapai sekitar 17 persen. Perbedaan ini terjadi karena masing-masing sumber menggunakan kategori kendaraan dan metodologi penghitungan yang berbeda. Oleh karena itu, angka 49 persen untuk mobil bensin juga harus dipahami berdasarkan definisi data yang digunakan, bukan semata-mata sebagai pernyataan bahwa tepat 51 persen seluruh kendaraan baru di dunia sudah sepenuhnya listrik.
Perubahan Besar dalam Industri Otomotif
Terlepas dari perbedaan metodologi, arah perubahannya relatif jelas: dominasi mobil berbahan bakar bensin dalam penjualan kendaraan baru di dunia semakin menipis. Penurunan dari 73 persen pada 2021 menjadi 49 persen pada paruh pertama 2026 menunjukkan betapa cepatnya perubahan pasar hanya dalam waktu beberapa tahun.
Di sisi lain, penjualan mobil listrik dan hybrid terus berkembang. Produsen kendaraan juga semakin banyak yang mengembangkan model elektrifikasi untuk memenuhi permintaan konsumen sekaligus mengikuti perubahan regulasi emisi di berbagai negara. IEA memperkirakan pangsa mobil listrik global akan terus meningkat. Dalam skenario eksploratifnya, kendaraan listrik dapat mencapai sekitar setengah dari penjualan mobil baru di dunia pada tahun 2035, sementara penjualan kendaraan bermesin pembakaran internal terus berkurang.
Apa Artinya bagi Konsumen?
Bagi konsumen, perubahan ini berarti pilihan kendaraan akan semakin beraneka ragam. Selain mobil berbahan bakar bensin dan diesel, semakin banyak pilihan hybrid, plug-in hybrid, serta mobil listrik baterai juga tersedia. Kenaikan harga energi juga membuat biaya operasional menjadi pertimbangan yang semakin penting saat membeli kendaraan. Namun keputusan untuk membeli kendaraan tetap bergantung pada harga awal, kebutuhan perjalanan, akses ke stasiun pengisian daya atau SPBU, biaya perawatan, dan kondisi pasar di masing-masing negara.
Dengan demikian, penurunan pangsa mobil berbahan bakar bensin di bawah 50 persen bukanlah sekedar perubahan angka penjualan. Ini merupakan tanda bahwa industri otomotif global sedang memasuki fase baru, di mana mesin pembakaran internal tidak lagi menjadi satu-satunya pilihan dominan dan kendaraan elektrifikasi semakin menentukan arah pasar.
Kesimpulan
Penjualan mobil bensin global pada paruh pertama 2026 menyusut 10 persen menjadi sekitar 20,25 juta unit. Pangsa mobil bensin murni juga turun menjadi 49 persen, untuk pertama kalinya berada di bawah setengah penjualan mobil baru di dunia menurut data Mobility Global.
Kenaikan harga energi, ketidakpastian pasokan bahan bakar, meningkatnya daya saing mobil listrik, pertumbuhan kendaraan hybrid, serta perubahan kebijakan merupakan beberapa faktor yang mendorong pergeseran ini. Meskipun begitu, mobil bensin tidak akan segera menghilang. Namun data terbaru menunjukkan bahwa era dominasi kendaraan berbahan bakar bensin dalam penjualan mobil baru global telah mencapai titik balik yang signifikan.

Posting Komentar untuk " Penjualan Kendaraan Berbahan Bakar Minyak Global Turun Drastis, Kini di Bawah 50 Persen"